--- On Mon, 6/16/08, Rizal Aliffi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Rizal Aliffi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [mediamusliminfo] Bangkitlah Ummatku !!
To: [email protected]
Date: Monday, June 16, 2008, 7:34 PM

Sebuah tulisan dari Ustadz Muhammad Arifin Badri M.A, seorang PhD student di 
Islamic University of Madinah KSA. 
Semoga bisa menjadi renungan untuk kita semua.

Bangkitlah Ummatku !!
Tidak asing lagi fakta kehidupan yang sedang dijalani oleh umat
islam sekarang ini, berbagai petaka, bencana, penindasan, pelecehan dan
berbagai fakta pilu lainnya. Dari hari ke hari, pendengaran kita tiada
hentinya mendengarkan berbagai berita yang menyayat-nyayat hati, mata
kita membaca berbagai lembaran kelam dari sejarah umat Islam.
Musuh-musuh dari segala aliran dan bangsa
dengan bengisnya menindas, menjajah, dan merampas hak umat Islam.
Dengan segala kerakusan dan keserakahannya mereka merampas segala
keindahan umat Islam. Semua itu berlangsung tanpa ada daya dan upaya
yang dapat dilakukan oleh umat Islam untuk menangkal atau menyingkapnya.
Fakta ini benar-benar seperti yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu 
'alaihi wa sallam dalam hadits berikut:
Tak lama lagi berbagai bangsa akan ramai-ramai bersekongkol atas
kalian, bak persekongkolan para pemakan ramai-ramai menuju kepada
piring hidangannya. Maka seorang sahabat bertanya: "Apakah karena kami
kala itu berjumlah sedikit?" Beliau menjawab: "Bahkan kalian kala itu
berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih bak buih air bah, dan sungguh
Allah akan menyirnakan rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Ia
akan mencampakkan Al Wahanu di jantung-jantung kalian." Maka salah
seorang sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, apakah Al Wahanu itu?"
Beliau menjawab: "Cinta terhadap dunia dan benci akan kematian." (Riwayat 
Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, serta dishohihkan oleh Al Albany)
Walau demikian, kita tidak boleh berkecil hati atau merasa putus
asa, karena Allah Ta'ala telah memberikan jaminan bahwa kemenangan, dan
kejayaan pasti akan menghampiri hamba-hamba-Nya yang beriman dan
bertaqwa:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ 
يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
"Dan sungguh-sungguh telah Kami tuliskan (tetapkan) di dalam
Zabur sesudah (Kami tuliskan dalam Laih Mahfuzh) bahwasannya bumi ini
akan di warisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh." (QS. Al Anbiya': 105)
Ibnu Katsir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan bahwa hal ini
(kemenangan orang-orang soleh-pen) telah dituliskan dalam kitab syar'i
(taqdir syar'iyah) dan kitab Qodari (taqdir kauniyah), dan hal itu
pasti terwujud." (Tafsir Ibnu Katsir 3/201)
Pada ayat lain Allah berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن
قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا
يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ
الْفَاسِقُونَ
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan beramal soleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka
agama yang telah Ia ridhai untuk mereka. Dan Ia benar-benar akan
menggantikan (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan,
menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada
menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan barang siapa yang (tetap) kufur
sesudah janji ini, maka mereka itulah orang-orang fasik." (QS. An Nur: 55)
Dan pada ayat lain Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا 
وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
"Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan
orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tegakkanya
para saksi (hari Qiyamat)" (QS. Ghofir: 50)
Inilah janji Allah, inilah jaminan dari Allah, dan inilah sebagian
dari imbalan bagi orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah.
Bila kita renungkan ketiga ayat di atas, niscaya kita dapatkan
dengan jelas bahwa janji Allah ini tidaklah diberikan dengan tanpa
syarat. Akan tetapi janji Allah ini hanya dapat digapai dengan dua
syarat:
1. Syarat Pertama: Iman.
2. Syarat Kedua: Amal sholeh.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Karena para sahabat
-semoga Allah meridhoi mereka- sepeninggal Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah orang paling banyak menegakkan perintah-perintah Allah,
dan paling ta'at kepada Allah Azza wa Jalla, maka pertolongan yang
mereka dapatkan sesuai dengan amalan mereka. Mereka menegakkan kalimat
Allah di belahan bumi bagian timur dan barat, maka Allah benar-benar
meneguhkan mereka. Sehingga mereka berhasil menguasai umat manusia dan
berbagai negeri. Dan tatkala umat Islam sepeninggal mereka melakukan
kekurangan dalam sebagian syari'at, maka kejayaan mereka berkurang
selarang dengan amalan mereka." (Tafsir Ibnu Katsir 3/302)
Sebenarnya, lembaran sejarah yang sedang dijalani oleh umat Islam
pada zaman sekarang, tidaklah lebih berat bila dibandingkan dengan
lembaran sejarah yang dijalani oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersama sahabatnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
dituduh sebagai tukang sihir, pendusta, dan dan disakiti serta
diperangi. Ada dari sahabatnya yang dibunuh dengan cara-cara sadis nan
bengis, sebagaimana yang dialami oleh sahabat Yasir & Sumayyah. Ada
dari mereka yang disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan, sebagaimana
yang dialami oleh Ammar bin Yasir, Khabbab bin Arat, Bilal dll.
Menjalani tantangan yang sangat berat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam
tetap tegar meniti setiap tahapan dakwah, tanpa kenal lelah atau kecil
hati. Beliau berjuang sekuat tenaga guna mewujudkan kedua persyaratan
diatas pada sahabatnya.
Dan tatkala ada dari sebagian dari sahabatnya yang merasa bahwa
jalan menuju kejayaan terlalu panjang, dengan tegar beliau kembali
menegaskan bahwa bila kedua persyaratan diatas telah terealisasi, maka
jalan menuju kejayaan sangatlah pendek. Mari kita simak beberapa bukti
akan hal ini:
Abul 'Aliyah menyatakan bahwa ayat 55 surat An Nur di atas diturunkan pada awal 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
dan para sahabatnya diperintahkan untuk berperang, sehingga beliau dan
para sahabatnya senantiasa dalam keadaan khawatir akan serangan musuh.
Oleh karenanya, mereka senantiasa menenteng senjata, sampai-sampai
salah seorang sahabat berkata kepada beliau: "Akankah
selama-lamanya kita akan berada dalam ketakutan semacam ini?,
mungkinkah akan datang suatu saat yang aman sehingga kamipun meletakkan
senjata?" Maka Nabipun menjawab: "Tidaklah kalian bersabar
melainkan hanya dalam waktu yang singkat, sampai akan datang suatu
masa, yang padanya salah seorang dari kamu akan duduk
berongkang-ongkang di tengah keramaian manusia, sedangkan tidak
sepotong besipun (senjata) ada bersama mereka," kemudian Allah menurunkan ayat 
di atas. (Tafsir At Thobary 18/159)
Imam Bukhori meriwayatkan dari sahabat Khabbab bin Arat radhiallahu 'anhu, 
bahwa pada suatu hari beliau mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam yang sedang berbaring di bawah naungan Ka'bah berbantalkan selimutnya. 
Lalu sahabat Khabbab berkata kepada beliau: "Tidakkah engkau memohonkan 
pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?" Maka 
beliau menjawab: "Dahulu
pada umat sebelum kalian ada orang yang ditimbun dalam tanah, kemudian
didatangkan gergaji, lalu diletakkan di atas kepalanya hingga terbelah
menjadi dua. Siksa itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya.
Dan ada yang disisir dengan sisir besi, hingga terkelupas daging, dan
nampaklah tulang atau ototnya, akan tetapi hal itu tidaklah menjadikan
ia berpaling dari agamanya. Sungguh demi Allah, urusan ini akan menjadi
sempurna, sehingga akan ada penunggang kendaraan dari Sanaa' hingga ke
Hadramaut, sedangkan ia tidaklah merasa takut kecuali kepada Allah atau
serigala atas dombanya. Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang
terburu-buru."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada kisah ini kembali menggugah 
keimanan Khabbab kepada janji Allah. Sebagaimana Beliau shallallahu 'alaihi wa 
sallam juga menegur sahabat Khabbab agar meninggalkan sikap terburu-buru dalam 
perjuangan di jalan Allah.

Bila sahabat Khabbab radhiallahu 'anhu yang hanya meminta agar Nabi shallallahu 
'alaihi wa sallam
memohonkan pertolongan dan berdoa, dinyatakan terburu-buru, maka
bagaimana halnya dengan sikap banyak dari umat Islam pada zaman ini.
Dari mereka ada yang menempuh jalan demonstrasi, pengeboman, pendirian
partai politik, dan menggalang dukungan dari siapapun, serta berkoalisi
dengan partai apapun, tanpa perduli dengan azaz dan idiologinya. Semua
ini mereka lakukan di bawah slogan: Menyegerakan kejayaan bagi umat
Islam?!! Mengusahakan jaminan hidup bermartabat bagi umat Islam?!
Memperjuangkan nasib kaum muslimin?!! Bahkan dari mereka ada yang
berkata: Bila umat islam tidak masuk parlemen, maka siapakah yang akan
menjamin nasib mereka?!
Seakan-akan mereka tidak pernah mendengar jaminan dan janji Allah di
atas. Seusai perjanjian Hudaibiyyah ditandatangani, sahabat Umar bin
Khatthab radhiallahu 'anhu yang tidak kuasa melihat sahabat Abu Jandal 
radhiallahu 'anhu diserahkan kembali ke orang-orang Quraisy, berkata kepada 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Bukankah engkau adalah benar-benar 
Nabiyullah?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ya." Umarpun 
kembali berkata: "Bukankah kita di atas kebenaran, sedangkan musuh kita di atas 
kebatilan?" Nabipun menjawab: "Ya!" Umarpun berkata: "Lalu mengapa kita pasrah 
dengan kehinaan dalam urusan agama kita, bila demikian adanya?" Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Sesungguhnya Aku adalah Rasulullah, 
dan aku tidak akan menyelisihi perintah-Nya, dan Allah adalah Penolongku." Umar 
kembali berkata: "Bukankah engkau pernah mengabarkan kepada kami bahwa kita 
akan mendatangi Ka'bah, kemudian berthowaf di sekelilingnya?" Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Iya, dan apakah aku pernah mengabarkan 
bahwa kita akan mendatangai Ka'bah pada tahun
 ini?" Umarpun menjawab: "Tidak." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam 
menimpalinya: "Sesungguhnya engkau akan mendatangainya, dan akan bertowaf 
mengelilinginya." (Muttafaqun 'alaih)

Pada kisah ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
berusaha meneguhkan kembali keimanan Umar bin Khatthab kepada janji
Allah agar tidak tergoyah. Dan mengungatkannya agar bersabar dalam
menanti datangnya pertolongan Allah, yaitu dengan tetap taat kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikianlah
seyogyanya pertolongan Allah Ta'ala digapai. Yaitu dengan keimanan yang
benar dan kokoh dan kesabaran yang teguh. Allah Ta'ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا 
بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
"Dan Kami jadikan dari mereka pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan adalah mereka
selalu meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As Sajdah: 24)
Ibnul Qayyim berkata: "Pada ayat ini Allah Ta'ala mengabarkan
bahwa Ia telah menjadikan mereka (pengikut nabi Musa-pen) sebagai
pemimpin-pemimpin yang dijadikan panutan oleh generasi setelah mereka,
berkat kesabaran dan keyakinan mereka. Sebab dengan kesabaran dan
keyakinan, kepemimpinan dalam hal agama dapat dicapai. Karena seorang
penyeru kepada jalan Allah Ta'ala, tidaklah akan terealisasi
cita-citanya, melainkan bila ia benar-benar yakin akan kebenaran misi
yang ia surukan, ia menguasai ilmu tentangnya. Ia juga bersabar dalam
menjalankan dakwah menuju jalan Allah, yaitu dengan tabah menahan beban
dakwah dan menahan diri dari segala hal yang akan meluluhkan tekad dan
cita-citanya. Barang siapa demikian ini halnya, maka ia termasuk para
pemimpin yang telah mendapat petunjuk dari Allah Ta'ala." (I'ilamul Muwaqi'in 
4/135)
Kisah antara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sahabat Umar bin 
Khatthab radhiallahu 'anhu
di atas, tentu tidak selaras dengan doktrin sebagian orang bahwa: yang
paling penting sekarang ini adalah kita bergerak, umat islam harus
bertindak, sekarang ini bukan lagi saatnya untuk menyoal tentang asma'
was sifat, sunnah, atau bid'ah, sedangkan saudara kita di sana
dibantai, di sini ditindas, disana diserang dst. Sekarang ini bukan
saatnya untuk bertanya sunnah atau bid'ah? Sekarang ini saatnya kita
bersatu, menggalang dukungan, melupakan segala perbedaan, dan berusaha
mencari titik temu, dst.
Doktrin ini tidaklah diucapkan kecuali oleh orang yang tidak mengenal keagungan 
Allah Ta'ala:
Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya
kalian mengerjakan berbagai amalan, yang di mata kalian lebih lembut
dibanding rambut, padahal kami dahulu semasa hidup Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam menganggapnya sebagai amalan yang
membinasakan." (Riwayat Bukhori)
Tatkala Kholifah Umar bin Al Khotthab terluka akibat tusukan Abu
Lu'lu'ah Al Majusi, ia dijenguk oleh seorang pemuda yang berkata: "Bergembiralah
wahai Amirul Mukminin dengan kabar gembira dari Allah untukmu; engkau
telah menjadi sahabat Rasulullah, dan banyak berjasa untuk Islam
sebagaimana yang engkau ketahui sendiri, kemudian engkau dipilih
menjadi pemimpin, dan engkaupun berlaku adil, kemudian engkau mati
syahid." Umarpun menjawab: "Aku berandai-andai itu semua cukup, tidak atasku 
dan juga tidak untukku." Tatkala pemuda itu telah berpaling, ternyata sarungnya 
menyentuh tanah. Umar-pun berkata: "Panggillah kembali pemuda itu," lalu ia 
berkata kepadanya: "Wahai
anak saudaraku! Naikkanlah bajumu, karena dengan cara itu bajumu akan
lebih awet, dan engkau lebih bertaqwa kepada Rabb-mu." (Riwayat Bukhori)
Pada akhir hayatnya, Kholifah Umar bin Khatthab masih juga perhatian
dengan masalah isbal. Beliau atau sahabat lainnya yang hadir kala itu
tidak ada yang berkata: "Sekarang, bukan saatnya berbicara tentang isbal, 
sekarang saatnya berbicara tentang calon pengganti kholifah," atau ucapan yang 
semakna.
Kholifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkirim surat kepada salah seorang 
panglimanya:
"Hendaknya engkau senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam setiap
situasi yang engkau hadapi, karena ketakwaan kepada Allah adalah
senjata paling ampuh, taktik paling bagus, dan kekuatan paling hebat.
Janganlah engkau dan kawan-kawanmu lebih waspada dalam menghadapi musuh
dibanding menghadapi perbuatan maksiat kepada Allah. Karena perbuatan
dosa lebih aku khawatirkan atas masyarakat dibanding tipu daya musuh
mereka. Kita memusuhi musuh kita dan mengharapkan kemenangan atas
mereka berkat tindak kemaksiatan mereka. Kalaulah bukan karena itu,
niscaya kita tidak kuasa menghadapi mereka, karena jumlah kita tidak
seimbang dengan jumlah mereka, kekuatan kita tidak setara dengan
kekuatan mereka. Bila kita tidak mendapat pertolongan atas mereka
berkat kebencian kita terhadap kemaksiatan mereka, niscaya kita tidak
dapat mengalahkan mereka hanya dengan kekuatan kita.
Jangan sekali-kali kalian lebih mewaspadai permusuhan seseorang
dibanding kewaspadaanmu terhadap dosa-dosamu sendiri. Janganlah kalian
lebih serius menghadapi mereka dibanding menghadapi dosa-dosa kalian.
Ketahuilah bahwa kalian senantiasa diawasi oleh para malaikat
pencatat amalan. Mereka mengetahui setiap perilaku kalian sepanjang
perjalanan dan peristirahatan kalian. Hendaknya kalian merasa malu dari
mereka, dan berlaku santun dihadapan mereka. Jangan sekali-kali
menyakiti mereka dengan tindak kemaksiatan kepada Allah, padahal kalian
mengaku sedang berjuang di jalan Allah.
Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa: "Sesungguhnya
(perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita, sehingga tidak
mungkin mereka dapat mengalahkan kita, walaupun kita berbuat dosa.
Betapa banyak kaum yang telah dikuasai oleh orang-orang yang lebih
jelek, akibat dari perbuatan dosa kaum tersebut."
Mohonlah pertolongan kepada Allah dalam menghadapi diri kalian,
sebagaimana kalian memohon pertolongan kepada-Nya dalam menghadapi
musuh kalian. Sebagaimana kamipun turut memohon hal tersebut untuk diri
kita dan juga untuk kalian." (Hilyatul Auliya' 5/303)
Subhanallah, suatu pesan yang layak untuk dituliskan dengan tinta
emas, dan dibacakan kepada setiap orang yang di hatinya sedang
berkobar-kobar api perjuangan demi Islam. Sudah sepantasnya pesan ini
diajarkan kepada setiap pemuda Islam yang ingin memperjuangkan nasib
Islam dan umatnya.
Kisah peperangan uhud dan peperangan Hunain adalah contoh kecil bagi
ucapan Kholifah Umar bin Abdul Aziz: Janganlah sekali-kali kalian
beranggapan bahwa: "Sesungguhnya (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek 
dibanding kita,…"
Pada perang Uhud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersama sahabatnya menghadapi kaum kafir Quraisy. Mereka datang ke
madinah guna membalas dendam atas kekalahan mereka pada perang Bader.
Sebagian sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melanggar perintah Nabi 
shallallahu 'alaihi wa sallam agar tidak meninggalkan pos penjagaan mereka di 
atas gunung, walau terjadi kejadian apapun. Sampai-sampai Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

كونوا مكانكم لا تبرحوا وإن رأيتم الطير تخطفنا
"Tetaplah kalian berada di pos kalian, dan janganlah kalian
berhanjak pergi, walaupun kalian menyaksikan burung-burung telah
menyambar-nyambar kami." (Al Baihaqy dll)
Akan tetapi perintah ini oleh sebagian sahabat yang bertugas menjaga
pos di atas gunung dilanggar. Mereka berdalih, perang telah usai, dan
musuh mulai lari tunggang-langgang, sehingga mereka merasa perlu untuk
ikut mengumpulkan rampasan perang dan menawan musuh yang berhasil di
tangkap. Akibat pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian sahabat ini,
terjadilah kekalahan dan petaka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam 
terluka dan terjatuh hingga pingsan, lebih dari tujuh puluh sahabat terbunuh 
dll.
Pada kisah ini, sebagian sahabat melanggar perintah untuk ittiba' (meneladani 
dan mentaati) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dan pada perang Hunain, sebagian sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
lalai akan Allah, sehingga mereka merasa percaya diri dan beranggapan
tidak akan terkalahkan, karena jumlah mereka banyak. Sebagaimana Allah
kisahkan hal ini dalam surat At Taubah 25:
(لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ
إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا
وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم
مُّدْبِرِينَ)
"Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di medan peperangan
yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu
terperdaya oleh banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak
memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah
terasa sempit olehmu, k emudian kamu lari ke belakang dengan
bercerai-berai." (QS. At Taubah: 25)
Pada kisah ini sebagian sahabat yang merasa percaya diri dengan
jumlah pasukan dan melalaikan tawakkal kepada Allah, maka mereka
ditimpa kekalahan, walaupun akhirnya para sahabatnya yang telah kokoh
keimanannya, segera kembali dan berjihad melawan musuh. Dan akhirnya
Allah Ta'ala melimpahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan sahabatnya kemenangan. Pada kisah ini, kaum muslimin terkalahkan
pada awal peperangan, akibat rasa ujub dan lupa tawakkal, sehingga
terjadi kekeliruan dalam hal tauhid kepada Allah.
Bila kita sedikit menoleh kepada realita umat Islam pada zaman kita
ini, maka kita dapatkan sangat jauh beda. Bukan sekedar dosa-dosa kecil
yang diremehkan, akan tetapi berbagai dosa besar bahkan syirikpun tidak
lagi diperdulikan. Berapa ribu kuburan yang dikeramatkan? Berapa juta
ajimat dikantongi umat islam? Berapa ribu paranormal dan
para-tidak-normal bebas membuka praktek umum. Berapa ribu habib dan
kyai bebas mengajarkan bid'ah dan kesesatannya? Adakah orang yang
merasa terusik, atau menggalang kekuatan dan dukungan untuk mengingkari
itu semua?
Kebanyakan umat Islam sekarang ini disibukkan dengan urusan jabatan
dan perebutan jatah kursi. Mereka sewot bila ada pejabat yang korupsi,
akan tetapi tidak pernah sewot sedikitpun bila ada kuburan yang
dikultuskan, atau bid'ah yang diajarkan.
Sebenarnya fakta ini bukanlah hal baru, akan tetapi senantiasa terjadi di 
sepanjang masa, mari kita simak kisah berikut:
"Dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhu ia menuturkan:
Datang kepadaku salah seorang dari anshar (penduduk madinah) pada masa
khilafah Utsman, kemudian ia berbicara kepadaku, ternyata ia
memerintahkanku untuk mencela Utsman, dan ia adalah orang yang lisannya
berat (susah berbicara) sehingga ia tidaklah dapat menyampaikan
maksudnya dengan jelas, dan ketika ia telah selesai berbicara, sayapun
menjawab: "Dahulu kami (para sahabat), semasa hidup Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Orang paling utama dari umat
ini ialah Abu Baker, kemudian Umar, kemudian Utsman. Dan sungguh demi
Allah, kami tidaklah mengathui bahwa Utsman pernah membunuh seorang
jiwa tanpa alasan yang dibenarkan, tidak juga pernah melakukan dosa
besar. Akan tetapi yang menjadi permasalahan ialah harta kekayaan ini
(harta kekayaan khilafah/ negara), bila ia memberikannya kepada kalian,
kalian ridho, dan bila ia berikannya kepada karib kerabatnya kalian
menjadi murka. Sesungguhnya kalian ini ingin menjadi seperti
orang-orang Persia dan Romawi, mereka tidaklah pernah memiliki seorang
pemimpin, melainkan mereka bunuh sendiri." (Riwayat Ahmad, Al Khollah dan At 
Thobrani)
Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya cukupkan dengan menyebutkan hadits 
berikut:
لئن أنتم اتبعتم أذناب البقر وتبايعتم بالعينة وتركتم الجهاد في سبيل
الله ليلزمنكم الله مذلة في أعناقكم ثم لا تنزع منكم حتى ترجعون إلى ما
كنتم عليه وتتوبون إلى الله. رواه أحمد وأبو داود والبيهقي وصححه الألباني
"Bila kalian telah (sibuk dengan) mengikuti ekor-ekor sapi,
berjual beli dengan cara 'inna[1] dan meninggalkan jihad, niscaya Allah
akan melekatkan kehinaan ditengkuk- tengkuk kalian, kemudian kehinaan
tidak akan dicabut dari kalian hingga kalian kembali kepada keadaan
kalian semula dan bertaubat kepada Allah." (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al 
Baihaqy dan dishohihkan oleh Al Albany). Wallahu a'alam bisshowab.
[1] Jual beli 'Innah ialah seseorang menjual kepada
orang lain suatu barang dengan pembayaran dihutang, kemudian seusai
barang diserahkan, segera penjual tadi membeli kembali barang tersebut
dengan harga yang lebih murah dan dengan pembayaran kontan.
***
Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Artikel www.muslim.or.id








      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke