Assalamualaikum Wr Wb. Terima kasih pak Hasbi Ashshiddiqi atas pencerahannya pagi ini. Semoga menjadi pahala anda dengan bertambahnya wawasan keagamaan saya. Insya Allah juga dengan teman lainnya.
Selaku member baru di komunitas ini, perkenan saya memperkenalkan diri. Saya ibu dari 2 putera (4 dan 1 tahun). Alhamdulillah diusia yang sudah tidak lagi muda saya masih diberi kesempatan menimang bayi. Seperti yang pernah salah satu rekan disini kemukakan bahwa 'bekerja' dan 'berkarir' itu beda. Dan saya termasuk yang 'bekerja' kalau kemudian karir ada (semakin tahun semakin maju) itu semata lillahitaala karena bukan tujuan utama. Alhamdulillah (lagi) saya bekerja di jajaran pemerintahan yang tidak terlalu saklek dengan jam kerja. Disiplin ilmu semasa sekolah bisa diterapkan karena selaras. Saya sering bilang keteman2 wanita (terlebih sudah ada anak) rumah tangga adalah nomor satu. Kita berhenti bekerja, pensiun atau meninggal dunia negara Indonesia akan tetap eksis, insya Allah. Tentu saja keputusan bekerja diluar rumah adalah keputusan yang sudah sangat matang. Bagaimana dengan para wanita yang bekerja sebelum bertemu jodoh, mencari pasangan-pun yang bisa menerima dirinya apa adanya bahkan mungkin bertemu ditempat kerja. Selain itu para suami semakin hari semakin matang (apalagi karirnya cemerlang), para isteri semakin tua, model badan tak lagi kencang dan sibuk dengan urusan rumah, anak dan pekerjaan. Katanya sudah sifat para laki2 itu adalah berganda pada wanita (hanya pengendalian diri yang membedakannya). Dengan bekerja (otomatis) aktualisasi dan harga diri mengikuti. Insya Allah para isteri akan tenang menjalani hidup ini, anak sudah dikasih, kepuasan sudah diberi, keuangan RT sudah dibantu (kala masih susah), segala pengobanan sudah dilaksanakan kalau para suami-nya masih juga beralasan macam2 untuk lain2, ough........ Mari sama2 saling menghargai sebagai sesama mahluk penghuni bumi termasuk kebersamaan dalam kehidupan suami-isteri. salam, ----- Pesan Asli ---- Dari: Hasbi Shiddiqi <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Selasa, 23 Januari, 2007 8:26:15 Topik: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum Ass. wr. wb, Menurut saya, yang perlu diperhatikan adalah jangan jadikan karir ataupun media aktualisasi diri apapun sebagai tameng/alasan untuk melepaskan diri atau lari dari tanggung jawab sebagai teman, istri, dan ibu bagi keluarganya. Jika belum sanggup dgn kondisi di atas, ada baiknya untuk menata mental terlebih dahulu sebelum keluar rumah untuk berkarir. Salam damai, ______________________________________________________ Hasbi Ash Shiddiqi Compliance Officer / Logistics Department / Banda Aceh Head Quarter / World Vision International / [EMAIL PROTECTED] / +628126988585 ----- Original Message ---- From: Abdul Chalik <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, January 23, 2007 7:48:21 AM Subject: [mediamusliminfo] Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum Assalamualaykum Warahmatullahi wabarakatuh, Mau ikut kasih pendapat. Menurut ana permasalahan perempuan bekerja itu lebih besar disebabkan karena lemahnya pemahaman sebagian laki2 terhadap ayat 34 dari surat An Nisaa. Kesiapan menjadi pemimpin (qowwam) atas perempuan seharusnya disikapi secara integral, mulai dari kekuatan niat dan perencanaan yang matang pada saat akan menikahi seorang perempuan hingga kreatifitas dan kesabaran dalam mencari rizqi dan mengatur keluarga. Perempuan bekerja menurut hemat saya disebabkan sebagian besar karena tekanan ekonomi. Saya koq nggak begitu sepakat kalau dikatakan perempuan butuh sarana untuk aktualisasi diri. Andaikan suami lihai dalam mengatur kehidupan keluarga saya yakin setiap istri akan memiliki kesibukan yang luar biasa. Perempuan bisa saja aktif bahkan sibuk bekerja (selain mengurus rumah tangga) dari dalam rumah, tanpa harus melalaikan fungsinya sebagai ibu. Wallahu alam bishshowaab From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Any Haryani Sent: Monday, January 22, 2007 12:29 PM To: [email protected] Subject: [mediamusliminfo] Hal: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum Terima kasih Ulfah di Canberra. Tulisan anda sangat bagus dan saya amini. Wanita yang katanya selalu bengkok bisa menjadi lentur dengan kebaikan, kelembutan, kesetiaan dan niat untuk tidak akan pernah menyakiti. Seorang wanita bisa tetap mulia dengan bekerja (baik terpaksa karena alasan ekonomi) atau aktualisasi diri. Terlebih lagi dengan bekerja karena niat mulia (awalnya terpaksa) akhirnya mendapatkan banyak hal misalnya ilmu yang bertambah (dunia akhirat), aktualisasi diri (menyertai) karena bekerja dibidang yang disukai dan berdasarkan disiplin ilmu di bangku sekolah, pergaulan sehat (yang tidak sehat ditinggalkan), dan mendapatkan penghasilan untuk membantu membesarkan/mendidik/mengantarkan anak pada kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik. Dan bagi saya pribadi, bekerja adalah untuk menguatkan diri pada keterikatan dengan suami dan keluarga besarnya. Wallahualambishawab. wassalam, ----- Pesan Asli ---- Dari: Ullfah Muhayani <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kamis, 18 Januari, 2007 8:10:28 Topik: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum Assalamu'alaikum Jadi ingin ikut nimbrung nih bicara wanita karir, Kalo pendapat saya kita tidak bisa membuat kategorisasi pekerjaan yang pantas buat perempuan dengan hanya melihat bahwa jenis pekerjaan tersebut terlihat lebih mulia dibanding yang lain saja misalnya kategorisasi dokter, guru sebagai syar'i dan yang di luar itu sebagai jenis pekerjaan yang tidak syar'i. Ada berbagai macam alasan mengapa perempuan bekerja di luar rumah dengan berbagai macam bentuk dan jenis pekerjaan yang mereka lakukan mulai dari alasan ekonomi sampai aktualisasi diri. Dan kita tidak tahu niat dan tujuan mereka, jadi menurut saya kita tidak berhak menghakimi seseorang yang tidak sama dengan kita itu diennya nggak sempurnalah atau apalah. (bukankah hanya Allah yang berhak menjadi hakim atas keimanan kita). Dan terus mengapa perempuan bekerja dengan alasan ekonomi lebih bisa kita mafhumi ketimbang alasan aktualisasi diri? bukankah dalam piramida kebutuhan manusia 'aktualisasi diri juga merupakan kebutuhan disamping kebutuhan ekonomi dan juga kebutuhan untuk beragama? Untuk kasus yg dicontohkan oleh saudari dija Ada dua kepentingan dalam keluarga dokter tersebut -isteri dan suami- Suami ingin isteri lebih memperhatikan anak sedangkan isteri ingin mengaktualisasikan diri (tapi saya yakin dia juga tetap akan memperhatikan si anak). Kenapa kita selalu mengedepankan keinginan suami dan tidak memperhatikan bahkan mengecam keinginan isteri? Apakah isteri tidak boleh punya keinginan? Apakah salah kalo isteri punya keinginan? Saya teringat ajaran seorang sufi Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumuddien 'Selalu jagalah hati dan tata hati kita supaya kita tidak terkena penyakit hati seprti riya, sombong dan takabur' beliau mencontohkan 'Ketika engkau melihat seorang yang lebih tua dari kamu, maka katkanlah dalam hatimu bahwa dia lebih baik dari kamu karena dia lahir lebih dahulu dan oleh karena itu dia lebih banyak mengamalkan kebaikan2 daripada kita' Jika engkau melihat anak kecil katakanlah dalam hatimu bahwa dia lebih baik dari kamu karena dia lebih sedikit melakukan amal perbuatan yang jelek atau dosa. Dan jika engkau melihat seseorang berbuat salah katakanlah bahwa ia lebih baik dari kita karena mungkin dia berbuat salah karena kebodohan atau ketidaktahuan mereka sedangkan kita kadangkala berbuat hal yang buruk padahal kita tahu itu salah' Maksud saya mengutip ajaran ini adalah janganlah kita cepat dan mudah menyimpulkan bahkan menghakimi segala sesuatu itu dengan hitam dan putih. Ada berbagai dan beribu2 alasan dan sebab mengapa orang melakukan suatu hal seperti halnya perempuan bekerja di luar rumah dan menjadi sekretaris dan tidak menjadi dokter (lagian sekarang kan sekolah dokter mahaaaaaaalnya minta ampun) gimana dong mas risdy kalo mampunya kita cuma bayar kuliah dan lolosnya cuma D1 sekretaris. Saya sebagai perempuan dan juga berkarir dan juga sedang menyelesaikan studi saya di Australia (wah pendapat saya nanti diangap bias nih gara2 kuliah di luar negeri), saya berkeyakinan dan ingin mengatakan kami perempuan masih punya nurani, cerdas, baek hati pula jadi tolonglah sudah cukup akhiri mengatakan bahwa kami diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan patut di luruskan ato apalah ...... Kami ingin dihargai dan tidak selalu diolok2 Kami ingin disayangi, tidak dicaci maki bahkan di 'Poligami' Kami juga manusia seperti kaum laki2 so please humanize us as human Aniwei, I really enjoy joining this forum Wassalam peace and cheers Salam hangat dari Canberra -ulfah- ----- Original Message ---- From: dija dija <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, January 18, 2007 8:28:42 PM Subject: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum Assalamu'alaikum, Hanya ingin menambahkan beberapa poin untuk penegasan atas pendapat saya di e-mail sebelumnya. Terutama bagi yang mungkin salah paham. Bahwa klasifikasi yang saya buat, yaitu antara wanita karir dan wanita pekerja adalah penekanannya pada tujuan wanita tersebut bekerja. Yang secara sederhana,Wanita pekerja penekanannya pada bekerja untuk mencari nafkah/membiayai kehidupannya sementara wanita karir penekanannya pada mengutamakan karir atau pekerjaannya (tidak semata untuk mencari uang untuk nafkah). Berdasarkan itu saya katakan sekali lagi: Saya TIDAK SETUJU dengan WANITA KARIR, tapi BOLEH WANITA BEKERJA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHANNYA (baca: untuk nafkah, untuk survive hidup). Dengan memperhatikan batasan2nya tentu saja. Lantas apakah bagi mereka yang bekerja di bidang yang syar'i, contoh dokter, terlepas dari kemungkinan disebut wanita karir? Saya katakan: TIDAK. Mengapa? Karena ada juga wanita yang bekerja di bidang yang syar'i terjebak menjadi wanita karir. Mungkin diantara antum sekalian pernah ada yang menemui kasus perceraian antara seorang suami yang dokter spesialis dengan istri yang juga dokter spesialis, punya seorang putri kecil umur 1 th. Di mana yang menuntut cerai adalah istri, dengan alasan al, suami tidak lagi mengerti keinginan dirinya, yaitu ingin aktualisasi diri - tidak hanya sebagai dokter yang memeriksa pasien, tapi ingin lebih dari itu; dengan segudang aktivitas sosial sehingga lebih bermanfaat ke masyarakat, juga ingin pendidikan yang lebih tinggi lagi, sampai S3. Sementara suami menginginkan istrinya untuk lebih memperhatikan putri mereka, yang otomatis tentu saja akan mengurangi aktivitas si istri di luar. Sebab si suami tidak ingin sang istri menomorduakan putrinya dan menyerahkan putrinya kepada pengasuh. Nah ini contoh istri yang meskipun punya pekerjaan syar'i tapi dia keblinger. Menjadi wanita karir. Ini yang saya tidak setuju. Dan saya pun tidak setuju, jika ada seorang istri atau pun wanita lajang yang terpaksa bekerja untuk kebutuhan keluarga, tetapi ia menempuh pekerjaan yang diharamkan. Bagaimana dengan bidang lain? Saya kira selama itu tidak ada unsur haram, boleh. Karena untuk selain ibadah, semuanya pada dasarnya adalah halal, kecuali yang diharamkan. Tapi tentu saja kondisi pekerjaan juga perlu diperhatikan, contoh jangan buka depot/warung makan di lingkungan lokalisasi WTS meskipun banyak mendapat pelanggan. Contoh lain, meskipun ruangan pekerjaan terdiri dari wanita semua dan tidak dilarang berbusana muslimah, tapi pekerjaannya berbau judi atau riba ya tidak boleh dilakoni. Sekali lagi saya katakan perlu kerjasama antara pihak laki-laki dan perempuan jika ingin wanita tidak bertebaran di luar rumah. Untuk laki-laki yang masih lajang dan mampu untuk menikah, jangan ragu2 untuk segera menikah, dengan anda menjadi kepala keluarga insyaAllah berkurang jumlah wanita yang harus membiayai hidupnya sendiri. Untuk wanita yang masih lajang, jangan tergoda dengan uang dan jabatan yang anda miliki sekarang, wanita akan lebih mulia jika ia menjadi ratu rumah tangga. Jika ada laki-laki yang baik akhlaknya melamarmu, kenapa harus ragu? Untuk laki-laki yang sudah berumah tangga, apakah pantas istrimu bekerja di luar rumah bahkan sampai keluar negeri, mempertaruhkan nyawa dan kehormatannya selama ia di luar rumah, sementara engkau ikut menikmati jerih payahnya? Engkau bisa mengendarai kendaraan hasil kerja istrimu, engkau bisa tidur nyenyak di rumah yang dibangun dari uang kiriman istrimu. Mengapa tidak engkau bangkit dari tempat dudukmu, bekerja, penuhi kebutuhan keluargamu? Untuk wanita yang sudah berumah tangga, mengapa engkau merasa berat untuk menjadi ratu rumah tangga? tempat di mana engkau bisa berjihad, yang balasannya adalah surga. Sungguh hanya orang bodoh yang mencela pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Demikian. wassalam, dija Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates. Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. http://id.mail.yahoo.com/ Looking for earth-friendly autos? Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center. ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam Google Groups yaitu "Media Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info) Untuk mengirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya kirimkan email ke [email protected] Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi http://groups.google.com/group/mediamusliminfo Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
