[AL-ISLAM 
Edisi 426] 
Tidak lama lagi Pemilu 2009 digelar. Anggaran biaya sekitar Rp 49,7 triliun 
telah disiapkan. Jauh-jauh hari partai peserta Pemilu—total 38 partai, belum 
termasuk partai lokal di Aceh (NAD)—sudah melakukan pemanasan dengan berbagai 
jurus dan strategi kampanye melalui berbagai media. Mereka pun telah menetapkan 
caleg-calegnya. Banyak artis, pengusaha dan orang kaya baru yang menjadi caleg 
(calon anggota legislatif). Kasak-kusuk koalisi, aliansi, kaukus atau berbagai 
istilah lain dijajaki. Intinya adalah tawar-menawar kepentingan antar partai. 

Pertanyaannya: 
Dapatkah Pemilu 2009 membawa perubahan yang lebih baik bagi umat? Apakah 
umat/rakyat bisa berharap banyak pada partai-partai yang ada dan kepada para 
calegnya untuk mewujudkan keinginan-keinginan mereka? 
Faktanya, 
jika dihitung sejak masa reformasi saja, negeri ini telah melakukan 3 (tiga) 
kali Pemilu. Tentu saja itu belum termasuk Pilkada yang—menurut Pengamat 
Politik 
Eep Saefullah Fatah—diselenggarakan 3 kali sehari (Kompas, 24/6/2008). 
Indonesia juga pernah disebut-sebut sebagai “juara demokrasi” karena 
kesuksesannya menyelenggarakan Pemilu 2004 yang dinilai amat demokratis, aman 
dan damai. Namun, ”suksesnya demokrasi” ini tidak pernah bertemu dengan 
kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat/umat. Apalagi jika dikaitkan 
dengan keinginan umat Islam untuk menerapkan syariah Islam, yang justru semakin 
hari semakin menguat.
Yang 
Dirasakan Masyarakat
Banyaknya 
partai politik peserta Pemilu 2009 membuat rakyat kecil makin bingung. Rakyat 
tidak banyak tahu, partai-partai mana saja yang layak mendapat mandat untuk 
mewakili aspirasi mereka. Mungkin memang tidak ada partai yang layak untuk 
menjadi tempat menggantungkan harapan bagi rakyat. Dari berbagai survey yang 
dilakukan oleh sejumlah lembaga survey nasional, ada kecenderungan umat sudah 
begitu apatis dan apriori alias tidak peduli terhadap elit penguasa baik yang 
duduk di legislatif, eksekutif dan yudikatif. Tingkat kepercayaan mereka 
terhadap institusi partai begitu rendah. “Setelah Pemilu 2004 usai terus 
terjadi 
penurunan hingga tahun 2007 ini,” ungkap pakar politik UGM Pratikno. Menurut 
Pratikno, hal tersebut berdasarkan survei yang dilakukan Asia Barometer. Hasil 
survei menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik 
mengalami penurunan dari 8 persen di tahun 2004, menjadi 5,8 persen di tahun 
2007 (Detik.com, 18/12/2007). 

Angka 
golput dalam berbagai Pilkada di berbagai daerah juga rata-rata cukup tinggi. 
Golput bahkan sering menjadi ”pemenang” Pilkada. Pilkada Jawa Barat, misalnya, 
hanya diikuti 65% rakyat. Ini berarti angka golput sebesar 35%, mengalahkan 
pasangan pemenang Pilgub Jabar yang 26%. Menurut Lembaga Survei Indonesia, 
jumlah pemilih golput dalam Pilgub Sumatera Utara sekitar 41%. Dalam Pilgub DKI 
Jakarta, yang golput 39,2%. Nilai ini setara dengan 2,25 juta orang pemilih. 
Padahal gubernur tepilih Fauzi Bowo hanya dipilih oleh 2 juta orang pemilih 
saja 
(35,1%). Untuk Pilgub Jawa Tengah angka golput mendekati 50%. Di tempat lain 
juga angka golput cukup tinggi: Kalsel (40%), Sumbar (37%), Jambi (34 %), 
Banten 
40% dan Kepri 46%.
Tingginya 
tingkat golput ini sejalan dengan kecenderungan semakin melemahnya tingkat 
kepercayaan masyarakat terhadap partai politik berdasarkan hasil sejumlah 
survey 
selama ini, yang tercermin dari ketidakpercayaan mereka terhadap wakil-wakil 
partai politik di DPR. Jejak pendapat Kompas menggambarkan: 8,5% dari responden 
menganggap kinerja DPR buruk; 84% mengatakan DPR tidak serius mengawasi kerja 
Pemerintah, 52,5% UU produk DPR tidak memihak kepada rakyat (Kompas, 
10/3/2008)
Harapan 
Umat: Syariah Islam?
Di 
tengah sikap pesimis masyarakat terhadap Pemilu, Pilkada, partai-partai yang 
ada 
dan para anggotanya yang duduk di DPR, ternyata ada kecenderungan di kalangan 
umat bahwa masa depan politik Indonesia ada pada syariah Islam. Beberapa survey 
menunjukkan dukungan masyarakat terhadap penerapan syariah Islam meningkat. 
Survey Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) menunjukkan: 52 persen 
rakyat Indonesia menuntut penerapan syariah Islam. Sebelumnya, hasil survei 
PPIM 
UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002 (Majalah Tempo, edisi 23-29 
Desember 
2002) menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan 
yang berdasarkan syariah Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal 
survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat 
demikian. Ini berarti, ada peningkatan cukup tinggi, sekitar 10%.
Kecenderungan 
menguatnya dukungan masyarakat terhadap penerapan syariah Islam juga sejalan 
dengan hasil Survei WorldPublicOpinion.org, yang dilaksanakan di empat negara 
Islam—Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Maroko—pada Desember 2006 sampai Februari 
2007. Hasil survesi menunjukkan bahwa mayoritas (2/3 responden) menyetujui 
penyatuan semua negara Islam ke dalam sebuah pemerintahan Islam (Khilafah). 
Hasil survei itu juga—bekerjasama dengan University of Maryland—memperlihatkan 
bahwa mayoritas responden (sekitar 3/4) setuju dengan upaya untuk mewajibkan 
syariah Islam di tengah masyarakat, sekaligus mencampakkan nilai-nilai Barat. 
Khusus untuk Indonesia, survei menunjukkan mayoritas (53%) responden menyetujui 
pelaksanaan syariah Islam. 
Hasil 
survei Gerakan Mahasiswa Nasionalis di kampus-kampus utama di Indonesia tahun 
2006 juga membuktikan, bahwa 80% mahasiswa menginginkan syariah Islam 
diterapkan. Yang paling mutakhir, survei SEM Institute tahun 2008 juga 
membuktikan hal yang sama: semakin menguatnya dukungan umat terhadap penerapan 
syariah Islam, yakni mencapai 83%! 
Jika 
ini menjadi tren global, pertanyaannya: apa yang menjadi pemicunya? Jawabannya 
tentu bisa dikembalikan pada sikap umat yang sudah muak dengan praktik 
Kapitalisme dan Sekularisme dengan berbagai dampak yang selama ini harus mereka 
alami. Fenomena golput yang terus meningkat dalam Pilkada juga membuktikan hal 
yang sama. Rakyat sudah paham betul, bahwa proses-proses perubahan yang terjadi 
melalui pemilihan langsung, baik legislatif maupun eksekutif, nyatanya tidak 
mengubah sedikit pun nasib mereka. Umat sudah sadar, bahwa pergantian orang 
tidak akan mengubah apa-apa. Kini mereka menuntut, agar sistem sekular yang 
selama ini membuat sengsara hidup mereka juga harus diganti. Gantinya adalah 
sistem syariah. Itulah kesimpulan yang bisa kita baca dari hasil survei 
tersebut. 
Umat 
Mendambakan Partai Yang Memperjuangkan Syariah
Kalau 
betul rakyat menginginkan syariah, mengapa partai-partai Islam yang ada tidak 
pernah menang dalam Pemilu. Mengapa mereka selalu kalah suara oleh 
partai-partai 
sekular? Idealnya, jika rakyat memang menginginkan syariah, partai-partai Islam 
itu harusnya menjadi pemenang Pemilu. 
Jawabannya, 
ada dua kemungkinan. Pertama: hasrat rakyat untuk bersyariah memang sudah 
membuncah. Namun, ketika hendak disalurkan, mereka belum melihat adanya partai 
politik, termasuk partai Islam, yang benar-benar memperjuangan penerapan 
syariah, sebagaimana yang mereka dambakan. Pada titik ini, mereka berdiri di 
persimpangan jalan; antara memilih partai-partai yang ada dengan mengorbankan 
hasrat mereka (dengan alasan, daripada tidak memilih) dan tidak memilih alias 
golput, karena memang tidak ada pilihan. Barangkali sikap terakhir inilah yang 
mereka pilih sehingga angka golput diprediksikan bakal terus meningkat, 
termasuk 
dalam Pemilu 2009. 

Kedua: 
partai politik yang ada memang tidak pernah melakukan pendidikan politik kepada 
umat sehingga antara hasrat umat untuk bersyariah dan pilihan mereka menjadi 
tidak sama. Artinya, antara harapan umat dan pilihan politik mereka menjadi 
tidak ”nyambung”.
Karena 
itu, wajar jika ada sejumlah tokoh yang menyarankan, agar ”kekosongan” ini 
segera diisi oleh partai politik Islam ideologis yang benar-benar 
memperjuangkan 
syariah Islam yang didukung oleh para polikus Islam ideologis yang berani, 
ikhlas dan benar-benar berjuang untuk melayani dan mengurus umat. 
Aktivitas 
parpol yang berideologi Islam seluruhnya harus terikat dengan hukum-hukum Islam 
yang menjadi mercusuarnya. Semua itu akan berjalan jika parpol ideologis Islam 
tersebut dibangun di atas 3 unsur: 1) Fikrah (ide) dan 
tharîqah (metode perjuangan)-nya bersifat ideologis, jelas dan tegas 
hingga ke bagian-bagian terkecilnya; 2) Bertumpu pada orang-orang yang memiliki 
kesadaran politik yang benar, memiliki niat hanya untuk memperjuangkan Islam 
dan 
kaum Muslim serta hanya mencari keridhaan Allah semata; 3) Ikatan yang menjalin 
anggota parpol, simpatisan maupun pendukungnya adalah akidah Islam.
Dengan 
parpol seperti inilah umat Islam akan meraih kemenangan sejati, yakni ketika 
mereka berhasil menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan mereka. 
Sebab, penerapan syariah Islam, di samping merupakan kewajiban syar’i, juga 
akan 
mampu menyelesikan persolan bangsa ini secara tuntas. 
Walhasil, 
kini umat tidak membutuhkan partai sekular atau partai Islam yang hanya sekadar 
namanya saja. Umat kini membutuhkan partai baru, dengan harapan baru. Itulah 
partai Islam ideologis yang berusaha untuk memperjuangkan penerapan syariah 
Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah yang dikehendaki Allah SWT melalui 
firman-Nya:

وَلْتَكُن 
مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ 
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 
Hendaklah 
ada di antara kalian segolongan umat (jamaah/organisasi/partai) yang menyerukan 
kebajikan (Islam) serta melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah 
orang-orang yang beruntung. 
(QS Ali Imran [3]: 104).

Wallâhu 
a’lam bi ash-shawâb

KOMENTAR 
AL-ISLAM:
Definisi 
Pornografi Mengarah ke Voting (Republika, 21/10/2008)
Begitulah 
kalau standarnya bukan syariah Islam, tetapi hawa nafsu dan 
kepentingan.


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke