Haidh (Menstruasi)
(10)
I. Darah Wanita
Darah yang keluar dari kemaluan wanita ada tiga macam:
1.
Darah haid, yaitu darah ya g keluar dalam keadaan sehat
2. Darah istihadhah, yaitu darah yang keluar dalam keadan sakit
3. Darah nifas, yaitu darah yang keluar bersama anak bayi Sedangkan untuk
masa yang paling lama dari masa suci para ulama sepakat mengatakan tidak
ada.
Masing-masing mempunyai hukum tersendiri
II. Pengertian Haidh.
Secara bahasa haid itu artinya mengalir. Dan makna haadhal wadhi adalah
bila air mengalir pada wadi itu.
Secara syariah haid adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita atau
tepatnya dari dalam rahim wanita bukan karena kelahiran atau karena sakit
selama waktu masa tertentu. Biasanya berwarna hitam, panas, dan beraroma
tidak sedap.
Didalam Al-Quran Al-Kariem dijelaskan tentang masalah haid ini dan
bagaimana menyikapinya.
وَيَسْأَلُونَكَ
عَنِ
الْمَحِيضِ
قُلْ هُوَ
أَذًى
فَاعْتَزِلُواْ
النِّسَاء
فِي
الْمَحِيضِ
وَلاَ
تَقْرَبُوهُنَّ
حَتَّىَ
يَطْهُرْنَ
فَإِذَا
تَطَهَّرْنَ
فَأْتُوهُنَّ
مِنْ حَيْثُ
أَمَرَكُمُ
اللّهُ
إِنَّ
اللّهَ
يُحِبُّ
التَّوَّابِينَ
وَيُحِبُّ
الْمُتَطَهِّرِينَ
`Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: `Haidh itu adalah
suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita
di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci
. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang
diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.(QS.
Al-Baqarah :222)
Demikian juga didalam hadis Bukhari dan Muslim.
Dari Aisyah r.a berkata ; `Bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang haid,
`Haid adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah kepada anak-anak
wanita Nabi Adam (HR. Bukhari Muslim)
III. Pada Usia Berapakah Mulai dan Berakhirnya Haid.
Haid itu dimulai pada masa balighnya seorang wanita kira-kira usia 9
tahun menurut hitungan tahun hijriyah. Atau secara hitungan hari 354 hari
(lihat Al-Fiqhul Islami oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili). Dan haid itu akan
berakhir hingga memasuki sinnul ya`si. Maka bila ada darah keluar sebelum
masa rentang waktu ini bukanlah darah haid tetapi darah penyakit.
Para ulama berbeda pendapat tentang sinnul ya`si. Abu Hanifah mengatakan
: bahwa sinnul ya`si itu usia 50 tahun. Sedangkan Al-Malikiah mengatakan
70 tahun, As-Syafi`iyah mengatakan tidak ada akhir sehingga selama hidup
masih berlangsung bagi seorang wanita tetaplah dianggap haid bila keluar
darah. Dan Al-Hanabilah mengatakan 50 tahun dengan dalil :
`Bila wanita mencapai usia 50 keluarlah dia dari usia haid (HR. Ahmad).
IV. Lama Haid Bagi Seorang Wanita
Al Hanafiyah mengatakan bahwa paling cepat haid itu terjadi selama tiga
hari tiga malam, dan bila kurang dari itu tidaklah disebut haid tetapi
istihadhah. Sedangkan paling lama menurut madzhab ini adalah sepuluh hari
sepuluh malam, kalau lebih dari itu bukan haid tapi istihadhah.
Dasar pendapat mereka adalah hadis beriut ini :
`Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Haid itu paling sepat
buat perawan dan janda tiga hari. Dan paling lama sepuluh hari. (HR.
Tabarani dan Daruquthni dengan sanad yang dhaif)
Al Malikiyah mengatakan paling cepat haid itu sekejap saja, bila seorang
wanita mendapatkan haid dalam sekejap itu, batallah puasanya, salatnya
dan tawafnya. Namun dalam kasus `iddah dan istibra` lamanya satu hari.
As Syafi`iyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa paling cepat haid itu
adalah satu hari satu malam. Dan umumnya enam atau tujuh hari. Dan paling
lama lima belas hari lima belas malam. Bila lebih dari itu maka darah
istihadhah. Pendapat ini sesuai dengan ucapan Ali bin Abi Thalib r.a yang
berkata : `Bahwa paling cepat haid itu sehari semalam, dan bila lebih
dari lima belas hari menjadi darah istihadhah.`
V. Lama Masa Suci
Masa suci adalah jeda waktu antara dua haid yang dialami oleh seorang
wanita. Masa suci memiliki dua tanda, pertama; keringnya darah dan kedua;
adanya air yang berwarna putih pada akhir masa haid (Bidayatul Mujtahid
1/52, al Qawwanin al Fiqhiyyah halaman 41).
Untuk masa ini, Jumhur ulama selain Al-Hanabilah mengatakan bahwa masa
suci itu paling cepat lima belas hari. Sedangkan Al-Hanabilah mengatakan
bahwa : `Masa suci itu paling cepat adalah tiga belas hari.
VI. Perbuatan Yang Haram Dilakukan oleh Wanita yang Sedang Haid.
1.Shalat
Seorang wanita yang sedang mendapatkan haid diharamkan untuk melakukan
salat. Begitu juga mengqada` salat. Sebab seorang wanita yang sedang
mendapat haid telah gugur kewajibannya untuk melakukan salat. Dalilnya
adalah hadis berikut ini :
عَنْ
عَائِشَةَ
رضيَ اللهُ
عَنْهَا:
أنَّ
فَاطِمَةَ
بِنْتَ
أَبِي
حُبَيْشٍ
كَانَتْ
تُسْتَحَاضُ،
فَقَالَ
لَهَا
رَسُولُ
اللهِ صلى
الله عليه
وسلم: إِنَّ
دَمَ
الحَيْضِ
دَمٌ
أَسْوَدُ
يُعْرَفُ،
فَإِذا
كَانَ
ذَلِكَ
فَأَمْسِكِي
عَنِ
الصَّلاةِ،
فَإِذا
كَانَ
الآخَرُ
فَتَوَضَّئِي
وَصَلِّي،
رَوَاهُ
أَبُو
دَاوُدَ
وَالنَّسَائِيُّ،
وَصَحَّحَهُ
ابنُ
حِبَّانَ
وَالحَاكِمُ،
وَاسْتَنْكَرَهُ
أَبُو
حَاتِمٍ
Dari Aisyah ra berkata,"Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah
istihadha, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya,"Darah haidh itu
berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah
shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu'lah dan lakukan shalat. (HR.
Abu Daud dan An-Nasai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).
`Dari Aisyah r.a berkata : `Dizaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat
haid, lalu kami diperintahkan untuk mengqada` puasa dan tidak diperintah
untuk mengqada` salat (HR. Jama`ah).
Selain itu juga ada hadis lainnya:
`Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila
kamu mendapatkan haid maka tinggalkan salat`
2. Berwudu` atau mandi
As Syafi`iyah dan al Hanabilah mengatakan bahwa: `wanita yang sedang
mendapatkan haid diharamkan berwudu`dan mandi janabah. Maksudnya adalah
bahwa seorang yang sedang mendapatkan haidh dan darah masih mengalir,
lalu berniat untuk bersuci dari hadats besarnya itu dengan cara berwudhu'
atau mandi janabah, seolah-olah darah haidhnya sudah selesai, padahal
belum selesai.
Sedangkan mandi biasa dalam arti membersihkan diri dari kuman, dengan
menggunakan sabun, shampo dan lainnya, tanpa berniat bersuci dari hadats
besar, bukan merupakan larangan.
3.Puasa
Wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang menjalankan puasa dan untuk
itu ia diwajibkannya untuk menggantikannya dihari yang lain.
وَعَنْ
أَبِي
سَعِيْدٍ
الخُدْرِيِّ
رضيَ اللهُ
عَنْهُ
قَالَ: قَالَ
رسُولُ الله
صلى الله
عليه وسلم:
أَلَيْسَ
إِذا
حَاضَتِ
المَرْأَةُ
لَمْ
تُصَلِّ
وَلَمْ
تَصُمْ،
مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ
Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa Rasulullah SAW
bersabda,"Bukankah bila wanita mendapat hatdh, dia tidak boleh shalat dan
puasa?". (HR, Muttafaq 'alaihi)
4.Tawaf
seorang wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang melakukan tawaf.
Sedangkan semua praktek ibadah haji tetap boleh dilakukan. Sebab tawaf
itu mensyaratkan seseorang suci dari hadas besar.
وَعَنْ
عَائِشةَ
رضيَ اللهُ
عَنْهَا
قَالَت:
لَمَّا
جِئْنَا
سَرِفَ
حِضْتُ،
فَقَالَ
النَّبيُّ
صلى الله
عليه وسلم:
افْعَلِي
مَا
يَفْعَلُ
الحَاجُّ
غَيْرَ أَنْ
لا
تَطُوْفِي
بِالبَيْتِ
حَتَّى
تَطْهُرِي،
مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ
Dari Aisyah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila kamu
mendapat haid, lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf
disekeliling ka`bah hingga kamu suci (HR. Mutafaqq `Alaih)
5. Menyentuh mushaf dan Membawanya
Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Kariem tentang menyentuh Al-Quran :
لا يمسه إلا
المطهرون
Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.` . (QS. Al-Qariah ayat 79)
Jumhur Ulama sepakat bahwa orang yang berhadats besar termasuk juga orang
yang haidh dilarang menyentuh mushaf Al-Quran
6. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran
Kecuali dalam hati atau doa / zikir yang lafznya diambil dari ayat
Al-Quran secara tidak langsung.
`Rasulullah SAW tidak terhalang dari membaca Al-Quran kecuali dalam
keadaan junub`.
Namun ada pula pendapat yang membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran
dengan catatan tidak menyentuh mushaf dan takut lupa akan hafalannya bila
masa haidhnya terlalu lama. Juga dalam membacanya tidak terlalu banyak.
Pendapat ini adalah pendapat Malik. Demikian disebutkan dalam Bidayatul
Mujtahid jilid 1 hal 133.
7. Masuk ke Masjid
Dari Aisyah RA. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Tidak ku
halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh`. (HR. Bukhori, Abu
Daud dan Ibnu Khuzaemah.)
8.Bersetubuh
Wanita yang sedang mendapat haid haram bersetubuh dengan suaminya.
Keharamannya ditetapkan oleh Al-Quran Al-Kariem berikut ini:
وَيَسْأَلُونَكَ
عَنِ
الْمَحِيضِ
قُلْ هُوَ
أَذًى
فَاعْتَزِلُواْ
النِّسَاء
فِي
الْمَحِيضِ
وَلاَ
تَقْرَبُوهُنَّ
حَتَّىَ
يَطْهُرْنَ
فَإِذَا
تَطَهَّرْنَ
فَأْتُوهُنَّ
مِنْ حَيْثُ
أَمَرَكُمُ
اللّهُ
إِنَّ
اللّهَ
يُحِبُّ
التَّوَّابِينَ
وَيُحِبُّ
الْمُتَطَهِّرِينَ
`Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: `Haidh itu
adalah suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri
dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka,
sebelum mereka suci . Apabila mereka telah suci, maka campurilah
mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang
yang mensucikan diri.(QS. Al-baqarah :222)
Yang dimaksud dengan menjauhi mereka adalah tidak menyetubuhinya.
Sedangkan al Hanabilah membolehkan mencumbu wanita yang sedang haid pada
bagian tubuh selain antara pusar dan lutut atau selama tidak terjadi
persetubuhan. Hal itu didasari oleh sabda Rasulullah SAW ketika beliau
ditanya tentang hukum mencumbui wanita yang sedang haid maka beliau
menjawab:
وَعَنْ
أَنَسٍ رضيَ
اللهُ
عَنْهُ
أَنَّ
اليَهُودَ
كَانت إِذا
حَاضَتِ
المَرْأَةُ
فِيْهِمْ
لَمْ
يُؤَاكِلُوهَا،
فَقَالَ
النَّبِيُّ
صلى الله
عليه وسلم:
اصْنَعُوا
كُلَّ شَىءٍ
إِلاَّ
النِّكَاحَ،
رَوَاهُ
مُسْلِمٌ
`Dari Anas ra bahwa Orang yahudi bisa para wanita mereka mendapat
haidh, tidak memberikan makanan. Rasulullah SAW bersabda,"Lakukan
segala yang kau mau kecuali hubungan badan". (HR. Muslim)`.
وَعَنْ
عَائِشَةَ
رضيَ اللهُ
عَنْهَا
قَالَت:
كَانَ
رَسُولُ
اللهِ صلى
الله عليه
وسلم
يَأْمُرُنِي
فَأَتَّزِرُ،
فَيُبَاشِرُنِي
وَأَنَا
حَائِضٌ،
مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ
`Dari Aisyah ra berkata,"Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk memakain
sarung, beliau mencumbuku sedangkan aku dalam keadaan datang haidh". (HR.
Muslim)`.
Keharaman menyetubuhi wanita yang sedang haid ini tetap belangsung sampai
wanita tersebut selesai dari haid dan selesai mandinya. Tidak cukup hanya
selesai haid saja tetapi juga mandinya. Sebab didalam al Baqarah ayat 222
itu Allah menyebutkan bahwa wanita haid itu haram disetubuhi sampai
mereka menjadi suci dan menjadi suci itu bukan sekedar berhentinya darah
namun harus dengan mandi janabah, itu adalah pendapat al Malikiyah dan as
Syafi`iyah serta al Hanafiyah.
Kaffarat Menyetubuhi Wanita Haidh
Bila seorang wanita sedang haid disetubuhi oleh suaminya maka ada hukuman
baginya menurut al Hanabilah. Besarnya adalah satu dinar atau setengah
dinar dan terserah memilih yang mana. Ini sesuai dengan hadis Rasulullah
SAW berikut :
وَعَن ابنِ
عَبَّاسٍ
رضيَ اللهُ
عَنْهُمَا
عَنْ
رَسُولِ
اللهِ صلى
الله عليه
وسلم فِي
الذِي
يَأْتِي
امْرَأَتَهُ
وَهِيَ
حَائِضٌ،
قَالَ:
يَتَصَدَّقُ
بِدِيْنَارٍ
أَوْ
بِنِصْفِ
دِيْنَارٍ،
رَوَاهُ
الخَمْسَةُ،
وَصَحَّحَهُ
الحَاكِمُ
وَابْنُ
القَطَّانِ،
وَرَجَّح
غَيرُهُمَا
وَقْفَهُ
`Dari Ibn Abbas dari Rasulullah SAW bersabda tentang orang yang
menyetubuhi istrinya dalam keadaan haidh : `Orang yang menyetubuhi
isterinya diwaktu haid haruslah bersedekah satu dinar atau setengah
dinar` (HR. Khamsah dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu
Al-Qaththan)
As Syafi`iyah memandang bahwa bila terjadi kasus seperti itu tidaklah
didenda dengan kafarat, melainkan hanya disunnahkan saja untuk
bersedekah. Satu dinar bila melakukannya diawal haid, dan setengah dinar
bila diakhir haid.
Namun umumnya para ulama seperti al Malikiyah, as Syafi`iyah dalam
pendapatnya yang terbaru tidak mewajibkan denda kafarat bagi pelakunya
cukup baginya untuk beristigfar dan bertaubat. Sebab hadis yang
menyebutkan kafarat itu hadis yang mudah tharib sebagaimana yang
disebutkan oleh al Hafidz Ibn Hajar dalam Nailul Authar jilid 1 halaman
278.
9. Cerai
Seorang yang sedang haid haram untuk bercerai. Dan bila dilakukan juga
maka thalaq itu adalah thalaq bid`ah. Dalilnya adalah :
يَا
أَيُّهَا
النَّبِيُّ
إِذَا
طَلَّقْتُمُ
النِّسَاء
فَطَلِّقُوهُنَّ
لِعِدَّتِهِنَّ
وَأَحْصُوا
الْعِدَّةَ
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
رَبَّكُمْ
لَا
تُخْرِجُوهُنَّ
مِن
بُيُوتِهِنَّ
وَلَا
يَخْرُجْنَ
إِلَّا أَن
يَأْتِينَ
بِفَاحِشَةٍ
مُّبَيِّنَةٍ
وَتِلْكَ
حُدُودُ
اللَّهِ
وَمَن
يَتَعَدَّ
حُدُودَ
اللَّهِ
فَقَدْ
ظَلَمَ
نَفْسَهُ
لَا تَدْرِي
لَعَلَّ
اللَّهَ
يُحْدِثُ
بَعْدَ
ذَلِكَ
أَمْرًا
`Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah
kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat iddahnya dan hitunglah
waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah
kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka ke luar
kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang . Itulah
hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap
dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan
sesudah itu sesuatu hal yang baru.` (QS. At-Thalaq : 1)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---