[?][?][?]Ketahuilah Beberapa Adab Ketika Musim
Hujan<http://rumaysho.wordpress.com/2008/12/17/ketahuilah-beberapa-adab-ketika-musim-hujan/>
 [?][?][?]

*Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal*

*Segala puji bagi Allah Ta'ala atas segala macam nikmat yang telah
diberikan-Nya. Dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam beserta keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya hingga
akhir zaman.
Segala puji bagi Allah, pada saat ini Allah telah menganugerahkan kita suatu
karunia dengan menurunkan hujan melalui kumpulan awan. Allah Ta'ala
berfirman (yang artinya), "Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu
minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?" (QS. Al
Waqi'ah [56] : 68-69)
Begitu juga firman Allah Ta'ala (yang artinya), "Dan Kami turunkan dari awan
air yang banyak tercurah." (QS. An Naba' [78] : 14). Allah Ta'ala juga
berfirman (yang artinya),"Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari
celah-celahnya." (QS. An Nur [24] : 43) yaitu dari celah-celah awan. (Lihat
Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah, 24/262, Maktabah Syamilah)
Merupakan tanda kekuasaan Allah Ta'ala, kesendirian-Nya dalam menguasai dan
mengatur alam semesta, Allah menurunkan hujan pada tanah yang tandus yang
tidak tumbuh tanaman sehingga pada tanah tersebut tumbuhlah tanaman yang
indah untuk dipandang. Allah Ta'ala telah mengatakan yang demikian dalam
firman-Nya (yang artinya), "Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau
lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya,
niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya,
Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu." (QS. Fushshilat [41] : 39). Itulah hujan, yang Allah
turunkan untuk menghidupkan tanah yang mati. Sebagaimana pembaca dapat
melihat pada daerah yang kering dan jarang sekali dijumpai air seperti
Gunung Kidul, tatkala hujan itu turun, datanglah keberkahan dengan mekarnya
kembali berbagai tanaman dan pohon jati kembali hidup setelah sebelumnya
kering tanpa daun. Sungguh ini adalah suatu kenikmatan yang amat besar.
Sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat hujan yang telah diberikan
ini, sudah selayaknya kita mengamalkan berbagai adab ketika musim hujan
berikut ini. *

*[1] Keadaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Tatkala Mendung*

*Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata,*

*"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum
berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan
aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya
lagi (jika hujan sudah selesai, pen). Ketika awan tadi telah hilang, beliau
memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan,'Allahumma
shoyyiban nafi'an' [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang
bermanfaat]." (Lihat Adabul Mufrod no. 686, dihasankan oleh Syaikh Al
Albani) *

*Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memuji Allah setelah awan tadi hilang
karena ditakutkan awan ini adalah tanda datangnya adzab dan kemurkaan Allah.
(Lihat Syarh Shohih Adabil Mufrod, 2/343)*

*'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,*

*"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melihat mendung di langit,
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam beranjak ke depan, ke belakang atau
beralih masuk atau keluar, dan berubahlah raut wajah beliau shallallahu
'alaihi wa sallam. Apabila hujan turun, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam
mulai menenangkan hatinya. 'Aisyah sudah memaklumi beliau shallallahu
'alaihi wa sallam melakukan seperti itu. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam mengatakan, "Aku tidak mengetahui apa ini, seakan-akan inilah yang
terjadi (pada Kaum 'Aad) sebagaimana pada firman Allah (yang artinya), "Maka
tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah
mereka." (QS. Al Ahqaf [46] : 24)" (HR. Bukhari no. 3206)*

*[2] Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan*

*Apabila Allah memberi nikmat dengan diturunkannya hujan, dianjurkan bagi
seorang muslim untuk membaca do'a,*

*اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً*

*"Allahumma shoyyiban nafi'an (Ya Allah, turunkanlah hujan yang
bermanfaat)." Itulah yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan ketika
melihat hujan turun. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, Aisyah
radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala melihat
hujan turun, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan 'Allahumma
shoyyiban nafi'an' [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]".
(HR. Bukhari, Ahmad, dan An Nasai). Yang dimaksud shoyyiban adalah hujan.
(Lihat Al Jami' Liahkamish Sholah, 3/113, Maktabah Syamilah dan Zadul Ma'ad,
I/439, Maktabah Syamilah)*

*[3] Turunnya Hujan, Salah Satu Waktu Terkabulnya Do'a*

*Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, 4/342 mengatakan,"Dianjurkan untuk berdo'a
ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,*

*اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ
الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ*

*'Carilah do'a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan,
[2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun." (Dikeluarkan
oleh Imam Syafi'i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma'rifah dari Makhul
secara mursal. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat hadits no. 1026 pada
Shohihul Jami')*

*[4] Tatkala Terjadi Hujan Lebat*

*Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan
hujan. Kemudian tatkala hujan turun begitu lebatnya, Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam berdo'a,*

*اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ
وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ*

*"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya
Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut
lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan." (HR. Bukhari no. 1013 dan 1014).
Oleh karena itu, saat turun hujan lebat sehingga ditakutkan membahayakan
manusia, dianjurkan untuk membaca do'a di atas. (Lihat Al Jami' Liahkamish
Sholah, 3/114, Maktabah Syamilah)*

*[5] Mengambil Berkah dari Air Hujan*

*Anas radhiyallahu 'anhu berkata,"Kami bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam pernah kehujanan. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami
mengatakan,'Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?'
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,*

*لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى*

*"Karena dia baru saja Allah ciptakan." (HR. Muslim no. 2120)*

*An Nawawi dalam Syarh Muslim, 6/195, makna hadits ini adalah bahwasanya
hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta'ala,
maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari
hujan tersebut.*

*Kemudian An Nawawi mengatakan,"Dalam hadits ini terdapat dalil bagi ulama
syafi'iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain aurat)
pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut.
Dan mereka juga berdalil bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan
(ilmu), apabila melihat orang yang lebih berilmu melakukan sesuatu yang dia
tidak ketahui, hendaknya dia menanyakan untuk diajari lalu dia
mengamalkannya dan mengajarkannya pada yang lain." (Lihat Syarh Nawawi 'ala
Muslim, 6/195, Maktabah Syamilah)*

*Lihat pula perbuatan sahabat yang satu ini, dia juga mengambil berkah dari
air hujan dengan mengguyur pakaian dan pelananya. *

*Dari Ibnu Abbas, beliau radhyillahu 'anhuma berkata,*

*أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: "يَا جَارِيَّةُ !
أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ
السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً [ق: 9].*

*"Apabila turun hujan, beliau mengatakan,'Wahai jariyah keluarkanlah
pelanaku, juga bajuku'." Lalu beliau membacakan (ayat) [yang artinya],"Dan
Kami menurunkan dari langit air yang penuh barokah (banyak manfaatnya)."
(QS. Qaaf [50] : 9)" (Lihat Adabul Mufrod no. 1228. Syaikh Al Albani
mengatakan sanad hadits ini shohih dan hadits ini mauquf [perkataan
sahabat])*

*[6] Dianjurkan Berwudhu dari Air Hujan *

*Dianjurkan untuk berwudhu dari air hujan apabila airnya mengalir deras
(Lihat Al Mughni, 4/343, Maktabah Syamilah). *

*Dari Yazid bin Al Hadi, apabila air yang deras mengalir, Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam mengatakan,*

*اُخْرُجُوا بِنَا إلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ طَهُورًا ،
فَنَتَطَهَّرَمِنْهُ وَنَحْمَدَ اللّهَ عَلَيْهِ*

*"Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh
Allah sebagai alat untuk bersuci." Kemudian kami bersuci dengan air tersebut
dan memuji Allah atas nikmat ini." (Lihat Zadul Ma'ad, I/439, Maktabah
Syamilah)*

*Namun, hadits di atas munqothi' (terputus sanadnya) sebagaimana dikatakan
oleh Al Baihaqi (Lihat Irwa'ul Gholil). *

*Hadits yang serupa adalah, *

*كَانَ يَقُوْلُ إِذَا سَالَ الوَادِي " أُخْرُجُوْا بِنَا إِلَى هَذَا الَّذِي
جَعَلَهُ اللهُ طَهُوْرًا فَنَتَطَهَّرُ بِهِ "*

*"Apabila air mengalir di lembah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
mengatakan,'Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah
dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci', kemudian kami bersuci
dengannya." (HR. Muslim, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad. Lihat Irwa'ul
Gholil)*

*[7] Janganlah Mencela Hujan*

*Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa
hujan merupakan kenikmatan dari Allah Ta'ala. Namun, ketika hujan dirasa
mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan dari seorang muslim
seperti 'Aduh!! hujan lagi, hujan lagi'. Sungguh, kata-kata seperti ini
tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tentu saja akan masuk dalam catatan
amal yang jelek karena Allah berfirman,*

*مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf [50] : 18)*

*Bahkan kata-kata seperti ini bisa termasuk kesyirikan sebagaimana seseorang
mencela makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa seperti masa (waktu). *

*Hal ini dapat dilihat pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,"Allah
Ta'ala berfirman, 'Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu),
padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam
dan siang menjadi silih berganti.' " (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,"Janganlah kamu mencaci maki
angin." (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)*

*Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan
makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa, termasuk juga hujan adalah
terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan
seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari
sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa
makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan
menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan
adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya
sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat
syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti
mengatakan,'Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke
masjid untuk shalat'-, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti ini
tidaklah mengapa. (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid, 227-231)*

*Perhatikanlah hal ini! Semoga Allah selalu menjaga kita, agar lisan ini
banyak bersyukur kepada-Nya atas karunia hujan ini, dan semoga Allah
melindungi kita dari banyak mencela. *

*[8] Berdo'a Setelah Turunnya Hujan*

*Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada
malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama'ah shalat, lalu
mengatakan,"Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?"
Kemudian mereka mengatakan,"Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui".
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,*

*« أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ
بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ
كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ »*

*"Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang
kafir. Siapa yang mengatakan 'Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih' (Kita
diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman
kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan
'Muthirna binnau kadza wa kadza' (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini
dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada
bintang-bintang."(HR. Muslim n0. 240)
Dari hadits ini terdapat dalil untuk mengucapkan 'Muthirna bi fadhlillahi wa
rohmatih' setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang
diberikan. *

*Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan,"Tidak boleh
bagi seseorang menyandarkan turunnya hujan karena sebab bintang-bintang. Hal
ini bisa termasuk kufur akbar yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam,
jika meyakini bahwa bintang tersebut adalah yang menciptakan hujan. Namun
kalau menganggap bintang tersebut hanya sebagai sebab, maka seperti ini
termasuk kufur ashgor (kufur yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari
Islam). Ingatlah bahwa bintang tidak memberikan pengaruh terjadinya hujan.
Bintang hanya sekedar waktu semata." (Kutub wa Rosa'il Lil 'Utsaimin,
170/20, Maktabah Syamilah)*

*Demikian beberapa adab ketika musim hujan. Semoga kita termasuk orang-orang
yang diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkannya.*

*
*
http://rumaysho.wordpress.com/2008/12/17/ketahuilah-beberapa-adab-ketika-musim-hujan/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: 002.gif>>

Kirim email ke