ooo, dari IAIN (Inkar Allah Inkar Nabi) ya?? 2008/7/11 Mina Lestari <[EMAIL PROTECTED]>:
> * Ditulis Oleh : Hartono Ahmad Jaiz* > > *Abd. Moqsith Ghazali *pendukung Nabi palsu Ahmad Moshaddeq dari kalangan > JIL (Jaringan Islam Liberal) berhasil meraih gelar Doktor Bidang Tafsir dari > Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis > (13/12/2007) malam, dengan predikat memuaskan (cumlaude). Disertasinya > berjudul *Pluralitas Umat Beragama dalam al-Qur'an: Kajian terhadap Ayat > Pluralis dan Tidak Pluralis.* > > Para penguji terdiri dari Prof. Dr. Azyumardi Azra (Penguji dan Ketua > Sidang), Prof. Dr. Salman Harun, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. > Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, Prof. Dr. Suwito, Prof. Dr. > Mulyadhi Kartanegara dan DR. Zainun Kamal. > > Di antara para pengujinya ada seorang penguji, Dr Salman Harun yang > termasuk Tim Penafsir Al-Qur'an, menanggapi keras disertasi Moqsith secara > tertulis, dan menilai Moqsith sebagai salah faham dan tidak utuh dalam > mengutip Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Munir karya Syekh Nawawi > Al-Bantani. Sehingga disertasi Moqsith bertentangan dengan tafsir-tafsir > yang dikutipnya itu. Menurut Salman, dua ulama itu *(Imam Ibnu Katsir dan > Imam Nawawi Al-Bantani) berkesimpulan hanya Muslim yang masuk surga. Tapi > Moqsith menyimpulkan, non muslim juga bisa.* Makanya Dr Salman Harun > berkomentar: *"Disertasi Begini kok Lulus". * > > Di samping itu Moqsith menganggap, bahwa di dalam al-Qur'an ada kontradiksi > (ta'arudl) antara ayat yang mendukung pluralisme dan yang menolaknya. Dia > kemukakan contoh sekenanya bahwa ada ayat berbunyi la ikraha fi al-din > (tidak ada paksaan dalam beragama), di samping ada juga ayat faqtulu > al-musyrikin (bunuhlah orang-orang musyrik). > > *Tuduhan itu terlalu berani. * > > Seandainya Moqsith mau menyimak dua ayat berikut ini saja, kalau dia > konsekuen, maka mungkin dia tidak akan menyatakan bahwa di dalam al-Qur'an > ada kontradiksi (ta'arudl). > > "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya > terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang > musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya > dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: > "Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan Karena > di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan > rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." > (QS Al-Maaidah: 82). > > "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) > kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh > Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), > (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka > membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (QS > At-Taubah: 29). > > [638] Jizyah ialah pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam > dari orang-orang yang bukan Islam, sebagai imbangan bagi keamanan diri > mereka. > > Di ayat itu tidak ada pemaksaan pula untuk masuk agama Islam. Mereka bisa > memilih, membayar jizyah sebagai imbangan keamanan diri mereka atau mau > masuk Islam, terserah saja. > > Terserah Moqsith mau percaya atau tidak, tetapi yang jelas, ungkapan > Moqsith itu sudah menentang terang-terangan terhadap ayat dan hadits berikut > ini: > > "*Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran > itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak > di dalamnya"*. (An-Nisaa': 82). > > Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, > ia berkata: "Aku pernah duduk bersama saudaraku dalam sebuah majelis yang > lebih aku sukai daripada memiliki unta-unta yang merah. Ketika aku dan > saudaraku berjalan, tiba-tiba kami temukan orang-orang yang sudah tua dari > kalangan sahabat Nabi berada di depan salah satu pintu dari pintu-pintu > (rumah) Nabi. Kami tidak ingin merusak majelis mereka. Maka kami pun duduk > di bagian belakang. *Ternyata mereka sedang membicarakan sebuah ayat dalam > Al-Qur'an. Mereka berselisih pendapat tentangnya, sehingga mengeraslah > suara-suara mereka*. Kemudian *Rasulullah Shollallohu 'Alaihi Wasallam pun > keluar dalam keadaan marah, hingga wajahnya memerah. Beliau melempar mereka > dengan tanah, lalu berkata: * > > *Tahanlah wahai kaumku! Sesungguhnya karena hal yang seperti inilah > umat-umat sebelum kalian binasa. Mereka menyelisihi nabi-nabi mereka dan > mempertentangkan sebagian (isi) kitab dengan sebagian yang lainnya. > Sesungguhnya > Al-Qur'an diturunkan tidak saling mendustakan sebagian dengan sebagian yang > lainnya. Namun justru saling membenarkan antara sebagiannya dengan sebagian > yang lainnya. Apa yang kalian ketahui darinya, maka amalkanlah. Dan apa > yang tidak kalian ketahui, maka kembalikanlah kepada orang yang > mengetahuinya.* (HR Ahmad II/181, shahih: dishahihkan oleh Syaikh Syu'aib > Al-Arnauth no. 6702). > > Jelaslah. Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam bersabda: *Sesungguhnya > Al-Qur'an diturunkan tidak saling mendustakan sebagian dengan sebagian yang > lainnya. Namun justru saling membenarkan antara sebagiannya dengan sebagian > yang lainnya.* > > Dalam disertasi Moqsith, menunjukkan, bahwa di dalam al-Qur'an ada > kontradiksi (ta'arudl) antara ayat yang mendukung pluralisme dan yang > menolaknya. > > Kalau para penguji (selain satu orang yang mengkritik Moqsith tentu saja) > masih percaya kepada Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam, mestinya > menolak disertasi Moqsith itu. *Namun anehnya, Azyumardi Azra (penguji, > yang dalam kasus nabi palsu, dia dikenal sebagai salah satu penanda tangan > penjelasan pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad yaitu JAI –Jemaat > Ahmadiyah Indonesia) dan juga Nasaruddin Umar selaku pembimbing (yang juga > penandatangan penjelasan pengikut nabi palsu, JAI), memuji-muji disertasi > tokoh liberal yang jelas-jelas menentang ayat Allah dan hadits Nabi > Shollallohu 'Alaihi Wasallam ini.* > > Perlu diketahui, menurut situs wahidinstitut, Moqsith ini disebut pemikir > muda Nahdhatul Ulama dan peneliti the WAHID Institute yang didirikan oleh > Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang dikenal sering melontarkan pemikiran * > nyeleneh*/ aneh. > > *Kaitan dengan nabi palsu* > > Dalam kasus munculnya nabi palsu Ahmad Moshaddeq di Jakarta 2007, *Moqsith > adalah tokoh pembelanya*, bersama orang liberal lainnya. *Nabi palsu itu > sendiri difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia, Ramadhan 1428H/ Oktober > 2007M, sebagai kafir, dan agar ditindak oleh pemerintah dengan sesuai > aturan yang ada.* > > *Kenapa ada orang yang berani terang-teranga** mengaku sebagai nabi?*Secara > kenyataan, bisa disimak bahwa sebenarnya > *ada factor penunjang,* yaitu *maraknya orang liberal* warisan Nurcholish > Madjid, Harun Nasution, dan dukungan Abdurrahman Wahid, Ahmad Syafii Maarif > serta Dawam Rahardjo yang diawaki Ulil Abshar Abdalla, Abd Moqsith Ghazali > dan lainnya *yang berfaham semua agama sama (pluralisme agama)* di > mana-mana, bahkan didukung terang-terangan lewat media massa. > > Meskipun demikian, ada juga factor penghalangnya, yaitu masih banyaknya > ulama, tokoh Islam dan umat Islam yang peduli pada agamanya. Maka akibatnya, > nabi palsu ini ajarannya dilarang beredar oleh kejaksanaan Negeri Jakarta > untuk wilayah Jakarta, sejak 29 Oktober 2007M. Para pentolannya ditangkap > polisi untuk diproses. Kemudian dilarang secara Nasional di seluruh wilayah > Indonesia oleh Pakem (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) Kejaksaan > Agung, November 2007.* *Ahmad Moshaddeq sang nabi palsu pun mendekam dalam > tahanan untuk diproses ke pengadilan. > > Lantaran dilarang itu maka ada pihak-pihak yang tidak rela dengan larangan > itu, di antaranya Abd Moqsith Ghazali orang UIN (Universitas Islam Negeri) > Jakarta, pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal) lewat Metro TV 29 Oktober > 2007 dan teman-temannya dari kelompok liberal lewat aneka sarana. Kelompok > sesat dan membela kesesatan ini dijuluki dengan sarkasme, sepilis > (sekulerisme, pluralisme agama –menyamakan semua agama— dan liberalisme). > > *Pelajaran dari kasus ini* > > 1. MUI kecolongan karena melaksanakan dialog dengan JIL (Jaringan Islam > Liberal, yang diawaki Moqsith Ghazali) dan pentolan Al-Qiyadah (tidak > hadir) > di Metro Tivi Senin malam 29 Oktober 2007M. Kehadiran MUI itu sama dengan > mendudukkan JIL yang sudah *difatwakan MUI 2005* bahwa *faham > liberalisme, pluralisme agama dan sekulerisme itu bertentangan dengan Islam > *, dan *umat Islam haram mengikutinya*; namun justru MUI mau duduk > sejajar dengan JIL. Berarti JIL sejajar dengan MUI. Dan kalau pentolan nabi > palsu hadir dalam dialog di televisi itu justru posisi MUI jadi minoritas, > yaitu satu pihak dilawan oleh 2 pihak yang sesat. Kenyataannya Al-Qur'an > pun > ditolak hukumnya secara terang-terangan oleh Moqsith dalam dialog itu. Jadi > MUI atau siapapun yang muslim sebenarnya haram hukumnya duduk bicara dengan > orang model Moqsith dari JIL yang bicara menolak hukum Al-Qur'an > terang-terangan itu. > > "Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa > apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh > orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga > mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu > berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah > akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam > Jahannam," (QS An-Nisaa': 140). > > 2. Satu sisi JIL sementara menang, bisa seakan sejajar dengan MUI, > padahal *JIL jelas telah difatwakan oleh Munas MUI ketujuh, tahun 2005, > bahwa fahamnya bertentangan dengan Islam*. Namun ketika JIL jelas-jelas > membela nabi palsu, sedangkan dia sendiri (Moqsith dari JIL) mengaku bahwa > Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam itu nabi terakhir, maka > masyarakat mendapatkan minimal tiga pelajaran: > > a. 1. *Moqsith pentolan JIL itu cara berfikirnya kurang waras*, karena dia > sendiri mengaku bahwa Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam nabi > terakhir tetapi dia tetap membela nabi palsu. > > b. 2. Makin jelas bahwa Moqsith bersama JIL dan sepadannya yang berfaham > sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) itu adalah > penentang-penentang Islam yang terang-terangan, sampai yang sudah jelas > musuh Islam berupa nabi palsu yang hukumannya hukum bunuh saja masih dibela. > Berarti *JIL mendudukkan diri sebagai musuh Islam secara nyata dan > dipertontonkan kepada umat Islam secara terbuka.* > > c. 3. Nabi palsunya sendiri, Ahmad Moshaddeq mengaku sudah bertaubat, 9 > November 2007M. Tetapi para pendukungnya dari JIL dan liberal-liberal > lainnya tetap "berjuang" mendukung kepalsuannya. Sehingga dalam kasus > Ahmadiyah alias pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad, ternyata muncul > tokoh-tokoh yang "melegalkan" Ahmadiyah bahkan menandatangani penjelasan JAI > (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) yang dikenal dengan 12 butir penjelasan JAI, > yang menurut MUI tetaplah Ahmadiyah itu sesat karena penjelasannya itu tak > menafikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tokoh-tokoh liberal pendukung > Ahmadiyah itu di antaranya Atho Muzhar (Kepala Badan Litbang Departemen > Agama), Nasaruddin Umar Dirjen Bimas Islam Depag, Azyumardi Azra bekas > rector IAIN Jakarta dan lainnya. Dengan kasus ini maka lebih jelas lagi bagi > umat bahwa *kelompok liberal (baik yang jualan di luaran atau kaki lima > seperti Ulil Abshar Abdalla, Moqsith Ghazali dkk maupun yang di dalam > lembaga structural – seperti Depag, IAIN-IAIN dan lain-lain) di samping > mereka itu sesat memang selaku pembela kesesatan nomor wahid.* Allah > Subhaanahu wa Ta'ala telah menampakkan cela mereka (mengaku Muslim namun > terang-terangan membela nabi palsu dan pengikut nabi palsu) walau mereka > dalam keadaan mendekam di dalam sarang mereka. Sebagaimana dalam Al-Qur'an > ada pula orang yang sangat memusuhi Islam, Al-Walid bin Al-Mughirah, yang > kemudian terbunuh di Perang Badr dengan hidung terpotong. Sebelumnya, dia > telah ditampakkan celanya oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala: > > "Kelak akan kami beri tanda dia di belalai(nya)"[1491]. (QS Al-Qalam: 16). > > [1491] yang dimaksud dengan belalai di sini ialah hidung. dipakai kata > belalai di sini sebagai penghinaan. > > > *UIN Jakarta memproduk nabi palsu dan pembelanya* > > Dari kenyataan ini, sudah jelas kerusakannya. Bahkan kalau ditengok lebih > jauh ternyata lembaga yang dibincang ini telah memproduk nabi palsu pula, > bahkan mengaku sebagai reinkarnasi Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi > Wasallam, yaitu *Abdurrahman, alumni Ushuluddin IAIN Jakarta 1997 yang > mengabdi kepada Lia Aminuddin (belakangan sebutannya Lia Eden) sejak 1996*. > Kini nabi palsu itu masuk penjara atas vonis Mahkamah Agung 3 tahun penjara. > Sebaliknya pembela nabi palsu justru meraih gelar doctor, walau disertasinya > menuduh-nuduh Al-Qur'an sebagai ada kontradiksi, ditambah dengan > menggelapkan atau bahasa kasarnya memutar balikkan ulama tafsir sekaliber > Imam Ibnu Katsir. > > Dalam buku *Bunga Rampai Penyimpangan Agama di Indonesia**, *Pustaka > Al-Kautsar, Jakarta, 2007, telah saya kemukakan 4 tafsir (Imam Ibnu Katsir, > Imam Ibnu Taimiyyah, penafsiran Imam As-Syathibi, dan Imam As-Sa'di) dalam > menafsirkan ayat 62 Surat Al-Baqarah dan ayat 69 Surat Al-Maidah yang sering > diplintir pengertiannya oleh kaum liberal. Ayat itu sama sekali tidak > menegaskan masuk sorga bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang masih dalam > agama mereka ketika sudah mendengar seruan Islam yang dibawa oleh Nabi > Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam. Adapun mereka yang mengikuti nabi > mereka masing-masing di saat agama nabi itu belum diubah dan belum diganti > oleh nabi berikutnya, maka mereka itulah yang dimaksud ayat yang terjemahnya > *mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, > dan mereka tidak bersedih hati *(QS Al-Baqarah: 62). Itulah di antara > penafsiran dari empat ulama tersebut. > > Seandainya para penguji disertasi Moqsith (selain Dr Salman Harun) masih > mau menghargai para ulama tafsir, maka kemungkinan akan sama pendapatnya > dengan Pak Salman Harun. Namun, *boro-boro* mau menghargai ulama, kalau > sebaliknya, yaitu nabi palsu ya mau lah mereka untuk menghargainya. Bahkan > maqomnya tidak usah sampai sederajat nabi palsu, cukup pengikut nabi palsu > saja sudah menarik hati mereka, sehingga mereka mau menandatangani bersama > pernyataan pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad, yaitu Jemaat Ahmadiyah > Indonesia. > > Itulah keblingernya. Ulama ditlikung, sedang nabi palsu dijunjung. Maka > yang dijunjung sekarang pun adalah pembela nabi palsu, yaitu Abd Moqsith > Ghazali. Diluluskan sebagai doctor, masih pula disanjung. Lembaga ini telah > memproduk nabi palsu, dan menamatkan dengan terhormat pembela nabi palsu > pula. Selangkah lagi kalau dia masuk dalam tim penafsir Al-Qur'an di > Departemen Agama atau tingkat nasional, karena dia doctor di bidang tafsir > Al-Qur'an, maka apa yang akan terjadi? *Wallahu a'lam.* *Na'udzubillahi > min dzalik.* > > *disampaikan di Masjid Manarul 'Ilmi ITS Surabaya Februari 2008* > > sumber : http://assunnahsurabaya.wordpress.com > > > > -- Risdy ------------------------------------------------- http://rizts.logiss.net --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu "Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected] ------------------------------------------------------------------------------------------------------ Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian satu-per-satu. ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi http://groups.google.com/group/mediamusliminfo Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan http://www.kisahislam.com -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
