Masalah poligami dan wanita karir adalah dua hal yang berbeda, tetapi:

Kesalahan dalam memahami dua-duanya merupakan pasangan yang sangat kompak. 
Kesalahan dalam satu sisi akan mempererat kesalahan di satunya lagi.

Shahihnya pemahaman kita sesuai sunnah dalam satu hal inipun akan memperbaiki 
pemahaman kita dengan masalah yang lainnya.

Tidak bisa kita pahami dngan baik solusi dari wanita karir dari pemahaman 
poligami yang keliru.

Wallahu A'lam

Any Haryani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Assalamualaikum Wr Wb.

 Terima kasih pak Hasbi Ashshiddiqi atas pencerahannya pagi ini. Semoga menjadi 
pahala anda dengan bertambahnya wawasan keagamaan saya. Insya Allah juga dengan 
teman lainnya.
  
 Selaku member baru di komunitas ini, perkenan saya memperkenalkan diri. Saya 
ibu dari 2 putera (4 dan 1 tahun). Alhamdulillah diusia yang sudah tidak lagi 
muda saya masih diberi kesempatan menimang bayi.
 Seperti yang pernah salah satu rekan disini kemukakan bahwa 'bekerja' dan 
'berkarir' itu beda. Dan saya termasuk yang 'bekerja' kalau kemudian karir ada 
(semakin tahun semakin maju) itu semata lillahitaala karena bukan tujuan utama.
 Alhamdulillah (lagi) saya bekerja di jajaran pemerintahan yang tidak terlalu 
saklek dengan jam kerja. Disiplin ilmu semasa sekolah bisa diterapkan karena 
selaras. Saya sering bilang keteman2 wanita (terlebih sudah ada anak) rumah 
tangga adalah nomor satu. Kita berhenti bekerja, pensiun atau meninggal dunia 
negara Indonesia akan tetap eksis, insya Allah.
 Tentu saja keputusan bekerja diluar rumah adalah keputusan yang sudah sangat 
matang. Bagaimana dengan para wanita yang bekerja sebelum bertemu jodoh, 
mencari pasangan-pun yang bisa menerima dirinya apa adanya bahkan mungkin 
bertemu ditempat kerja.
  
 Selain itu para suami semakin hari semakin matang (apalagi karirnya 
cemerlang), para isteri semakin tua, model badan tak lagi kencang dan sibuk 
dengan urusan rumah, anak dan pekerjaan. 
 Katanya sudah sifat para laki2 itu adalah berganda pada wanita (hanya 
pengendalian diri yang membedakannya). Dengan bekerja (otomatis) aktualisasi 
dan harga diri  mengikuti. Insya Allah para isteri akan tenang menjalani hidup 
ini, anak sudah dikasih, kepuasan sudah diberi, keuangan RT sudah dibantu (kala 
masih susah), segala pengobanan sudah dilaksanakan kalau para suami-nya masih 
juga beralasan macam2 untuk lain2, ough........
 Mari sama2 saling menghargai sebagai sesama mahluk penghuni bumi termasuk 
kebersamaan dalam kehidupan suami-isteri.
  
 salam,
  
  
 ----- Pesan Asli ----
Dari: Hasbi Shiddiqi <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 23 Januari, 2007 8:26:15
Topik: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum

  Ass. wr. wb,
  
 Menurut saya, yang perlu diperhatikan adalah jangan jadikan karir ataupun 
media aktualisasi diri apapun sebagai tameng/alasan untuk melepaskan diri atau 
lari dari tanggung jawab sebagai teman, istri, dan ibu bagi keluarganya. 
 
 Jika belum sanggup dgn kondisi di atas, ada baiknya untuk menata mental 
terlebih dahulu sebelum keluar rumah untuk berkarir.
 
Salam damai, 
______________________________________________________ 
Hasbi Ash Shiddiqi 
Compliance Officer / Logistics Department / Banda Aceh Head Quarter / 
World Vision International / [EMAIL PROTECTED] / +628126988585  

 ----- Original Message ----
From: Abdul Chalik <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, January 23, 2007 7:48:21 AM
Subject: [mediamusliminfo] Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum

      Assalamu’alaykum Warahmatullahi wabarakatuh,
  
 Mau ikut kasih pendapat. 
 Menurut ana permasalahan perempuan bekerja itu lebih besar disebabkan karena 
lemahnya pemahaman sebagian laki2 terhadap ayat 34 dari surat An Nisaa’. 
Kesiapan menjadi pemimpin (qowwam) atas perempuan seharusnya disikapi secara 
integral, mulai dari kekuatan niat dan perencanaan yang matang pada saat akan 
menikahi seorang perempuan hingga kreatifitas dan kesabaran dalam mencari rizqi 
dan mengatur keluarga. Perempuan bekerja menurut hemat saya disebabkan sebagian 
besar karena tekanan ekonomi. Saya koq nggak begitu sepakat kalau dikatakan 
perempuan butuh sarana untuk aktualisasi diri. Andaikan suami lihai dalam 
mengatur kehidupan keluarga saya yakin setiap istri akan memiliki kesibukan  
yang luar biasa. Perempuan bisa saja aktif bahkan sibuk bekerja (selain 
mengurus rumah tangga) dari dalam rumah, tanpa harus melalaikan fungsinya 
sebagai ibu.
  
 Wallahu a’lam bishshowaab
  
   
---------------------------------
 
 From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
Any Haryani
Sent: Monday, January 22, 2007 12:29 PM
To: [email protected]
Subject: [mediamusliminfo] Hal: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan 
Tampil dimuka Umum

  
   Terima kasih Ulfah di Canberra.

  Tulisan anda sangat bagus dan saya amini. Wanita yang katanya selalu bengkok 
bisa menjadi lentur dengan kebaikan, kelembutan, kesetiaan dan niat untuk tidak 
akan pernah menyakiti.

   

  Seorang wanita bisa tetap mulia dengan bekerja (baik terpaksa karena alasan 
ekonomi) atau aktualisasi diri. Terlebih lagi dengan bekerja karena niat mulia 
(awalnya terpaksa) akhirnya mendapatkan banyak hal misalnya ilmu yang bertambah 
(dunia akhirat), aktualisasi diri (menyertai) karena bekerja dibidang yang 
disukai dan berdasarkan disiplin ilmu di bangku sekolah, pergaulan sehat (yang 
tidak sehat ditinggalkan), dan mendapatkan penghasilan untuk membantu 
membesarkan/mendidik/mengantarkan anak pada kesejahteraan dan kehidupan yang 
lebih baik.

  Dan bagi saya pribadi, bekerja adalah untuk menguatkan diri pada keterikatan 
dengan suami dan keluarga besarnya.

  Wallahualambishawab.

   

  wassalam,

    

  

 

  ----- Pesan Asli ----
Dari: Ullfah Muhayani <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 18 Januari, 2007 8:10:28
Topik: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum
   Assalamu'alaikum

   

  Jadi ingin ikut nimbrung nih bicara wanita karir,

  Kalo pendapat saya kita tidak bisa membuat kategorisasi pekerjaan yang pantas 
buat perempuan dengan hanya melihat bahwa jenis pekerjaan tersebut terlihat 
lebih mulia dibanding yang lain saja misalnya kategorisasi dokter, guru sebagai 
syar'i dan yang di luar itu sebagai jenis pekerjaan yang tidak syar'i. 

   

  Ada berbagai macam alasan mengapa perempuan bekerja di luar rumah dengan 
berbagai macam bentuk dan jenis pekerjaan yang mereka lakukan mulai dari alasan 
ekonomi sampai aktualisasi diri. Dan kita tidak tahu niat dan tujuan mereka, 
jadi menurut saya kita tidak berhak menghakimi seseorang yang tidak sama dengan 
kita itu diennya nggak sempurnalah atau apalah. (bukankah hanya Allah yang 
berhak menjadi hakim atas keimanan kita). 

  Dan terus mengapa perempuan bekerja dengan alasan ekonomi lebih bisa kita 
mafhumi ketimbang alasan aktualisasi diri? bukankah dalam piramida kebutuhan 
manusia 'aktualisasi diri juga merupakan kebutuhan disamping kebutuhan ekonomi 
dan juga kebutuhan untuk beragama?

  Untuk kasus yg dicontohkan oleh saudari dija

  Ada dua kepentingan dalam keluarga dokter tersebut -isteri dan suami-

  Suami ingin isteri lebih memperhatikan anak

  sedangkan isteri ingin mengaktualisasikan diri (tapi saya yakin dia juga 
tetap akan memperhatikan si anak).

  Kenapa kita selalu mengedepankan keinginan suami dan tidak memperhatikan 
bahkan mengecam keinginan isteri? Apakah isteri tidak boleh punya keinginan? 
Apakah salah kalo isteri punya keinginan?

   

  Saya teringat ajaran seorang sufi Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumuddien

  'Selalu jagalah hati dan tata hati kita supaya kita tidak terkena penyakit 
hati seprti riya, sombong dan takabur' beliau mencontohkan

  'Ketika engkau melihat seorang yang lebih tua dari kamu, maka katkanlah dalam 
hatimu bahwa dia lebih baik dari kamu karena dia lahir lebih dahulu dan oleh 
karena itu dia lebih banyak mengamalkan kebaikan2 daripada kita'

  Jika engkau melihat anak kecil katakanlah dalam hatimu bahwa dia lebih baik 
dari kamu karena dia lebih sedikit melakukan amal perbuatan yang jelek atau 
dosa.

  Dan jika engkau melihat seseorang berbuat salah katakanlah bahwa ia lebih 
baik dari kita karena mungkin dia berbuat salah karena kebodohan atau 
ketidaktahuan mereka sedangkan kita kadangkala berbuat hal yang buruk padahal 
kita tahu itu salah'

   

  Maksud saya mengutip ajaran ini adalah janganlah kita cepat dan mudah 
menyimpulkan bahkan menghakimi segala sesuatu itu dengan hitam dan putih. Ada 
berbagai dan beribu2 alasan dan sebab mengapa orang melakukan suatu hal seperti 
halnya perempuan bekerja di luar rumah dan menjadi sekretaris dan tidak menjadi 
dokter (lagian sekarang kan sekolah dokter mahaaaaaaalnya minta ampun) gimana 
dong mas risdy kalo mampunya kita cuma bayar kuliah dan lolosnya cuma D1 
sekretaris.

   

  Saya sebagai perempuan dan juga berkarir dan juga sedang menyelesaikan studi 
saya di Australia  (wah pendapat saya nanti diangap bias nih gara2 kuliah di 
luar negeri), saya berkeyakinan dan ingin mengatakan kami perempuan masih punya 
nurani, cerdas, baek hati pula jadi tolonglah sudah cukup akhiri mengatakan 
bahwa kami diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan patut di luruskan ato 
apalah ......

  Kami ingin dihargai dan tidak selalu diolok2

  Kami ingin disayangi, tidak dicaci maki bahkan di 'Poligami'

  Kami juga manusia seperti kaum laki2 so please humanize us as human

   

  Aniwei, I really enjoy joining this forum

   

  Wassalam

   

  peace and cheers

  Salam hangat dari Canberra

  -ulfah-

   

   

  ----- Original Message ----
From: dija dija <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, January 18, 2007 8:28:42 PM
Subject: [mediamusliminfo] Re: Hukum Wanita Karier Dan Tampil dimuka Umum

Assalamu'alaikum,
Hanya ingin menambahkan beberapa poin untuk penegasan atas pendapat saya di 
e-mail sebelumnya.
Terutama bagi yang mungkin salah paham.

Bahwa klasifikasi yang saya buat, yaitu antara  wanita karir dan wanita pekerja 
adalah penekanannya pada tujuan wanita tersebut bekerja. Yang secara 
sederhana,Wanita pekerja penekanannya pada bekerja untuk mencari 
nafkah/membiayai kehidupannya sementara wanita karir penekanannya pada 
mengutamakan karir atau pekerjaannya (tidak semata untuk mencari uang  untuk 
nafkah). 
Berdasarkan itu saya katakan sekali lagi: Saya TIDAK SETUJU dengan WANITA 
KARIR, tapi BOLEH WANITA BEKERJA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHANNYA (baca: untuk 
nafkah, untuk survive hidup). Dengan memperhatikan batasan2nya tentu saja.

Lantas apakah bagi mereka yang bekerja di bidang yang syar'i, contoh dokter, 
terlepas dari kemungkinan disebut wanita karir? 
Saya katakan: TIDAK. Mengapa? Karena ada juga wanita yang bekerja di bidang 
yang syar'i terjebak menjadi wanita karir. Mungkin diantara antum sekalian 
pernah ada yang menemui kasus perceraian antara seorang suami yang dokter 
spesialis dengan istri yang juga dokter spesialis, punya seorang putri kecil 
umur 1 th. Di mana yang menuntut cerai adalah istri, dengan alasan al, suami 
tidak lagi mengerti keinginan dirinya, yaitu ingin aktualisasi diri - tidak 
hanya sebagai dokter yang memeriksa pasien, tapi ingin lebih dari itu; dengan 
segudang aktivitas sosial sehingga lebih bermanfaat ke masyarakat, juga  ingin 
pendidikan yang lebih tinggi lagi, sampai S3. Sementara suami menginginkan 
istrinya untuk lebih memperhatikan putri mereka, yang otomatis tentu saja akan 
mengurangi aktivitas si istri di luar.  Sebab si suami tidak ingin sang istri 
menomorduakan putrinya dan menyerahkan putrinya kepada pengasuh. Nah ini contoh 
istri yang meskipun punya pekerjaan syar'i tapi dia keblinger.
 Menjadi wanita karir. Ini yang saya tidak setuju.

Dan saya pun tidak setuju, jika ada seorang istri atau pun wanita lajang yang 
terpaksa bekerja untuk kebutuhan keluarga, tetapi ia menempuh pekerjaan yang 
diharamkan. 

Bagaimana dengan bidang lain? Saya kira selama itu tidak ada unsur haram, 
boleh. Karena untuk selain ibadah, semuanya pada dasarnya adalah halal, kecuali 
yang diharamkan. 
Tapi tentu saja kondisi pekerjaan juga perlu diperhatikan, contoh jangan buka 
depot/warung makan di lingkungan lokalisasi WTS meskipun banyak mendapat 
pelanggan. Contoh lain, meskipun ruangan  pekerjaan terdiri dari wanita semua 
dan tidak dilarang berbusana muslimah, tapi pekerjaannya berbau judi atau riba 
ya  tidak boleh dilakoni.

Sekali lagi saya katakan perlu kerjasama antara pihak laki-laki dan perempuan 
jika ingin wanita tidak bertebaran di luar rumah.

Untuk laki-laki yang masih lajang dan mampu untuk menikah, jangan ragu2 untuk 
segera menikah, dengan anda menjadi kepala keluarga insyaAllah berkurang jumlah 
wanita yang harus membiayai hidupnya sendiri.
Untuk wanita yang masih lajang, jangan tergoda dengan uang dan jabatan yang 
anda miliki sekarang, wanita akan lebih mulia jika ia menjadi ratu rumah 
tangga. Jika ada laki-laki yang baik akhlaknya melamarmu, kenapa harus ragu?

Untuk laki-laki yang sudah berumah tangga, apakah pantas istrimu bekerja di 
luar rumah bahkan sampai keluar negeri, mempertaruhkan nyawa dan kehormatannya 
selama ia di luar rumah, sementara engkau ikut menikmati jerih payahnya?  
Engkau bisa mengendarai  kendaraan hasil kerja istrimu, engkau bisa tidur 
nyenyak di rumah yang dibangun dari uang kiriman istrimu. Mengapa tidak engkau 
bangkit dari tempat dudukmu, bekerja, penuhi kebutuhan keluargamu?
Untuk wanita yang sudah berumah tangga,  mengapa engkau merasa berat untuk 
menjadi ratu rumah tangga? tempat di mana engkau bisa berjihad, yang balasannya 
adalah surga. Sungguh hanya orang bodoh yang mencela pekerjaan sebagai ibu 
rumah tangga.

Demikian.

wassalam,
dija


   


  
  
---------------------------------
 
 Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
   


  
  
---------------------------------
 
 Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap 
spam. 
http://id.mail.yahoo.com/





 
---------------------------------
 Looking for earth-friendly autos? 
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center. 




   
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
  
 






 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info)
Untuk mengirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya kirimkan 
email ke [email protected]

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke