Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
Suatu tamsil sederhana, tapi maknanya sangat dalam, sangat mengena dan mudah
difahami. Saya tersentuh dan menjadi gemetar ungkapan : "Namun, *lebih baik
hatiku yang hitam dan berkerak ini digosok habis-habisan* , terluka di sana
sini hingga bisa sebersih mungkin *selama di dunia* dan mumpung masih diberi
kesempatan hidup untuk bersih-bersih, *daripada* *adzab Allah* yang nanti
(di hari akhir nanti) yang menggosok , menyikat, mencelupkan hati ini
kedalam api yang membara … Na'udzubillahi Min Dzaalik… "
Kalau saja lain orang menyadari hal ini semua, Insyaa Allah negeri kita akan
berangsur-angsur bersih dari kerak-kerak.
Mudah-mudahan Allah akan memberikan ganjaran yang baik bagi orang yang
mengingatkan kebaikan.
Trimakasih.
Jazaakallaahu  Khoiroon Katsiiroon.
Wasaalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.


Pada 31 Oktober 2008 08:38, Mohammad Yasrif Ananda <[EMAIL PROTECTED]
> menulis:

>    <http://bungakehidupan.files.wordpress.com/2008/10/kerak.jpg>
>
>
> Pagi itu , disela-sela 'memandikan' piring , sendok, dan teman-temannya
> yang lain …. ada salah satu di antara mereka yang paling sulit dimandiin
> (dibersihkan), yang paling hitam, dan paling ber-kerak, yaitu si panci . Si
> piring dan kakak beradik si sendok dan garpu begitu mudah dan nurut untuk
> dimandikan… Di kasih sabun, dilap dengan spon, dibilas, bersih dah… pake
> handuk (lap), kering seketika .
>
>
> Berbeda dengan kakak tertua, si Wajan dan si bandel panci, setelah
> main-main dengan telur goreng, nasi goreng, dan mie goreng sekian lama,
> badan mereka begitu kotor, berkerak lagi. Untuk membuat mereka bersih dan
> segar, tidak bisa hanya dengan sekali lap dengan spon , sekali bilas, sekali
> cuci, apalagi lap kain ato apalah yang permukaannya halus / lembut, tapi
> dengan *penggosok yang terbuat dari sejenis logam* yang permukaannya kasar
> lah ..kerak itu sedikit demi sedikit luntur, lepas, dan akhirnya hilang,
> walopun terkadang meninggalkan goresan di tubuh wajan dan panci. Setelah itu
> baru kemudian di cuci dengan sabun, biar wangi dan segar….
>
> Sesaat setelah itu, terpikir olehku seonggok daging dalam diri manusia yang
> disebut dengan Hati.
>
>
> Ketika hati itu digunakan dengan baik oleh orang yang diamanahi untuk
> membawanya , maka hati itu akan terawat, bersih, indah dipandang oleh yang
> memberinya, berkilauan bak sinar mentari, senang berdekat dengan hati itu….
>
>  <http://bungakehidupan.files.wordpress.com/2008/10/love3.jpg>
>
> ketika asma Allah yang terus terlantunkan, kalimat dzikir yang membasahi
> lidah, dan tafakur serta tadabbur yang menyibukkan pikiran, maka begitu
> mulianya hati itu, mudah dibersihkan ketika ada kotoran maksiat yang
> menempel … entah itu dengan istighfar , ato dengan sholat, dengan sedekah ,
> ato dengan hal yang lain yang masih dalam kategori 'mudah' untuk membuat
> hati itu kembali bersinar ….
>
> Namun, di sisi lain, ketika hati yang pada awalnya bersih, itu terkotori
> oleh maksiat yang berlarut-larut, maka tidak mustahil, hati itu akan
> ternodai dengan noda-noda hitam, yang makin lama, akan makin berkerak.
> Begitu sulitnya cahaya hidayah itu masuk, begitu mudahnya tuntutan hawa
> nafsu itu terpenuhi … astaghfirullah …
>
>
> Ketika hati berkerak, maka mungkin saja, tidak cukup dengan istighfar,
> sholat, sedekah .. tapi diperlukan pengorbanan besar, pengikatan hawa nafsu
> dengan kuat-kuat, kebimbangan yang hebat, kesulitan mengubah kebiasaan,
> kesulitan menghindari maksiat yang pada awalnya menjadi sebuah kebiasaan…
> ibaratnya, hati itu harus 'digosok dengan pembersih yang terbuat dari logam
> itu' agar bener-bener bersih, rasa sakit, goresan luka itu mungkin akan
> membekas, kenyataan pahit mungkin akan dihadapi.Akan tetapi, itulah
> konsekuensi dari sebuah Taubat, pengorbanan jiwa dan raga ….. kadang harus
> jujur ketika biasanya berbohong, kadang harus menghindar ketika biasanya
> mendekat, kadang harus menahan hawa nafsu ketika biasanya tertahan hawa
> nafsu … semoga Allah membantu kita untuk memperjuangkan keistiqomahan taubat
> nasuha itu.
>
>
> Namun, *lebih baik hatiku yang hitam dan berkerak ini digosok
> habis-habisan* , terluka di sana sini hingga bisa sebersih mungkin *selama
> di dunia* dan mumpung masih diberi kesempatan hidup untuk bersih-bersih, *
> daripada* *adzab Allah* yang nanti (di hari akhir nanti) yang menggosok ,
> menyikat, mencelupkan hati ini kedalam api yang membara … Na'udzubillahi Min
> Dzaalik…
>
> *Ya Allah, ampunilah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kami …
> dosa-dosa yang sering kami lakukan kembali setelah kami bertaubat…
> anugerahkanlah kekuatan kepada kami…
> kekuatan untuk tetap istiqomah dalam taubat kami ….
> keistiqomahan untuk membersihkan hati ini…
> dari kerak-kerak maksiat kami…
> dari noda-noda kelalaian kami…
> dan dari tuntutan hawa nafsu yang menjerat kami …
> amiin ya Rabbal 'Aalamiin - (kabulkanlah Wahai Rabb Seluruh Alam)*
>
> semoga bermanfaat
>
> <http://bungakehidupan.wordpress.com/>Mohammad Yasrif Ananda
> http://bungakehidupan.wordpress.com/
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke