Matematika Gaji dan Logika Sedekah<?xml:namespace prefix = o ns = 
"urn:schemas-microsoft-com:office:office" />


22 Jun 07 17:14 WIB

Oleh A. Muttaqin

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa 
memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut 
saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan 
kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah 
LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya 
justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan 
dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena 
penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang 
saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. 
Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang 
dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali 
perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan 
memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah 
lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada 
perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa 
tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah 
sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik 
materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang 
isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang 
adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy 
menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, 
hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana 
apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. <?xml:namespace 
prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />Ada dimensi 
non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. 
Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai 
gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, 
bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin 
dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." 
Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari 
medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. 
Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada 
pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu 
rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada 
jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu 
rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan 
pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah 
tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu 
itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa' 
keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu 
baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat 
malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi 
penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. 
Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu 
dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di 
tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah 
menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan 
orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya 
sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi 
dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola 
hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin 
menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi 
kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, 
dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. 
Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah 
akan menggantinya berlipat-lipat.

"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan 
dimensi sedekah itu?".

"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya 
menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi 
percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke 
atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona'ah, ridha dan syukur". Saya 
semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. 
Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan 
saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. 
Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme 
kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama 
diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. 
Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih 
berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

***

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu saya 
acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan 
saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah 
mengingatkan saya kembali:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan 
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan 
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) 
lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke