Mantap OI..............
terimakasih atas nasehat yang mungkin selama ini ane terlupa
wass


On 5/2/08, Ali Muntaha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Menyikapi Waktu
>
> Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar
>
>  Maha perkasa Allah Azza wa Jalla, Dzat yang memiliki segala keagungan,
> kemuliaan, keunggulan, dan segala kelebihan lainnya. Dzat yang Mahasempurna
> sifat-sifat-Nya, tiada satu kejadianpun yang terbebas dari kekuasaan-nya.
> Allah, Dzat yang Maha adil meningkatkan derajat siapa saja yang Dia
> kehendaki dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun,
> sesungguhnyalah kemuliaan dan kehinaan yang ada pada diri kita merupakan
> buah dari segala amal yang telah kita lakukan. Tidak bisa tidak. Karena demi
> Allah, Allah SWT tidak akan pernah dzhalim terhadap hamba-hamba-Nya.
>
> Sahabat-sahabat, sungguh betapa banyak orang yang cukup potensial, tetapi
> tidak bisa menjadi unggul. Salah satu sebabnya adalah karena
> ketidakmampuannya dalam mengelola waktu. Yakinilah bahwa kesuksesan atau
> kegagalan seseorang dalam urusan dunia maupun akhirat adalah sangat
> bergantung bagaimana kesungguhannya dalam menyikapi waktu. Kita saksikan,
> betapa banyak orang yang mengeluh karena merasa tak pernah punya waktu,
> sedangkan beberapa orang yang lain selalu mencari jalan untuk membunuh
> waktu.
>
> Padahal, subhanallah, Allah dengan Maha cermat dan Maha adil telah
> membagikan waktu dengan seadil-adilnya, dengan secermat-cermatnya tanpa akan
> luput satupun. Setiap orang pastilah akan mendapat jumlah waktu yang sama,
> yaitu 60 menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari di tempat manapun di dunia
> ini. Di negara maju, negara berkembang, atau negara yang hancur terpuruk
> sekalipun tetap 24 jam perhari 60 menit per jam.
>
> Singapura 24 jam per hari, Singaparna 24 jam per hari, Chichago 60 menit
> per jam, Cikaso 60 menit per jam, semuanya sama. Pengusaha sukses, yang
> jatuh bangun, atau bahkan yang bangkrut sekalipun tetap 24 jam per hari 60
> menit per jam. The Best Executive, karyawan asal-asalan,dan pengangguran
> kelas berat sekalipun jatah waktunya tetap sama 24 jam per hari. Seorang
> bintang kelas; yang biasa saja, atau yang tidak naik kelas sekalipun tetap
> 24 jam per hari 60 menit per jam. Maka, nyatalah bahwa yang menjadi masalah
> bukan jumlah waktunya, tapi isi waktunya.
>
> Sebab, ada yang dalam waktu 24 jam itu mampu mengurus negara, jutaan
> orang, atau aneka perusahaan raksasa dengan beratus ribu orang, tapi ada
> yang dalam 24 jam mengurus diri saja tidak mampu! Naudzhubillah,
> Karakteristik waktu memang sebuah keunikan, bahkan ia suatu misteri
> kehidupan ini, yang terekam dalam tik-tok jam, tercatat dalam buku harian,
> terhitung dalam kalender tahunan, terukir dalam prasasti-prasasti kehidupan.
> Walau, sebenarnya ukuran-ukuran itu akan kurang berarti, sebab ukuran waktu
> yang nyata adalah kehidupan kita sendiri. Ya, hidup kita adalah waktu itu
> sendiri, yang menggelinding tiada henti. Sebagai makhluk ciptaan-Nya waktu
> ternyata memiliki tabiat tersendiri, waktu adalah terpendek karena tak
> pernah cukup menyelesaikan tugas hidup. Waktu adalah terpanjang karena ia
> adalah ukuran keabadian. Waktu akan berlalu cepat bagi mereka yang bersuka
> cita. Waktu berjalan sangat lambat bagi yang dirundung derita. Waktu adalah
> saksi sejarah yang akan membeberkan segala kehinaan dan kenistaan yang kita
> lakukan.
>
> Waktu adalah perekam abadi yang akan mengekalkan segala keagungan dan
> kemuliaan seseorang. Dan yang utama waktu modal kita, kehidupan kita. Tiada
> yang dapat terjadi tanpa dia. Maka, sungguh suatu kerugian yang sangat besar
> bila seorang hamba tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan sangat baik dan
> optimal. Allah berfirman, "Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar
> berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
> saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan
> nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran" [Q.S. AI Ashr: (103): 1-3].
>
> Imam Syafii mengatakan bahwa, "Cukup dengan Surat Al Ashr, Al-Quran sudah
> terwakili". Subhanallah, demikian pentingnya waktu dalam pandangan Allah.
> Dikisahkan bahwa suatu waktu Khalifah Umar bin Abdulaziz sesampai di rumah
> setelah mengurus jenazah Sulaiman bin Abdul Malik kakeknya ia (Umar) sedang
> istirahat tidur-tiduran di ranjang, kemudian datang anaknya Abdul Malik, dan
> ia bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang membaringkan anda
> di siang hari bolong ini. Jawab ayahnya; "Aku letih, aku butuh istirahat".
> Abdul Malik berkata; "Pantaskah anda beristirahat padahal banyak pekerjaan
> yang harus dikerjakan, lihat di sana rakyat yang tertindas butuh
> pertolonganmu." jawab ayahnya, "Semalam suntuk aku menjaga pamanmu dan itu
> yang mendorong aku istirahat, nanti setelah shalat dhuhur aku akan
> mengembalikan hak-hak orang-orang yang tertindas dan teraniaya". Anaknya
> bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang menjamin anda hidup sampai
> dhuhur. Bagaimana kalau Allah menakdirkan anda mati sekarang?" Kemudian Umar
> bangun dan pergi membawa satu karung pikulan gandum, lalu mencari orang yang
> kelaparan.
>
> Dalam kisah ini, nampaklah betapa beratnya tanggung jawab untuk mengelola
> waktu. Bagaimana pula dengan kita yang telah diberi amanah mengurus bumi
> ini? Subhanallah, marilah kita berlindung kepada Allah dari kelalaian
> memanfaatkan waktu seraya memohon agar dikaruniakan kemampuan untuk
> mengelola waktu dengan optimal, penuh makna, sesuai dengan yang telah
> dituntunkan Allah dan Rosul-Nya. Ada dua hal yang perlu kita lakukan, agar
> memiliki keunggulan dalam hidup ini, yaitu:
>
> *a. Waktu boleh sama tapi isi harus beda *
>
> Ajaran Islam sangat menghargai waktu, Allah SWT sendiri berkali-kali
> bersumpah dalam Al Quran berkaitan dengan waktu. Wal 'ashri (Demi waktu),
> Wadh dhuha (Demi waktu dhuha), Wallail (Demi waktu malam), Wannahar (Demi
> waktu siang). Allah juga sangat menyukai orang yang shalat lima waktu dengan
> tepat waktu, memuliakan sepertiga malam sebagai waktu mustajabnya doa, dan
> waktu dhuha sebagai waktu yang disukai-Nya. Maka, sangat beruntunglah
> orang-orang yang mengisi waktunya efektif hanya dengan mempersembahkan yang
> terbaik dalam rangka beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam sebuah
> hadits qudsi, yang artinya, "Pada setiap fajar ada dua malaikat yang
> berseru-seru: "Wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang
> untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh sebab itu manfaatkanlah aku
> sebaik-baiknya. Karena aku tidak kembali lagi sehingga hari pengadilan."
> (H.R. Turmudzi).
>
> Cobalah bayangkan, andaikata dalam suatu perlombaan balap sepeda, dalam
> satu detik si A berhasil mengayuh satu putaran, si B setengah putaran, dan
> si C mengayuh dua putaran. Siapa yang jadi juaranya? Maka, dengan meyakinkan
> si C-lah yang akan berpeluang menjadi juara, mengapa? Karena pada detik yang
> sama si C dapat berbuat lebih banyak daripada yang lain. Nah, begitupun kita
> semua semakin banyak dan baik hal positif yang kita lakukan dalam waktu yang
> sama, insyaAllah kita akan lebih dekat dengan kesuksesan. Persis dengan apa
> yang anda lakukan saat ini, pada saat yang sama ada yang sedang tidur,
> sedang di WC, sedang bermain atau mungkin bermaksiat atau apa saja, dan pada
> saat akhir membaca tulisan ini. Maka, hasilnya pun berbeda-beda tergantung
> dari apa yang dilakukan, dan anda insyaAllah beruntung karena telah mendapat
> ilmu yang mahal yaitu bagaimana mengelola modal hidup ini, yakni waktu.
>
> *b. Sekarang harus lebih baik daripada tadi*
>
> Sahabat-sahabat, sungguh kita merasakan bahwa seringkali kita tidak begitu
> serius menghargai waktu, sehingga kadang-kadang menghamburkannya tanpa guna.
> Kadangkala kesia-siaan selalu menjadi bagian dari hidup kita ini;
> bersantai-santai tanpa merasa rugi waktu, berbicara sia-sia tanpa merasa
> berdosa, berjalan tanpa tujuan hanya untuk menghabiskan waktu dengan
> sia-sia. Padahal, sungguh waktu adalah modal kita dalam mengarungi kehidupan
> ini. Kalau kita mengoptimalkan modal kita, maka beruntunglah kita, tapi
> kalau kita menyia-nyiakannya.Maka sangat pasti akan rugilah kita. Orang yang
> bodoh adalah orang yang diberi modal (waktu), kemudian dengan modal itu ia
> sia-siakan. Naudzhubillah. Padahal, andaikata hari ini sama dengan hari
> kemarin berarti kecepatan kita sama, tak ada peningkatan. maka tak akan
> pernah bisa menyusul siapapun, dan andaikata orang lain selalu meningkat,
> maka kita akan tertinggal dan jadi pecundang. Rasulullah SAW. mengingatkan
> kita dengan sabdanya, " Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin,
> maka dia termasuk orang-orang yang merugi" (H.R. Dailami).
>
>
>
> Maka, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin,
> bahkan kalau bisa sekarang ini harus lebih baik daripada barusan tadi, dalam
> hal apapun. Kalau tidak demikian, maka harus diakui bahwa hari ini adalah
> hari yang gagal dan rugi, dan ingat andaikata hari ini lebih buruk dari hari
> kemarin berarti kita terkena musibah, kerugian yang sangat besar dan
> mencelakakan diri. Naudzhubillah, hal ini tak boleh terjadi pada diri kita.
> Rasulullah SAW sendiri mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki waktu
> kita, sebab setiap waktu memiliki beban persoalan tersendiri, sabdanya,
> "Carilah yang lima sebelum datang yang lima, yaitu manfaatkanlah masa mudamu
> sebelum datang masa tuamu (dengan ibadah), gunakanlah masa sehatmu sebelum
> datang masa sakitmu (dengan amal saleh), gunakanlah masa kayamu sebelum
> datang masa miskinmu (dengan sedekah), gunakanlah masa hidupmu sebelum
> datang masa matimu (mencari bekal untuk hidup setelah mati). gunakanlah masa
> senggangmu sebelum datang masa sempitmu.' (Al Hadits).
>
> Dari uraian diatas, maka sebenarnya ada tiga kelompok orang yang
> menggunakan waktu, yaitu:
>
> 1. Orang sukses, yaitu orang yang menggunakan waktu dengan optimal, dan ia
> melakukan sesuatu yang tidak diminati oleh orang yang gagal.
>
> 2. Orang malang, yaitu orang yang hari-harinya diisi dengan kekecewaan dan
> selalu memulai sesuatu dengan esok harinya.
>
> 3. Orang hebat, yaitu orang yang bersedia melakukan sesuatu sekarang juga.
> Bagi orang hebat, tidak ada hari esok. Dia berkata bahwa membuang waktu
> bukan saja sesuatu kejahatan, tetapi suatu pembunuhan yang kejam.
>
> Maka , mulai sekarang waspadalah terhadap waktu. Setiap detik yang kita
> lalui harus diperhitungkan dengan secermat-cermatnya, sematang-matangnya,
> dan seakurat-akuratnya, lalu mengisinya dengan hal-hal yang membuahkan
> peningkatan kemampuan kita. Kita tidak hanya perlu bekerja keras, tapi kita
> perlu juga bekerja keras dan cerdas. Lebih jauh kita lagi kita perlu kerja
> keras, cerdas dan efektif, sehingga waktu yang kita gunakan akan lebih
> optimal, bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti.***
>
>
>
> ------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
> Answers<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.answers.yahoo.com/>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke