Bismillah…
Beberapa hari yang lalu , saat KJRI (konsulat Jenderal RI) Johor Bahru
mengundang
kami , perwakilan PPI UTM (Perhimpunan Pelajar Indonesia Universiti Teknologi
Malaysia) untuk menghadiri pertemuan dengan perwakilan KPU (Komisi Pemilihan
Umum) pemilu 2009 dari Jakarta terkait dengan pelaksanaan Pemilu 2009 nanti
.Salah seorang rekan sy , sebutlah namanya PM (bukan nama sebenarnya ) diberi
sebuah buletin oleh seorang staf KJRI , buletin KJRI edisi April –Mei 2008
untuk PPI.
Diantara sekian banyak content
yang ada di buletin itu, ada salah satu kisah yang unik, menarik, dan
banyak tersirat hikmah di sana
yang membuat saya ingin mengetikkannya kembali agar bisa dibaca dan bermanfaat
bagi siapa-siapa yang membacanya …Kisah itu berjudul
“Malin Kundang si Anak Sholeh”
yang ditulis oleh Seorang ibu
rumah tangga yang kebetulan suaminya sedang melanjutkan studi di UTM, bu Yessi
namanya. Berikut kisah itu dituliskan, selamat menikmati :
Melawan Stigma agar si Malin tak selalunya derhaka !
Mujahid Salafi Aulia, putraku yang kedua, yang akrab disapa “Muja”
kini semakin tumbuh dewasa. Dia dikenal oleh para tetangga di lingkungan Kolej
Kediaman U8 UTM , Skudai, Johor, sebagai anak yang lincah dan aktif. Kadang dia
terkesan keras hati dan cenderung tidak mau mengalah. Salah seorang ibu yang
berasal dari Jawa pernah berkata, “ Anak bu Yessi ini kok ndablek ya….?”
Teman-teman sepermainan Mujahid juga protes terutama
anak-anak mahasiswa asal Timur Tengah : “Your son is very naughty….” Suatu saat
ada juga yang mengadu : “Aunty, your son bit me….!” Malah si bapak-bapak
Arab pun ikut menambahkan : “Brother
Aulia, your son is very noisy….!”
Kadang kala ada rasa malu yang terselip, kesannya kami tidak
bisa mendidik anak menjadi anak yang baik dan sholeh. Kadang juga timbul rasa
geram yng ujung-ujungnya kami sering memarahi Muja dan sebenarnya terlalu keras
untuk anak yang belum berumur 5 tahun seperti dia. Jika dimarahi, Muja akan
menangis tersedu-sedu sambil protes : “Kenapa ummi marah sama Muja, Muja kan
tidak berbuat salah
! “
Rasa marah memang sering menutupi kebenaran . Karena kalau
diperhatikan dengan seksama, Muja juga termasuk anak yang berhati lembut. Ini
berdasarkan pengalaman-pengalaman keseharianku dengannya. Pada suatu siang,
Muja meminta aku bercerita, dia memang sangat suka mendengar cerita. Akhirnya
kupilihkan cerita Malin Kundang si Anak Durhaka. Aku bercerita dengan ekspresi
dan intonasi suara yang semenarik mungkin. Dari awal cerita Muja mendengarkan
dengan antusias dan konsentrasi.
Sesekali dia bertanya atau berkomentar. Semakin lama dia tampak semakin sedih
dan matanya mulai berkaca-kaca. Dan ketika aku sampai pada bagian akhir cerita.
« Maka …..
ibu Malin kundang pun sedih karena malin kUndang sudah melupakannya dan menjadi
anak durhaka. Sang ibu pun menangis tersedu-sedu . Sambil menangis, Ibu Malin
KUndang mengadu kepada Allah. Ibu Malin kUndang kemudian berdoa kepada
Allah supaya Malin Kundang dihukum oleh Allah. Dan Allah pun mendengar doa
seorang ibu yang teraniaya. Kemudian kapal Malin KUndang tenggelam dan mayat
malin kundang terdampar di pantai kemudian berubah menjadi batu….”
Mendadak Muja menangis dengan keras sambil berkata dengan
terputus-putus : “Kenapa ummi menceritakan Malin Kundang anak yang durhaka pada
ibunyia. Kasihan ibunya, dia sudah tua. Muja tidak mau cerita MAlin KUndang anak
durhaka. Muja mau Malin Kundang menjadi anak yang sholeh dan sayang sama
ibunya. Sekarang ummi harus mengulang lagi cerita Malin Kundang dari pertama.
Dan
Malin Kundangnya harus jadi anak sholeh yang sayang sama ibunya …”
Sesaat aku termangu. Subhanallah…. Seorang anak memang lahir
dalam keadaan fitrah. Bahkan untuk sebuah ceritapun dia tidak mau ada orang
yang durhaka pada ibunya. Atau ada
seorang ibu yang menangis tersedu-sedu dan merasa teraniaya. Artinya
setiap anak ingin menjadi anak sholeh dan membahagiakan ibunya. Jadi tidak ada
hak kita untuk memberi label “nakal” pada seorang anak.
Kemudian akupun mengulang kembali cerita Malin Kundang dari
awal. Dan Membuat ending sesuai dengan permintaan Muja. Walau ada rasa geli
sewaktu bercerita :
‘Akhirnya…Malin kundang bertemu kembali dengan ibunya di
tepi pantai Air Manis, Padang
setelah bertahun-tahun berpisah. Ibu Malin Kundang memeluk anaknya sambil
menangis bahagia. Malin kundangpun memeluk ibunya dengan penuh rindu. Kemudian
Malin Kundang mengajak ibunya ke kerajaan Mertuanya. Setelah mertuanya
meninggal, Malin Kundangpun menjadi raja, Mereka hidup bahagia selamanya…. ”
Muja tersenyum senang dan tampak lega. Dia pun bertanya : “Ibu Malin Kundang
dikasih baju bagus sama Malin
Kundangnya, ummi…? "Subhanallah..begitu inginnya Muja supaya ibu Malin Kundang
senang. “Wallahu A’lam”
Begitulah kisah itu saya ketikkan kembali, tanpa mengurangi sedikitpuan isi
dari tulisan beliau (bu Yessi). Semoga bisa
diambil hikmah sebanyak mungkin dalam kisah ibu dan anak yang penuh hikmah itu….
Selamat memetik hikmahnya …
semoga bermanfaat
Mohammad Yasrif Ananda
Student @ UTM
www.bungakehidupan.wordpress.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---