Artikel ini semoga ada manfaatnya,
salam,
Endang Setiawati

*Pacaran Dalam Pandangan Islam*

*a. Islam Mengakui Rasa Cinta*

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika
seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa.
Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

*"Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik ."(QS. Ali
Imran :14).*

Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta
itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling
penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila
seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya
dengan cara yang paling baik.

Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang
yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang
paling baik terhadap istriku".

*b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal*

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan
manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan
itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan
ketertarikan sesaat.

Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak
mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka.

Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati
haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh
orang banyak.

Bahkan lebih 'keren'nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada
pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki
yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan
wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh
kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan 'pengayomnya`. Bahkan
'mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`.
Karena dia telah menjadi suami dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah
yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen
atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati
sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya
kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium
dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua
itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq
ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua
agama mengharamkan perzinaan. Sedangkan pemandangan yang lihat dimana ada
orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini
menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama.
Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene
masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang
benar-benar telah dilanda degradasi agama.

Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan
permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada
sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut
pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada
agama lain, bahkan justru lebih parah.

*c. Pacaran Bukan Cinta*

Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya
sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling
mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berentu sebuah
perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu
lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan
janji bertemu langsung.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang
terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan
formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara
mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga
kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat,
sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

*d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan*

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan
penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami
istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan
kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam
sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang
jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah
SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

*Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,"Wanita itu dinikahi
karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4]
agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari
Kitabun Nikah Bab Al-Akfa' fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha' Bab
Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)*

Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih
pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin
diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran
orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta'aruf. Jauh lebih bermanfaat
dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang
sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan
mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari
tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga
tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana
terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa
parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah
mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani
hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam
kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah
penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun
segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal
mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari.
Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Sumber : http://syariahonline.com/new_index.php/id/9/cn/8721


On 1/23/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Tapi biasanya kalo dah nikah, suami-istri jadi mantan pacar. Makanya
> sering bertengkar / bosan / gak cocok lagi.
> Kalo masa pancaran kan katanya masa yang paling indah, serasa dunia
> milik berdua - yang lain ngontrak, pahit getir rasanya manis.
>
> Berarti paradigmanya perlu diganti ya Om?
>
> wassalam,
> dija
>
>
> Jelajah Sejati wrote:
> > Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran
> > hukumnya haram. Kecuali jika telah menikah... silahkan berpacaran
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info)
Untuk mengirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya kirimkan 
email ke [email protected]

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke