Aqidah Ruh Perjuangan Kita

Bukanlah sesuatu yang diragukan oleh setiap orang yang 
berakal bahwa berdirinya sebuah bangunan dengan kokoh 
tanpa fondasi merupakan perkara yang mustahil. Demikian 
pula agama ini, betapa sulit menemukan -atau bahkan tidak 
ada- sosok seorang muslim yang mengagungkan syi’ar-syi’ar 
Islam dan menunaikan berbagai aturannya dengan konsisten 
kecuali mereka adalah sosok orang-orang yang beraqidah 
yang lurus.

Yang kita bicarakan bukanlah sekedar semangat tanpa ilmu 
ataupun gerakan yang tidak dilandasi oleh 
pertimbangan-pertimbangan yang matang. Namun yang sedang 
kita perbincangkan saat ini -di tengah situasi yang penuh 
dengan terpaan syubhat dan syahwat di atmosfer kehidupan 
kaum muslimin di berbagai belahan dunia- adalah kemunculan 
para pemuda yang membangun segala aktivitasnya di atas 
pedoman-pedoman agama yang bersumber dari Al Kitab dan As 
Sunnah dengan mengikuti pemahaman salafush shalih. 
Orang-orang yang meyakini bahwa setiap ucapan yang 
terlontar dari lisan mereka akan dicatat. Orang-orang yang 
meyakini bahwa setiap gerak-geriknya selalu diawasi oleh 
Allah subhanahu wa ta’ala, Raja Yang Menguasai Kerajaan 
langit dan bumi. Orang-orang yang melandasi 
langkah-langkahnya dengan niat ikhlas dan mengikuti ajaran 
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saudara-saudaraku sekalian, kebangkitan para pemuda yang 
menyimpan kekuatan iman laksana benteng yang kokoh di 
dalam jiwa dan raganya bukanlah sesuatu yang mustahil 
terjadi di masa seperti ini. Sebagaimana pula orang-orang 
di masa silam telah menyaksikan sosok para pemuda Kahfi 
yang dinyatakan oleh Allah tentang keadaan mereka yang 
patut kita teladani bersama, Allah berfirman yang artinya,

نَحْنُ 
نَقُصُّ 
عَلَيْكَ 
نَبَأَهُمْ 
بِالْحَقِّ 
إِنَّهُمْ 
فِتْيَةٌ 
آَمَنُوا 
بِرَبِّهِمْ 
وَزِدْنَاهُمْ
 
هُدًى

“Kami mengisahkan cerita mereka kepada kamu dengan benar, 
sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman 
kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka 
petunjuk.” (QS. Al Kahfi [18]: 13)

Sebagaimana pula di hari kiamat nanti Allah akan 
memberikan naungan-Nya kepada sosok pemuda yang tumbuh 
dalam aktivitas ibadah kepada Rabbnya, Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini, 
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan 
dari Allah di hari ketika tiada naungan kecuali 
naungan-Nya,..” di antaranya adalah, “Seorang pemuda yang 
tumbuh dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari)

Kebangkitan para pemuda dari berbagai belahan dunia untuk 
membela agama ini dari penghinaan musuh-musuh-Nya adalah 
kabar gembira yang menyejukkan hati. Namun yang kita 
sayangkan adalah sebuah kebangkitan yang tidak menjadikan 
ilmu syar’i dan para ulama sebagai pemandu perjuangan 
mereka. Mereka bergerak dan bertindak tanpa koordinasi, 
tanpa perhitungan yang matang, membabi-buta dan 
serampangan. Maka muncullah berbagai aksi pengeboman di 
tempat-tempat umum, pembunuhan tanpa alasan, 
gerakan-gerakan rahasia untuk menghasut rakyat dalam 
rangka menggulingkan pemerintahan, bahkan tidak jarang 
kita dengar caci maki dan celaan pun mereka arahkan kepada 
manusia-manusia pewaris para nabi yaitu para ulama.

Saudara-saudaraku sekalian, para pemuda yang merindukan 
kejayaan Islam dan kaum muslimin di muka bumi ini, 
ketahuilah bahwa kejayaan yang kita dambakan tidak akan 
terwujud tanpa keikhlasan, kucuran keringat, perasan 
pikiran, ketundukan kepada Allah, dan tetesan air mata 
taubat dan penyesalan. Janganlah anda kira bahwa para 
sahabat dahulu bisa menang menaklukkan berbagai negeri 
dalam jangka waktu yang tidak lama, karena kekuatan materi 
yang mereka miliki. Janganlah anda kira sosok orang yang 
keras seperti Umar bin Khattab bisa masuk Islam dan 
menjadi pembelanya hanya semata-mata karena upaya dirinya 
sendiri ataupun ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
Namun lebih dari itu semua, kemenangan, petunjuk dan 
ketegaran yang mereka miliki adalah berkat taufik dan 
anugerah dari Allah ta’ala yang diberikan-Nya kepada 
siapapun yang dikehendaki-Nya.

Allah ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya shallallahu 
‘alaihi wa sallam,

إِنَّكَ 
لَا 
تَهْدِي 
مَنْ 
أَحْبَبْتَ 
وَلَكِنَّ 
اللَّهَ 
يَهْدِي 
مَنْ 
يَشَاءُ

“Sesungguhnya Kamu tidaklah bisa memberikan petunjuk 
kepada orang yang kamu senangi akan tetapi Allah yang 
memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Allah 
kehendaki.” (QS. Al Qashash [28] : 56).

Oleh sebab itu Ibnul Qayyim mengatakan di dalam sebuah 
kitabnya, “Asas segala kebaikan adalah pengetahuan yang 
kamu miliki bahwa apa pun yang Allah kehendaki pasti 
terjadi dan apa yang tidak Allah inginkan tidak akan 
terjadi. Dengan demikian maka pastilah bahwasanya segala 
kebaikan adalah berkat dari nikmat-Nya, sehingga kamu pun 
wajib mensyukurinya dan merendahkan diri untuk memohon 
kepada-Nya agar Dia tidak memutus kenikmatan itu darimu. 
Dan juga menjadi terang bahwasanya segala keburukan itu 
timbul akibat tidak mendapatkan bantuan dari-Nya dan 
tertimpa hukuman-Nya. Oleh sebab itu segeralah kamu 
memohon kepada-Nya agar Dia menghalangimu supaya tidak 
terperosok ke sana. Dan juga mintalah kepada-Nya agar 
tidak membiarkan dirimu sendirian dalam melakukan kebaikan 
dan meninggalkan kejelekan. Semua orang yang mengenal 
Allah pun telah sepakat bahwa segala kebaikan maka 
sumbernya adalah karena taufik dari Allah kepada hamba. 
Dan mereka pun sepakat bahwa segala keburukan merupakan 
akibat hamba tidak mendapatkan pertolongan dari-Nya…” (Al 
Fawa’id, hal. 94).

Sesungguhnya perjuangan yang bisa mengantarkan generasi 
pendahulu umat ini menuju kejayaan bukan akibat kekarnya 
tubuh mereka, lengkapnya persenjataan mereka, atau harta 
mereka yang melimpah ruah di mana-mana. Akan tetapi karena 
Allah ta’ala melihat hati-hati mereka dan Allah menemukan 
bahwa hati mereka adalah hati-hati yang bersih dari syirik 
dan ketergantungan hati kepada selain-Nya, itulah hati 
sebaik-baik golongan manusia yang pernah hidup di jagat 
raya ini. Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya 
Allah melihat hati para hamba. Dan Allah dapati hati 
Muhammad adalah sebaik-baik hati manusia maka Allah pun 
memilihnya untuk diri-Nya dan Allah bangkitkan dia sebagai 
pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati 
hamba-hamba yang lain setelah hati Muhammad shallallahu 
‘alaihi wa sallam, kemudian Allah dapati bahwa hati para 
sahabatnya adalah sebaik-baik hati manusia. Maka Allah pun 
menjadikan mereka sebagai pembantu nabi-Nya dan berperang 
bersama beliau untuk membela agama-Nya…” (HR. Ahmad di 
dalam Musnadnya)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Sebaik-baik manusia adalah di masaku (para sahabat), 
kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian 
orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. 
Bukhari dan Muslim). Padahal kita telah mengetahui bersama 
bahwa baik dan buruk pada manusia dalam pandangan Allah 
bukanlah karena harta, pangkat, ataupun keelokan parasnya. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat kepada rupa ataupun 
harta yang kalian miliki. Akan tetapi Allah melihat hati 
dan amal kalian.” (HR. Muslim). Apakah akan kita katakan 
bahwa para sahabat itu hanya baik dari sisi lahirnya 
sementara hati mereka tidak ubahnya seperti hatinya 
Abdullah bin Ubay bin Salul (gembong munafikin)? Padahal 
Allah juga telah menegaskan di dalam kitab-Nya bahwa 
orang-orang yang senantiasa mengagungkan syi’ar-syi’ar-Nya 
-dan para sahabat adalah orang terdepan dalam hal itu- 
adalah orang-orang yang memendam ketakwaan di dalam lubuk 
hatinya. Allah ta’ala berfirman,

ذَلِكَ 
وَمَنْ 
يُعَظِّمْ 
شَعَائِرَ 
اللَّهِ 
فَإِنَّهَا 
مِنْ 
تَقْوَى 
الْقُلُوبِ

“Demikianlah, barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar 
Allah, maka sesungguhnya hal itu muncul dari ketakwaan 
yang ada di dalam hati.” (QS. Al Hajj [22]: 32)

Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa yang 
dimaksud dengan syi’ar-syi’ar Allah adalah 
perintah-perintah-Nya. Dan salah satu bentuk mengagungkan 
syi’ar Allah adalah dengan mengagungkan hewan kurban. Hal 
itu sebagaimana tafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas 
yang mengatakan, “Yang dimaksud mengagungkannya adalah 
dengan memilih hewan kurban yang gemuk dan baik.” (Tafsir 
Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/310).

Nah, bagaimana mungkin akan kita katakan bahwa para 
sahabat yang tidak hanya memilihkan hewan kurban yang 
gemuk untuk berkurban; mereka rela menyumbangkan apa yang 
mereka punyai demi dakwah Islam, bahkan di antara mereka 
ada juga yang rela menyerahkan tubuhnya sendiri untuk 
menjadi sasaran anak panah demi melindungi Nabi 
shallallahu ‘alaihi wa sallam dari anak panah orang-orang 
kafir dalam sebuah pertempuran, apakah akan kita katakan 
bahwa para sahabat adalah para penjahat yang bersikap 
laksana musang berbulu domba dan pengkhianat agama yang 
kembali menjadi kafir sesudah wafatnya Nabi? Bukankah Nabi 
sendiri telah bersabda dengan wahyu yang diwahyukan 
kepadanya, “Janganlah kalian mencela para sahabatku! Demi 
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya ada 
salah seorang di antara kalian yang berinfak dengan emas 
sebesar gunung Uhud, maka itu tidaklah bisa menyamai satu 
mud (satu genggam dua telapak tangan) infak mereka, tidak 
juga setengahnya.” (HR. Muslim)

Apakah yang membedakan tubuh kita dengan tubuh para 
sahabat? Mereka punya kaki, tangan dan indera sebagaimana 
yang kita miliki. Mereka mengeluarkan harta untuk berinfak 
dan kita pun mengeluarkannya. Mereka mengerjakan shalat, 
dan kita pun mengerjakannya seperti mereka. Mereka makan 
dan minum sebagaimana kita juga butuh makan dan minum. 
Namun, ketahuilah saudaraku, ternyata apa yang tertancap 
di dalam dada kita tidak sehebat dan sekokoh yang 
tertancap di dalam dada para sahabat. Mereka memiliki 
keimanan laksana gunung. Umar bin Khattab 
radhiyallahu’anhu mengatakan, “Seandainya iman yang 
dimiliki Abu Bakar ditimbang dengan iman segenap penduduk 
bumi (selain para nabi, pen), niscaya timbangannya lebih 
berat daripada timbangan iman mereka.” (HR. Al Baihaqi 
dalam Syu’abul Iman). Abdullah bin Mas’ud 
radhiyallahu’anhu mengatakan, “Barangsiapa di antara 
kalian yang ingin meniti sebuah jalan maka ikutilah jalan 
yang ditempuh oleh para ulama yang sudah meninggal itu 
yaitu para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
Mereka adalah manusia-manusia terbaik dari umat ini. Hati 
mereka lebih baik, dan ilmu mereka lebih dalam, serta 
paling sedikit membeban-bebani diri. Suatu kaum yang telah 
dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu 
‘alaihi wa sallam dan mentransfer agama-Nya, maka tirulah 
akhlak dan jalan hidup mereka. Sebab mereka berada di atas 
petunjuk yang lurus.” (HR. Al Baghawi dalam Syarh As 
Sunnah)

Maka janganlah heran apabila kalian mendengar Anas bin 
Malik radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sesungguhnya kalian 
benar-benar melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam 
pandangan kalian sangat sepele dan ringan -lebih ringan 
daripada rambut-, padahal bagi kami yang hidup di masa 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami menganggapnya 
termasuk perkara yang mencelakakan.” (HR. Bukhari)

Lihatlah para sahabat dengan segenap kemuliaan yang mereka 
sandang -di antara mereka ada sepuluh orang yang dijamin 
masuk surga, dan seribu empat ratus orang lebih yang 
dijamin masuk surga- ternyata hati mereka sangatlah lembut 
dan mulia. Ibnu Abi Mulaikah menceritakan sebagaimana 
diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Sahihnya, “Aku telah 
bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka semua merasa 
khawatir di dalam dirinya terjangkit kemunafikan.” 
Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita pada hari ini; 
yang dengan mudah mengerjakan hal-hal yang makruh, yang 
dengan ringan meninggalkan sebagian kewajiban dengan 
alasan-alasan yang dibuat-buat, yang dengan enteng 
meninggalkan perkara sunnah, yang dengan santai 
menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih perkara yang lebih 
utama. Aduhai, betapa jauhnya derajat kita dengan mereka 
laksana jauhnya langit dengan bumi!

Para sahabat adalah orang-orang yang sangat mudah menerima 
nasihat. Hal itu dapat kita ketahui dalam hadits yang 
diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah. Dia menceritakan, 
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati kami 
dengan sebuah nasihat menyentuh yang membuat hati-hati 
bergetar dan mata mencucurkan air mata…” (HR. Abu Dawud 
dan Tirmidzi). Inilah hatinya orang-orang yang benar-benar 
beriman. Hati yang bergetar ketika disebutkan kebesaran 
Allah dan ayat-ayat-Nya. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا 
الْمُؤْمِنُونَ
 
الَّذِينَ 
إِذَا 
ذُكِرَ 
اللَّهُ 
وَجِلَتْ 
قُلُوبُهُمْ 
وَإِذَا 
تُلِيَتْ 
عَلَيْهِمْ 
آَيَاتُهُ 
زَادَتْهُمْ 
إِيمَانًا 
وَعَلَى 
رَبِّهِمْ 
يَتَوَكَّلُون

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang 
yang apabila disebutkan nama Allah hati mereka bergetar, 
dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka 
iman mereka bertambah. Dan mereka hanya bertawakal kepada 
Rabb mereka.” (QS. Al Anfal [8]: 2)

Para sahabat adalah orang-orang yang sangat bersemangat 
dalam meraih kebaikan. Mereka berlomba-lomba dengan segala 
kemampuan yang ada untuk bisa meraih ketinggian derajat di 
sisi-Nya. Karena mereka sadar bahwa kemuliaan di sisi 
Allah adalah dinilai dengan ketakwaan, bukan dengan uang, 
kecantikan, jabatan, banyaknya relasi ataupun popularitas. 
Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ 
أَكْرَمَكُمْ
 
عِنْدَ 
اللَّهِ 
أَتْقَاكُم

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di 
sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara 
kalian.” (QS. Al Hujurat [49]: 13)

Salah seorang di antara mereka datang kepada Rasulullah 
dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepada 
saya suatu amalan yang membuat saya dicintai Allah dan 
disukai oleh manusia…”(HR. Ibnu Majah). Di waktu yang lain 
ada juga yang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah 
katakanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam ini yang 
tidak akan aku tanyakan kepada selainmu…”(HR. Muslim). Ada 
lagi yang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, 
tunjukkanlah kepada saya suatu amalan yang bisa memasukkan 
saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari api 
neraka…”(HR. Tirmidzi). Orang-orang yang tidak berharta di 
antara mereka pun ingin beramal sebagaimana orang yang 
kaya di antara mereka. Mereka mengatakan, “Orang-orang 
kaya memborong pahala. Padahal mereka shalat sebagaimana 
kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, 
namun mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka 
(sedangkan kami tidak, pen)..” (HR. Muslim). Lihatlah 
betapa tinggi cita-cita mereka!

Para sahabat adalah orang-orang yang menjunjung tinggi 
sabda-sabda dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa 
sallam. Ibnu Abbas mengatakan, “Hampir-hampir saja turun 
hujan batu dari langit kepada kalian; aku katakan bahwa 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda 
demikian, namun kalian justru mengatakan bahwa Abu Bakar 
dan Umar berkata lain!” (HR. Abdur Razzaq). Bandingkanlah 
dengan keadaan sebagian orang pada masa belakangan ini 
yang menolak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi 
wa sallam dengan dalih bertentangan dengan akal, bahkan 
ada lagi yang berani menuduh -hadits yang disepakati para 
ulama tentang keabsahannya- sebagai hadits yang 
bertentangan dengan ayat al-Qur’an; sehingga mereka 
mengatakan bahwa anjing tidak haram dimakan?. Ada pula 
orang-orang yang tidak paham ilmu hadits menolak 
hadits-hadits ahad dalam masalah aqidah dengan alasan 
hadits ahad tidak menghasilkan ilmu yakin. Wahai kaum 
muslimin, kekhilafahan, daulah dan ketenteraman seperti 
apakah yang kalian dambakan jika para pejuangnya masih 
belepotan dengan kerancuan pemikiran dan penyimpangan 
manhaj (metode dalam berislam) semacam ini?!

Para sahabat adalah orang-orang yang mengimani nama-nama 
dan sifat-sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak, 
tanpa menyelewengkan dan tanpa menyerupakan. Oleh sebab 
itu ketika ditanya tentang makna istiwa’ Imam Malik 
mengatakan, “Istiwa’ sudah dimengerti maknanya. Namun tata 
caranya tidak diketahui, dan menanyakan tentang caranya 
adalah bid’ah.” (HR. Al Baghawi dalam Syarh As Sunnah)

Ini semua menunjukkan kepada kita -wahai umat Islam yang 
hidup di sepanjang jaman- bahwa kemenangan dan 
keberhasilan yang digapai oleh para sahabat bukan 
semata-mata karena tajamnya pedang mereka, keberanian 
mereka yang sangat luar biasa, ataupun persatuan mereka 
yang kokoh dan erat. Namun lebih daripada itu semua, 
keberhasilan yang mereka raih terlahir dari pengagungan 
hati mereka kepada Sang Penguasa alam semesta Allah 
subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa 
sallam bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam tubuh terdapat 
segumpal daging. Kalau ia baik, maka baiklah seluruh 
anggota badan. Dan kalau ia rusak, maka rusaklah seluruh 
anggota badan. Ketahuilah ia adalah jantung.” (HR. Bukhari 
dan Muslim). Demikianlah pentingnya hati bagi amalan, 
ibarat jantung bagi anggota badan.

Maka sekarang kita akan bertanya kepada diri kita 
masing-masing: Di tengah derasnya gelombang dekadensi 
moral dan kerusakan akhlak, perancuan akidah dan 
penyesatan pikiran yang melanda umat Islam di negeri ini, 
apakah ada sosok para pemuda yang giat mempelajari aqidah 
Islam dan membelanya dari serangan musuh-musuh-Nya. Dia 
tekuni buku-buku aqidah yang ditulis para ulama; 
Tsalatsatul Ushul, Qawa’idul Arba’, Kasyfu Syubuhat, 
Kitabut Tauhid, Fathul Majid dan lain sebagainya untuk 
memperbaiki dirinya dan kemudian dia gunakan untuk 
menyadarkan hati kaum muslimin dari tidur panjang mereka, 
membangkitkan kesadaran mereka untuk kembali kepada 
kemuliaan Islam yaitu dengan berpegang teguh dengan 
al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para sahabat. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian 
kelompok dengan sebab Kitab ini (Al Qur’an) dan Allah juga 
akan merendahkan sebagian yang lainnya karenanya.” (HR. 
Muslim)

Apakah sekarang kita bisa memimpikan berdirinya sebuah 
Negara Islam yang berhukum dengan al-Qur’an dan as-Sunnah 
dalam segala sisi kehidupan, sementara dalam urusan 
pakaian saja banyak sekali di antara kaum muslimin yang 
belum mengerti pakaian yang sesuai dengan syariat 
-terlebih khusus kaum muslimah-? Apakah kita sekarang bisa 
mengangankan tegaknya daulah Islam apabila ternyata di 
tengah-tengah kita pornografi, kemaksiatan, perbuatan 
keji, kebid’ahan, dan kesyirikan dikerjakan dengan 
terang-terangan di mana-mana? Apakah sekarang kita bisa 
merindukan berdirinya sebuah kekhilafahan sebagaimana 
kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz yang sangat keras dalam 
menegakkan keadilan, padahal di antara kita kezaliman yang 
paling besar yaitu syirik dibiarkan bahkan dipromosikan 
melalui berbagai media dan sarana? Apakah kita sekarang 
bisa mencita-citakan terjadinya perdamaian dan kehidupan 
yang tenteram, sementara orang-orang yang merusak aqidah 
umat Islam dan mengobrak-abrik fondasi-fondasi agama 
berkeliaran dan mengumbar racun-racun pemikiran sehingga 
memisahkan tubuh kaum muslimin dari ruh mereka? Lihatlah 
apa yang telah mereka perbuat: Mereka bela mati-matian 
aliran-aliran sesat demi mengatasnamakan toleransi palsu 
dan kebebasan ala Iblis yang berani menolak perintah 
Tuhannya. Seolah-olah mereka mengatakan kepada kita: 
Silakan kalian bersyahadat namun yakinilah Islam 
sebagaimana keyakinan Abdullah bin Ubay bin Salul (gembong 
munafikin)!

Melihat fenomena penyimpangan aqidah yang begitu marak 
akhir-akhir ini apakah para penggerak dakwah di berbagai 
penjuru negeri ini tidak tersadar bahwasanya memang sumber 
kerusakan bangsa ini adalah kerusakan aqidah dan akhlak 
mereka kepada Rabbnya. Sehingga sudah selayaknya mereka 
bersatu padu dan bahu membahu membersihkan bumi pertiwi 
ini dari sampah-sampah kesyirikan, pemikiran liberal dan 
aliran-aliran sesat lagi menyimpang. Adakah seorang muslim 
yang mengatakan bahwa orang yang mempersekutukan Allah 
dalam beribadah sebagai orang yang berakhlak? Adakah 
seorang mukmin yang mengatakan bahwa orang yang 
berpendapat bahwa kita tidak wajib mengikuti syariat Nabi 
Muhammad adalah orang yang berakhlak?

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa 
shahbihi wa sallam

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Netkuis kini hadir kembali!

Main, raih poin setinggi-tingginya, dan menangkan hadiahnya dengan total hadiah 
sebesar 10 JUTA Rupiah!!

Kami tunggu aksimu di Netkuis EURO. Klik di http://netkuis.telkom.net/euro

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke