Bukankah leluhur kita juga telah mewariskan semangat gotong royong, atau di Minahasa "Mapalus", di Maluku "Pela gadong", dst? Di tahun 50an, rakyat desa saling bantu membangun rumah ibadah, umat Islam bantu tetangga membangun gereja, dsb. Kini kita sangat hobby merusak rumah ibadah orang lain...
Hidup berdampingan dengan damai telah lama kita kenal, tak perlu ke Medinah.. Juga kalau mau meniru sikon ribuan tahun silam, dijamin akan gagal. Salam budaya leluhur Danardono --- In [email protected], "Budi - Production Control" <budi- [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Radit, > > Tentunya bukan masalah dari mana dan seberapa jauh kita mengambil sesuatu yang terbukti manfaatnya, tetapi inti dari Piagam Madinah adalah adanya kerjasama antara semua penganut agama yang ada di Madinah pada masa itu (Islam, Yahudi dan Nasrani) untuk bersama-sama menjaga perdamaian, tidak saling serang dan masing-masing penganut agama bebas menjalankan keyakinannya. > > Satu lagi hal yang penting dalam Piagam Madinah ini adalah adanya kebersamaan apabila ada serangan/musuh dari luar akan dihadapi bersama. > > Saya kira inilah keistimewaan dan keindahan Piagam Madinah. > > Wassalaam, > Budi-pc > > > > ----- Original Message ----- > From: mediacare > To: [email protected] > Sent: Monday, October 01, 2007 9:06 AM > Subject: Re: [mediacare] Bercermin Pada Piagam Madinah - Tadarus Ramadhan Tomy Su di Jawa Pos 24-09-2007 > > > > Sungguh bangsa yang aneh. Mau bercermin saja kok jauh-jauh sampai ke Madinah? > Apa "cermin" khas Indonesia kurang bagus? Bukankah budaya kita beda dengan mereka di Tanah Arab sana? > > > > ----- Original Message ----- > From: rexy_mawardi > To: [email protected] > Sent: Monday, September 24, 2007 11:20 AM > Subject: [mediacare] Bercermin Pada Piagam Madinah - Tadarus Ramadhan Tomy Su di Jawa Pos 24-09-2007 > > > BERCERMIN PADA PAIAGAM MADINAH > Tomy Su*) Tadarus Jawa Pos Senin 24 September halaman 1 dan > dilanjutkan ke hal 15 Nabi Saja tak Anggap satu Etnis Lebih Tinggi > dari Yang Lain > > Kedatangan bulan suci Ramadhan jelas menjadi rahmat bagi setiap > muslim yang menjalankan ibadah puasa. Dalam tradisi Islam, puasa > diyakini sebagai praksis pembebasan dari segala macam kecenderungan > buruk, bilamana puasa dijalani dengan ketulusan dan bukan sekedar > menjalani perintah agama. Kecenderungan buruk manusia bisa bersifat > individual, bisa juga kolektif atau berjamaah, semisal sikap > intoleransi dan alergi terhadap kemajemukan dan perbedaan. > > Dalam Islam, sikap-sikap seperti itu tidak punya landasan sama > sekali. Tidak ada legitimasi teologis untuk menjadi manusia yang > "menangan" dan "merasa paling benar" dengan berlaku tidak adil pada > yang lain.Apalagi jika sampai mengatasnamakan Islam dan Kanjeng Nabi > Muhammad SAW. Terorisme dan kekerasan yang sering dikaitkan dengan > Islam adalah kekeliruan. Orang yang menilai Islam identik dengan > teorisme atau kekerasan jelas keliru.Demikian juga keliru orang yang > melakukan dan membenarkan tindakan teror dan kekekerasan atas nama > Islam. Umat Islam hanya dipanggil untuk menebarkan kebaikan, > kedamaian dan rahmat bagi semesta. "Kami mengutus kamu, untuk > menjadi rahmat bagi semesta alam"(QS 21:107) > > Sosok Kanjeng Nabi sungguh merupakan rahmat bagi semesta dan karunia > terindah bagi segenap umatNya. Beliau tidak pernah anti perbedaan. > Bahkan untuk urusan puasa, Nabi menimba inspirasi dari orang Yahudi. > Ketika Nabi hijrah ke Madinah, Nabi melihat orang-orang Yahudi > berpuasa pada hari Asyura, lantas beliau segera mengajak para > pengikutnya untuk berpuasa pada hari itu. > > Piagam Madinah > > Sikap dan semangat menghargai perbedaan yang ditunjukkan Nabi dalam > keseharian kemudian dibakukan dalam hukum positif yang terkenal > dengan Piagam Madinah. Piagam atau Konstitusi Madinah dibuat Nabi di > Madinah pada 622 untuk mengatur hubungan antara orang-orang Muhajirin > (orang Islam Mekkah yang ikut hijrah bersama Nabi), Ansar (penduduk > Muslim di Madinah), dan orang-orang Yahudi. Sebelum di Madinah, jadi > saat Nabi masih di Makkah selama 13 tahun membangun komunitas Islam > pertama berlaku "ukhuwah Islamiyah".Artinya hanya yang Islam adalah > saudara.Yang bukan Islam, bukan saudara. > > Tapi dengan lahirnya Piagam Madinah, berlaku ukhuwah madaniyah, > persaudaraan untuk seluruh penduduk.Pasalnya Madinah yang sebelumnya > disebut Yasrif adalah kota majemuk. Piagam Madinah sendiri memuat 47 > pasal dengan 38 butir rumusan yang rata-rata berisi pandangan > universal yang diperlukan untuk sebuah kota atau negara yang majemuk. > Nabi bertemu dengan seluruh pimpinan suku sepakat pada piagam itu ( > Baca kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisam halaman 120-122). > > Piagam Madinah menjadi bukti bahwa di dalam Islam ada penghargaan > sejati pada perbedaan. Kebebasan pribadi untuk memeluk agama yang > berbedapun dijamin dalam paigam itu. Jadi meskipun Kanjeng Nabi > tampil sebagai penguasa, tapi tidak ada pemaksaan untuk memeluk > Islam. Allah berfirman dalam surat al-kafirun 'lakum dinukum waliya > din (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku).Tidak heran jika ada beberapa > ahli Islam, bahkan kalangan orientalis seperti W Montgomery Watt > menyebut Piagam itu sebagai "historical jump" atau loncatan > sejarah.Karena semangat dan isinya yang sungguh inklusif dan penuh > toleransi. > > Bisa dipastikan Piagam Madinah adalah nilai-nilai yang diyakini Nabi > Muhammad untuk kemajuan umatNya. Tidak heran jika melihat Piagam itu, > kita bisa menyebut Kanjeng Nabi sebagai sosok yang jauh-jauh hari > sudah punya kesadaran multikultural, meskipun wacara > multikulturalisme sendiri baru marak dibicarakan para ahli kebudayaan > dalam dasawarsa 1990-an.Jadi dari sejarah kita sudah melihat, > pluralisme atau paham kemajemukan sudah menjadi keyakinan bagi > Kanjeng Nabi. > > Malah kalau dikaitkan dengan masih maraknya praktik diskriminasi atau > rasialisme, Nabi tidak menganggap suatu suku atau etnis tertentu > lebih tinggi dari yang lain. Rasulullah pernah bersabda:"Wahai > sekalian manusia! Tuhanmu itu Esa dan nenek moyangmu satu > juga.Seorang Arab tidak mempunyai kelebihan atas orang bukan > Arab.Seorang kulit putih,sekali- kali tidak mempunyai kelebihan atas > orang berkulit merah,dan begitu sebaliknya.Seorang kulit merah tidak > mempunyai kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan > kewajibannya terhadap Tuhan dan manusia.Orang yang paling mulia > diantara kau sekalian pada pandangan Tuhan ialah yang paling bertaqwa > diantara kamu". > > Perkataan Nabi di atas juga tercermin dalam "Piagam Madinah" yang > sangat menjunjung prinsip egalitarianisme dan menghindari segala > pendekatan yang berbau kesukuan, keturunan, ras dan > sebagainya.Piagam Madinah adalah satu-satunya jalan yang paling > rasional untuk membangun tatatan kehidupan yang beradab. > > Relevansinya Dengan Kondisi Kita > > Maka melihat jiwa Piagam Madinah, terasa sekali yang satu ini > ternyata tetap aktual dan tidak pernah basi. Bahkan masih punya > relevansi tinggi dengan kemajemukan bangsa Indonesia.Tidak heran > banyak pemikir muslim di tanah air suka mengaitkan Piagam ini dengan > semangat UUD 1945 atau nilai-nilai demokrasi modern seperti > ditunjukkan mendiang Nurcholish Madjid. > > Indonesia yang majemuk rentan menghadapi gesekan bahkan konflik yang > berbau SARA. Kelompok yang satu merasa tidak puas pada yang lain. > Prasangka lebih menonjol. Kebersamaanpun memudar, orang hanya sibuk > dengan egonya atau kelompok sendiri. Ramadhan bisa dijadikan momentum > kembali pada kesadaran bahwa Allah SWT menciptakan kita bukan > sebagai mahluk individu. "No man is an island".Kalau bangsa ini mau > maju, sinergi dan harmoni dengan semangat Piagam Madinah yang > menghargai perbedaan harus jadi acuan. Perbedaan adalh rahmat, > seperti kata Nabi dan di sinilah umat Islam bisa memberi teladan atau > berperan. Selamat berpuasa. > > > > > > ------------------------------------------------------------------- --------- > > > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.30/1025 - Release Date: 23/09/2007 13:53 >
