Ayah, maafkanlah Aku...
Agustus 9, 2007 oleh Ishak
Entah sudah berapa kali aku menerima kiriman email berisi cerita berikut ini.
Namun setiap kali aku membacanya, air mata ini tak terasa selalu berlinang.
Semoga bisa jadi nasehat bagiku, dalam mendidik anak ku. Berikut ceritanya
..
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan
anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini,
perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap
kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia
bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga
dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat
mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka
coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya
karena
mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini
pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari
macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke
sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri,
lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu
berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang
baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak
yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, Kerjaan siapa ini !!!
. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga
beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis
tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan
Saya tidak tahu..tuan. Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau
lakukan? hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.
Dengan penuh manja dia berkata DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik
kan! katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah
yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di
depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak
yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas
memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan
hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa
Si ayah cukup lama
memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si
ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak
kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2
dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya
dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih
saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil
itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu
ke majikannya. Oleskan obat saja! jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan
waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga
hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga
begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. Dita demam,
Bu
jawab pembantunya ringkas. Kasih minum panadol aja , jawab si ibu.
Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat
anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar
pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa
suhu badan Dita terlalu panas. Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00
sudah siap kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa
ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya
susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan
ibu anak itu. Tidak ada pilihan..
kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong
karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut
Ini sudah bernanah, demi
menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah
kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar
kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata
isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan
pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis,
si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut
kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah.
Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan
sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. Ayah.. ibu
Dita tidak akan
melakukannya lagi
. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi
Dita
sayang ayah.. sayang ibu., katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal
menahan rasa sedihnya. Dita juga sayang Mbok Narti.. katanya memandang wajah
pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan
mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?
Bagaimana Dita mau
bermain nanti?
Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, katanya
berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2
dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya.
Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya
tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus
dipotong meski sudah minta maaf
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin
sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat
diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi
,
Namun
., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup
tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
"Sangat patut jadi renungan. Saya harap dapat disebarluaskan"
________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel,
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---