kalau saya vegetarian apakah saya kafir..??(sebagai sebuah kondisi saya akui
saya kafir tapi bukan pada status)
ampun ...ya Allah sedemikian mudahnya kita mengkafirkan orang lain cuma
gara-gara vegetarian
mbak.. mas kalau makan daging membawa mudharat kepada jasad saya( darah
tinggi kolestrol) dan saya tidak mengharamkan daging(cuma gak makan) apakah
secepat itu saya di labeli kafir...???

mungkin penjelasan di bawah ini sedikit membuka wawasan sahabat sahabat
sekalian tentang istilah kafir

Mari kita buka Al-Qur'an. Kita biasakan mencari definisi qur'aniyah dari
segala istilah agama yang kita kenal. Dengan demikian, kita akan terbiasa
untuk membuka Al-Qur'an dan pelan-pelan Insya Allah kita akan merasakan
Al-Qur'an benar-benar berfungsi bagi kehidupan kita. Kita belajar untuk
memahami agama ini, bukan sekedar menghafal dalil-dalil agama yang belum
tentu benar, apa lagi menggunakannya untuk, misalnya, mendebat orang lain.
Ini tentu bukan hal yang baik.

Definisi qur'aniyyah dari kata 'orang kafir', bisa kita temukan di surat
Al-Kahfi ayat 100 dan 101.

[image: 18:100]

[image: 18:101]

 Q.S. 18:100, *"dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang
kafir* (Al-Kafiriin) *dengan jelas."*

Q.S. 18:101, *"yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari
'zikri' *(diterjemahkan di terjemahan qur'an bahasa Indonesia dengan kata
'memperhatikan') *terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak
sanggup mendengar."*

Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur'aniyyah dari kata 'kafir'.
*Al-Kafiriin*, atau orang-orang kafir, adalah mereka yang matanya tertutup
dari 'zikri' terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan telinganya tidak
sanggup mendengar.

Jika demikian, apakah orang yang kebetulan ketika lanjut usia ia menjadi
tuli atau menjadi buta karena usia tua, apakah ia berarti ditakdirkan akan
mati dalam keadaan kafir? Atau, jika seseorang kebetulan ditakdirkan tuli
atau buta sejak lahir, apakah artinya ia ditakdirkan untuk hidup sebagai
orang kafir? Sebab sama sekali bukan keinginannya untuk dilahirkan sebagai
orang buta atau tuli. Apakah Allah menakdrkannya kafir karena kebetulan
lahir sebagai orang tuli atau buta?

Tentu jawabannya tidak. Semua orang, termasuk mereka yang buta atau tuli,
diberi-Nya kesempatan untuk mati kelak dalam keadaan diridhoi-Nya.

Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup?

Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur'an surat Al-Hajj (22) ayat 46.

[image: 22:46]

 Q.S. 22:46, *"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka
mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga
yang dengan itu dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang
buta, tetapi yang buta ialah *qalb-qalb *mereka* (quluubun) *yang ada di
dalam dada."*

Dari definisi Qur'an tersebut, yang disebut 'kafir' bukanlah orang yang
berbeda agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata dan telinga qalb
di dalam dadanya tidak berfungsi. Asal kata 'kafir' dan 'kufur' adalah *
'kafara'* yang artinya 'tertutup' (kata ini jkemudian diserap ke dalam
bahasa Inggris menjadi *'cover'* artinya penutup). 'Kafir' adalah mereka
masih yang tertutup dari *'Al-Haqq'* (kebenaran mutlak).

Mata dan telinga yang di dalam dada, maksudnya adalah mata dan telinga yang
adanya bukan pada level jasad kita, tapi lebih dalam lagi. Mata dan telinga
yang dimaksud adalah mata dan telinga yang ada dalam *qalb* kita, dalam
dada/*shuduur*, yang ada pada level jiwa *(nafs). **Shuduur* artinya 'dada
spiritual', sebagaimana hati yang biasa kita kenal bukanlah liver maupun
jantung, tapi lebih kepada 'hati spiritual' seperti nurani.

Jiwa atau *nafs* itu, jiwa yang mana? Kita mengetahui, bahwa ada tiga unsur
yang dipersatukan dalam membentuk satu manusia yang hidup, yaitu *Ruh,
Nafs*(jiwa), dan Jasad. Jiwa inilah, yang diabadikan dalam Q.S. 7:172,
yang
dahulu sekali disumpah di hadapan Allah untuk menjadi saksi (syahid,
perhatikan kata bahasa arabnya: syahidna, kami bersaksi) mengenai siapakah
Rabb mereka.

[image: 7:172]

 Q.S. 7:172, *"Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap *nafs-nafs (*
jiwa-jiwa,* anfusihim*) mereka: "Bukankah aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab,
"Betul, kami bersaksi *(syahidna)".

*Nafs*, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu, dan kelak akan
diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada saat itu jasad
kita terurai menjadi tanah, dan ruh kita yang menjadi daya hidup bagi jasad
(fungsinya mirip seperti energi yang ada pada baterai) kembali pada-Nya.
Kita tidak mengetahui apa-apa tentang ruh, karena ruh adalah urusan Allah.
Disebutkan dalam Q.S. 17 : 85, *"Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan
Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentangnya) melainkan
sedikit."*

Dengan demikian, barangsiapa yang mata dan telinga yang ada dalam dadanya
ini belum berfungsi, pada dasarnya ia masih 'kafir', atau tertutup. Ia tidak
akan bisa memahami petunjuk Allah, karena petunjuk Allah diturunkan bukan ke
telinga dan mata jasad kita, tapi ke 'mata dan telinga' qalb pada level jiwa
(nafs) kita.

Dasar dari hal ini bisa kita lihat dalam surat At-Taghabuun ayat 11:

[image: 64:11]

 Q.S. 64:11, *"… Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan
memberi petunjuk kepada* qalb *nya* (di terjemahan qur'an ditulis: 'kepada
hatinya')."

Dan, barangsiapa yang mata dan telinga dalam dadanya belum berfungsi, dia
tidak akan mampu memahami Al-Qur'an dengan sebenar-benarnya, karena
Al-Qur'an sebenarnya bukan untuk dihafal dalam otak. Sebagaimana yang
dialami Rasulullah, Al-Qur'an diturunkan ke dalam dadanya. Rasulullah
seorang yang buta huruf, tapi bagaimana Beliau saw. bisa memahami Al-Qur'an
hingga ke hakikat terdalamnya? Karena Al-Qur'an seharusnya, dan
sesungguhnya, ada dalam dada, bukan dalam kepala.

[image: 29:49]

 Q.S. 29:49, *"Sebenarnya (Al-Qur'an) itu adalah ayat-ayat yang nyata dalam
dada orang-orang yang diberi ilmu."*

Al-Qur'an dalam dada (*qalb* di dalam *shuduur*/dada) kita inilah yang akan
kita bawa hingga ke akhirat kelak, dan bukan Al-Qur'an yang dihafalkan dalam
kepala. Ketika mati kelak, otak kita dan segala apa yang ada dalam kepala
kita akan hancur menjadi tanah. Kita harus *memahami* dengan hati hingga ke
tingkat makna dan hakikatnya, bukan sekedar menghafalkan dalil-dalil Qur'ani
di kepala.

Dari data-data di atas, maka bisa kita pahami makna  'Kafir' adalah mereka
yang telinga dan mata dalam dadanya belum berfungsi, sehingga tertutup dari
*Al-Haqq* (kebenaran mutlak, kebenaran Ilahiyah). Dengan demikian, bahkan
saya sendiri masih kafir karena mata dan telinga jiwa saya belum berfungsi
dengan baik, belum sempurna dalam melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, dan
belum memahami Al-Qur'an dengan sempurna.

Untuk memperkuat bahwa makna 'kafir' sebenarnya ada dalam konteks
ketertutupan *qalb*  kita lihat lagi dua ayat berikut yang sangat terkenal:

Q.S. Al-Baqarah (2) : 6 - 7,

[image: 2:6]

[image: 2:7]

 "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri
peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [6]."

"Allah telah mengunci mati hati (qalb-qalb, *quluubihim*) dan pendengaran
mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat
berat [7]."

Sayang dua ayat di atas sering dijadikan dalil untuk bersikap kurang
bersahabat terhadap saudara kita yang beragama lain. Padahal, seandainya
kita lebih teliti lagi, kata 'kafir' sebenarnya ada dalam konteks
ketertutupan hati.

Ayat ini sama sekali bukan rujukan supaya kita menunjukkan sikap tidak
bersahabat pada saudara-saudara kita dari agama lain. Ayat ini justru
memperkuat keterangan tadi, bahwa 'kafir' ada dalam konteks ketertutupan *
qalb*, Tentu ini sama sekali bukan kebetulan yang tanpa makna. 'Kafir'
adalah sebuah kondisi (ruhaniyyah) tentang *qalb*, bukan status (keagamaan).

Jadi, secara sederhana bisa kita katakan bahwa *orang kafir adalah orang
yang* qalb*-nya masih tertutup dari Al-Haqq (kebenaran ilahiyah)*, dan tidak
secara langsung terkait dengan orang-orang yang tidak beragama Islam.

Kondisi kafir sendiri bertingkat-tingkat, dari yang sama sekali tidak bisa
memahami Al-Haqq, sedikit memahami, agak memahami, cukup memahami, dan
seterusnya. Kadar kekufuran seseorang berbeda-beda, tergantung sejauh mana
ia mampu memahami kebenaran (ilahiyyah). Kini semakin jelas bahwa kekafiran
adalah sebuah *kondisi*, bukan status.

Karena saya sendiri masih kafir (atau masih banyak kekufuran yang ada dalam
diri saya)

-- 
lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke