Problematika Wanita Pekerja
www.mediamuslim.info

Wanita karir, dalam segala levelnya, kian hari kian mewabah. Dari
posisi pucuk pimpinan negara, top executive, hingga kondektur bus
bahkan tukang becak. Hingga kini boleh dibilang nyaris tidak ada jenis
profesi yang belum terambah kaum hawa.

Nampaknya, wanita telah meninggalkan kehidupannya yang khas pada era
agraris. Pada era tersebut ia adalah makhluk rumah sejati. Ia mengasuh
anak-anaknya dengan setia, juga berperan dalam perekonomian keluarga
dengan aktivitas di ladang-ladang tradisional seputar rumahnya. Dalam
mitos pertanian, wanita adalah petani pertama di muka bumi ini. Sang
suami, berkelana dari hutan ke hutan, padang ke padang untuk berburu
binatang. Ketika binatang-binatang tertentu ternyata diketahui dapat
dipelihara dan diternakkan maka pertanian dikembangkan secara intensif.
Wanita pun masih tak beranjak dari posisinya. Mereka tahu kapan menemui
suami di ladang, menyusui anak, dan kapan harus menanak nasi dirumah.
Dan yang khas, mereka tidak pernah bekerja pada suami orang lain.

Materialisme yang subur pada masa Renaissance telah menggiring manusia
pada era industrialisasi. Pandangan baru ini melihat wanita dan
laki-laki sama saja kodratnya, yakni sebagai faktor produksi. Hanya
saja dengan dilatarbelakangi pertimbangan fisik dan kelas sosial yanmg
berlaku upah kerja wanita selalu nomor dua. Kapitalisme menghancurkan
industri rumah tangga satu persatu. Satu superpabrik dengan multi
produksi cukup untuk satu kota atau negara. Dan manusia pekerja
tersedot ke dalamnya, termasuk wanita.

Wanita pun akhirnya berduyun-duyun meninggalkan "istananya",
berbaur dengan pria memasuki pabrik untuk menjadi pekerja atau buruh
dengan upah rendah. Ketika itu pula, mulai terdengar jerit tangis para
balita yang pagi hari sudah kehilangan ibunya.

"Dengan bekerja, saya bisa membelikan susu anak saya dan membelikan
banyak mainan untuk mereka. Suatu hal yang sulit jika saya hanya
mengandalkan gaji suami yang pas-pasan." Demikian argumen yang sering
kita dengar yang sepintas mungkin sangat manusiawi. Namun sayang, harga
yang dibayar terlampau mahal dari hanya sekedar susu formula dan mainan
anak-anak. Kasih sayang yang hilang, kecemasan, dan ketakutan anak-anak
ketika ditinggal sang ibu, akan masuk ke alam bawah sadarnya dan
mempengaruhi perkembangan pribadinya hingga kelak dia dewasa.
Pendidikan dien dan akhlak pun merupakan hal yang sangat sulit jika
seharian hanya berinteraksi dengan pembantu dan dididik televisi.
Lantas, bagaimanakah jadinya generasi ini?

Motif yang lain yang lebih tinggi tinggi tingkatannya adalah motif
psikologis dan tuntutan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat.
Gerakan emansipasi yang didengungkan wanita barat telah berhasil
memancing naluri wanita seantero bumi untuk berusaha menunjukkan
eksistensinya. Wanita memang hebat. Banyak diantara wanita yang tidak
kalah berhasil bahkan lebih berprestasi daripada kaum pria. Namun, di
lain pihak, bisakah para wanita menjadi "super women" yang sukses
dalam menjalankan peran gandanya? Jika kemudian statistik menunjukkan
angka kriminalitas, perceraian, perselingkuhan meningkat dikarenakan
terabaikannya keluarga sebagai basis pendidikan moral yang utama,
sungguh, lagi-lagi harga yang dibayar terlalu mahal.

Suatu hal yang dilematis, memang, jika kemudian wanita bekerja didorong
oleh tuntutan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah ia dapat. Oleh
karena itu para wanita muslimah seharusnya mempelajari ilmu yang
bermanfaat sesuai dengan kebutuhan wanita dan masyarakat walaupun tidak
merupakan keharusan maupun fardu kifayah. Harus ada relevansi antara
belajar dengan kebutuhannya sehingga wanita tidak menuntut sesuatu yang
tidak diperlukan olehnya atau masyarakatnya. Jika keadaan memaksa
hingga wanita musti bekerja di luar rumah, Islam telah memberikan
batasannya. Yaitu: harus seizin walinya (ayah atau suami) untuk
pekerjaan mubah, seperti mengajar anak putri atau menjadi perawat bagi
pasien wanita; Tidak ikhtilat (campur baur) dengan pria atau berkhlawat
dengan pria; Tidak bertabarruj dan memperlihatkan perhiasan atau
kecantikannya; Tidak bersolek dan memekai parfum; Memakai hijab yang
sesuai syari'at.

Bagaimanapun juga, tempat bekerja wanita yang sesungguhnya dan yang
paling mulia adalah di dalam rumahnya. Disanalah wanita akan senantiasa
terlindungi dan dapat lebih dekat dengan Allah manakala menetap di
rumah, mencari ridha Allah dengan cara beribadah kepada-Nya,
mencurahkan segenap kemampuan untuk mendidik sang buah hati, mentaati
suami, dan memberikan kasih sayang kepada anggota keluarga.

Wanita yang hebat, bukanlah mereka yang harus bersaing berebut dunia
dengan kaum pria. Wanita yang sukses adalah yang bertanggung jawab
dengan tugas utama yang dianugerhakan Allah atasnya: mendidik generasi
tangguh masa depan.


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu "Media 
Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info)
Untuk mengirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya kirimkan 
email ke [email protected]

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke