Pemurtadan dan Cara Menghadapinya


Oleh:H.Hartono Ahmad Jaiz




Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl/ 16: 106, 107, 108, 109:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat
kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap
tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang
melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan
baginya adzab yang besar.

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai
kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi
petunjuk kepada kaum yang kafir.

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya
telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.

Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.”
(terjemah QS An-Nahl/ 16: 106, 107, 108, 109).

   Al-Hafidh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhiem
menjelaskan:  Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang yang kafir
kepada-Nya setelah beriman dan mengetahui kebenaran, namun hati mereka
memilih kekafiran dan merasa tenang dengan kekafirannya itu. Maka
Allah benar-benar marah kepada mereka, karena mereka mengetahui
keimanan, kemudian berpaling darinya. Mereka itu akan mendapatkan
siksa yang sangat berat di akherat. Karena mereka lebih mementingkan
kehidupan dunia daripada akherat. Mereka pun lebih mendahulukan
kemurtadan hanya untuk dunia. Allah tidak memberi petunjuk kepada hati
mereka, dan tidak meneguhkan mereka pada agama yang benar. Maka Dia
mencap hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui sama sekali
sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Dan Dia mengunci pendengaran dan
penglihatan mereka, sehingga mereka tidak dapat menggunakannya. Mereka
adalah orang yang lalai dari apa yang mereka harapkan.

“Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.”
Artinya, mereka murugikan diri sendiri dan keluarga mereka pada hari
kiamat.

“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam
beriman”. Ini adalah pengecualian yaitu orang yang berbuat kafir pakai
lisannya, dan menyetujui orang-orang musyrik dalam ucapan secara
terpaksa, karena pukulan dan siksaan, sedangkan hatinya menolak apa yang
dia ucapkannya itu, dan dia tenang dengan beriman kepada Allah dan
rasul-Nya.

   Diriwayatkan oleh Al-’Ufi dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan
berkenaan dengan Ammar bin Yasir, ketika orang-orang musyrik
menyiksanya, sehingga dia mengucapkan kata-kata kekafiran terhadap
Muhammad saw. Maka dia (Ammar) sama dengan mereka disebabkan itu,
secara terpaksa, dan dia datang kepada Nabi saw untuk minta  udzur,
lalu Allah menurunkan ayat ini. Maka dari itu para ‘ulama sepakat
bahwa orang yang dipaksa atas kekafiran, diperbolehkan baginya
menerimanya (dengan ucapan lisan saja) untuk mempertahankan
perjuangannya. Dan diperbolehkan baginya untuk menolak (kekafiran/
kemusyrikan) sebagaimana Bilal ra menolak ajakan orang-orang Quraisy,
padahal mereka melakukan apa saja (siksaan) terhadapnya, bahkan batu
besarpun diletakkan di atas dadanya pada saat yang sangat panas (di
padang pasir), dan mereka memerintahkannya untuk berbuat musyrik
kepada Allah. Bilal pun menolak dengan berkata: Ahad, Ahad (Tuhan yang
Maha Esa, Tuhan yang Maha Esa) dan berkata: Demi Allah, seandainya aku
mengetahui kalimat yang lebih pedas dari kalimat itu untukmu, tentu
aku sudah mengucapkannya.

Mudah-mudahan Allah meridhoinya dan membuatnya ridho.

     Ali ra membakar orang-orang murtad

   Imam Ahmad berkata, diriwayatkan dari Ikrimah: Sesungguhnya Ali ra
membakar beberapa orang yang keluar dari Islam (para pengikut Abdullah
bin Saba’, pen). Lalu khabar itu sampai kepada Ibnu Abbas, maka Ibnu
Abbas berkata: Kalau aku, tidak akan membakar mereka dengan api.
Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Laa tu’adzdzibuu
bi’adzaabillaah” (janganlah kamu sekalian menyiksa dengan siksaan
Allah), dan aku  pernah membunuh mereka (yang murtad) karena  sabda
Rasulullah saw : “Man baddala diinahu faqtuluuhu” (Barangsiapa
mengganti agamanya maka bunuhlah dia)”. Lalu khabar (ucapan Ibnu
Abbas) itu sampai kepada Ali ra, maka ia berkata: waih (celaka, tapi
ucapan ini tidak dimaksudkan sebagai do’a celaka ataupun kata-kata
kasar, hanya ucapan biasa di Arab) ibu Ibnu Abbas.[1]

   Imam Ahmad juga berkata, dari Abu Bardah, ia berkata: Mu’adz bin Jabal
datang kepada Abu Musa di Yaman, maka dia dapati ada orang laki-laki
di situ, kemudian Mu’adz berkata: Apa ini? Abu Musa menjawab: Orang
ini dulunya beragama Yahudi, kemudian masuk Islam, kemudian kembali ke
agama Yahudi lagi, dan kami menginginkannya untuk tetap Islam, sejak
(ia katakan, saya kira) dua bulan. Maka Mu’adz berkata: Demi Allah!
Saya tidak akan duduk sehingga kamu semua memotong lehernya, maka saya
potong lehernya, maka Mu’adz berkata: “Allah dan Rasul-Nya telah
memberi keputusan, bahwa sesungguhnya orang yang keluar dari agamanya
bunuhlah dia”. Dan riwayat ini dalam Kitab Shahih al-Bukhari dan
Muslim dengan lafadh yang berbeda.

   Gigihnya Nasrani memurtadkan Muslimin

   Yang paling afdhal dan mulia, hendaklah seorang Muslim tetap pada
agamanya, walaupun dia diancam dengan pembunuhan, seperti yang telah
disebutkan oleh Al-Hafidh bin Asakir dalam riwayat hidup Abdullah bin
Hudzafah as-Sahmy, salah seorang sahabat Nabi saw: Bahwa sesungguhnya
dia ditawan oleh tentara Romawi. Kemudian dia dibawa ke raja mereka,
maka berkatalah raja itu:

   “ Masuklah kamu ke agama Nasrani, aku akan bagikan untukmu sebagian
kerajaanku, dan aku nikahkan kamu dengan anak puteriku.”

 Maka ia (Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy) berkata kepada raja itu:

    “Seandainya kamu memberiku semua yang kamu miliki, dan semua yang
dimiliki orang-orang Arab, agar aku keluar dari agama Muhammad saw
sekejap mata saja, aku tidak akan melakukannya.”

    Kemudian raja berkata: “Kalau begitu aku akan membunuhmu!”

    Maka ia menjawab: Engkau (bisa memilih ini dan) itu.

     Al-Hafidh (yang meriwayatkan kisah ini) berkata, maka raja
memerintahkan agar ia (Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy) disalib, dan
raja memerintahkan pasukan panah, maka mereka memanahnya dekat kedua
tangan dan kedua kakinya, sedangkan raja menawarinya dengan agama
Nasrani. Maka ia (Abdullah As-Sahmy) menolak. Kemudian raja
memerintahkan agar ia diturunkan. Lalu raja memerintahkan agar
didatangkan panci --dalam riwayat lain disebutkan, bejana besar dari
tembaga-- kemudian dipanasi, kemudian salah seorang tawanan dari
kaum Muslimin didatangkan dan dilemparkan ke dalamnya, ia (Abdullah
As-Sahmy) pun melihatnya, maka (Muslim yang dilemparkan ke bejana
panas itu kemudian) tinggallah tulang-tulang. Raja tetap menawar
Abdullah, dan ia pun menolak. Maka raja memerintahkan agar ia
dilemparkan ke dalam bejana itu, akan tetapi diundur sampai esok
hari. Lalu menangislah ia (Abdullah As-Sahmy). Maka raja mengira
bahwa ada harapan darinya, lalu raja memanggilnya. Maka ia
(Abdullah) berkata:

   “Sesungguhnya aku menangis hanyalah karena menyesali kenapa jiwaku
hanya satu, yang akan dilempar ke bejana ini. Dalam waktu sesaat aku
akan bertemu Allah, maka aku lebih senang kalau setiap rambut di
tubuhku dihitung satu jiwa, yang disiksa dengan siksaan seperti ini
dalam rangka memperjuangkan agama Allah.”

   Dan di sebagian riwayat, bahwa raja memasukkannya dalam penjara, dan
tidak memberinya makan dan minum berhari-hari, kemudian ia dikirimi
arak (khamr) dan daging babi, namun ia (Abdullah) tidak mau
mendekatinya. Kemudian raja memanggilnya, dan bertanya kepadanya: “Apa
yang melarangmu untuk makan?”

   Maka ia (Abdullah) menjawab: “Kalaupun makanan itu telah dibolehkan
untukku, akan tetapi aku tidak mau menyenangkan kamu.”

   Raja berkata kepadanya: “Kalau begitu ciumlah kepalaku, nanti akan aku
bebaskan kamu.”

   Lalu ia (Abdullah) berkata: “Dan kamu juga harus membebaskan
tawanan-tawanan Muslim seluruhnya.”

   Maka raja menjawab: “Ya”. Maka ia (Abdullah) mencium kepala raja,
kemudian Abdullah dibebaskan dan juga tawanan-tawanan muslim semuanya.
Dan ketika telah pulang (dari Romawi ke Madinah, pen), Umar bin
Al-Khatthab berkata:

   “Setiap Muslim berhak untuk  mencium kepala Abdullah bin Hudzafah, dan
aku orang yang memulainya, maka dia berdiri dan mencium kepalanya.
Mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya.[2]

   Aneh, berkasih-kasihan dengan kafirin, musyrikin, Yahudi, dan Nashrani

    Dalam sejarah yang otentik/ murni seperti tersebut telah terjadi
aneka kekejaman orang-orang kafir, musyrik, Yahudi, dan Nasrani
terhadap Muslimin di mana-mana. Sampai-sampai tawanan Muslim
dilemparkan ke panggangan api hingga tinggal tulang belulang, dan
masih pula untuk menakut-nakuti Muslimin untuk dimurtadkan. Namun
anehnya, kini sebagian orang-orang yang mengaku dirinya Muslim,
terutama ahli bid’ah, khurofat, takhayyul, perdukunan, dan yang sok
modern dengan gaya toleran, humanis, dan bahkan pluralis (emnganggap
semua agama sama), mereka itu berjilat-jilatan dengan musyrikin,
kafirin, Yahudi, dan Nasrani yang dimurkai Allah, yang sesat, dan
bahkan dalam memusuhi Islam mereka jadi  komplotan syetan iblis itu.

   Bahkan yang sangat tidak bisa diterima akal sehat, ada organisasi yang
masih berlabel keislaman, sebagian orang-orangnya digerakkan untuk
mengabdi jadi centeng (tukang pukul) di gereja-gereja ketika musyrikin
dan kafirin --menurut istilah Al-Qur’an-- itu sedang merayakan hari
kekafiran dan kemusyrikan mereka. Lalu keadaan yang sangat merugikan
Islam itu disorot dan disiarkan pula di televisi. Sehingga, tampak
benar hinanya centeng-centeng itu, baik dari segi keduniaan maupun
apalagi dari segi aqidah. Tetapi, seolah-olah orang-orang yang
keblinger itu justru bangga atas kesesatannya itu. Entah lantaran
sudah terkecoh oleh syetan yang berlabel toleransi atau kesatuan dan
persatuan atau nasionalisme yang semuanya memusuhi Islam dengan cara
mengecilkan dan melangkahi Islam, sehingga pandangan mereka sudah jauh
sama sekali dari ajaran Al-Qur’an maupun peristiwa-peristiwa yang
dialami muslimin teladan masa lalu.

   Allah SWT  memberikan pelajaran kepada kita, di antaranya dengan
ayat-ayat-Nya, di samping tidak sedikit peristiwa-peristiwa nyata.
Peristiwa-peristiwa nyata itu ada yang menjadi pelajaran tentang
betapa teguhnya keimanan mereka, dan sebaliknya ada pula yang menjadi
pelajaran agar sangat dihindari, dan jadi peringatan karena betapa
buruknya lakon mereka.

   Sahabat Nabi saw yang ditawan oleh Raja Nasrani Romawi tersebut betapa
teguhnya keimanan yang ada di dalam dadanya.  Sebaliknya, peristiwa
anak-anak muda di Indonesia dari organisasi Islam tertentu yang
menjual dirinya menjadi centeng di gereja-gereja waktu natalan, itu
betapa buruknya.

   Kita tinggal pilih, kebaikan sudah jelas petunjuk-petunjuknya. Sedang
kesesatan sudah jelas betapa buruknya, maka wajib dihindari, agar
tidak terjerumus ke dalam neraka. Dan lebih buruk lagi kalau sudah
lakonnya buruk tetapi ketika diingatkan orang justru marah, mengancam,
sesumbar, dan bahkan akan menghabisi orang yang mengingatkan. Itulah
yang sudah habis-habisan buruknya. Kalau sekalian murtad, hukumnya
adalah bunuh. Tetapi kalau plintat-plintut seperti itu? Ya dibunuh
diam-diam, kalau memang merugikan dan merusak Islam serta mengejeknya.
Maka semestinya mereka bertobatlah, sebelum ada barisan orang-orang
yang berjibaku menghabisinya atau pun Malakul Maut utusan Allah datang
membetot nyawa mereka dengan tiba-tiba.



--------------------------------------------------------------------------------

[1] (HR Al-Bukhari).

[2]  (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhiem, Darul Fikr, Beirut,
1412H/ 1992M, jilid II, halaman 715-716).



-- 
"Hidup dan Mati untuk Hidup"







--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke