penyakit riya` dan sum`ah memang sangat rentan timbul dalam hati
manusia...tidak dapat dipungkiri dalam keseharian kita ia akan selalu
menghantui diri dan hati kita..meskipun sekejap ataupun sesaat..
karenanya para sahabat sangat berhati-hati dalam beribdah pada Allah..
karena mereka sangat faham dan menyadari ketika terjerumus kedlam penyakit riya`
ataupun sum`ah maka akan sia-sialah amalannya.."barangsiapa yang melakukan
perbuatan hanya ingin dapat dilihat atau dipuji oleh manusia, maka kelak di hari kiamat
Allah akan memerintahkan dia untuk meminta pertolongan kepada orang yang telah
diniatkannya itu"
mengenai membbuhkan semacam gelar H (haji) bagi Bapak dan Hj (hajjah) bagi
Ibu di depan namanya semuanya berbalik kepada niat individu
masing-masing...akan tetapi itu semua adalah ujian yang perlu disikapi denga
hati yang bersih..sangat rentansekali dengan penyakit riya` dan sum`ah.
Jelajah Sejati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MediaMuslim.Info - Di antara syarat diterimanya amal shalih adalah
bersih dari riya' dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan
ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain maka ia telah terjerumus
pada perbuatan syirik kecil, dan amalnya menjadi sia-sia belaka.
Misalnya shalat agar dilihat orang lain atau membaca Al Qur'an agar
dipuji oleh orang yang mendengarkannya dan banyak lagi contoh sederhana
yang sering dilalaikan
Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya: "Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Alloh, dan Alloh akan membalas tipuan
mereka. Dan apa bila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan Allah. Dan
tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali". (QS: An
Nisaa: 142)Demikian juga jika ia melakukan suatu amalan dengan tujuan
agar diberitakan dan didengar oleh orang lain, ia termasuk syirik
kecil. Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam memberi peringatan
kepada mereka dalam hadits yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas
Radhiallahu'anhu, yang artinya: "Barangsiapa melakukan perbuatan
sum'ah, niscaya Allah akan menyebarkan aibnya dan barang siapa
melakukan perbuatan riya' niscaya Allah akan menyebarkan aibnya".
(HR: Muslim: 4/2289)
Barangsiapa melakukan suatu ibadah tetapi ia melakukannya karena
mengharap pujian manusia di samping ridha Alloh Subhanahu wa Ta'ala
maka amalannya menjadi sia-sia belaka, seperti disebutkan dalam hadits
qudsi, yang artinya: "ku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat
menolak perbuatan syirik, barangsiapa melakukan suatu amal dengan
dicampuri perbuatan syirik kepadaKu, niscaya Aku tinggalkan dia dan
(tidak aku terima) amal syiriknya". (HR: Muslim. Hadits no: 2985)
Barangsiapa melakukan suatu amal shalih, tiba-tiba terdetik dalam
hatinya perasaan riya', tetapi ia membenci perasaan tersebut berusaha
melawan dan menyingkirkannya maka amalannya tetap sah. Berbeda halnya
jika ia hanya diam dengan timbulnya perasaan riya' tersebut, tidak
berusaha menyingkirkan bahkan malah menikmatinya maka menurut sebagian
besar ulama, amal yang dilakukannya menjadi batal dan sia-sia.
(Sumber: Dosa-Dosa Yang Dianggap Biasa, Oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih
Al Munajjid)
........lalu kalau memasang gelar H untuk Haji atau Hajah di depan nama
kita bagaimana? apakah termasuk Riya ?
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam Google Groups yaitu "Media
Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info)
Untuk mengirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya kirimkan
email ke [email protected]
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---