Alhamdulillah tentang penjelasan sebab di terimanya amalan telah di jelaskan oleh al Akh Hilwan Jazakallohu Khairan diantaranya harus Islam, meniatkan Ikhlas mengharap wajah Alloh, dan mengikuti perintah dari Alloh Ta'ala dan selain dari itu maka amalan itu tertolak, adapun urusan amal kita itu di terima itu adalah hal yang Ghoib setiap kita tidak tau apakah amalan kita itu diterima atau tidak, namun kita tetap berusaha untuk beribadah kepada Alloh Ta'ala.
adapun masalah hormat menghormati pendapat yang berbeda dalam perkara hal ini adalah Bathil "Kita Saling bekerja sama pada apa yang kita sepakati dan kita saling hormat menghormati pada apa yang kita perselisihkan", bagaimana kita bisa diam dengan Kesalahan yg terjadi pada Saudara2 kita sedang kita mengetahuinya dan kita tidaklah dikatakan oleh Nabi Shalallohu'alahi wa Sallam sebagai Setan yang bisu dan ini adalah murupakan salah satu bentuk Ibadah kepada Alloh dengan Nasihat menasihati Amar Ma'ruf wa Nahi anil Mungkar, sebab Agama itu adalah Nasehat untuk Alloh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslimin. Dan ini adalah yang membedakan Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah As Salafiyyah dengan Dakwah Hizbiyyah dakwah Sururiyyah, Ikhwaniyyah, dan Qutubhiyyah, Saya contohkan jika ada seorang Muslim shalat di masjid untuk shalat subuh namun dia ini melaksanakan shalatnya itu tampak berbeda dari kebanyakan kaum muslimin, orang2 melaksanakan shalat subuh 2 raka'at namun dia 3 raka'at. Pertanyaan apa yang kita lakukan melihat ke dzoliman ini? apakah diam!, dengan alasan untuk saling hormat menghormati ataukah memberi nasihat walaupun entah nasihat itu di terima atau tidak atau malah lebih parah dari itu kita malah dimaki sok suci, sok pintar, kamu memecah belah kaum muslimin dan lain2 lagi celaannya. trus apa yg kita lakukan? kasusnya hampir sama bukan dengan apa yg kita alami saat ini dengan mendiskusikan nifu sa'ban? Jawabannya adalah tetap memberikan Nasihat kepada orang yg menambah-nambah jumlah bilangan rakaat shalat subuh walaupun dia tidak akan menerima nasihat kita, walaupun celaan ditimpakan kepada kita, kita terangkan Sifat Shalat Nabi Shalallohu'alaihi Wa sallam, kerena ini adalah demi kebaikan Agama Islam itu sendiri sebab Matinya Ajaran Islam ini adalah dihidupkannya bid'ah2 dengan begitu matilah Sunnah. adapun tentang tulisan saya saya mengakui kerasnya sikap saya maka ana memohon maaf kepada teman2 Group milist semuanya, Cukuplah tulisan di bawah ini membuat ana sadar dan semoga menjadi penyemangat bagi kawan2 dalam menyebarkan Ilmu di Milits ini barokallohu Fikum Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh Menyikapi Kaum Muslimin yang Awam Al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed Memang, marah karena Allah termasuk hikmah. Bahkan, tanda keimanan seseorang pun ditandai dengan marah dan benci karena Allah. Yaitu, marah dan benci terhadap kekufuran, kebid'ahan dan kemaksiatan. Tetapi bersabarlah! Kendalikan emosi. Siapa tahu mereka itu orang-orang bodoh yang membutuhkan pelajaran. Kalau itu yang terjadi, ajarilah mereka dengan lemah lembut! Anas bin Malik radhiyallahu `anhu pernah mengatakan : "Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam saat beliau mengenakan jubah dari Najran yang kasar tepinya. Tiba-tiba datanglah seorang Arab gunung dan menarik jubah beliau secara keras. Akibat perbuatannya itu, aku melihat bekas tarikan tersebut pada sisi pundak beliau. Kemudian dia (orang Arab gunung itu) berucap : 'Wahai Muhammad, perintahkanlah, bahwa harta Allah yang ada padamu untukku.' Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melihat kepadanya dan tersenyum seraya memerintahkan untuk memberikan harta kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim) Contoh lain adalah kisah Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami, yang mengatakan : "Ketika aku shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seseorang dari satu kaum yang bersin. Maka aku mengucapkan yarhamukallah. Ketika semua orang melemparkan pandangannya kepadaku, sehingga aku berkata : 'Duhai ibuku yang kehilangan aku, ada apa kalian melihatku?' Mereka lalu menepuk tangan mereka ke pahanya. Ketika aku lihat, mereka menyuruh aku diam, lantas aku pun diam. Setelah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selesai shalat --dengan bapak dan ibuku-- sungguh aku belum pernah melihat seorang pengajar pun yang lebih baik pengajarannya dari beliau shallallahu `alaihi wa sallam. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula mencelaku. Beliau bersabda: 'Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak layak sedikit pun ada ucapan manusia. Sesungguhnya shalat adalah tasbih, takbir dan bacaan Al Qur'an.' " (HR. Muslim dalam kitab Masajid bab Tahrimul Kalam fish Shalah) Demikian pula sikap Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap seorang pemuda yang meminta ijin untuk berzina. Seperti diungkapkan Abu Umamah : "Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu` alaihi wa sallam mengatakan, 'Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.' Saat itu, orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya mengatakan, 'Mah, mah!' Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat. 'Mendekatlah,' ajak beliau. Pemuda itu pun mendekat. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, 'Sukakah engkau kalau hal ini terjadi pada ibumu?' 'Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,' jawabnya. 'Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,' jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, 'Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?' Ia Jawab, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu' Beliau jelaskan lagi, 'Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.' Kemudian beliau tanya, 'Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?' Pemuda itu menjawab, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu' Lalu beliau bersabda, 'Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.' 'Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?' Tanya beliau kembali. Dijawabnya, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu' Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyatakan, 'Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.' Beliau berikan lagi pertanyaan, 'Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (khalah / saudara perempuan ibu)?' Jawab pemuda itu, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.' Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menuturkan, 'Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi (khalah) mereka.' " Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : "Maka Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan : 'Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.' " (Kisah ini dinukil dari HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370) Kelembutan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun ditunjukkan pula terhadap seorang Arab gunung lainnya yang kencing di masjid. Anas bin Malik mengisahkan : "Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang Arab kampung. Orang itu lantas berdiri dan kencing di masjid. Maka (bangkitlah) para shahabat Rasulullah membentaknya seraya membentak, 'Mah, mah!' Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam lantas mencegah para para sahabat sambil bersabda, 'Jangan kalian putuskan kencingnya. Biarkan dia.' Maka para shahabat pun membiarkannya sampai ia selesai. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memanggilnya dan menasehatinya, 'Sesungguhnya masjid ini tidak patut sedikit pun untuk tempat buang air, (begitu pula) buang untuk kotoran. Masjid ini merupakan tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur'an.' Kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil seember air dan menyiramkannya." (HR. Muslim) Tidak hanya sampai di sini, kesabaran Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap orang-orang bodoh. Bahkan, dalam riwayat Bukhari masih berlanjut kisah orang Arab gunung tersebut. Yaitu, ketika Rasulullah dan para shahabat shalat bersamanya, maka orang tadi berdoa dalam shalatnya, "Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad dan janganlah engkau rahmati seorang pun selain kami." Maka ketika selesai shalat beliau bersabda, "Sungguh engkau telah mempersempit yang luas." Yang dimaksud adalah rahmat Allah yang luas. Demikianlah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyikapi seorang yang memang bodoh, membutuhkan pengajaran dan pendidikan. Ketika orang Arab gunung itu setelah faqih (memahami agama) dia katakan, "Ayah dan ibuku sebagai jaminan. Sungguh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bangkit kepadaku tanpa mencela, menghardik atau pun memukulku." Selain itu kita juga dapati sifat ta`anni beliau shallallahu `alaihi wa sallam ketika para shahabat membentak si orang gunung tersebut. Beliau malah mengatakan, "Biarkan dia". Hal itu karena beliau berfikir dan melihat sisi hikmah, yaitu jika dibentak dan diganggu ketika dia sedang buang air, akan membawa dampak negatif yang lebih banyak. Bisa jadi najis dari kencingnya akan berceceran di tempat yang lebih luas, atau najis itu bisa saja mengenai pakaiannya. Bahkan, justru akan menjadikan penyakit bagi orang tersebut karena menahan kencing dan lainnya. Demikianlah semestinya sikap seorang mukmin, apalagi dia seorang da'i. Janganlah segera bersikap emosional, bersifatlah ta`anni. Perlakukanlah orang-orang awam dan jahil dengan sabar serta ajarilah mereka dengan lemah lembut. Adapun orang-orang bodoh yang tidak mau mengerti perkataan orang, tinggalkanlah dan hindarilah dia dengan baik dan ucapkanlah ucapan yang baik. Allah berfirman dalam mengungkapkan sifat hamba-hamba- Nya : "Hamba-hamba Allah yang Maha Rahman adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati. Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan." (Al-Furqan: 63) Saat menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, "Yaitu jika orang-orang bodoh mengganggu mereka dengan ucapan yang jelek, mereka tidak membalasnya dengan yang semisal. Bahkan mereka memaafkan dan memaklumi serta tidak mengucapkan selain kebaikan semata. Sebagaimana Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak membalas kerasnya kejahilan seseorang melainkan dengan kelembutan yang amat sangat." Dikisahkan dalam sebuah riwayat, seorang mencela orang lain kemudian orang yang dicela tersebut mengatakan alaikas salam (semoga keselamatan atasmu). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang mendengar ucapan itu langsung menegur, "Ketahuilah, sesungguhnya malaikat (yang menyaksikan) di antara kalian berdua membelamu. Setiap dia mencelamu malaikat itu berkata, 'Bahkan engkau! Engkau lebih berhak dengannya!' Sedang ketika engkau mengucapkan kepadanya, 'alaikas salam,' malaikat itu berkata, 'bahkan atasmu! Engkau lebih berhak dengannya.' " (HR. Ahmad 5 / 445, Kata Ibnu Katsir sanadnya hasan. Lihat Al-Hikmah hal. 61) Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan berpaling dari orang-orang bodoh. "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A`raf: 199) Berkenaan dengan ayat ini, kita tengok riwayat Umar bin Khattab. Dikatakan Ibnu Abbas : "Uyainah bin Hishn bin Huzaijah datang dan singgah di rumah saudaranya, Al-Har bin Qais. Beliau adalah salah seorang yang dekat dengan Umar bin Khattab. Pada waktu itu para pembaca Al Qur'an merupakan teman-teman duduk Umar dan tempat bermusyawarah, baik orang tua atau pun pemuda. Berkatalah Uyainah kepada anak saudaranya itu, 'Wahai anak saudaraku, engkau memiliki kedudukan di sisi khalifah. Maka mintalah ijin agar aku diperkenankan menemuinya.' Berkatalah Al-Har, 'Aku akan mintakan ijin untukmu.' " Ibnu Abbas mengungkapkan kisah selanjutnya : "Kemudian Al-Har bin Qais memintakan ijin kepada Umar. Seketika itu Umar mengijinkannya. Ketika menghadap Umar, Uyainah ucapkan, 'Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, engkau tidak memberi kami banyak. Tidak pula menghukumi kami dengan adil.' Lantaran itu, marahlah Umar. Nyaris dilakukan sesuatu oleh Umar terhadapnya. Tetapi Al-Har malah mengucapkan, 'Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada Nabi-Nya : "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al A'raf :199) Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang bodoh." Demi Allah, Umar radliyallahu `anhu tidak melampaui apa yang dikatakan dalam ayat tersebut. Beliau memang seorang yang selalu 'berhenti' pada apa yang dikatakan pada kitab Allah." (HR. Al-Bukhari, lihat Al-Hikmah hal. 62) Demikianlah sikap Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika diberitahu bahwa ia (yang menghadap beliau) adalah orang bodoh. Sikap beliau tidak keluar dari apa yang dikatakan oleh Allah : "Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang ma'ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Wallahu 'a'lam (Dikutip dari tulisan al Ustadz Muhammad Umar as Sewed, judul asli Menyikapi Orang Awam. sumber : http://assunnah. cjb.net yoedha pamungkas <[EMAIL PROTECTED]> wrote: mas denneis....jangan suka suka menghantam....sesama muslim....hati hati mas ...tak tunggu di prapatan...hehehe.... bcanda kok mas soal menambah nambah ibadah ...saya mau tanya ...apa antum ....menjamin ibadah antum di terima?????...saya sih mending ngurusin diri dari pada sibuk memperhatikan ibadah orang di terima atau di tolak Allah...takut subyhat...yak buat antum aza gak usah larang...orang lain ibadah ..toh yang nentuin bukan kita...yang perlu di dorong adalah supaya mereka berpengetahuan mau belajar ibadah dengan baik dan benar tapi dengan jalan yang santun saling menghargai dan saling mengisi. jangan kita maunya hanya menghakimi dan mengantam sesama muslim...hehehe inilah kelemahan kita ummat di akhir zaman yang sibuk mencari kelemahan dan keburukan saudara sendiri...semoga kita selalu dalam ampunan dan rahmat Allah yang Maha Rahman dan Rahim --------------------------------- Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam Google Groups yaitu "Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected] ------------------------------------------------------------------------------------------------------ Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian satu-per-satu. ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi http://groups.google.com/group/mediamusliminfo Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
