--- Pada Rab, 21/1/09, Dwi Wahyudi Priyantoro <[email protected]> menulis:

Dari: Dwi Wahyudi Priyantoro <[email protected]>
Topik: "Perempuan Berkalung Sorban"
Kepada: "Agnesh JTI" <[email protected]>, "agus Keu JTI" 
<[email protected]>, "Ali Muntaha" <[email protected]>, "Agus Subagyo" 
<[email protected]>, "Ahmad Janan" <[email protected]>, "antohood" 
<[email protected]>, "Benedictus Prasetyo" <[email protected]>, 
"Edwin AJP" <[email protected]>, "indrasanti aryati" 
<[email protected]>, "Udi Andoyo" 
<[email protected]>, "widodo abr" <[email protected]>, "Wachidin 
Mr." <[email protected]>, "lina winangsih" <[email protected]>, "rahma 
wati" <[email protected]>, "Tuan Wandi" <[email protected]>, "warti dariyati" 
<[email protected]>, "Wibono Ppm" <[email protected]>, "Sahat Barita" 
<[email protected]>, "Dikun Bogor" <[email protected]>, "gatot siswantoro" 
<[email protected]>, "Joko sumarno Ppm" <[email protected]>, "Mr. 
Herry Potter" <[email protected]>, "Siti Zuhriya Setiono" 
<[email protected]>, "Sylvia Ppm"
 <[email protected]>, "Zachra Nurhayati Syafri" 
<[email protected]>, "Mr. Donie" <[email protected]>, "Deasy Ppm" 
<[email protected]>, "Deri Bonaga" <[email protected]>, "Eko 
Iskandar Ppm" <[email protected]>, "Ekoooooo PA" <[email protected]>, 
"Octa EDP" <[email protected]>, "Fajar PA" <[email protected]>, "Risma 
Tabung" <[email protected]>, "Gitta rasyidi Ppm" <[email protected]>, 
"Mr. Teguh Boy Rianto" <[email protected]>, "rachmawan hidayat" 
<[email protected]>, "Ridwan Harris PA" <[email protected]>, 
"Rolly Ppm" <[email protected]>, "Ronal Benitez" 
<[email protected]>, "Herry Giant" <[email protected]>, "Teguh 
Perkasa" <[email protected]>, "Tia Keu JTI" <[email protected]>, "Herry 
Karnadi" <[email protected]>, "Iskandar Yudi" <[email protected]>, "yudie 
PA" <[email protected]>, "Joki PA" <[email protected]>, "Nandar JTI" 
<[email protected]>,
 "Ndaru Nur Sigit" <[email protected]>, "Vanda Syafri" 
<[email protected]>, "Ika Mukti S" <[email protected]>, "Mr. Yudi 
Sableng" <[email protected]>, "Benny Widodo" <[email protected]>, 
"Arif JTI" <[email protected]>, "yuni YAI" <[email protected]>, "Ika 
Cinderella" <[email protected]>, "Arif bola" <[email protected]>, "Poppy 
Tob" <[email protected]>, "Mr. Robin" <[email protected]>, "My Ika" 
<[email protected]>, "Bayu Fals" <[email protected]>, "Dani Gendut" 
<[email protected]>, "Henny Wells" <[email protected]>, "Seta Humanika" 
<[email protected]>, "wahyu JTI" <[email protected]>
Tanggal: Rabu, 21 Januari, 2009, 7:52 AM








 
                                               
"Apakah anda tahu hubungan antara 2 biji mata anda.
Mereka berkedip bersama,
bergerak  bersama,
menangis bersama,
melihat bersama,
tidur bersama,
malah menutup pandangan terakhirpun bersama,
Meskipun mereka tidak pernah melihat antara satu sama lain kecuali di 
cermin.......
Itulah arti Persahabatan sesungguhnya" 
 

Yudie
PT Jaya Trade Indonesia
Jl. Kramat Raya No. 144
Jakarta Pusat 10430
Phone 315-9999 Ext. 131
Fax. 314-5888 
Mobile 0816-1699530
http://profiles.friendster.com/62277053
http://yudie278.multiply.com/
 




Bagaimana jika seorang perempuan memperjuangkan eksistensinya di tengah 
budaya yang menempatkan lelaki sebagai superior? 

Hanung Bramantyo berusaha menjawabnya lewat film berjudul “Perempuan 
Berkalung Sorban”. Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya 
Abidah El Khalieqy berdurasi 2 jam 10 menit ini, seolah menjadi penanda 
bagi seorang Hanung. Bahwa ia mapan mengangkat tema-tema berbalut  
religi seperti karya sebelumnya, “Ayat-Ayat Cinta”.

Anak Kyai

Dikisahkan, Anissa, anak seorang Kyai di sebuah pesantren di Jombang, 
Jawa Timur, menggugat perlakuan keluarga dan lingkungannya. Ia menggugat 
kenapa dirinya selalu dibeda-bedakan dengan lelaki. Kenapa ia tidak 
boleh melakukan  yang boleh dilakukan lelaki? Seperti menunggang kuda 
atau menjadi ketua kelas. 



Sebagai wanita ia hanya dianggap nomor dua. Keluarga dan budaya 
pesantren yang dijalaninya menekankan bahwa tugas seorang wanita hanya 
melayani suami dan mengurus keluarga, lain tidak. 

Anissa yang diperankan cukup berhasil oleh Revalina S Temat, terpaksa 
harus menerima kenyataan tersebut,  tumbuh menjadi wanita yang hidup 
dibawah bayang-bayang budaya yang mengangkat supremasi lelaki. 

Puncaknya ia dipaksa menikah oleh ayahnya, Kyai Haji Hanan (Joshua 
Pandelaky), dengan Syamsudin (Reza Rahdian), lelaki yang tak 
dicintainya. Padahal saat bersamaan, ia diterima di sebuah perguruan 
tinggi di Jogya. Tapi keinginannya untuk kuliah terbentur keinginan 
Ayahnya yang keras. Anissa pun terpaksa menikah dengan Syamsudin.

Sebelumnya Anissa punya sahabat dekat yang tak lain pamannya sendiri, 
Khudori (diperankan Oka Antara), tapi pamannya itu pergi belajar ke 
Kairo. Dan selama 7 tahun Anissa hanya berhubungan lewat surat dengan 
Khudori. 

Selama menjalani perkawinan dengan Syamsudin, Anissa tak bahagia. 
Syamsudin adalah lelaki yang sama sekali tak mengerti perasaan 
perempuan. Ia selalu menuntut agar dilayani kapanpun dia mau. Anissa 
tersiksa. Tapi sebagai wanita muslim yang taat, ia berusaha melayani 
suami sebaik mungkin. Bahkan ketika Syamsudin menikah lagi dengan 
Kalsum  (Francine Roosenda).

Perzinahan

Beberapa waktu kemudian, Khudori kembali dari Kairo dan melakukan 
pertemuan rahasia dengan Anissa di Pesantren Al Huda. Anissa menggugat 
kepergian Khudori tujuh tahun lalu. Dia yakin tak akan menjalani hidup 
sepahit ini jika saja Khudori tak pergi meninggalkannya dulu. 

Anissa meminta Khudori segera menikahkannya. Tapi pertemuan itu 
diketahui Syamsudin. Mereka kemudian diusir dari Pesantren karena 
dituduh berzinah. Karena peristiwa itu, Kyai Haji Hanan meninggal dunia.



Adegan berlanjut dengan kehidupan baru Anissa di Jogya setelah bercerai. 
Anissa meneruskan cita-citanya, yakni kuliah di Jogya. Sementara Khudori 
entah pergi kemana. Di Jogya Anissa memulai hidup baru, ia bekerja 
sambilan menulis cerpen.

Suatu ketika, Khudori datang menemui Anissa ke Jogja. Pertemuan itu 
membuat benih-benih cinta keduanya tumbuh kembali. Meski Anissa belum 
mampu menghilangkan trauma perkawinan masa lalu, namun akhirnya Anissa 
menerima pinangan Khudori.

Mereka lalu kembali ke pesantren Al Huda. Selama di Pesantren, Anissa 
perlahan-lahan menumbuhkan minat  membaca para santri perempuan. Anissa 
kerap membagi-bagikan buku yang menurut pesantren, termasuk ‘buku 
berbahaya’. 

Tindakan ini ditentang kakak-kakak Anisa yang mengurus Pesantren 
sepeninggal Ayahnya. Tapi Anissa keukeh, bahkan ia berniat membuat 
perpustakaan di pesantren itu. Ditengah usahanya, Anissa lagi-lagi harus 
menerima kenyataan pahit. Khudori meninggal dunia karena kecelakaan. 


Ia lalu memutuskan kembali ke Jogya dan bekerja sebagai konsultan 
lembaga bantuan hukum untuk kaum perempuan. ‘Gairah’ baru yang 
dihembuskan Anissa di pesantren itu, ternyata menginspirasi tiga orang 
santri wanita yang kemudian kabur dari pesantren. 

Anissa kembali ke pesantren sembari membawa tiga santri yang kabur itu. 
Usaha dan kegigihan Anissa akhirnya berbuah. Ia berhasil membangun 
perpustakaan di pesantren itu.

Sinematografi

Menurut alur cerita, film ini dapat dibagi menjadi tiga segmen, pertama 
kehidupan awal Anissa di Pesantren. Kedua saat Anissa menikah dengan 
Syamsudin dan ketiga saat Anissa menikah dengan Khudori dan  kembali ke 
pesantren. Ketiga segmen cukup runtut dikemas Hanung.  

Terlepas bagaimana isi novelnya, jelas banyak unsur dramatisasi yang 
dibuat Hanung untuk mempertegas cerita. Namun terutama di segmen kedua 
ketika Anissa berumahtangga dengan Syamsudin, banyak adegan yang 
sebetulnya bisa dibuang karena tak berpengaruh pada keutuhan cerita. 

Misalnya saat Kalsum dan Syamsudin sedang berhubungan suami istri dan 
Anissa mendengar rintihan mereka dari luar kamar. Terkesan malah 
persoalan sekslah yang menjadi pangkal persoalan rumah  tangga Anissa, 
baik ketika menikah dengan Syamsudian hingga menikah dengan Khudori. 

Padahal jika digali lebih dalam, banyak narasi  yang bisa dikembangkan. 
Kenapa Anissa tidak bahagia dengan Syamsudin dan tidak bisa 
membahagiakan Khudori pada awal-awal pernikahan? Dan jawabannya menjadi 
berkesan dangkal--jika dibanding megahnya tema--yakni ternyata soal 
kebutuhan seks. 

Di sisi lain, pergulatan ketika Anissa bermetamorfosa menjadi wanita 
tegar, kurang dibuat detil. Padahal ini bisa memperkuat ‘roh’ film ini. 

Seperti layaknya film laga dimana saat sang jagoan bangkit perlahan 
dengan tubuh berdarah-darah--adegan itu selalu tunggu penonton--, justru 
di film ini kondisi macam itu tak tergambar jelas.



Dan sekali lagi, entah memang dari novelnya atau bukan, ada banyak 
adegan yang bisa ditebak. Seperti saat Syamsudin memergoki Anissa dan 
Khudori berduaan di sebuah saung, atau ketika Khudori mengucapkan kata-
kata terakhir sebelum kecelakaan. 

Dalam adegan kecelakaan pun, Hanung mencoba ‘bermain’ dengan menampilkan 
sosok misterius yang menabrak Khudori dan akhirnya justru tak 
dituntaskan Hanung siapa pengendara mobil itu. Hanung membiarkan 
penonton berpikir sendiri, meski secara eksplisit ada satu adegan yang 
mengungkapkan pelakunya.    

Terlepas dari semua itu, Hanung memang bukan sutradara kemarin sore. Ia 
cukup apik  menjaga  ‘nafas’ film ini sehingga penonton enggan beranjak 
dari kursi meski durasinya cukup panjang.  

Dari segi sinematografi, kemampuan Hanung menterjemahkan novel kedalam 
layar lebar sulit terbantahkan. Ia sama sekali tak gagap mengangkat 
terminologi-terminologi agama, dan tanpa kuatirnya ia berkreasi dengan 
anasir-anasir dirinya dalam memahami budaya pesantren.

Dan memang demikianlah seharusnya, karya kreasi tak perlu memikirkan 
batas-batas. Batas-batas itu muncul dengan sendirinya saat kita mampu 
mempertanggungjawabkan karya kita.  





      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke