Fatwa Syaikh Al-Albany tentang Nasyid
 Sabtu, 24 November 2007 - 05:00 PM, Penulis: Asy Syaikh Al-'Allamah
Muhammad Nashiruddin Al-Albany-rahimahullah
<http://www.darussalaf.org/index.php?name=Recommend_Us&req=FriendSend&sid=979>

Berkata Syaikh dalam kitabnya "Tahrim Alatuth Tharb (Haramnya Alat-Alat
Musik)" :

"Telah jelas pada fasal ketujuh tentang apa-apa saja yang boleh dilagukan
(dibaguskan suara) dari syi'ir dan apa-apa saja yang tidak boleh.
Sebagaimana telah jelas pada (penjelasan) sebelumnya tentang haramnya
alat-alat musik, semuanya kecuali duf pada hari 'ied dan pengantinan, untuk
wanita saja.

Dan pada fasal yang terakhir ini (di jelaskan.–pent.) bahwasanya tidaklah
boleh bertaqarrub kepada Allah kecuali sesuai dengan apa yang Allah
syari'atkan. Maka bagaimana boleh bertaqarrub kepada-Nya dengan apa-apa yang
di haramkan ?. Oleh karena itulah, para ulama mengharamkan ghina` Shufiyyah.
Dan pengingkaran mereka lebih keras lagi terhadap orang-orang yang
menghalalkannya. Maka apabila pembaca menghadirkan dalam benaknya ushul
(pokok-pokok/prinsip-prinsip dasar) yang kuat ini (tidak bertaqarrub kepada
Allah kecuali sesuai dengan syari'at Allah,-pent.) maka akan jelas baginya
dengan sejelas-jelasnya bahwasanya tidak ada perbedaan dari segi hukum
antara lagu-lagu (ghina`) Shufiyah dan nasyid-nasyid Ad-Diniyah.

Bahkan boleh jadi pada nasyid-nasyid ini ada bahaya/penyakit lain, yaitu
nasyid-nasyid ini kadang disenandungkan dengan mengikuti senandung lagu-lagu
gila dan dibuat dengan aturan-aturan (gaya-gaya) musik Timur atau Barat,
yang mempesona para pendengar dan menjadikan mereka menari-nari dan
mengeluarkan mereka dari kondisi mereka (yang sebenarnya,–pent.). Maka yang
dimaksud (yang diinginkan) adalah lagu-lagu dan musik itu, bukan nasyid itu
sendiri. Dan ini adalah merupakan penyelisihan yang baru yaitu tasyabbuh
(menyerupai) terhadap orang-orang kafir dan orang-orang kurang malu.

Dan di balik itu boleh jadi akan menghasilkan penyelisihan yang lain, yaitu
menyerupai mereka dalam keberpalingan mereka dari Al-Qur`an dan hijrahnya
(tidak mengacuhkannya) mereka dari Al-Qur`an. Maka mereka masukl ke dalam
keumuman pengaduan Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam dari
kaumnya. Sebagaimana firman Allah :



وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ
مَهْجُورًا
"Berkatalah Rasul : "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini
sebagai suatu yang tidak diacuhkan"." (QS. Al-Furqan : 30).

Dan saya sungguh ingat dengan baik, bahwa ketika saya di Damaskus, dua tahun
sebelum saya pindah ke sini (Amman) bahwasanya sebahagian pemuda muslim
mulai menyenandungkan sebagian nasyid-nasyid yang memiliki makna yang
selamat (dari khurafat dan kesyirikan, bid'ah maupun kefasikan,-pent.)
dengan maksud menyelisihi gina orang-orang sufiah seperti Qashidah
Al-Busiriyyah dan selainnya. Dan hal itu di rekam dalam kaset. Tidaklah
menunggu waktu kecuali sedikit hingga nasyid-nasyid tersebut telah diiringi
dengan pukulan duf (rebana). Pada awalnya mereka gunakannya pada acara
walimatul 'ursy (pesta pernikahan/pengantin) dengan alasan bahwa (duf) boleh
pada acara tersebut. Kemudian mulailah kaset tersebut diperbanyak dan
menyebarlah penggunaannya di kebanyakan rumah dan mulailah mereka
mendengarkan nasyid-nasyid ini siang dan malam baik dengan adanya
sebab-sebab tertentu (seperti acara walimatul 'ursy,-red.) atau tanpa sebab
tertentu sehingga jadilah yang demikian itu sebagai hiburan dan adat
kebiasaan mereka, dan hal itu adalah dari/disebabkan oleh kemenangan hawa
nafsu dan kejahilan dengan tipu daya syaithan, dimana syaithan telah
memalingkan mereka perhatian terhadap Al-Qur`an dan mendengarkan
pembacaannya lebih-lebih dari mempelajarinya, dan menjadikan Al-Qur`an suatu
yang tidak diacuhkan lagi oleh mereka, sebagaimana dijelaskan oleh ayat yang
mulia tersebut.

Ibnu Kastir berkata dalam tafsirnya : "Allah telah berfirman dalam rangka
mengabarkan tentang Rasul dan Nabi-Nya Muhammad shollallahu 'alaihi wa
sallam bahwasanya beliau berkata : "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku
menjadikan Al-Qur`an ini sebagai suatu yang tidak diacuhkan".". Yang
demikian karena orang-orang musyrikin dahulu tidak mau mendengar Al-Qur`an
dan tidak mau memperhatikannya, sebagaimana firman (Allah) Ta'ala :



وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا
فِيهِ

"Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan
sungguh-sungguh akan Al Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya"."
(QS. Al-Fushilat : 26).

Maka mereka (orang kafir), jika dibacakan Al Qur`an pada mereka, mereka
memperbanyak hiruk pikuk dan pembicaran yang lain supaya mereka tidak
mendengarkan (Al Qur`an). Maka ini termasuk hijrahnya (tidak acuhnya)
terhadap Al Qur`an dan tidak mau beriman dengannya.

Tidak membenarkannya adalah termasuk sikap meninggalkan/tak acuh
terhadapnya.

Tidak mentadabburi dan tidak mempelajarinya adalah termasuk sikap tak acuh.

Meninggalkan pengamalan terhadapnya, pelaksanaan perintah-perintahnya,
penjauhan terhadap larangannya adalah termasuk sikap tak acuh terhadapnya.

Berpaling darinya (Al Qur`an) kepada selainnya baik berupa sya'ir atau
ucapan, lagu, permainan, perkataan atau cara-cara yang diambil dari
selainnya adalah termasuk sikap tak acuh terhadapnya.

Maka kita meminta pada Allah Yang Maha Mulia, Sang Pemberi Karunia dan Yang
Maha Kuasa atas apa-apa yang dikehendaki-Nya, agar melepaskan kita dari
apa-apa yang dimurkai-Nya dan menjadikan kita beramal pada apa-apa yang
diridhoi-Nya, seperti menghafal kitab-Nya dan memahaminya serta mengamalkan
segala konsekwensinya (tuntutannya) sepanjang malam dan siang, sesuai dengan
apa yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya sesungguhnya Dialah yang Maha Mulia
dan Maha Pemberi". (Tafsir Ibnu Kastir 3/217). Amman 28/6/1415 H.



Dan sebelum ini pada (tulisan) berjudul "Al-Ghina` Ash-shufiy dan Anasyid
Islamiyah", Syaikh telah menyebutkan muqaddimah yang bagus bahwasanya tidak
ada yang diibadahi kecuali Allah saja dan tidaklah Allah diibadahi
(disembah) kecuali dengan apa-apa yang disyariatkan-Nya dan ini adalah
konsekwensi dari kecintaan yang dengannya seorang hamba akan mandapatkan
(merasakan) manisnya Iman.



Kemudian beliau berkata : "Jika sudah diketahui ini maka saya menganggap
wajib bagi saya, bertolak dari sabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa
sallam :



اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
"Agama adalah nasihat".

Untuk mengingatkan orang-orang yang terfitnah dari kalangan saudara-saudara
kami kaum muslimin, siapa dan bagaimanapun mereka, (yang terfitnah,-pent.)
dengan nyanyian sufi atau apa yang mereka namakan dengan nasyid-nasyid
Islamiyah, agar mereka dapat mendengarkan dan menyimak yang berikut ini :



· Bahwasanya nasyid (ghina`) tersebut adalah suatu yang diada-adakan tidak
pernah di kenal pada masa-masa yang disaksikan (diakui) kebaikannya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : "Bid'ah lebih disukai oleh iblis
daripada maksiat, oleh karena itu orang-orang yang menghadiri permainan atau
sesuatu yang melalaikan dia (sendiri) tidak menganggapnya (perbuatannya
tersebut) sebagai amalan salehnya dan tidak mengharapnya pahala dengannya.
Akan tetapi barang siapa yang melakukannya dengan dasar (keyakinan,-red.)
bahwasanya itu adalah suatu jalan (untuk bertaqarrub,-pent.) kepada Allah,
maka dia akan menjadikannya sebagai agama. Jika dilarang darinya, maka dia
akan seperti orang yang dilarang dari agamanya dan memandang bahwa sungguh
dia telah terputus (hubungannya,-pent) dari Allah, dan telah diharamkan
bagiannya (pahala) dari Allah Ta'ala jika dia tinggalkan.

Maka mereka-mereka ini adalah orang-orang yang sesat dengan kesepakatan
ulama kaum muslimin. Dan tidak ada seorangpun dari para A`immah (Imam-Imam)
kaum muslimin yang mengatakan bahwa menjadikan hal ini (nasyid-nasyid Islam
atau nasyid sufiah) sebagai agama, jalan bertaqarrub kepada Allah adalah
suatu mubah (boleh). Bahkan (yang sebenarnya adalah bahwa,-red.) barang
siapa yang menjadikan hal ini sebagai agama dan jalan menuju kepada Allah
Ta'ala maka dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan, orang yang
menyelisihi kesepakatan (ijma') kaum muslimin.

Dan barang siapa yang melihat kepada yang nampak dari suatu amalan lalu
membicarakannya (mengomentarinya) dan tidak melihat pada perbuatan pelaku
serta niatnya, maka dia adalah orang jahil ……..agama tanpa ilmu". (Majmu'
Al-Fatawa : 11/621-623).

· Tidak boleh bertaqarrub kepada Allah dengan apa-apa yang tidak
disyariatkan-Nya walaupun asal amalan tersebut disyariatkan, seperti adzan
untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Ini adalah pada yang asal amalannya disyari'atkan, maka bagaimana pula
dengan apa-apa yang diharamkan serta apa-apa yang ada padanya ada
penyerupaan terhadap orang-orang Nashara yang Allah berfirman tentang mereka
:



الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا
"Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda
gurauan". (QS. Al-A'raf : 51).

Dan tentang orang-orang musyrikin Allah berfirman :



وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِندَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاء وَتَصْدِيَةً
"Dan tidaklah sembahan mereka di sekitar Baitullah itu kecuali hanyalah
siulan dan tepuk tangan". (QS. Al-Anfal : 35)

Al-Muka` adalah (berarti) siulan, adapun Tashdiyah berarti tepuk tangan.
Al-Imam Asy-Syafi'iy berkata : "Saya telah tinggalkan di Iraq, sesuatu yang
disebut dengan "at-taghbir" yang dibuat-buat oleh Az-Zanadiqah (orang-orang
munafik), yang dengannya mereka menghalangi manusia dari Al-Qur`an".

Imam Ahmad ditanya tentangnya (at-taghbir), maka beliau menjawab : "(Itu
adalah) bid'ah". Dalam satu riwayat beliau (Imam Ahmad) mengingkarinya dan
melarang penggunaannya dan beliau berkata : "Jika engkau melihat seseorang
dari mereka pada suatu jalan, maka ambilah jalan yang lain". Diriwayatkan
juga oleh Al-Khallal. Adapun tambahan (riwayat terakhir) dari (kitab)
Mas`alatus Sama' karya Ibnul Qoyyim hal. 124.

At-Taghbir : syair yang mengajak untuk zuhud terhadap dunia, dilagukan oleh
seorang penyanyi, maka sebahagian yang hadir dan memukul hamparan dari kulit
dan bantal mengikuti irama lagunya; hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnul
Qoyyim dan selainnya.

Berkata Ibnu Taimiyah dalam Al-Majmu' (11/570) :

"Apa yang disebutkan oleh Asy-Syafi'iy bahwa "At-taghbir" tersebut merupakan
buatan orang-orang az-zanadiqah (munafiq) maka itu merupakan perkataan
seorang Imam yang khabir (ahli lagi berpengalaman) terhadap pokok-pokok
agama. Maka sesungguhnya as-sama' ini pada dasarnya tidak pernah dianjurkan
dan didakwahkan kecuali oleh orang yang tertuding (dicurigai) sebagai
orang-orang zindiq (munafiq) seperti Ibnu Ar-Rawandy, Al-Faraby, Ibnu Sina
dan semisalnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Abdirahman As-Sulamy
dalam "Mas`alatis Sama"."

Dan Syaikhul Islam juga berkata :

"Dan telah diketahui dengan pasti dan jelas dalam agama Islam bahwasanya
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mensyariatkan bagi umatnya yang
shaleh dan ahli ibadah dan orang-orang yang zuhud untuk berkumpul guna
mendengarkan bait-bait yang dilagukan dan diiringi tepuk tangan atau tabuhan
gendang atau duf, sebagaimana halnya Rasulullah tidak membolehkan pada
seorangpun untuk keluar dari mutaba'ah (pengikutan) kepada beliau dan
mengikuti apa-apa yang ada dalam Al-Qur`an dan hikmah (Hadits
Rasulullah,-pent.), baik itu perkara yang bathin (yang tidak nampak) maupun
yang nampak, baik bagi orang yang awam maupun orang khusus (tidak boleh sama
sekali untuk keluar dari mengikuti Rasulullah,-pent.)".

Kemudian (Syaikhul Islam) berkata :

"Dan barang siapa yang memiliki khibrah (pengetahuan yang dalam) terhadap
hakekat-hakekat agama dan keadaan-keadaan hati, pengenalan-pengenalan,
perasaan-perasaan dan kecintannya, maka dia akan tahu bahwa mendengarkan
siulan dan tepuk tangan tidak akan memberikan manfaat maupun kebaikan bagi
hati melainkan bahwa di balik itu terkandung mudharat/bahaya dan kerusakan
yang lebih besar…..". (Majmu' Al-Fatawa 11/537-576)."

Dinukil dari kitab Al-Qaul Al-Mufid fii Hukmil Anasyid karya 'Ishom 'Abdul
Mun'im Al-Murry.

dialih bahasakan oleh: Tim redaksi Majalah An-nashihah

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Fatwa&article=38

www.darussalaf.org

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke