HTI-Press.
Bagi kaum sekular dan liberal di Barat, peradaban Kapitalisme dianggap
peradaban
yang paling hebat. Francis Fukuyama, pemikir Amerika asal Jepang, bahkan
mengklaim dengan hancurnya Komunisme awal 1990-an, bahwa peradaban Kapitalisme
telah menjadi babak akhir sejarah (the end of history). (Usman, 2003:
43).
Apakah
kehancuran Komunisme berarti kehebatan Kapitalisme? Nanti dulu. Mantan Presiden
AS Richard Nixon sendiri tak begitu yakin akan kemampuan Kapitalisme. Dalam
bukunya Seize the Moment, Nixon menceritakan pertemuannya dengan Presiden
Soviet
Kruschev. “Anak-cucumu nanti akan hidup di bawah naungan Komunisme,” kata
Kruschev kepada Nixon. Lalu Nixon menjawab, “Justru anak-cucumu yang nanti akan
hidup dalam kebebasan.” Nixon pun berkomentar, “Saat itu aku yakin apa yang
dikatakan Kruschev salah, tetapi aku justru tak yakin dengan ucapanku sendiri.”
(Usman, 2003:46).
Walhasil,
keruntuhan Komunisme tidaklah otomatis menunjukkan bahwa Kapitalisme itu hebat.
Sebab, sebenarnya Kapitalisme tak kalah rusaknya dengan Komunisme. Kerusakan
Kapitalisme inilah yang dibongkar total oleh Hamad Fahmi Thabib (Abu
al-Mu’tashim) dalam kitabnya, Hatmiyah Inhidam ar-Ra’sumaliyah
al-Gharbiyah (Keniscayaan Runtuhnya Kapitalisme Barat). “Kerusakan adalah
tanda awal kehancuran,” tegas beliau dalam kitabnya itu (h. 490). Kitab inilah
yang akan kita telaah kali ini.
Hamad
Fahmi Thabib adalah seorang ulama dan pemikir Hizbut Tahrir dari Baitul Maqdis,
Palestina. Di tanah yang penuh berkah itulah beliau menulis kitabnya tersebut
tahun 2004, dengan tebal 502 halaman. Thabib juga dikenal dengan karya-karya
lainnya yang cemerlang dan visioner, yaitu kitab Al-Mu’âhadât fî
asy-Syarî’ah al-Islâmiyah (Hukum Perjanjian dalam Syariah Islam) (2002),
dan kitab Al-Khilâfah ar-Rasyîdah al-Maw’ûdah wa at-Tahaddiyât
(Khilafah Rasyidah yang Telah Dijanjikan dan Tantangan-Tantangannya) (Jakarta:
HTI Press), 2008.
Gambaran
Isi Kitab
Thabib
melihat dengan penuh keprihatinan bahwa umat manusia, terutama di Barat, kini
tengah hidup menderita di bawah cengkeraman Kapitalisme. Dalam berbagai sistem
kehidupannya, khususnya sistem politik, ekonomi, dan sosial, manusia gagal
menikmati hidup yang sejahtera dan bahagia. Mereka mencari jalan menuju
keselamatan (tharîq an-najâh), namun tak tahu harus melangkah ke mana.
Itulah
yang melatarbelakangi Thabib menulis kitab ini. Dengan kitabnya ini, Thabib
bertujuan untuk membongkar kerusakan kapitalisme-demokrasi dalam bidang
politik,
ekonomi, dan sosial, serta menunjukkan bahwa tidak ada lagi jalan selamat
kecuali kembali pada ideologi Islam. (h. 9).
Metode
penulisan Thabib untuk mencapai tujuannya itu cukup sistematik. Thabib
mengkritik lebih dulu asas peradaban Kapitalisme, yaitu ide sekularisme,
sebelum
mengkritik sistem-sistem kapitalis yang lahir dari asas itu, yaitu sistem
politik, ekonomi, dan sosial. Thabib juga melakukan studi komparasi antara
sistem-sistem kapitalis tersebut, dengan sistem-sistem selevel dalam Islam.
Berdasarkan
metode itu, Thabib menjelaskan pikirannya dalam 3 (tiga) bab utama untuk
menerangkan kerusakan Kapitalisme, yaitu: Pertama, kerusakan sistem
politiknya (h. 67-258). Kedua, kerusakan sistem ekonominya (h.
259-375). Ketiga, kerusakan sistem sosialnya (h. 376-488). Pada
masing-masing bab, setelah menerangkan kerusakannya, Thabib secara kontras
langsung membandingkan dengan sistem Islam.
Sekularisme
Sumber Kerusakan
Sebelum
menerangkan kerusakan Kapitalisme dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial,
Thabib lebih dulu menerangkan sumber kerusakannya. Ibarat pohon, Kapitalisme
mempunyai akar tunggang yang menjadi sumber segala masalah, yaitu sekularisme
(pemisahan agama dari kehidupan).
Sekularisme
adalah paham rusak, karena tidak memuaskan akal dan tidak selaras dengan fitrah
manusia (h. 30). Disebut tak memuaskan akal, karena sekularisme hanya jalan
tengah (al-hall al-wasath) antara dua kutub ekstrem, yaitu ketundukan total
pada
dominasi Gereja di satu sisi dan penolakan total terhadap agama Katolik di sisi
lain. Akhirnya, diambil jalan tengah sebagai hasil langkah pragmatis, bukan
hasil proses berpikir yang masuk akal. Tunduk total pada Gereja tidak, menolak
total agama Katolik juga tidak. Jadi agama tetap diakui keberadaannya, tetapi
hanya berfungsi di Gereja, tidak boleh lagi berperan di sektor publik seperti
politik, ekonomi, dan sosial sebagaimana di Abad Pertengahan (486–1453 M).
Bangsa Eropa Kristen sudah kapok hidup terbelakang pada abad-abad kegelapan
itu,
ketika Gereja membunuh 300 ribu ilmuwan, 32 ribu di antaranya dibakar
hidup-hidup. (h. 24).
Disebut
tak sesuai fitrah, karena sekularisme telah menafikan naluri beragama
(gharîzah tadayyun), sebagai bagian dari fitrah manusia. Padahal naluri
beragama secara natural mengakui kelemahan dan ketidakmampuan diri dalam
mengatur kehidupan. Thabib lalu menegaskan, “Kerusakan pada asas yang mendasari
Kapitalisme Barat inilah yang membawa atau mengakibatkan rusaknya segala aspek
kehidupan praktis manusia.” (h. 50).
Kerusakan
Sistem Politik
Sistem
politik Barat adalah sistem rusak, baik politik dalam negeri maupun luar
negerinya. Kerusakannya ada pada dua aspek: Pertama, pada sistemnya secara
normatif (fikriyah); Kedua, pada praktiknya secara empiris
(amaliyah). Sumber kerusakannya terpulang pada ide sekularisme, yang
melenyapkan aspek spiritual (nâhiyah rûhiyah) dalam politik dan hanya
menonjolkan pertimbangan materi. (h. 69).
Politik
dalam negeri Barat tampak dalam penerapan ide kebebasan, demokrasi, dan hak
asasi manusia (HAM). Penerapan ketiga ide ini boleh dibilang tidak ada, atau
kalaupun ada, sangat banyak kekangannya. Kebebasan beragama tidak dinikmati
umat
Islam secara wajar di Barat, karena mereka sering dilarang atau dibatasi untuk
memiliki masjid. Bahkan di Prancis Muslimah dilarang memakai kerudung.
Kebebasan
berperilaku juga banyak mengalami kekangan, misal ada UU yang melarang poligami
(h. 80).
Mengenai
demokrasi, faktanya kedaulatan bukanlah di tangan rakyat, melainkan di tangan
pemilik modal. Untuk menjadi anggota Senat diperlukan biaya 427.117 dolar AS,
dan untuk menduduki jabatan presiden perlu 500 miliar dolar AS (data 1989).
Praktik HAM juga menjadi tanda tanya besar, karena dengan mekanisme pasar, hak
dasar manusia (sandang, pangan, & papan), hanya dapat diakses oleh orang
kaya, bukan orang miskin. (h. 96).
Politik
luar negeri ala Kapitalisme juga penuh kerusakan. Thabib menjelaskan bahwa
politik luar negeri kapitalis dibangun atas dasar imperialisme—dalam segala
bentuknya—yang tak lepas dari karakter materialistik alias menghisap kekayaan.
(h. 111). Imperialisme ini dapat berbentuk perang militer secara langsung untuk
meraih hegemoni politik dan ekonomi, seperti yang dilancarkan AS di Panama,
Irak, dan Afganistan. Imperialisme dapat pula berbentuk penjajahan ekonomi
melalui penguasaan moneter dan utang jangka panjang untuk menancapkan dominasi
politik dan politik atas negeri yang berhutang. Dapat pula imperialisme itu
berbentuk pengendalian lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan segenap
organisasinya, atau berbentuk penyebaran ide-ide yang menyesatkan seperti
globalisasi, WTO, dan perdagangan bebas. (h. 121). Imperialisme juga
dilaksanakan melalui kaum liberal kaki-tangan Barat untuk menyerang hukum-hukum
Islam, seperti poligami, khitan perempuan, atau talak yang dianggap sebagai
penindasan atas perempuan. (h. 126).
Setelah
menerangkan kerusakan sistem politik Barat, Thabib kemudian menerangkan sistem
politik yang benar, yaitu sistem politik Islam, baik politik dalam negeri
maupun
luar negerinya. (h. 166). Sistem politik Islam dibangun di atas dasar akidah
islamiyah, sehingga berbagai aturannya akan bersifat spiritual
(ruhiah), yaitu terkait dengan Allah Swt., terkait dengan pahala dan
dosa. Sistem yang demikian akan menentukan makna kebahagiaan bagi individu.
Orang akan bahagia saat merasa telah menaati Allah dan merasa mendapat pahala.
Sebaliknya, orang akan merasa khawatir saat berbuat maksiat kepada Allah dan
merasa mendapat dosa (h. 172).
Itu
sangat berbeda dengan sistem politik kapitalis yang kosong dari aspek spiritual
sehingga hanya mempertimbangkan aspek materi untuk menentukan bahagia-tidaknya
seseorang. Faktanya, materi berlimpah tidak menjamin kebahagiaan. Thabib
menceritakan kisah putra direktur perusahaan mobil Opel (Jerman). Sang putra
mendapat limpahan harta yang tak terbatas. Sarapan pagi di Berlin, makan siang
di Paris, dan makan malam di London. Menggunakan pakaian dan mobil terbaik.
Teman perempuan bergonta-ganti. Tapi, dia merasa hampa dan akhirnya ditemukan
mati bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Dia menulis surat, “Aku
mengira kebahagiaan ada pada traveling (tamasya), tapi aku tak
menemukannya. Aku pun mengira kebahagiaan ada pada perempuan, tapi aku pun tak
mendapatkannya. Aku mengira kebahagiaan ada pada makanan dan minuman, tapi aku
juga tak menemukannya. Mungkin aku dapat menemukan kebahagiaan di alam lain…”
(h. 173).
Tujuan
sistem politik Islam bukanlah untuk menghisap kekayaan, melainkan untuk
beribadah kepada Allah Swt., di bawah pimpinan Khalifah. Sistem Khilafah inilah
yang akan mewujudkan ketenteraman (thuma’ninah) dengan menjamin
keamanan, jaminan kebutuhan pokok, dan keadilan di dalam negeri. (h.
173).
Politik
luar negeri Islam dengan jihad fi sabilillah juga bukan bertujuan materi,
tetapi
bertujuan dakwah dan menerapkan Islam. Thabib membuktikan bahwa penduduk yang
ditaklukkan melalui jihad akhirnya memeluk Islam secara sempurna seperti para
penakluknya. Ini menujukkan hubungan yang baik antara penakluk dan yang
ditaklukkan, karena adanya penerapan hukum Islam secara baik. Sejarah
mengisahkan penaklukan Samarkand di Asia Tengah yang unik. Samarkand
ditaklukkan
secara militer tanpa didahului dakwah dan tawaran jizyah. Lalu
penduduknya yang non-Muslim melakukan protes kepada hakim. Hakim memutuskan
telah terjadi penyimpangan, lalu memerintahkan pasukan Islam untuk keluar dari
Samarkand dan mengulang proses penaklukan. Pasukan Islam diharuskan lebih dulu
mendakwahi penduduknya agar masuk Islam atau menawari mereka membayar jizyah.
Melihat keputusan hakim yang adil, penduduk Samarkand malah masuk Islam (h.
226).
Kerusakan
Sistem Ekonomi
Sistem
ekonomi Kapitalisme didasarkan pada asas kebebasan, meliputi kebebasan
kepemilikan harta, kebebasan pengelolaan harta, dan kebebasan konsumsi. Asas
kebebasan ini, menurut Thabib, tidak layak karena melanggar segala nilai moral
dan spiritual. Bisnis prostitusi, misalnya, dianggap menguntungkan, meski jelas
sangat melanggar nilai agama dan merusak institusi keluarga (h. 271).
Kerusakan
sistem ekonomi Kapitalisme juga dapat dilihat dari berbagai institusi utama
Kapitalisme, yaitu sistem perbankan, sistem perusahaan kapitalisme (PT) dan
sistem uang kertas (fiat money). Berbagai krisis ekonomi dan moneter
sering bersumber dari sistem-sistem tersebut (h. 277).
Sistem
ekonomi Islam sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi Kapitalisme.
Asasnya adalah wahyu yang selalu mengaitkan akidah Islam dengan hukum-hukum
ekonomi. Jadi, barang dilihat dari segi halal dan haram, bukan dari segi
bermanfaat atau tidak. Bisnis prostitusi yang dibolehkan Kapitalisme dianggap
ilegal karena hukumnya haram dalam Islam (h. 300).
Islam
juga menolak institusi utama Kapitalisme. Sistem perbankan ditolak karena
ribawi, sistem perusahaan Kapitalisme ditolak karena bertentangan dengan hukum
syirkah (perusahaan syariah), dan sistem uang kertas ditolak karena
bertentangan dengan sistem moneter Islam yang berbasis emas dan perak (h.
333).
Kerusakan
Sistem Sosial
Sistem
sosial (nizhâm ijtimâ’i) di Barat juga penuh dengan kerusakan, karena
asasnya adalah sekularisme. Akibatnya, interaksi pria wanita kering dari nilai
sipiritual dan hanya didominasi pertimbangan materi semata (h. 375).
Sekularisme
juga menyebabkan wanita hanya dianggap komoditas dagang dan pemuas nafsu
laki-laki semata. Perselingkuhan dianggap “pertemanan”, cerai dilarang, tetapi
poligami justru dianggap perbuatan kriminal (h. 379-388).
Sistem
sosial yang bobrok seperti ini telah terbukti menghancurkan institusi keluarga,
menyebarkan penyakit kelamin, menimbulkan kebejatan moral dan melahirkan
anak-anak hasil zina (h. 398).
Sistem
sosial Islam asasnya adalah akidah Islam yang selalu mengaitkan interaksi pria
wanita dengan pahala dan dosa (h. 439). Wanita dianggap sebagai ibu dan
pengatur
rumah tangga, juga sebagai kehormatan yang wajib dijaga. Perselingkuhan
diharamkan, cerai dibolehkan, dan poligami tak dilarang.
Thabib
berulang-ulang menegaskan, keruntuhan Kapitalisme akan terjadi cepat atau
lambat, sebagaimana Sosialisme; karena asasnya telah rusak, demikian pula
berbagai sistem kehidupan yang dibangun di atas asas itu. Hanya Islam saja yang
menjadi jalan keselamatan (tharîq an-najâh) umat manusia, bukan yang lain.
[KH. M. Shiddiq Al-Jawi]
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---