Asslamua'laikum Warahamtullah Wabarakatuh.

Antum mengambil pendapat haramnya Musik silahkan kita Hargai,dan
sebaliknya pula jika yang antum ambil dari pendapat yg mengharamkan tentu
antum tidak menemukan Hujah para ulama yg membolehkan Musik,ana hanya
menghimbau saling menghargai dalam perbedaan agar tidak terjebak dalam
Paradigma berfikir kelompok.Tidak ada yg bisa mengklaim Hanya Kelompoknya
yg mengikuti Rasulullah padahal terjadi perbedaan pendapat baik dari segi
Hadist dan Para Ulama yang Mempuni dalam Ilmunya.Sebagi contoh simplenya
begini Ibnu Zubair dalam suatu riwayat membolehkan musik atau Adzahabi
dan Ulama-ulama lain dan disisi lain ada Ulama yang mengharamkannya.

Mengambil satu pendapat bukan berarti menyalahkan pendapat yang berbeda
karna semua lahir dari Istimbath Hukum para Ulama Dalam Upaya menarik
kesimpulan Hukum tersebut dari Dalil-dalil yang ada,tentu ini akan
terjadi perbedaan Pendapat,perbedaan dalam masalah Furukiyah bukanlah
suatu Destruktif karna semua pendapat berpotensi benar dan salah,kita
harus bersikap Arif dalam menyikapi perbedaan yang terjadi sebagaimana
Para Ulama salaf dan 4 mahzab dahulu berbeda dalam menghukumi
sesuatu,seperti ucapan Imam Syafi'i "pendapatku ada kemungkinan salah dan
pendapat orang lain ada kemungkinan benar" inilah Sikap Ulama yang
mempuni Imam Syafi'i semoga Allah SWT Merahmati Baliau.

Ana kira sudah saatnya kita saling Harga-menghargai dalam perbedaan
Furukiyyah ini tidak mengukung Kebenaran hanya pada suatu Kelompok,ada yg
lebih esensi dalam Umat islam ini yaitu Ukhuwah atau persatuan,sudah
berabad-abad Kita Umat islam selalu berkutat dalam Masalah yang sama yang
melahirkan Perpecahan ditubuh Umat Islam itu lantaran perbedaan-perbedaan
yang memang terjadi dari Sejak dahulu.Sementara mereka yang ingin
Menghancurkan Islam semakin tertawa dan memperuncing kondisi Umat islam
seperti ini,Melalui Paham-paham yang tidak lahir dari Islam itu sendiri
seperti Mereka Kaum Liberal,Skuler,Pluralisme yang kesumuanya adalah
Islamfobia.

Mohon Maaf jika dalam Diskusi ini ada hal-hal yang kurang berkenan dalam
perlakuan ana,dengan hati yang Ikhlas ana Mohon Maaf kepada
Saudara-saudaraku yang berbeda dalam masalah ini semoga dalam perbedaan
ini bisa melahirkan kekuatan kita dalam Ukhuwah,Wallahua'lam..

Wassalamua'laikum Warahamtullah Wabarakatuh





> yach sudah ana di sini akan menentukan sikap, ana2 dan ente2
> so pendapat ana adalah music adalah haram, kecuali apa2 yg dibataskan
> oleh Rasululloh Shalallohu'alahi wa salam
>
> "masalah musik telah tuntas dibahas para Ulama yg memang berbeda pendapat
> antum jgn Memvonis layaknya Ulama,bagi kita hanya bisa atau mampu
> menukil-nukil saja bukan berijtihat jadi Jangan merasa benar sendiri atau
> mengkerangkeng kebenara hanya pada kelompoknya ini namanya TAQLID"
>
> lucu, sapa yg taklid?, sapa yg merasa benar sendiri?
> nte dengan pendapatnya berusaha mengajak ana ke dalam pemahaman nte!
> Lucu yg begini dibilang Taklid! jadi ragu ane apa nte tau apa definisi
> taklid itu? dan apakah Ijtihad itu, dan siapakah yg berhak melakukan
> Ijtihad?
>
> rasanya ana blm melihat mereka yang berpendapat sama dengan ana,
> mengemukakan pendapatnya kecuali sebagian kecil saja, lalu sudah dibilang
> Tuntas! gimana ini? sedang antum telah menukil artikel tentang music
> adalah halal dari alikhwan.net, maka ana akan menukil juga artikel
> bantahannya sebagai bahan perbandingan Ikhwan Akhwat sekalian semoga
> Alloh memberi kita Hidayah yang ana ambil dari situs Salafy.or.id karya
> Al Ustadz Idr Harits
>
> bagi ana dalil tentang haramnya Music adalah jelas, dan sangatlah banyak
> dibandingan dengan dalil yg menghalalkannya, dan begitu banyak para ulama
> membahas tentang pendapatnya para Imam yang membolehkan. dan mereka lebih
> merojihkan pendapat yg mengharamkan.
>
> Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Atsari hafidhahullah mengomentari
> pernyataan Ibnul Qayyim ini dengan menukil riwayat Al Khalal (dalam Al
> Amru bil Ma'ruf) dari Sulaiman At Taimy yang mengatakan : "Kalau kamu
> mengambil setiap keringanan (rukhshah) dari seorang alim atau
> kekeliruannya, berarti telah terkumpul pada dirimu seluruh kejahatan."
> (Lihat Mawaridul Aman halaman 303)
>
>
>     Nyanyian Dan Musik Dalam Islam (I)
>     Penulis: Al Ustadz Idral Harits
>
>
>    Hati bagaikan seorang raja atau panglima perang yang mengawasi
> prajurit dan tentaranya. Dari hatilah bersumber segala perintah
> terhadap anggota badan.
>
>  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
>
>  "Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini terdapat segumpal daging. Jika ia baik
> maka baik pula seluruh tubuh ini. Dan sebaliknya apabila ia rusak maka
> rusak pula seluruh tubuh ini." (HR. Bukhari 1/126 dan 4/290-Al Fath,
> Muslim 1599 dari Nu'man bin Basyir radliyallahu 'anhuma)
>
>  Seandainya kita mencermati kenyataan yang ada, akan jelas bagi kita
> bahwa nyanyian dan musik itu menghalangi hati dari (memperhatikan dan
> memahami) Al Qur'an. Bahkan keduanya mendorong untuk terpesona menatap
> kefasikan dan kemaksiatan. Oleh sebab itulah sebagian ulama menyebutkan
> nyanyian dan musik-musik ini bagaikan qur'an-nya syaithan atau tabir
> yang menghalangi seseorang hamba dari Ar Rahman. Sebagian mereka
> menyerupakannya dengan mantera yang menggiring orang melakukan perbuatan
> liwath (homoseks atau lesbian) dan zina.
>
>  Kalaupun mereka mendengar Al Qur'an (dibacakan), tidaklah berhenti gerak
> mereka dan ayat-ayat itu tidak berpengaruh bagi perasaannya. Sebaliknya
> apabila dilantunkan sebuah lagu niscaya akan masuklah nyanyian itu
> dengan segera ke dalam pendengarannya, terbesit dari kedua matanya
> ungkapan perasaannya, kakinya bergoyang-goyang, menghentak-hentak ke
> lantai, tangannya bertepuk gembira, dan tubuhnya meliuk menari-nari, api
> syahwat kerinduan dalam dirinya pun memuncak.
>
>  Hendaknya ini menjadi perhatian kita. Adakah pernah timbul rasa rindu
> ketika kita mendengar ayat-ayat Al Qur'an dibacakan? Pernahkah muncul
> perasaan (haru dan tunduk atau khusyu') yang dalam saat kita membacanya?
> Coba bandingkan tatkala kita mendengarkan nyanyian dan alat musik!
>
>  Alangkah indahnya apa yang diungkapkan oleh seorang penyair :
>
>  Ketika dibacakan Al Kitab (Al Qur'an), mereka terpaku, namun bukan
> karena takut.
>
>  Mereka terpaku seperti orang yang lupa dan lalai.
>
>  Ketika nyanyian menghampiri, mereka berteriak bagai keledai.
>
>  Demi Allah, tidaklah mereka menari karena Allah.
>
>  Namun, kita tidak perlu berduka cita karena senantiasa dan akan terus
> ada orang-orang yang Allah bangkitkan di tengah-tengah manusia untuk
> membela dan menyelamatkan umat dengan nasihat-nasihat berharga agar
> tidak tertipu oleh penyimpangan yang dikerjakan oleh sebagian orang.
>
> Dan alhamdulillah, kita telah pula diberi kesempatan oleh Allah untuk
> memperoleh warisan mereka berupa karya-karya yang tak terbilang jumlahnya
> yang sarat dengan hujjah dan dalil yang amat jelas dan gamblang bagi
> mereka yang mendapat taufik dari Allah ta'ala.
>
>  Dan tulisan ini akan mengungkapkan sebagian keterangan para imam pembawa
> petunjuk tentang jeleknya nyanyian dan musik bagi mereka yang masih
> menginginkan hatinya selamat, hidup, dan bercahaya sampai ia menemui
> Rabbnya nanti. Karena hanya itulah bekal yang bermanfaat baginya,
> sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
>
>  "(Yaitu) pada hari yang tidak berguna harta dan anak-anak kecuali orang
> yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat." (Asy Syu'ara :
> 88-89)
>
>  Pengertian Al Ghina' dan Al Ma'azif
>
>  Imam Ahmad Al Qurthubi menyatakan dalam Kasyful Qina' halaman 47 : "Al
> ghina' secara bahasa adalah meninggikan suara ketika bersyair atau yang
> semisal dengannya (seperti rajaz secara khusus).
>  Di dalam Al Qamus (halaman 1187), al ghina' dikatakan sebagai suara yang
> diperindah."
>
>  Imam Ahmad Al Qurthubi melanjutkan bahwa sebagian dari imam-imam kita
> ada yang menceritakan tentang nyanyian orang Arab berupa suara yang
> teratur tinggi rendah atau panjang pendeknya, seperti al hida', yaitu
> nyanyian pengiring unta dan dinamakan juga dengan an nashab (lebih halus
> dari al hida'). (Lihat Kasyful Qina' oleh Imam Ahmad Al Qurthubi 47 dan
> Al Qamus halaman 127)
>
>  Al ma'azif adalah jamak dari mi'zaf.
>
>  Dalam Al Muhieth halaman 753, kata ini diartikan sebagai al malahi
> (alat-alat musik dan permainan-permainan), contohnya al 'ud (sejenis
> kecapi), ath thanbur (gitar atau rebab). Sedangkan dalam An Nihayah
> diartikan dengan duf-duf.
>
>  Dikatakan pula al 'azif artinya al mughanni (penyanyi) dan al la'ibu
> biha (yang memainkannya). (Tahrim 'alath Tharb, Syaikh Al Albani halaman
> 79)
>
>  Ibnul Qayyim dalam Mawaridul Aman halaman 330 menyatakan bahwa al
> ma'azif adalah seluruh alat musik atau permainan. Dan ini tidak
> diperselisihkan lagi oleh ahli-ahli bahasa.
>
>  Imam Adz Dzahabi dalam As Siyar 21/158 dan At Tadzkirah 2/1337
> memperjelas definisi ini dengan mengatakan bahwa al ma'azif mencakup
> seluruh alat musik maupun permainan yang digunakan untuk mengiringi
> sebuah lagu atau syair. Contohnya : Seruling, rebab, simpal, terompet,
> dan lain-lain. (Lihat Tahrim 'alath Tharb oleh Syaikh Al Albani halaman
> 79)
>
>  Bentuk-Bentuk Dan Jenis Al Ghina'
>
>  Dengan definisi yang telah disebutkan ini, para ulama membagi al ghina'
> menjadi dua kelompok :
>
>  Nyanyian yang pertama, seperti yang sering kita temukan dalam berbagai
> aktivitas manusia sehari-hari, dalam perjalanan, pekerjaan mengangkut
> beban, dan sebagainya. Sebagian di antara mereka ada yang menghibur
> dirinya dengan bernyanyi untuk menambah gairah dan semangat (kerajinan),
> menghilangkan kejenuhan, dan rasa sepi.
>
>  Contoh yang pertama ini di antaranya al hida', lagu yang dinyanyikan
> oleh sebagian kaum wanita untuk menenangkan tangis dan rengekan buah
> hati mereka atau nyanyian gadis-gadis kecil dalam sendau gurau dan
> permainan mereka, wallahu a'lam. (Kaffur Ri'a' halaman 59-60, Kasyful
> Qina' halaman 47-49)
>
>  Disebutkan pula oleh sebagian ulama bahwa termasuk yang pertama ini
> adalah selamat atau bersih dari penyebutan kata-kata yang keji, hal-hal
> yang diharamkan seperti menggambarkan keindahan bentuk atau rupa seorang
> wanita, menyebut sifat atau nama benda-benda yang memabukkan. Bahkan
> sebagian ulama ada pula yang menganggapnya sebagai sesuatu yang
> dianjurkan (mustahab) apabila nyanyian itu mendorong semangat untuk giat
> beramal, menumbuhkan hasrat untuk memperoleh kebaikan, seperti
> syair-syair ahli zuhud (ahli ibadah) atau yang dilakukan sebagian
> shahabat, seperti yang terjadi dalam peristiwa Khandaq :
>
>  Ya Allah, jika bukan karena Engkau tidaklah kami terbimbing.
>
>  Dan tidak pula bersedekah dan menegakkan shalat.
>
>  Maka turunkanlah ketenangan kepada kami.
>
>  Dan kokohkan kaki kami ketika menghadapi musuh.
>
>  Dan yang lain, misalnya :
>
>  Jika Rabbku berkata padaku.
>
>  Mengapa kau tidak merasa malu bermaksiat kepada-Ku.
>
>  Kau sembunyikan dosa dari makhluk-Ku.
>
>  Tapi dengan kemaksiatan kau menemui Aku.
>
>  Imam Ahmad Al Qurthubi dalam Kasyful Qina' halaman 48 yang menyebutkan
> bahwa yang seperti ini termasuk nasihat yang berguna dan besar
> ganjarannya.
>
>  Demikian pula yang dikatakan Imam Al Mawardi bahwa syair-syair yang
> diungkapkan oleh orang-orang Arab lebih disukai apabila syair itu mampu
> menumbuhkan rasa waspada terhadap tipuan atau rayuan dunia, cinta kepada
> akhirat, dan mendorong kepada akhlak yang mulia. Kesimpulannya, syair
> seperti ini boleh jika selamat atau bebas dari kekejian dan kebohongan.
> (Kaffur Ri'a' halaman 50)
>
>  Nyanyian di kalangan orang Arab waktu itu seperti al hida', an nashbur,
> dan sebagainya yang biasa mereka lakukan tidak mengandung sesuatu yang
> mendorong keluar dari batas-batas yang telah ditentukan. (Lihat Muntaqa
> Nafis min Talbis Iblis oleh Syaikh Ali Hasan halaman 290)
>
>  Nyanyian yang kedua, seperti yang dilakukan para biduwan atau biduwanita
> (para penyanyi, artis, pesinden, dan sebagainya) yang mengenal seluk
> beluk gubahan (nada dan irama) suatu lagu, dari rangkaian syair,
> kemudian mereka dendangkan dengan nada atau irama yang teratur, halus,
> lembut, dan menyentuh hati, membangkitkan gejolak nafsu, serta
> menggairahkannya.
>
>  Nyanyian seperti (yang kedua) inilah yang sesungguhnya diperselisihkan
> para ulama, sehingga mereka terbagi dalam tiga kelompok, yaitu : Yang
> mengharamkan, memakruhkan, dan yang membolehkan. (Kasyfu Qina' halaman
> 50)
>
>  Hujjah Dan Dalil Kelompok Yang Mengharamkan Dan Memakruhkan
>
>  Senantiasa akan ada di kalangan umat ini segelintir orang yang
> menegakkan Islam, menasihati umat agar tetap berpegang dengan Al Qur'an
> dan As Sunnah sesuai dengan yang dipahami oleh para shahabat, tabi'in,
> dan pengikut-pengikut mereka serta imam-imam pembawa petunjuk.
>
>  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
>
>  "Senantiasa akan ada segolongan dari umatku menampakkan al haq, tidak
> membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan mereka dan menyelisihi
> mereka sedang mereka teguh di atasnya." (HR. Bukhari 7311 dan Muslim
> 170, 1920 dan Abu Dawud 4772 dan At Tirmidzi 1418, 1419, 1421)
>
>  Dan mereka dengan lantang menyeru tanpa takut terhadap celaan para
> pencela.
>
>  Dalil-Dalil Dari Al Qur'an
>
>  1.      Firman Allah Ta'ala :
>
>  "Dan di antara manusia ada yang membeli (menukar) lahwal hadits untuk
> menyesatkan orang dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya ejekan,
> bagi mereka siksa yang menghinakan." (QS. Luqman : 6)
>
>  Al Wahidi dalam tafsirnya menyatakan bahwa kebanyakan para mufassir
> mengartikan "lahwal hadits" dengan "nyanyian".
>
>  Penafsiran ini disebutkan oleh Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu. Dan kata
> Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya, Jami' Ahkamul Qur'an, penafsiran
> demikian lebih tinggi dan utama kedudukannya.
>  Hal itu ditegaskan pula oleh Imam Ahmad Al Qurthubi, Kasyful Qina'
> halaman 62, bahwa di samping diriwayatkan oleh banyak ahli hadits,
> penafsiran itu disampaikan pula oleh orang-orang yang telah dijamin oleh
> Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan doa beliau :
>
>  "Ya Allah, jadikanlah dia (Ibnu Abbas) faham terhadap agama ini dan
> ajarkanlah dia ta'wil (penafsiran Al Qur'an)." (HR. Bukhari 4/10 dan
> Muslim 2477 dan Ahmad 1/266, 314, 328, 335)
>
>  Dengan adanya doa ini, para ulama dari kalangan shahabat memberikan
> gelar kepada Ibnu Abbas dengan Turjumanul Qur'an (penafsir Al Qur'an).
>
>  Juga pernyataan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tentang Ibnu
> Mas'ud :
>
>  "Sesungguhnya ia pentalkin[1] yang mudah dipahami." (Kasyfu Qina'
> halaman 62)
>
>  Ibnu Mas'ud menerangkan bahwa "lahwul hadits" itu adalah al ghina'.
> "Demi Allah, yang tiada sesembahan yang haq selain Dia, diulang-ulangnya
> tiga kali."
>
>  Riwayat ini shahih dan telah dijelaskan oleh Syaikh Nashiruddin Al
> Albani dalam Tahrim 'alath Tharb halaman 143.
>
>  Demikian pula keterangan 'Ikrimah dan Mujahid.
>
>  Al Wahidi dalam tafsirnya (Al Wasith 3/411) menambahkan : "Ahli Ilmu
> Ma'ani menyatakan, ini termasuk semua orang yang cenderung memilih
> permainan dan al ghina' (nyanyian), seruling-seruling, atau alat-alat
> musik daripada Al Qur'an, meskipun lafadhnya dengan kata al isytira',
> sebab lafadh ini banyak dipakai dalam menerangkan adanya penggantian
> atau pemilihan." (Lihat Tahrim 'alath Tharb halaman 144-145)
>
>  2.      Firman Allah ta'ala :
>
>  "Dan hasunglah siapa saja yang kau sanggupi dari mereka dengan suaramu."
> (QS. Al Isra' : 65)
>
>  Ibnu Abbas mengatakan bahwa "suaramu" dalam ayat ini artinya adalah
> segala perkara yang mengajak kepada kemaksiatan. Ibnul Qayyim
> menambahkan bahwa al ghina' adalah da'i yang paling besar pengaruhnya
> dalam mengajak manusia kepada kemaksiatan. (Mawaridul Aman halaman 325)
>
>  Mujahid --dalam kitab yang sama-- menyatakan "suaramu" di sini artinya
> al ghina' (nyanyian) dan al bathil (kebathilan). Ibnul Qayyim
> menyebutkan pula keterangan Al Hasan Bashri bahwa suara dalam ayat ini
> artinya duff (rebana), wallahu a'lam.
>
>  3.      Firman Allah ta'ala :
>
>  "Maka apakah terhadap berita ini kamu merasa heran. Kamu tertawa-tawa
> dan tidak menangis? Dan kamu bernyanyi-nyanyi?" (QS. An Najm : 59-61)
>
>  Kata 'Ikrimah --dari Ibnu Abbas--, as sumud artinya al ghina' menurut
> dialek Himyar. Dia menambahkan : "Jika mendengar Al Qur'an dibacakan,
> mereka bernyanyi-nyanyi, maka turunlah ayat ini."
>
>  Ibnul Qayyim menerangkan bahwa penafsiran ini tidak bertentangan dengan
> pernyataan bahwa as sumud artinya lalai dan lupa. Dan tidak pula
> menyimpang dari pendapat yang mengatakan bahwa arti "kamu
> bernyanyi-nyanyi" di sini adalah kamu menyombongkan diri, bermain-main,
> lalai, dan berpaling. Karena semua perbuatan tersebut terkumpul dalam al
> ghina' (nyanyian), bahkan ia merupakan pemicu munculnya sikap tersebut.
> (Mawaridul Aman halaman 325)
>
>  Imam Ahmad Al Qurthubi menyimpulkan keterangan para mufassir ini dan
> menyatakan bahwa segi pendalilan diharamkannya al ghina' adalah karena
> posisinya disebutkan oleh Allah sebagai sesuatu yang tercela dan hina.
> (Kasyful Qina' halaman 59)
>
>  Dalil-Dalil Dari As Sunnah
>
>  1.     Dari Abi 'Amir --Abu Malik-- Al Asy'ari, dari Rasulullah
> Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :
>
>  "Sungguh akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menganggap halalnya
> zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik ... ." (HR. Bukhari
> 10/51/5590-Fath)
>
>  2.     Dari Abi Malik Al Asy'ari dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
> beliau bersabda :
>
>  "Sesungguhnya akan ada sebagian manusia dari umatku meminum khamr yang
> mereka namakan dengan nama-nama lain, kepala mereka bergoyang-goyang
> karena alat-alat musik dan penyanyi-penyanyi wanita, maka Allah benamkan
> mereka ke dalam perut bumi dan menjadikan sebagian mereka kera dan
> babi." (HR. Bukhari dalam At Tarikh 1/1/305, Al Baihaqi, Ibnu Abi
> Syaibah dan lain-lain. Lihat Tahrim 'alath Tharb oleh Syaikh Al Albani
> halaman 45-46)
>
>  3.     Dari Anas bin Malik berkata :
>
>  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
>
>  Dua suara terlaknat di dunia dan di akhirat : "Seruling-seruling
> (musik-musik atau nyanyian) ketika mendapat kesenangan dan rintihan
> (ratapan) ketika mendapat musibah." (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dalam
> Musnad-nya, juga Abu Bakar Asy Syafi'i, Dliya' Al Maqdisy, lihat Tahrim
> 'alath Tharb oleh Syaikh Al Albani halaman 51-52)
>
>  4.     Dari 'Abdurrahman bin 'Auf ia berkata : Rasulullah Shallallahu
> 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
>
>  "Sesungguhnya saya tidak melarang (kamu) menangis, tapi saya melarangmu
> dari dua suara (yang menunjukkan) kedunguan dan kejahatan, yaitu suara
> ketika gembira, yaitu bernyanyi-nyanyi, bermain-main, dan
> seruling-seruling syaithan dan suara ketika mendapat musibah,
> memukul-mukul wajah, merobek-robek baju, dan ratapan-ratapan syaithan."
> (Dikeluarkan oleh Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Abiddunya, Al Ajurri, dan
> lain-lain, lihat Tahrim 'alath Tharb halaman 52-53)
>
>  5.     Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
> Wa Sallam bersabda :
>
>  "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagiku --atau mengharamkan--
> khamr, judi, al kubah (gendang), dan seluruh yang memabukkan haram."
> (HR. Abu Dawud, Al Baihaqi, Ahmad, Abu Ya'la, Abu Hasan Ath Thusy, Ath
> Thabrani dalam Tahrim 'alath Tharb halaman 55-56)
>
>  6.     Dari 'Imran Hushain ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
> Wa Sallam bersabda :
>
>  "Akan terjadi pada umatku, lemparan batu, perubahan bentuk, dan
> tenggelam ke dalam bumi." Dikatakan : "Ya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
> Wa Sallam, kapan itu terjadi?" Beliau menjawab : "Jika telah tampak
> alat-alat musik, banyaknya penyanyi wanita, dan diminumnya khamr-khamr."
> (Dikeluarkan oleh Tirmidzi, Ibnu Abiddunya, dan lain-lain, lihat Tahrim
> 'alath Tharb halaman 63-64)
>
>  7. Dari Nafi' maula Ibnu 'Umar, ia bercerita bahwa Ibnu 'Umar pernah
> mendengar suara seruling gembala lalu ('Umar) meletakkan jarinya di
> kedua telinganya dan pindah ke jalan lain dan berkata : "Wahai Nafi',
> apakah engkau mendengar?" Aku jawab : "Ya." Dan ia terus berjalan sampai
> kukatakan tidak. Setelah itu ia letakkan lagi tangannya dan kembali ke
> jalan semula. Lalu beliau berkata :
>
>  "Kulihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendengar suling
> gembala lalu berbuat seperti ini." (Dikeluarkan oleh Abu Dawud 4925 dan
> Baihaqi 10/222 dengan sanad hasan)
>
>  Imam Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis (Muntaqa Nafis halaman 304)
> mengomentari hadits ini sebagai berikut : "Jika seperti ini yang
> dilakukan mereka terhadap suara-suara yang tidak menyimpang dari
> sikap-sikap yang lurus, maka bagaimanakah dengan nyanyian dan
> musik-musik orang jaman sekarang (jaman beliau rahimahullah, apalagi di
> jaman kita, pent.)?"
>
>  Dan Imam Ahmad Al Qurthubi dalam Kasyful Qina' halaman 69 menyatakan :
> "Bahwa pendalilan dengan hadits-hadits ini dalam mengatakan haramnya
> nyanyian dan alat-alat musik, hampir sama dengan segi pendalilan dengan
> ayat-ayat Al Qur'an. Bahkan dalam hadits-hadits ini disebutkan lebih
> jelas dengan adanya laknat bagi penyanyi maupun yang mendengarkanya."
>
>  Di dalam hadits pertama, Imam Al Jauhari menyatakan bahwa dalam hadits
> ini, digabungkannya penyebutan al ma'azif dengan khamr, zina, dan sutera
> menunjukkan kerasnya pengharaman terhadap alat-alat musik dan
> sesungguhnya semua itu termasuk dosa-dosa besar. (Kasyful Qina' halaman
> 67-69)
>  Atsar 'Ulama Salaf
>  Ibnu Mas'ud menyebutkan : "Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati
> seperti air menumbuhkan tanaman." Ini dikeluarkan oleh Ibnu Abiddunya
> dan dikatakan shahih isnadnya oleh Syaikh Al Albani dalam Tahrim 'alath
> Tharb (halaman 145-148), ucapan seperti ini juga dikeluarkan oleh Asy
> Sya'bi dengan sanad yang hasan.
>
>  Dalam Al Muntaqa halaman 306, Ibnul Jauzi menyebutkan pula bahwa Ibnu
> Mas'ud berkata : "Jika seseorang menaiki kendaraan tanpa menyebut nama
> Allah, syaithan akan ikut menyertainya dan berkata, 'bernyanyilah kamu!'
> Dan apabila ia tidak mampu memperindahnya, syaithan berkata lagi :
> 'Berangan-anganlah kamu (mengkhayal)'." (Dikeluarkan oleh Abdul Razzaq
> dalam Al Mushannaf 10/397 sanadnya shahih)
>
>  Pada halaman yang sama beliau sebutkan pula keterangan Ibnu 'Umar ketika
> melewati sekelompok orang yang berihram dan ada seseorang yang
> bernyanyi, ia berkata : Beliau berkata : "Ketahuilah, Allah tidak
> mendengarkanmu!" Dan ketika melewati seorang budak perempuan bernyanyi,
> ia berkata : "Jika syaithan membiarkan seseorang, tentu benar-benar dia
> tinggalkan budak ini."
>
> Dalam kitab yang sama beliau (Ibnul Jauzi) melanjutkan : Al Qasim bin
> Muhammad bin Abi Bakr ditanya tentang nyanyian. Ia menjawab : "Saya
> melarangmu dari nyanyian dan membencinya untukmu." Orang itu bertanya :
> "Apakah nyanyian itu haram?" Al Qasim menukas : "Wahai anak saudaraku,
> jika Allah memisahkan al haq (kebenaran) dan al bathil (kebathilan) pada
> hari kiamat, maka di manakah nyanyian itu berada?"
>
>  Ibnu Abbas juga pernah ditanya demikian dan balik bertanya : "Bagaimana
> pendapatmu jika al haq dan al bathil datang beriringan pada hari kiamat,
> maka bersama siapakah al ghina' (nyanyian) itu?" Si penanya menjawab :
> "Tentu saja bersama al bathil." Kemudian Ibnu Abbas berkata : "(Benar)
> pergilah! Engkau telah memberikan fatwa (yang tepat) untuk dirimu." Dan
> Ibnul Qayyim menerangkan bahwa jawaban Ibnu Abbas ini berkenaan dengan
> nyanyian orang Arab yang bebas dan bersih dari pujian-pujian dan
> penyebutan terhadap minuman keras atau hal-hal yang memabukkan, zina,
> homoseks, atau lesbian, juga tidak mengandung ungkapan mengenai bentuk
> dan rupa wanita yang bukan mahram dan bebas pula dari iringan musik,
> baik yang sederhana sekalipun, seperti ketukan-ketukan ranting, tepukan
> tangan, dan sebagainya.
>
>  Dan tentunya jawaban beliau ini akan lebih keras dan tegas seandainya
> beliau melihat kenyataan yang ada sekarang ini.
>
>  Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid mengomentari jawaban ini dan menyatakan
> bahwa jawaban ini (jawaban Al Qasim dan Ibnu Abbas) adalah jawaban bijak
> dan sangat tepat. (Lihat Muntaqa Nafis halaman 306)
>
>  Ibnu Baththah Al Ukbari (ketika ditanya tentang mendengarkan nyanyian)
> berkata : "Saya melarangnya, saya beritahukan padanya bahwa mendengarkan
> nyanyian itu diingkari oleh ulama dan dianggap baik oleh orang-orang
> tolol. Yang melakukannya adalah orang-orang sufi yang dinamai para oleh
> muhaqqiq sebagai orang-orang Jabriyah. Mereka adalah orang-orang yang
> rendah kemauannya, senang mengadakan bid'ah, menonjol-nonjolkan
> kezuhudan, ... ." (Muntaqa Nafis halaman 308)
>
>  Asy Sya'bi mengatakan bahwa orang-orang yang bernyanyi dan yang
> (mengundang) penyanyi untuk dirinya pantas untuk dilaknat. (Dikeluarkan
> oleh Ibnu Abiddunya, lihat Kasyful Qina' halaman 91 dan Muntaqa Nafis
> min Talbis Iblis halaman 306)
>
>  Fudhail bin 'Iyadl mengatakan bahwa al ghina' (nyanyian) adalah mantera
> zina. (Kasyful Qina' halaman 90 dan Mawaridul Aman halaman 318)
>
>  Dalam kitab yang sama (halaman 318), disebutkan pula nasihat Yazid Ibnul
> Walid kepada pemuka-pemuka Bani Umayah : "Wahai Bani Umayah,
> hati-hatilah kamu terhadap al ghina', sebab ia mengurangi rasa malu,
> menghancurkan kehormatan dan harga diri, dan menjadi pengganti bagi
> khamr, sehingga pelakunya akan berbuat sebagaimana orang yang mabuk
> khamr berbuat. Oleh karena itu, kalau kamu merasa tidak dapat tidak
> (mesti) bernyanyi juga, jauhilah perempuan, karena nyanyian itu mengajak
> kepada perzinaan."
>
>  Adl Dlahhak menegaskan : "Nyanyian itu menyebabkan kerusakan bagi hati
> dan mendatangkan murka Allah." (Muntaqa Nafis halaman 307)
>
>  Dalam kitab yang sama, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada
> guru-guru anaknya : "Hendaklah yang pertama kau tanamkan dalam
> pendidikan akhlaknya adalah benci pada alat-alat musik, karena awalnya
> (permainan musik itu) adalah dari syaithan dan kesudahannya adalah
> kemurkaan Ar Rahman Azza wa Jalla."
>
>  Imam Abu Bakar Ath Thurthusi dalam khutbah (kata pengantar) kitabnya,
> Tahrimus Sima', menyebutkan :
>
>  [ ... oleh karena itu saya pun ingin menjelaskan yang haq dan mengungkap
> syubhat-syubhat yang bathil dengan hujjah dari Al Qur'an dan As Sunnah.
> Akan saya mulai dengan perkataan para ulama yang berhak mengeluarkan
> fatwa ke seluruh penjuru dunia agar orang-orang yang selama ini secara
> terang-terangan menampakkan kemaksiatan (bernyanyi dan bermain musik)
> sadar bahwa mereka telah teramat jauh menyimpang dari jalan kaum
> Mukminin. Allah ta'ala berfirman :
>
>  "Dan siapa yang menentang Rasul setelah jelas bagi mereka petunjuk serta
> mengikuti jalan yang bukan jalannya kaum Mukminin, Kami biarkan dia
> memilih apa yang diingini nafsunya dan Kami masukkan dia ke jahanam
> sedangkan jahanam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali." (QS. An
> Nisa' : 115) ]
>
>  Selanjutnya beliau (Imam Ath Thurthusi) menyebutkan bahwa Imam Malik
> melarang adanya nyanyian dan mendengarkannya. Menurut Imam Malik,
> apabila seseorang membeli budak wanita dan ternyata ia penyanyi,
> hendaklah segera dikembalikan, sebab hal itu merupakan aib. Ketika
> beliau ditanya tentang adanya rukhshah (keringanan) yang dilakukan
> (sebagian) penduduk Madinah, beliau menjawab : "Yang melakukannya
> (bernyanyi dan bermain musik) di kalangan kami adalah orang-orang
> fasik."
>
>  Imam Abu Hanifah dan Ahli Bashrah maupun Kufah, seperti Sufyan Ats
> Tsauri, Hammad, Ibrahim An Nakha'i, Asy Sya'bi, dan lain-lain membenci
> al ghina' dan menggolongkannya sebagai suatu dosa dan hal ini tidak
> diperselisihkan di kalangan mereka. Madzhab Imam Hanafi ini termasuk
> madzhab yang sangat keras dan pendapatnya paling tegas dalam perkara
> ini. Hal ini ditunjukkan pula oleh shahabat-shahabat beliau yang
> menyatakan haramnya mendengarkan alat-alat musik, walaupun hanya ketukan
> sepotong ranting. Mereka menyebutnya sebagai kemaksiatan, mendorong
> kepada kefasikan, dan ditolak persaksiannya.
>
>  Intisari perkataan mereka adalah : Sesungguhnya mendengar nyanyian dan
> musik adalah kefasikan dan bersenang-senang menikmatinya adalah
> kekufuran. Inilah perkataan mereka meskipun dengan meriwayatkan
> hadits-hadits yang tidak tepat apabila dinisbatkan (disandarkan) kepada
> Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
>
>  Mereka (ulama madzhab Hanafi) juga menyeru agar seseorang berusaha
> dengan sungguh-sungguh untuk tidak mendengarkan jika melewatinya atau
> jika bunyi musik itu kebetulan berada di rumah tetangganya. Hal ini
> pernah dilakukan Abu Yusuf ketika mendengar ada yang bernyanyi dan
> bermain musik di sebuah rumah, beliau berkata : "Masuklah dan tidak
> perlu ijin, karena mencegah kemungkaran adalah fardlu (wajib). Maka jika
> tidak boleh masuk tanpa ijin, terhalanglah bagi manusia menegakkan
> kewajiban ini."
>
>  Kemudian Imam Ath Thurthusi melanjutkan pula keterangannya bahwa Imam
> Syafi'i dalam kitab Al Qadla, Al Umm (6/214) menegaskan sesungguhnya al
> ghina' adalah permainan yang dibenci dan menyerupai kebathilan bahkan
> merupakan sesuatu yang mengada-ada. Siapa yang terus-menerus (sering)
> bernyanyi maka ia adalah orang dungu dan ditolak persaksiannya.
>
>  Para shahabat Imam Syafi'i yang betul-betul memahami ucapan dan
> istinbath (pengambilan kesimpulan dari dalil), madzhab beliau dengan
> tegas menyatakan haramnya nyanyian dan musik dan mereka mengingkari
> orang-orang yang menyandarkan kepada beliau (Imam Syafi'i) mengenai
> penghalalannya. Di antara mereka adalah Qadly Abu Thayyib Ath Thabari,
> Syaikh Abi Ishaq, dan Ibnu Shabbagh. Demikian pernyataan Imam Ath
> Thurthusi rahimahullah. (Mawaridul Aman Muntaqa min Ighatsati Lahfan
> halaman 301)
>
>  Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa Imam Ibnu Shalah dalam fatwanya
> menyatakan :
>
>  "Adapun yang perlu diketahui dalam permasalahan ini adalah bahwa
> sesungguhnya duf (rebana), alat musik tiup, dan nyanyian-nyanyian, jika
> terkumpul (dilakukan/dimainkan secara bersamaan) maka mendengarkannya
> haram, demikian pendapat para imam madzhab dan ulama-ulama Muslimin
> lainnya. Dan tidak ada keterangan yang dapat dipercaya dari seseorang
> yang ucapannya diikuti (jadi pegangan) dalam ijma' maupun ikhtilaf bahwa
> ia (Imam Syafi'i) membolehkan keduanya (nyanyian dan musik).
>
>  Adapun persaksian yang dapat diterima beritanya dari shahabat-shahabat
> beliau adalah dalam permasalahan 'bagaimana hukum masing-masingnya bila
> berdiri sendiri, terompet sendiri, duff sendiri?' Maka siapa saja yang
> tidak memiliki kemampuan mendapatkan keterangan rinci tentang hal ini
> dan tidak memperhatikannya dengan teliti, bisa jadi akan meyakini adanya
> perselisihan di kalangan ulama madzhab Syafi'i dalam mendengar seluruh
> alat-alat musik ini. Hal ini adalah kekeliruan yang nyata dan oleh sebab
> itu, hendaknya ia mendatangkan dalil-dalil syar'i dan logis. Sebab
> tidaklah semua perselisihan itu melegakan dan bisa jadi pegangan. Maka
> siapa saja yang meneliti adanya perselisihan ulama dalam suatu persoalan
> dan mengambil keringanan (rukhshah) dari pendapat-pendapat mereka,
> berarti ia terjerumus dalam perbuatan zindiq atau bahkan hampir menjadi
> zindiq." (Mawaridul Aman 303)
>
>  Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Atsari hafidhahullah mengomentari
> pernyataan Ibnul Qayyim ini dengan menukil riwayat Al Khalal (dalam Al
> Amru bil Ma'ruf) dari Sulaiman At Taimy yang mengatakan : "Kalau kamu
> mengambil setiap keringanan (rukhshah) dari seorang alim atau
> kekeliruannya, berarti telah terkumpul pada dirimu seluruh kejahatan."
> (Lihat Mawaridul Aman halaman 303)
>
>  Diriwayatkan dari Imam Syafi'i secara mutawatir bahwa beliau berkata :
> "Saya tinggalkan di Baghdad sesuatu yang diada-adakan oleh orang-orang
> zindiq, mereka menamakannya at taghbir dan menghalangi manusia
> --dengannya-- dari Al Qur'an." (Juz'uttiba' As Sunan Wajtinabil Bida'
> oleh Dliya' Al Maqdisi dalam Mawaridul Aman halaman 304)
>
>  Ditambahkan pula oleh Abu Manshur Al Azhari (seorang imam ahli lughah
> dan adab bermadzhab Syafi'i, wafat tahun 370 H) : "Mereka menamakan
> suara yang mereka perindah dengan syair-syair dalam berdzikrullah ini
> dengan taghbir, seakan-akan mereka bernyanyi ketika mengucapkannya
> dengan irama yang indah, kemudian mereka menari-nari lalu menamakannya
> mughbirah." (Talbis Iblis halaman 230 dalam Kasyful Qina' halaman 54)
>
>  Maka kalaulah seperti ini ucapan beliau terhadap at taghbir dengan
> 'illahnya (alasan) karena menghalangi manusia dari Al Qur'an, --padahal
> at taghbir itu berisi syair-syair yang mendorong untuk zuhud (tidak
> butuh) terhadap dunia, para penyanyi mendendangkannya sementara hadirin
> mengetuk-ngetuk sesuatu atau dengan mendecakkan mulut sesuai irama
> lagu--, maka bagaimana pula ucapan beliau apabila mendengar nyanyian
> yang ada di jaman ini, at taghbir bagi beliau bagai buih di lautan dan
> meliputi berbagai kejelekan bahkan mencakup segala perkara yang
> diharamkan?!
>
>  Adapun madzhab Imam Ahmad sebagaimana dikatakan Abdullah, puteranya :
> "Saya bertanya pada ayahku tentang al ghina' menumbuhkan kemunafikan
> dalam hati, ini tidaklah mengherankanku." (Lihat Mawaridul Aman 305)
>
>  Pada kesempatan lain, beliau berkata : "Saya membencinya. Nyanyian itu
> adalah bid'ah yang diada-adakan. Jangan bermajelis dengan mereka
> (penyanyi)." (Talbis Iblis halaman 228 dalam Kasyful Qina' halaman 52)
>
>  Ibnul Jauzi menerangkan : "Sesungguhnya nyanyian itu mengeluarkan
> manusia dari sikap lurus dan merubah akalnya. Maksudnya, jika seseorang
> bernyanyi (bermain musik), berarti ia telah melakukan sesuatu yang
> membuktikan jeleknya kesehatan akalnya, misalnya menggoyang-goyangkan
> kepalanya, bertepuk tangan, menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Dan ini
> tidak berbeda dengan perbuatan orang-orang yang kurang akalnya, bahkan
> sangat jelas bahwa nyanyian mendorong sekali ke arah itu, bahkan
> perbuatannya itu seperti perbuatan pemabuk. Oleh sebab itu, pantas kalau
> larangan keras ditujukan terhadap nyanyian." (Muntaqa Nafis 307)
>
>  Ibnul Qayyim pun menjelaskan dalam Mawaridul Aman halaman 320-322 :
> "Sesungguhnya ucapan Ibnu Mas'ud yang telah disebutkan tadi menunjukkan
> dalamnya pemahaman shahabat tentang keadaan hati, amalan-amalannya,
> sekaligus jelinya mereka terhadap penyakit hati dan obat-obatnya. Dan
> sungguh, mereka adalah suatu kaum yang merupakan dokter-dokter hati,
> mereka mengobati penyakit-penyakit hati dengan obat terbesar dan paling
> ampuh."
>
>  Beliau melanjutkan : "Ketahuilah bahwa nyanyian bagaikan angin panas
> yang mempunyai pengaruh amat kuat dalam menebarkan bibit-bibit
> kemunafikan. Dan kemunafikan tersebut akan tumbuh dalam hati bagaikan
> tumbuhnya tanaman dengan air."
>
>  Inti pernyataan ini adalah nyanyian itu melalaikan hati dan
> menghalanginya dari Al Qur'an dalam upaya pemahaman serta pengamalannya.
> Karena sesungguhnya Al Qur'an dan al ghina' tidak akan bersatu dalam
> sebuah hati, selamanya. Ya, karena keduanya memiliki berbagai perbedaan
> yang menyolok dan sangat bertolak belakang. Al Qur'an mencegah kita
> untuk memperturutkan hawa nafsu, menganjurkan kita menjaga kehormatan
> dan harga diri sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya yang mulia, juga
> mengajak kita menjauhi dorongan-dorongan (syahwat) dan keinginan hawa
> nafsu serta berbagai sebab kesesatan lainnya. Al Qur'an juga melarang
> kita mengikuti dan meniru langkah-langkah syaithan. Sedangkan al ghina'
> mengajak kita pada kebalikan dari yang diperintahkan dan dicegah oleh Al
> Qur'an. Bahkan al ghina' memperindah pandangan kita terhadap syahwat dan
> hawa nafsu, mempengaruhi yang tersembunyi sekalipun dan menggerakkannya
> kepada seluruh kejelekan serta mendorongnya untuk menuju kepada hal-hal
> yang
>  (dianggap) menyenangkan.
>
>  Oleh karena itu, ketika kita melihat seorang yang memiliki kedudukan
> terhormat, kewibawaan, dan kecermelangan akal, serta keindahan iman dan
> keagungan Islam, dan manisnya Al Qur'an akan tetapi ia senang
> mendengarkan nyanyian dan cenderung kepadanya, berkuranglah akalnya dan
> rasa malu dalam dirinya pun mulai menipis, wibawanya lenyap, bahkan
> kecermelangan akalnya telah pula menjauhinya,. Akibatnya syaithan
> bergembira menyambut keadaan ini. Imannya pun mengeluh dan mengadukannya
> kepada Allah 'Azza wa Jalla dan akhirnya Al Qur'an menjadi sesuatu yang
> berat baginya. Lalu ia (iman itu) berdoa kepada Rabbnya : "Ya Rabbku,
> jangan Kau kumpulkan aku dengan musuh-Mu dalam hati (dada) yang sama."
>
>  Akhirnya, ia akan menganggap baik hal-hal yang dianggapnya jelek sebelum
> ia mendengarkan nyanyian dan membuka sendiri rahasia yang pernah dia
> sembunyikan. Setelah itu ia pun mulai berpindah dari keadaan dirinya
> yang semula penuh dengan kewibawaan dan ketenangan menjadi orang yang
> banyak bicara dan berdusta, menggoyang-goyangkan kepala, bahu,
> menghentakkan kakinya ke bumi, mengetuk-ngetuk kepala, melompat-lompat
> dan berputar-putar bagai keledai, bertepuk tangan seperti perempuan,
> bahkan kadang merintih bagai orang yang sangat berduka atau berteriak
> layaknya orang gila.
>
>  Sebagian orang-orang arif berkata : "Mendengar nyanyian mewariskan
> kemunafikan pada suatu kaum, dusta, kekafiran, dan kebodohan."
>
>  Warisan yang paling besar pengaruhnya akibat nyanyian adalah rasa rindu
> (asyik) terhadap bayangan (gambaran khayal), menganggap baik segala
> kekejian, dan apabila ini terus berlanjut, akan menyebabkan Al Qur'an
> menjadi berat di hati, bahkan menimbulkan rasa benci apabila
> mendengarnya secara khusus.
>
>  Oleh sebab itu, jika hal yang seperti ini bukan kemunafikan, apalagi
> yang dikatakan hakikat kemunafikan itu? Demikian keterangan Ibnul Qayyim
> rahimahullah.
>
>  Adapun rahasia penting tentang hakikat kemunafikan adalah perbedaan atau
> perselisihan yang nyata antara lahir dan bathin. (Mawaridul Aman halaman
> 322)
>
>  Penyanyi maupun yang mendengarkannya berada di antara dua kemungkinan.
> Bisa jadi dia akan membuka kedoknya berbuat terang-terangan sehingga
> jadilah ia orang yang durhaka. Atau di samping bernyanyi, ia juga
> menampakkan ibadahnya, akibatnya jadilah ia seorang yang munafik.
>
>  Dalam hal terakhir ini, ia menampakkan rasa cintanya kepada Allah dan
> kampung akhirat, sementara hatinya mendidih oleh gelegak syahwat,
> kecintaan terhadap perkara yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu
> suara alat-alat musik dan permainan-permainan lainnya, serta hal-hal
> yang diserukan oleh nyanyian. Hatinya pun penuh dengan kejelekan itu dan
> kosong atau sepi dari rasa cinta terhadap apa yang dicintai Allah dan
> Rasul-nya. Inilah intinya nifak.
>
>  Juga seperti yang telah kita sepakati bahwa iman adalah keyakinan,
> perkataan, dan perbuatan. Tentunya perkataan dan perbuatan yang haq
> (taat). Padahal iman itu hanya tumbuh di atas dzikrullah dan tilawatil
> Qur'an, sedangkan nifak sebaliknya. Ia merupakan perkataan yang bathil
> dan amalan-amalan sesat dan tumbuh di atas al ghina'.
>
>  Salah satu ciri kemunafikan adalah kurangnya dzikrullah, malas dan
> enggan menegakkan shalat, kalaupun shalat mematuk-matuk seperti burung
> makan jagung, sangat minim dzikirnya kepada Allah. Perhatikan firman
> Allah mengenai orang-orang munafik ini :
>
>  "Jika mereka menegakkan shalat mereka menegakkannya dalam keadaan malas,
> mereka ingin pujian dan perhatian manusia dan tidak mengingat Allah
> kecuali sedikit." (QS. An Nisa' : 142)
>
>  Akhirnya, dalam kenyataan saat ini kita tidak dapati mereka yang
> terfitnah dengan nyanyian melainkan inilah sebagian di antara
> sifat-sifat mereka. Dan di samping itu, nifaq juga dibangun di atas
> dusta dan al ghina' adalah kedustaan yang paling tinggi. Di dalamnya,
> kejahatan menjadi sesuatu yang menarik dan indah, bahkan tak jarang ia
> menghiasi lebih indah lagi dan setiap perkara kebaikan terasa jauh,
> sulit dijangkau, dan sangat jelek. Inilah hakikat kemunafikan. Al ghina'
> merusak dan mengotori hati, sehingga apabila hati itu telah kotor
> apalagi rusak, hati akan menjadi lemah dan gampang takluk di bawah
> kekuasaan kemunafikan.
>
>  Ibnul Qayyim meneruskan : "Seandainya mereka yang memiliki bashirah
> memperhatikan dan membandingkan keadaan orang-orang yang bergelut dengan
> nyanyian dan mereka yang senantiasa menyibukkan diri dengan dzikrullah,
> nyatalah baginya betapa dalamnya pengetahuan dan pemahaman para shahabat
> terhadap hati dan penyakit-penyakit serta pengobatannya." (Demikian
> penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Mawaridul Aman 322-323)
>
>  Semoga keterangan ini dapat bermanfaat bagi orang yang menginginkan
> hatinya hidup dan selamat sebagai bekal baginya untuk menghadap Allah
> ta'ala.
>
>  Amin Ya Rabbal 'Alamin.
>
>
>
>  [1] Orang yang jika mengajarkan sesuatu mudah diterima dan dipahami.
>
>  (Dikutip dari majalah Salafy, Edisi 30/tahun 1999 hal 16-22, karya
> Ustadz Idral Harits, judul asli "Nyanyian dan musik dalam Islam".)
>
> www.salafy.or.id
>
> "Ahmad Wanto Situmorang (AWS)" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> Wa'alaikumsalam...
>
> masalah musik telah tuntas dibahas para Ulama yg memang berbeda pendapat
> antum jgn Memvonis layaknya Ulama,bagi kita hanya bisa atau mampu
> menukil-nukil saja bukan berijtihat jadi Jangan merasa benar sendiri atau
> mengkerangkeng kebenara hanya pada kelompoknya ini namanya TAQLID.Masalah
> Musik ini selalu muncul dalam milis ini padahal telah tuntas pada
> saat-saat yang lalu,Kalau dibilang boleh pada saat tertentu dalam arti
> kata  Musik itu bukan suatu yang Haram karna boleh pada saat tertentu
> yang Haram adalah Hal-hal atau sebab-sebab yang membuat Musik itu menjadi
> Haram,bukan Musiknya.
>
> Dalil tentang bolehnya musik dgn Syarat-syarat tertentupun banyak
> sementara Hadist yang antum berikan Walaupun Hadist Imam Bukhari masih
> ada kelemahan,Para ulama membicarakan dan memperselisihkan hadits-hadits
> tentang haramnya nyanyian dan musik. Hadits pertama diriwayatkan oleh
> Imam Bukhari dalam Shahihnya, dari Abi Malik Al Asy'ari ra. Hadits ini
> walaupun terdapat dalam hadits shahih Bukhori, tetapi para ulama
> memperselisihkannya. Banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa hadits
> ini adalah mualaq (sanadnya terputus), diantaranya dikatakan oleh Ibnu
> Hazm. Disamping itu diantara para ulama menyatakan bahwa matan dan sanad
> hadits ini tidak selamat dari kegoncangan (idtirab). Katakanlah, bahwa
> hadits ini shohih, karena terdapat dalam hadits shohih Bukhori, tetapi
> nash dalam hadits ini masih bersifat umum, tidak menunjuk alat-alat
> tertentu dengan namanya. Batasan yang ada adalah bila ia melalaikan.
>
> Adapun ulama yang menghalalkan musik sebagaimana diantaranya diungkapkan
> oleh Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya, Nailul Authar adalah sbb: Ulama
> Madinah dan lainnya, seperti ulama Dzahiri dan jamaah ahlu Sufi
> memberikan kemudahan pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola. Juga
> diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafii dalam kitabnya bahwa
> Abdullah bin Jafar menganggap bahwa nyanyi tidak apa-apa, bahkan
> membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri
> mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul
> Mukminin Ali ra. Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada
> Qodhi Syuraikh, Said bin Al Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan
> Asy-Syabi
>
> Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang
> menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair memiliki
> budak-budak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar pernah kerumahnya ternyata
> disampingnya ada gitar , Ibnu Umar berkata: Apa ini wahai sahabat
> Rasulullah saw. kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar
> merenungi kemudian berkata: Ini mizan Syami( alat musik) dari Syam?.
> Berkata Ibnu Zubair: Dengan ini akal seseorang bisa seimbang. Dan
> diriwayatkan dari Ar-Rowayani dari Al-Qofaal bahwa madzhab Malik bin Anas
> membolehkan nyanyian dengan alat musik.
>
> Sementara sekian dulu dalilnya.
>
>
>> Bismillah
>>
>>
>> baca lagi mas konteks haditsnya mas, Dan bagaimana para Sahabat
>> memahami
>> dalil tersebut, apa penjelasan dari para Ulama?!?
>> yg dimaukan di sana adalah nyanyian yg para sahabat pahami adalah
>> Syai'ir
>> yg menggugah hati, dan itupun hanya pada saat2 tertentu dan tidak
>> sesering mungkin seperti saat Jihad fi  sabilillah dan saat bekerja
>> keras
>>
>> adapun musik2 dlm Islam adalah Haram, dalilnya begitu banyak, dan
>> diantaranya yg ana tuliskan. kemudian adakah musik itu menjadi
>> diperbolehkan, maka jawabannya ya ada, tp pada saat tertentu saja
>> misalnya saat hari Raya Ied dan Walimahan saja dan itupun hanya memakai
>> rebana saja, bagaimana dengan musik yg membawa embel2 nama Islam?
>> apakah
>> mereka mencukupi dengan hanya Rebana saja? dan apakah mereka
>> mencukupkan
>> dengan menyanyikannya pada saat Walimah dan Hari Raya Ied saja???.
>>
>> Ingatlah Nasehat Rasululloh Shalallohu'alahi Wa salam tatkala mengingat
>> umatnya akan bahayanya berlebih2an dlm beragama.
>>
>> maka barang siapa yg melebihi kadarnya maka rasulullah mengancam
>> dengan
>> Sabdanya "Binasalah mereka yang berlebihan3x"
>>
>>
>> Wallohu'alam
>>
>> Barokallohu Fiik
>>
>> Kajian Ahlussunnah By Imeem
>> http://ahlussunnah-id.imeem.com
>> http://kajiansunnah.imeem.com/
>>
>> "Ahmad Wanto Situmorang (AWS)"
>> wrote:
>>
>>
>> Dari Rubayyi'binti mu'awwiz bin 'Afra katanya" Rasulullah SAW datang
>> masuk kerumah sya dipesta perkawinan saya.Rasulullah duduk diatas
>> tikar,jarak antara Beliau dengan saya seperti jarak antara kamu dengan
>> saya.Maka beberapa Jariyah kami segera memukul rebana sambil
>> memuji-muji
>> (secara bernyayi)untuk orang tua saya yang mati diperang
>> Badar.Tiba-tiba
>> seorang  dari Jariyah itu berkata " Dihadapan kita sekarang ada Nabi
>> yang
>> dapat mengetahui masa besok  hari (Hal-hal yang akan datang)"Rasulullah
>> lalu bersabda " Tinggalkanlah omongan yang begitu dan teruskanlah apa
>> yang kamu sebutkan (Nyanyian) Tadi" (HR.Bukhari,Tirmidzi,Ibnu Majah dan
>> lainnya)
>>
>>
>>> Ikut nyumbang file sharing juga ah, tp ane gak bisa sharing music
>>> nasyid
>>> karena
>>>
>>> Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda  Sesungguhnya akan
>>> ada
>>> segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zina, kain sutra, khamr
>>> dan alat musik (Hadits Shahih, riwayat al Bukhari no. 5590) so
>>> sekarang
>>> dah terjadi lom yach? jawab aja sendiri? Semoga Alloh menjaga kita
>>> dari
>>> penyimpang2 dlm berAgama.
>>>
>>>
>>>
>>> berikut file2 sharing Kajian ceramah Ahlussunnah Wal Jama'ah yg dapat
>>> di
>>> download dan didengarkan secara Instan oleh saudaraku kaum Muslimin
>>>
>>> Assunnah.mine.nu
>>> Al-Ilmu (Free File Hosting Dakwah Ahlussunnah)
>>> Ahlussunnah.web.id
>>> Thullabul-Ilmiy
>>>
>>>
>>> By Imeem
>>> Ahlussunnah-id
>>>
>>> Server Indoupload.net High speed(daftar sebagai member indoupload.net)
>>>   indoupload.net/members/browse/3039
>>>   indoupload.net/members/browse/2489 (An-Najiyah Compilation)
>>> islam-download.net
>>>   indoupload.net/members/browse/2093
>>>   indoupload.net/members/browse/4013
>>>   indoupload.net/members/browse/4393
>>>
>>>   Server Esnips.com (daftar sebagai member Esnips.com)
>>>   Abdurrahman   Annajiyah   Audio Kajian   Dakwah Islamiyah   Salafy
>>> Tasjilat Salafy
>>>   Lain-lainnya
>>>   Ahmad al Makassariy  Abdurrahman Moslem   Abu Ishaq   Abu Luqman
>>> Abu
>>> Sa'ad
>>>
>>>
>>> rarzi  wrote:
>>> Assalammualaikum Wbr.
>>>
>>> Wah boleh tuh mp3nya di sharing.
>>>
>>> rarzi
>>> http://indonesiafirst.com
>>>
>>>
>>>
>>> On 4 Feb, 12:55, yuli widiastutik  wrote:
>>>> Assalamu'alaikum...
>>>> ana mw mnta tlg kpd antum smw yg punya kumpulan MP3 nasyid baik Indo
>>>> mwpun manca baik lama mwpun baru...Tlg kirim ke ana ya... Syukron.
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> ----- Original Message ----
>>>> From: yoedha pamungkas
>>>> To: [email protected]
>>>> Sent: Saturday, February 2, 2008 1:30:15 PM
>>>> Subject: [mediamusliminfo] Re: tanya
>>>>
>>>> salam sahabat sekalian
>>>> hehehe....antum pasti nonton kupas tuntas di trans 7 ....hehe...gak
>>>> usah ribet dulu mencari maknanya eits.....yang penting kerjjakan lah
>>>> seperti yang di kerjakan rasulullah dan para  salihin sidiqin syuhada
>>>> serta tabiin salafus shalih..btw akan saya membantu coba sedikit
>>>> insya
>>>> allah akan di gali dan di share buat teman teman
>>>>
>>>> On 1/31/08, mahmudin udin  wrote:
>>>> assalamu allaikum.ada sesuatu yang samapai saat ini blm bisa saya
>>>> dapatkan kepastian nya,tentang arti dari gerakan sholat ,saya pernah
>>>> dengar dari kitab yang kabarnya di tulis oleh sunan kali jaga ,saat
>>>> berdiri ,kita akn mendapat doa dari seluruh pohon,saat ruku' kita
>>>> akan
>>>> mendapat doa dari semua hewan di bumi ini,namun untuk gerakan
>>>> selanjut
>>>> nya saya blm tau pasti,mohon agar saudara2 bisa membantu.terima
>>>> kasih.wassalam.
>>>>
>>>> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
>>>> Yahoo! Answers
>>>>
>>>> --
>>>> lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka
>>>>
>>>>       
>>>> ___________________________________________________________________________-_________
>>>> Be a better friend, newshound, and
>>>> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.
>>>> http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ-
>>>> Sembunyikan
>>>> teks kutipan -
>>>>
>>>> - Tampilkan teks kutipan -
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> ---------------------------------
>>> Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo!
>>> Search.
>>> >
>>>
>>
>>
>> --
>> "Hidup dan Mati untuk Hidup"
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> ---------------------------------
>> Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo!
>> Search.
>> >
>>
>
>
> --
> "Hidup dan Mati untuk Hidup"
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.
> >
>


-- 
"Hidup dan Mati untuk Hidup"


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke