alaikum salam,
Saya paham dengan semua pendapat yang masuk.
Mohon maaf jika pendapat saya mengkategorikan pekerjaan itu menimbulkan
protes disatu pihak dan seperti merendahkan pihak tertentu.
Sungguh tidak ada maksud untuk memuliakan satu pihak dan merendahkan pihak
lain.
Mungkin karena kurang pandainya saya 'mengemas' buah pemikiran saya.
Dan mungkin juga istilah yang saya pakai dan perumpamaan yang saya kemukakan
kurang pas di forum ini, sehingga terkesan demikian.
It works in different forum but it doesn't work here :)

Jadi bagaimana ya... sulit juga saya menemukan istilah atau kategori atau
klasifikasi yang tepat.
Jika istilah2 yang saya pakai sepertinya salah atau memunculkan diskriminasi
yang tidak seharusnya, saya mohon maaf. Sekali lagi tidak ada maksud untuk
itu.

Tetapi perlu kiranya diketahui latar belakang dari pemikiran saya -- yang
tentu saja pasti bisa berbeda dengan orang lain. Bahwasanya saya mencoba
untuk selalu berpikir dan menilai dari nilai-nilai yang saya jadikan pedoman
dalam hidup.

Untuk tidak memperlebar masalah, straight to the poin dalam masalah
perempuan yang bekerja.
Saya berpatokan bahwasanya seorang wanita itu "lebih baik di rumah" dengan
segala dalil yang ada.
(Mohon maaf saya tidak pandai dalam meng-copy-paste dalil). Bahwasanya
wanita punya kewajiban (sebagaimana laki-laki) dengan segala dalil.

Tapi masalahnya, tidak selalu kita hidup dengan situasi yang ideal, lalu
bolehlah kita berusaha sepanjang tentu saja tetap berada dalam koridor hukum
yang dijadikan pedoman hidup.

Saya tidak menafikan adanya "grey area" di dalam hidup ini, sehingga harus
senantiasa berpikir hitam putih. Tidak. Tapi ... adalah keliru (menurut
saya), jika kita senantisa hidup dalam "grey area" tanpa ada usaha untuk
menjauhi area hitam dan mendekati area putih. Tentu saja sekali lagi, usaha
yang kita lakukan semampu kita.
Adalah tegas perintah untuk menjauhi perbuatan buruk, tapi dinyatakan pula
dengan kata 'semampumu' untuk perintah bertakwa. lantas apakah kita hanya
berusaha santai saja untuk menjadi takwa? kan tidak...

Seperti yang sudah saya katakan, bagaimana dengan pekerjaan lain (di luar
pekerjaan 'ideal' - ganti saja istilah ini jika kurang pas, pokoknya gitu
deh... wacks sulit juga ya cari istilah....)?
Sepanjang tidak menerobos batasan haram dan memperhatikan hukum2 yang ada,
kenapa tidak?
Mengapa saya pakai batasan haram dan hukum2 yang ada? Karena kita
diperintahkan untuk mencari rejeki, bekerja, memakan harta yang halal. Bukan
halal dari sisi dzatnya saja, tapi juga cara mencarinya dan lebih jauh lagi
cara memanfaatkannnya.
Contoh simpel, roti halal, tapi jika kita memakan roti hasil curian, apakah
boleh? tentu tidak.
Apakah dikatakan seorang dermawan, seorang pejabat yang memberikan sumbangan
dari hasil 'uang panas' yang ia punya? tentu tidak.
Apakah dikatakan sebagai harta yang baik jika seseorang mendapatkan uang
dengan cara yang halal, tapi kemudian dimanfaatkan hanya untuk kesenangan
pribadi, menumpuk harta, tidak mau bersedekah, pelit untuk memberi jangankan
untuk orang lain, bahkan pelit untuk keluarganya? tentu tidak.

Demikian kira-kira, mohon maaf jika ada yang jadi panas kuping dan dada :)
Mohon maaf jika saya seakan tidak memihak anda atau siapa pun, karena memang
saya bukan partisan.
Mohon maaf jika saya seperti oposan, karena saya memang punya prinsip dan
pemikiran saya sendiri.
Mohon maaf jika saya salah, terlupa atau khilaf karena saya bukan nabi.

Well... do i make myself clear?  :)

wassalam,
dija



On 1/18/07, Ullfah Muhayani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Assalamu'alaikum

Jadi ingin ikut nimbrung nih bicara wanita karir,
Kalo pendapat saya kita tidak bisa membuat kategorisasi pekerjaan yang
pantas buat perempuan dengan hanya melihat bahwa jenis pekerjaan tersebut
terlihat lebih mulia dibanding yang lain saja misalnya kategorisasi dokter,
guru sebagai syar'i dan yang di luar itu sebagai jenis pekerjaan yang tidak
syar'i.

Ada berbagai macam alasan mengapa perempuan bekerja di luar rumah dengan
berbagai macam bentuk dan jenis pekerjaan yang mereka lakukan mulai dari
alasan ekonomi sampai aktualisasi diri. Dan kita tidak tahu niat dan tujuan
mereka, jadi menurut saya kita tidak berhak menghakimi seseorang yang tidak
sama dengan kita itu diennya nggak sempurnalah atau apalah. (bukankah hanya
Allah yang berhak menjadi hakim atas keimanan kita).
Dan terus mengapa perempuan bekerja dengan alasan ekonomi lebih bisa kita
mafhumi ketimbang alasan aktualisasi diri? bukankah dalam piramida kebutuhan
manusia 'aktualisasi diri juga merupakan kebutuhan disamping kebutuhan
ekonomi dan juga kebutuhan untuk beragama?
Untuk kasus yg dicontohkan oleh saudari dija
Ada dua kepentingan dalam keluarga dokter tersebut -isteri dan suami-
Suami ingin isteri lebih memperhatikan anak
sedangkan isteri ingin mengaktualisasikan diri (tapi saya yakin dia juga
tetap akan memperhatikan si anak).
Kenapa kita selalu mengedepankan keinginan suami dan tidak memperhatikan
bahkan mengecam keinginan isteri? Apakah isteri tidak boleh punya keinginan?
Apakah salah kalo isteri punya keinginan?

Saya teringat ajaran seorang sufi Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya'
Ulumuddien
'Selalu jagalah hati dan tata hati kita supaya kita tidak terkena penyakit
hati seprti riya, sombong dan takabur' beliau mencontohkan
'Ketika engkau melihat seorang yang lebih tua dari kamu, maka katkanlah
dalam hatimu bahwa dia lebih baik dari kamu karena dia lahir lebih dahulu
dan oleh karena itu dia lebih banyak mengamalkan kebaikan2 daripada kita'
Jika engkau melihat anak kecil katakanlah dalam hatimu bahwa dia lebih
baik dari kamu karena dia lebih sedikit melakukan amal perbuatan yang jelek
atau dosa.
Dan jika engkau melihat seseorang berbuat salah katakanlah bahwa ia lebih
baik dari kita karena mungkin dia berbuat salah karena kebodohan atau
ketidaktahuan mereka sedangkan kita kadangkala berbuat hal yang buruk
padahal kita tahu itu salah'

Maksud saya mengutip ajaran ini adalah janganlah kita cepat dan mudah
menyimpulkan bahkan menghakimi segala sesuatu itu dengan hitam dan putih.
Ada berbagai dan beribu2 alasan dan sebab mengapa orang melakukan suatu hal
seperti halnya perempuan bekerja di luar rumah dan menjadi sekretaris dan
tidak menjadi dokter (lagian sekarang kan sekolah dokter mahaaaaaaalnya
minta ampun) gimana dong mas risdy kalo mampunya kita cuma bayar kuliah dan
lolosnya cuma D1 sekretaris.

Saya sebagai perempuan dan juga berkarir dan juga sedang menyelesaikan
studi saya di Australia  (wah pendapat saya nanti diangap bias nih gara2
kuliah di luar negeri), saya berkeyakinan dan ingin mengatakan kami
perempuan masih punya nurani, cerdas, baek hati pula jadi tolonglah sudah
cukup akhiri mengatakan bahwa kami diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok
dan patut di luruskan ato apalah ......
Kami ingin dihargai dan tidak selalu diolok2
Kami ingin disayangi, tidak dicaci maki bahkan di 'Poligami'
Kami juga manusia seperti kaum laki2 so please humanize us as human

Aniwei, I really enjoy joining this forum

Wassalam

peace and cheers
Salam hangat dari Canberra
-ulfah-


----- Original Message ----
From: dija dija <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, January 18, 2007 8:28:42 PM
Subject: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum

Assalamu'alaikum,
Hanya ingin menambahkan beberapa poin untuk penegasan atas pendapat saya
di e-mail sebelumnya.
Terutama bagi yang mungkin salah paham.

Bahwa klasifikasi yang saya buat, yaitu antara  wanita karir dan wanita
pekerja adalah penekanannya pada tujuan wanita tersebut bekerja. Yang secara
sederhana,Wanita pekerja penekanannya pada *bekerja untuk mencari
nafkah/membiayai kehidupannya* sementara wanita karir penekanannya pada 
*mengutamakan
karir atau pekerjaannya* (tidak semata untuk mencari uang untuk nafkah).
Berdasarkan itu saya katakan sekali lagi: Saya TIDAK SETUJU dengan WANITA
KARIR, tapi BOLEH WANITA BEKERJA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHANNYA (baca: untuk
nafkah, untuk survive hidup). Dengan memperhatikan batasan2nya tentu saja.

Lantas apakah bagi mereka yang bekerja di bidang yang syar'i, contoh
dokter, terlepas dari kemungkinan disebut wanita karir?
Saya katakan: TIDAK. Mengapa? Karena ada juga wanita yang bekerja di
bidang yang syar'i terjebak menjadi wanita karir. Mungkin diantara antum
sekalian pernah ada yang menemui kasus perceraian antara seorang suami yang
dokter spesialis dengan istri yang juga dokter spesialis, punya seorang
putri kecil umur 1 th. Di mana yang menuntut cerai adalah istri, dengan
alasan al, suami tidak lagi mengerti keinginan dirinya, yaitu ingin
aktualisasi diri - tidak hanya sebagai dokter yang memeriksa pasien, tapi
ingin lebih dari itu; dengan segudang aktivitas sosial sehingga lebih
bermanfaat ke masyarakat, juga ingin pendidikan yang lebih tinggi lagi,
sampai S3. Sementara suami menginginkan istrinya untuk lebih memperhatikan
putri mereka, yang otomatis tentu saja akan mengurangi aktivitas si istri di
luar.  Sebab si suami tidak ingin sang istri menomorduakan putrinya dan
menyerahkan putrinya kepada pengasuh. Nah ini contoh istri yang meskipun
punya pekerjaan syar'i tapi dia keblinger. Menjadi wanita karir. Ini yang
saya tidak setuju.

Dan saya pun tidak setuju, jika ada seorang istri atau pun wanita lajang
yang terpaksa bekerja untuk kebutuhan keluarga, tetapi ia menempuh pekerjaan
yang diharamkan.

Bagaimana dengan bidang lain? Saya kira selama itu tidak ada unsur haram,
boleh. Karena untuk selain ibadah, semuanya pada dasarnya adalah halal,
kecuali yang diharamkan.
Tapi tentu saja kondisi pekerjaan juga perlu diperhatikan, contoh jangan
buka depot/warung makan di lingkungan lokalisasi WTS meskipun banyak
mendapat pelanggan. Contoh lain, meskipun ruangan pekerjaan terdiri dari
wanita semua dan tidak dilarang berbusana muslimah, tapi pekerjaannya berbau
judi atau riba ya  tidak boleh dilakoni.

Sekali lagi saya katakan perlu kerjasama antara pihak laki-laki dan
perempuan jika ingin wanita tidak bertebaran di luar rumah.

Untuk laki-laki yang masih lajang dan mampu untuk menikah, jangan ragu2
untuk segera menikah, dengan anda menjadi kepala keluarga insyaAllah
berkurang jumlah wanita yang harus membiayai hidupnya sendiri.
Untuk wanita yang masih lajang, jangan tergoda dengan uang dan jabatan
yang anda miliki sekarang, wanita akan lebih mulia jika ia menjadi ratu
rumah tangga. Jika ada laki-laki yang baik akhlaknya melamarmu, kenapa harus
ragu?

Untuk laki-laki yang sudah berumah tangga, apakah pantas istrimu bekerja
di luar rumah bahkan sampai keluar negeri, mempertaruhkan nyawa dan
kehormatannya selama ia di luar rumah, sementara engkau ikut menikmati jerih
payahnya?  Engkau bisa mengendarai kendaraan hasil kerja istrimu, engkau
bisa tidur nyenyak di rumah yang dibangun dari uang kiriman istrimu. Mengapa
tidak engkau bangkit dari tempat dudukmu, bekerja, penuhi kebutuhan
keluargamu?
Untuk wanita yang sudah berumah tangga,  mengapa engkau merasa berat untuk
menjadi ratu rumah tangga? tempat di mana engkau bisa berjihad, yang
balasannya adalah surga. Sungguh hanya orang bodoh yang mencela pekerjaan
sebagai ibu rumah tangga.

Demikian.

wassalam,
dija





--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu "Media 
Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info)
Untuk mengirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya kirimkan 
email ke [email protected]

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke