TIDAK ADA IBADAH KHUSUS DI BULAN RAJAB


*Oleh Al Ustadz Jafar Salih*





Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) di dalam Islam.
Disebut dengan bulan haram karena pada bulan-bulan ini kita dilarang
berperang, selain juga melakukan kedzaliman padanya lebih terlarang
isbanding dengan bulan-bulan yang lainnya. Tentang hal ini Allah Subhanahu
Wa Ta’aala berfirman;



إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ
اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ



“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat
bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya
diri dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah:36)



Dan dalam hadits Abu Bakrah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda; “Sesungguhnya zaman telah berputar seperti hari ketika
Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun dua belas bulan, diantaranya
empat bulan haram (suci), tiga berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah,
Muharram dan Rajab Mudhar, (yaitu) bulan antara Jumadil (‘Ula dan Tsaniyah)
dengan Sya’ban” Muttafaqun ‘alaihi.



Inilah keutamaan bulan-bulan haram dari selainnya. Dan untuk bulan Rajab,
tidak diketahui satu pun dalil yang menunjukkan keutamaan lain selain dari
yang disebutkan. Karena itu tidak satu pun hadits shahih yang menerangkan
tentang keistimewaan bulan ini, tidak mengistimewakannya dengan melakukan
puasa pada keseluruhannya atau pada sebagian hari-harinya, dan tidak pula
dengan melakukan shalat malam serta ibadah-ibadah khusus lainnya. Bahkan
seluruh hadits-hadits yang menerangkan keistimewaan bulan ini adalah lemah
dan kebanyakannya adalah dusta dan palsu. Hal ini seperti yang dikatakan
oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani Rahimahullah dalam Tabyin Al Ajab
bima Warada fi Syahri Rajab, “Tidak satu pun hadits yang menerangkan tentang
keutamaan bulan Rajab adalah benar (shahih), tidak tentang keutamaan
berpuasa seluruhnya dan tidak pula sebagiannya, atau shalat pada malam-malam
tertentu padanya. Dan Al Imam Abu Ismail Al Harawi Al Hafidz sudah pernah
mengatakan hal ini sebelum saya, kami meriwayatkan hal ini darinya dengan
sanad yang shahih, begitu pula dari selain beliau…”



Dan banyak lagi nukilan dari para imam yang menegaskan hal ini. Seperti Al
Imam Abdullah bin Muhammad Al Anshari Rahimahullah, ia berkata, “Tidak satu
pun hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang keutamaan
bulan Rajab dan berpuasa padanya yang shahih” Ada’u ma Wajab (hal 56) karya
Al Hafidz Ibnu Dahyah Rahimahullah. Juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa (25/290-291) dan Asy-Syaikh Aba Buthain
Rahimahullah dalam Durarus Sanniyyah (5/361).



Di sisi banyaknya nukilan dari para imam tersebut, tragisnya masih saja ada
dari ummat islam yang mengistimewakan bulan ini dengan melakukan
ibadah-ibadah yang tidak ada asal-usulnya di dalam syari’at yang suci,
seperti mengistimewakannya dengan berpuasa, apakah di awalnya atau
keseluruhannya. Dan umumnya ummat islam di tanah air mengistimewakan bulan
ini dengan membaca dzikir-dzikir khusus seperti “Istighfar bulan Rajab” yang
dibaca setiap pagi dan petang sebanyak 70 kali, sambil mengangkat tangan
membaca;



اللَّهمَّ اغْفِر لِي وارْحمَنِي وَتُبْ عَلَيَّ “Allahummaghfirlii warhamnii
watub ‘alayya”



Artinya; “Ya Allah, ampunilah aku, dan kasihilah aku serta terimalah
taubatku”.



Biasanya dzikir ini dibaca setelah imam salam dari shalat wajib dan diikuti
oleh pada jamaah dengan serempak. Dan masih banyak lagi amalan-amalan serupa
di bulan Rajab yang tidak ada asal usulnya di dalam syari’at ini. Dan semua
ini merupakan ajaran baru yang tidak dikenal oleh generasi shahabat, tabi’in
dan tabi’ut tabi’in, padahal mereka lah generasi terbaik ummat ini, seperti
yang terdapat dalam hadits,



خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ



“Sebaik-baik manusia adalah kurunku kemudian yang setelahnya, kemudian yang
setelahnya” Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu.



Maka masih adakah kedzaliman yang lebih besar dari mencampakkan hukum Allah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mengambil hukum manusia?!



أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ
اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ
الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ



“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan
untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah Sekiranya tak ada ketetapan
yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan
sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat
pedih”. (QS. Asy-Syuura: 21)



Apalagi ada riwayat dari salaf bahwa dahulu mereka mengingkari perbuatan
orang-orang yang mengistimewakan bulan ini dengan berpuasa, seperti yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah Rahimahullah dengan sanad yang shahih
dari Kharsyah bin Al Hurr, ia berkata; “Saya menyaksikan Umar bin Khattab
Radhiallahu’anhu memukuli tangan orang-orang di bulan Rajab, sampai mereka
meletakkan tangan-tangan mereka di piring-piring makannya (melarang mereka
berpuasa –penerj), dan Umar Radhiallahu’anhu berkata; “Makanlah kalian,
bulan ini adalah bulan yang dahulu dimuliakan orang-orang jahiliyah”. Ada’u
ma Wajab (hal 57 dan 63)



Juga ketika Abu Bakr Radhiyallahu ’anhu menemui keluarganya dan melihat
mereka membeli cangkir-cangkir minum, dan bersiap-siap untuk puasa, ia
berkata, “Apa ini!” Mereka menjawab, “Rajab”. Abu Bakr Radhiyallahu ’anhu
berkata, “Apa kalian ingin menyerupakannya dengan Ramadhan? Lalu ia
memecahkan cangkir-cangkir tersebut” Majmu’ Fatawa (25/290-291)



Maka wajib bagi kita untuk kembali kepada syari’at Allah Subhanahu Wa
Ta’aala dalam segala hal, dan meninggalkan syari’at-syari’ at buatan dalam
beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala sebelum yang lainnya. Wallahu
A’lam bis Shawaab.



Sumber : Majalah As-Salaam edisi 2



*http://ahlussunnah- jakarta.com/ artikel_detil.
php?id=55<http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=55>
*

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke