Menyikapi Waktu
Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar
 Maha perkasa Allah Azza wa Jalla, Dzat yang memiliki segala keagungan, 
kemuliaan, keunggulan, dan segala kelebihan lainnya. Dzat yang Mahasempurna 
sifat-sifat-Nya, tiada satu kejadianpun yang terbebas dari kekuasaan-nya. 
Allah, Dzat yang Maha adil meningkatkan derajat siapa saja yang Dia kehendaki 
dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun, sesungguhnyalah 
kemuliaan dan kehinaan yang ada pada diri kita merupakan buah dari segala amal 
yang telah kita lakukan. Tidak bisa tidak. Karena demi Allah, Allah SWT tidak 
akan pernah dzhalim terhadap hamba-hamba-Nya. 
Sahabat-sahabat, sungguh betapa banyak orang yang cukup potensial, tetapi tidak 
bisa menjadi unggul. Salah satu sebabnya adalah karena ketidakmampuannya dalam 
mengelola waktu. Yakinilah bahwa kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam 
urusan dunia maupun akhirat adalah sangat bergantung bagaimana kesungguhannya 
dalam menyikapi waktu. Kita saksikan, betapa banyak orang yang mengeluh karena 
merasa tak pernah punya waktu, sedangkan beberapa orang yang lain selalu 
mencari jalan untuk membunuh waktu. 
Padahal, subhanallah, Allah dengan Maha cermat dan Maha adil telah membagikan 
waktu dengan seadil-adilnya, dengan secermat-cermatnya tanpa akan luput 
satupun. Setiap orang pastilah akan mendapat jumlah waktu yang sama, yaitu 60 
menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari di tempat manapun di dunia ini. Di 
negara maju, negara berkembang, atau negara yang hancur terpuruk sekalipun 
tetap 24 jam perhari 60 menit per jam. 
Singapura 24 jam per hari, Singaparna 24 jam per hari, Chichago 60 menit per 
jam, Cikaso 60 menit per jam, semuanya sama. Pengusaha sukses, yang jatuh 
bangun, atau bahkan yang bangkrut sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per 
jam. The Best Executive, karyawan asal-asalan,dan pengangguran kelas berat 
sekalipun jatah waktunya tetap sama 24 jam per hari. Seorang bintang kelas; 
yang biasa saja, atau yang tidak naik kelas sekalipun tetap 24 jam per hari 60 
menit per jam. Maka, nyatalah bahwa yang menjadi masalah bukan jumlah waktunya, 
tapi isi waktunya. 
Sebab, ada yang dalam waktu 24 jam itu mampu mengurus negara, jutaan orang, 
atau aneka perusahaan raksasa dengan beratus ribu orang, tapi ada yang dalam 24 
jam mengurus diri saja tidak mampu! Naudzhubillah, Karakteristik waktu memang 
sebuah keunikan, bahkan ia suatu misteri kehidupan ini, yang terekam dalam 
tik-tok jam, tercatat dalam buku harian, terhitung dalam kalender tahunan, 
terukir dalam prasasti-prasasti kehidupan. Walau, sebenarnya ukuran-ukuran itu 
akan kurang berarti, sebab ukuran waktu yang nyata adalah kehidupan kita 
sendiri. Ya, hidup kita adalah waktu itu sendiri, yang menggelinding tiada 
henti. Sebagai makhluk ciptaan-Nya waktu ternyata memiliki tabiat tersendiri, 
waktu adalah terpendek karena tak pernah cukup menyelesaikan tugas hidup. Waktu 
adalah terpanjang karena ia adalah ukuran keabadian. Waktu akan berlalu cepat 
bagi mereka yang bersuka cita. Waktu berjalan sangat lambat bagi yang dirundung 
derita. Waktu adalah saksi sejarah yang
 akan membeberkan segala kehinaan dan kenistaan yang kita lakukan. 
Waktu adalah perekam abadi yang akan mengekalkan segala keagungan dan kemuliaan 
seseorang. Dan yang utama waktu modal kita, kehidupan kita. Tiada yang dapat 
terjadi tanpa dia. Maka, sungguh suatu kerugian yang sangat besar bila seorang 
hamba tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan sangat baik dan optimal. Allah 
berfirman, "Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam 
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan 
saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam 
menetapi kesabaran" [Q.S. AI Ashr: (103): 1-3].
Imam Syafii mengatakan bahwa, "Cukup dengan Surat Al Ashr, Al-Quran sudah 
terwakili". Subhanallah, demikian pentingnya waktu dalam pandangan Allah. 
Dikisahkan bahwa suatu waktu Khalifah Umar bin Abdulaziz sesampai di rumah 
setelah mengurus jenazah Sulaiman bin Abdul Malik kakeknya ia (Umar) sedang 
istirahat tidur-tiduran di ranjang, kemudian datang anaknya Abdul Malik, dan ia 
bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang membaringkan anda di 
siang hari bolong ini. Jawab ayahnya; "Aku letih, aku butuh istirahat". Abdul 
Malik berkata; "Pantaskah anda beristirahat padahal banyak pekerjaan yang harus 
dikerjakan, lihat di sana rakyat yang tertindas butuh pertolonganmu." jawab 
ayahnya, "Semalam suntuk aku menjaga pamanmu dan itu yang mendorong aku 
istirahat, nanti setelah shalat dhuhur aku akan mengembalikan hak-hak 
orang-orang yang tertindas dan teraniaya". Anaknya bertanya, "Wahai Amirul 
Mukminin, siapakah yang menjamin anda hidup sampai dhuhur.
 Bagaimana kalau Allah menakdirkan anda mati sekarang?" Kemudian Umar bangun 
dan pergi membawa satu karung pikulan gandum, lalu mencari orang yang 
kelaparan. 
Dalam kisah ini, nampaklah betapa beratnya tanggung jawab untuk mengelola 
waktu. Bagaimana pula dengan kita yang telah diberi amanah mengurus bumi ini? 
Subhanallah, marilah kita berlindung kepada Allah dari kelalaian memanfaatkan 
waktu seraya memohon agar dikaruniakan kemampuan untuk mengelola waktu dengan 
optimal, penuh makna, sesuai dengan yang telah dituntunkan Allah dan Rosul-Nya. 
Ada dua hal yang perlu kita lakukan, agar memiliki keunggulan dalam hidup ini, 
yaitu: 
a. Waktu boleh sama tapi isi harus beda 
Ajaran Islam sangat menghargai waktu, Allah SWT sendiri berkali-kali bersumpah 
dalam Al Quran berkaitan dengan waktu. Wal 'ashri (Demi waktu), Wadh dhuha 
(Demi waktu dhuha), Wallail (Demi waktu malam), Wannahar (Demi waktu siang). 
Allah juga sangat menyukai orang yang shalat lima waktu dengan tepat waktu, 
memuliakan sepertiga malam sebagai waktu mustajabnya doa, dan waktu dhuha 
sebagai waktu yang disukai-Nya. Maka, sangat beruntunglah orang-orang yang 
mengisi waktunya efektif hanya dengan mempersembahkan yang terbaik dalam rangka 
beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, yang 
artinya, "Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru-seru: "Wahai anak 
Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. 
Oleh sebab itu manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak kembali lagi 
sehingga hari pengadilan." (H.R. Turmudzi).
Cobalah bayangkan, andaikata dalam suatu perlombaan balap sepeda, dalam satu 
detik si A berhasil mengayuh satu putaran, si B setengah putaran, dan si C 
mengayuh dua putaran. Siapa yang jadi juaranya? Maka, dengan meyakinkan si 
C-lah yang akan berpeluang menjadi juara, mengapa? Karena pada detik yang sama 
si C dapat berbuat lebih banyak daripada yang lain. Nah, begitupun kita semua 
semakin banyak dan baik hal positif yang kita lakukan dalam waktu yang sama, 
insyaAllah kita akan lebih dekat dengan kesuksesan. Persis dengan apa yang anda 
lakukan saat ini, pada saat yang sama ada yang sedang tidur, sedang di WC, 
sedang bermain atau mungkin bermaksiat atau apa saja, dan pada saat akhir 
membaca tulisan ini. Maka, hasilnya pun berbeda-beda tergantung dari apa yang 
dilakukan, dan anda insyaAllah beruntung karena telah mendapat ilmu yang mahal 
yaitu bagaimana mengelola modal hidup ini, yakni waktu. 
b. Sekarang harus lebih baik daripada tadi
Sahabat-sahabat, sungguh kita merasakan bahwa seringkali kita tidak begitu 
serius menghargai waktu, sehingga kadang-kadang menghamburkannya tanpa guna. 
Kadangkala kesia-siaan selalu menjadi bagian dari hidup kita ini; 
bersantai-santai tanpa merasa rugi waktu, berbicara sia-sia tanpa merasa 
berdosa, berjalan tanpa tujuan hanya untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. 
Padahal, sungguh waktu adalah modal kita dalam mengarungi kehidupan ini. Kalau 
kita mengoptimalkan modal kita, maka beruntunglah kita, tapi kalau kita 
menyia-nyiakannya.Maka sangat pasti akan rugilah kita. Orang yang bodoh adalah 
orang yang diberi modal (waktu), kemudian dengan modal itu ia sia-siakan. 
Naudzhubillah. Padahal, andaikata hari ini sama dengan hari kemarin berarti 
kecepatan kita sama, tak ada peningkatan. maka tak akan pernah bisa menyusul 
siapapun, dan andaikata orang lain selalu meningkat, maka kita akan tertinggal 
dan jadi pecundang. Rasulullah SAW. mengingatkan kita dengan
 sabdanya, " Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia 
termasuk orang-orang yang merugi" (H.R. Dailami).
 
Maka, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin, 
bahkan kalau bisa sekarang ini harus lebih baik daripada barusan tadi, dalam 
hal apapun. Kalau tidak demikian, maka harus diakui bahwa hari ini adalah hari 
yang gagal dan rugi, dan ingat andaikata hari ini lebih buruk dari hari kemarin 
berarti kita terkena musibah, kerugian yang sangat besar dan mencelakakan diri. 
Naudzhubillah, hal ini tak boleh terjadi pada diri kita. Rasulullah SAW sendiri 
mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki waktu kita, sebab setiap waktu 
memiliki beban persoalan tersendiri, sabdanya, "Carilah yang lima sebelum 
datang yang lima, yaitu manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu 
(dengan ibadah), gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu (dengan 
amal saleh), gunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu (dengan 
sedekah), gunakanlah masa hidupmu sebelum datang masa matimu (mencari bekal 
untuk hidup setelah mati). gunakanlah masa
 senggangmu sebelum datang masa sempitmu.' (Al Hadits). 
Dari uraian diatas, maka sebenarnya ada tiga kelompok orang yang menggunakan 
waktu, yaitu: 
1. Orang sukses, yaitu orang yang menggunakan waktu dengan optimal, dan ia 
melakukan sesuatu yang tidak diminati oleh orang yang gagal.
2. Orang malang, yaitu orang yang hari-harinya diisi dengan kekecewaan dan 
selalu memulai sesuatu dengan esok harinya.
3. Orang hebat, yaitu orang yang bersedia melakukan sesuatu sekarang juga. Bagi 
orang hebat, tidak ada hari esok. Dia berkata bahwa membuang waktu bukan saja 
sesuatu kejahatan, tetapi suatu pembunuhan yang kejam.
Maka , mulai sekarang waspadalah terhadap waktu. Setiap detik yang kita lalui 
harus diperhitungkan dengan secermat-cermatnya, sematang-matangnya, dan 
seakurat-akuratnya, lalu mengisinya dengan hal-hal yang membuahkan peningkatan 
kemampuan kita. Kita tidak hanya perlu bekerja keras, tapi kita perlu juga 
bekerja keras dan cerdas. Lebih jauh kita lagi kita perlu kerja keras, cerdas 
dan efektif, sehingga waktu yang kita gunakan akan lebih optimal, bermakna bagi 
dunia dan berarti bagi akhirat nanti.***


      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke