berjilbab...tidak menjadikan kecerdasan seorang  perempuan langsung
meredup dan otaknya mengkeret mengecil !

Wassalam

Dee Na <http://luveducky.blogspot.com/2008/12/luvislam-bengkel-hati-2.html>

---- Forwarded message ----------
Assalaamu 'alaikum,

Curhat dari seorang Sandrina Malakiano. Presenter cantik yang muallaf dan
memutuskan berjilbab tapi terpaksa (atau "dipaksa"?)mengundu rkan diri dari
Metro
TV, stasiun TV tempatnya bekerja selama 15 tahun. Setuju dengan comment-nya
tentang dualisme arti kebebasan dari kaum Liberal. Kenapa orang berpakaian
minim
diperbolehkan tampil di TV dengan alasan kebebasan dan HAM, sedangkan justru

sebaliknya yang menutup aurat, justru tidak diperbolehkan? Hmm, trus apa
pengertian HAM sih, kenapa implementasi dan pengertiannya begitu sumir,
bergantung kepada siapa yang memakainya? Forward dari milis jiran, sayang
tidak
disertakan alamat facebook-nya Mbak Sandrina. Googling sendiri yah.

Wassalaam,

Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah

Setiap kali sebuah
musibah datang, maka sangat boleh jadi di
belakangnya sesungguhnya menguntit
berkah yang belum kelihatan. Saya
sendiri yakin bahwa " sebagaimana Islam
mengajarkan " di balik
kebaikan
boleh jadi tersembunyi keburukan dan di
balik keburukan boleh jadi
tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai
hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu
saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya
bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan
untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah
mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah
berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang
mengelola langsung beragam tayangan di Metro
TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam

bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah
orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya
merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang
tinggi.
Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya
saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi
berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan,
tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan
tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan

diri.
Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti
saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter
berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti
pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar,
ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI
Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan
pekerjaan
itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya
yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya
bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya
akan mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja.
Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena
radang
pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa
membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin
saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah
memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu.
Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap
biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU,
dan kemudian 17 hari di  ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab
saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih
baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara
bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV
sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host
dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog
para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu,
misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman
baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif,
dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam
yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan
ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan
melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan
mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan,
bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang
kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih
kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu
mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada
akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan
personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk
berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan
personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut
penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan
jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme
bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang
disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang
mengaku dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan
Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William
Liddle " seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai
sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua " di sebuah lembaga nirlaba.

Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik
sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang
keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka
memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan

Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar
mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga
segera kembali ke jalan yang benar.

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara
diametral dengan gagasan-gagasan yang konon
mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak
dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang
dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana
mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan
perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga
semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh
hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala
yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang  perempuan langsung
meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme "
mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya " ternyata bisa
bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal. ***

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke