syukron

----- Original Message ----
From: Johan Indra Kelana <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 27, 2007 12:59:20 PM
Subject: [mediamusliminfo] Re: Assalamualaikum



 



 


  
  
  Matematika 
  Gaji dan Logika Sedekah

 
  22 Jun 07 
  17:14 WIB
 
  Oleh A. Muttaqin
 
  Dalam satu kesempatan tak terduga, 
  saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik 
  dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, 
  di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir 
  lancar.
 
  Kami bertemu dalam satu forum 
  pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan 
salah 
  satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran 
  bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria 
  ini.
 
  Saya menduga ia berasal dari kelas 
  sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah 
  yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari 
keluarga 
  yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang 
  dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan 
  saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami 
  bangun.
 
  Satu kali kami bicara tentang 
  penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami 
  satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita 
  tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami 
  sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang 
  membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang 
  amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik 
  materi.
 
  Penghasilannya sebulan sebagai 
  guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang 
  putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus 
  dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja 
  kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan 
  matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila 
  gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang 
  diterimanya.
 
  "Tapi, hidup kita tidak seluruhnya 
  matematika dan angka-angka.

 Ada dimensi non matematis dan di luar 
  angka-angka logis."
 
  "Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak 
  ngerti?"
 
  "Ya, kalau kita hanya tertuju pada 
  gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, 
  loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan 
  pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita 
  saja kurang."
 
  "Kenyataannya memang begitu 
  kan Mas?", 
  kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup 
  tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan 
  awalnya.
 
  "Ya, karena kita masih menggunakan 
  pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab 
  pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es 
  campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang 
  kita?"
 
  "Tidak ada. Habis." jawab saya 
  spontan.
 
  "Tapi saya jawab masih ada. Kita 
  masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan 
  memancing rezeki yang tidak terduga."
 
  Saya mencoba mencerna lebih dalam 
  penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. 
  Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana 
  sisanya?
 
  "Mas, bagaimana bisa. Uang yang 
  terakhir seribu rupiah itu,
 kan sudah diberikan pada pengemis ", saya 
  tak sabar untuk mendapat jawabannya.
 
  "Ya memang habis, karena kita 
  masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan 
  beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. 
  Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa' keberkahan untuk kita keluar 
  dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. 
Bagaimana 
  jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu 
  menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya 
  yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es 
campur 
  itu, ujung-ujungnya masuk WC."
 
  Subhanallah. Saya hanya terpaku 
  mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas 
  sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering 
  terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan 
  oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah 
  harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa 
  masih kurang serta sayang untuk memberi dan 
  berbagi.
 
  Penekanan arti keberkahan sedekah 
  diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam 
  obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang 
  kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas 
  jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan 
  sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai 
  yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya 
  berlipat-lipat.
 
  "Terus, gimana caranya Mas, agar 
  bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah 
  itu?".
 
  "Pertama, ingat, sedekah tidak 
  akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, 
  jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. 
  Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, 
padukanlah 
  nilai qona'ah, ridha dan syukur". Saya semakin 
  tertegun
 
  Dalam hati kecil, saya meraba 
  semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan 
Mas 
  Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi.
 Ada keterbungkaman yang 
  lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya 
  menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan 
kesadaran 
  batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara 
  melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir 
  mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya 
  kumpulkan.
 
  ***
 
  Sepulang berjamaah saya membuka 
  kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu saya acuhkan.
 Ada getaran seolah 
  menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya 
  terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya 
  kembali:
 
  "Perumpamaan 
  (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan 
  Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada 
  tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa 
  yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." 
  (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)















 
____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke