saya tidak setuju dengan fatwa ini!!!!!

2009/6/26 Mina Lestari <[email protected]>

> TIDAK ADA IBADAH KHUSUS DI BULAN RAJAB
>
>
>
> *Oleh Al Ustadz Jafar Salih*
>
>
>
>
>
> Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) di dalam Islam.
> Disebut dengan bulan haram karena pada bulan-bulan ini kita dilarang
> berperang, selain juga melakukan kedzaliman padanya lebih terlarang
> isbanding dengan bulan-bulan yang lainnya. Tentang hal ini Allah Subhanahu
> Wa Ta’aala berfirman;
>
>
>
> إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ
> اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
> ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
>
>
>
> “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam
> ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat
> bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya
> diri dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah:36)
>
>
>
> Dan dalam hadits Abu Bakrah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu
> 'Alaihi Wasallam bersabda; “Sesungguhnya zaman telah berputar seperti hari
> ketika Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun dua belas bulan,
> diantaranya empat bulan haram (suci), tiga berturut-turut; Dzulqa’dah,
> Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, (yaitu) bulan antara Jumadil (‘Ula
> dan Tsaniyah) dengan Sya’ban” Muttafaqun ‘alaihi.
>
>
>
> Inilah keutamaan bulan-bulan haram dari selainnya. Dan untuk bulan Rajab,
> tidak diketahui satu pun dalil yang menunjukkan keutamaan lain selain dari
> yang disebutkan. Karena itu tidak satu pun hadits shahih yang menerangkan
> tentang keistimewaan bulan ini, tidak mengistimewakannya dengan melakukan
> puasa pada keseluruhannya atau pada sebagian hari-harinya, dan tidak pula
> dengan melakukan shalat malam serta ibadah-ibadah khusus lainnya. Bahkan
> seluruh hadits-hadits yang menerangkan keistimewaan bulan ini adalah lemah
> dan kebanyakannya adalah dusta dan palsu. Hal ini seperti yang dikatakan
> oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani Rahimahullah dalam Tabyin Al Ajab
> bima Warada fi Syahri Rajab, “Tidak satu pun hadits yang menerangkan tentang
> keutamaan bulan Rajab adalah benar (shahih), tidak tentang keutamaan
> berpuasa seluruhnya dan tidak pula sebagiannya, atau shalat pada malam-malam
> tertentu padanya. Dan Al Imam Abu Ismail Al Harawi Al Hafidz sudah pernah
> mengatakan hal ini sebelum saya, kami meriwayatkan hal ini darinya dengan
> sanad yang shahih, begitu pula dari selain beliau…”
>
>
>
> Dan banyak lagi nukilan dari para imam yang menegaskan hal ini. Seperti Al
> Imam Abdullah bin Muhammad Al Anshari Rahimahullah, ia berkata, “Tidak satu
> pun hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang keutamaan
> bulan Rajab dan berpuasa padanya yang shahih” Ada’u ma Wajab (hal 56) karya
> Al Hafidz Ibnu Dahyah Rahimahullah. Juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
> Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa (25/290-291) dan Asy-Syaikh Aba Buthain
> Rahimahullah dalam Durarus Sanniyyah (5/361).
>
>
>
> Di sisi banyaknya nukilan dari para imam tersebut, tragisnya masih saja ada
> dari ummat islam yang mengistimewakan bulan ini dengan melakukan
> ibadah-ibadah yang tidak ada asal-usulnya di dalam syari’at yang suci,
> seperti mengistimewakannya dengan berpuasa, apakah di awalnya atau
> keseluruhannya. Dan umumnya ummat islam di tanah air mengistimewakan bulan
> ini dengan membaca dzikir-dzikir khusus seperti “Istighfar bulan Rajab” yang
> dibaca setiap pagi dan petang sebanyak 70 kali, sambil mengangkat tangan
> membaca;
>
>
>
> اللَّهمَّ اغْفِر لِي وارْحمَنِي وَتُبْ عَلَيَّ “Allahummaghfirlii
> warhamnii watub ‘alayya”
>
>
>
> Artinya; “Ya Allah, ampunilah aku, dan kasihilah aku serta terimalah
> taubatku”.
>
>
>
> Biasanya dzikir ini dibaca setelah imam salam dari shalat wajib dan diikuti
> oleh pada jamaah dengan serempak. Dan masih banyak lagi amalan-amalan serupa
> di bulan Rajab yang tidak ada asal usulnya di dalam syari’at ini. Dan semua
> ini merupakan ajaran baru yang tidak dikenal oleh generasi shahabat, tabi’in
> dan tabi’ut tabi’in, padahal mereka lah generasi terbaik ummat ini, seperti
> yang terdapat dalam hadits,
>
>
>
> خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الذِيْنَ
> يَلُوْنَهُمْ
>
>
>
> “Sebaik-baik manusia adalah kurunku kemudian yang setelahnya, kemudian yang
> setelahnya” Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu.
>
>
>
> Maka masih adakah kedzaliman yang lebih besar dari mencampakkan hukum Allah
> Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mengambil hukum manusia?!
>
>
>
> أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ
> اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ
> الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
>
>
>
> “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan
> untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah Sekiranya tak ada ketetapan
> yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan
> sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat
> pedih”. (QS. Asy-Syuura: 21)
>
>
>
> Apalagi ada riwayat dari salaf bahwa dahulu mereka mengingkari perbuatan
> orang-orang yang mengistimewakan bulan ini dengan berpuasa, seperti yang
> diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah Rahimahullah dengan sanad yang shahih
> dari Kharsyah bin Al Hurr, ia berkata; “Saya menyaksikan Umar bin Khattab
> Radhiallahu’anhu memukuli tangan orang-orang di bulan Rajab, sampai mereka
> meletakkan tangan-tangan mereka di piring-piring makannya (melarang mereka
> berpuasa –penerj), dan Umar Radhiallahu’anhu berkata; “Makanlah kalian,
> bulan ini adalah bulan yang dahulu dimuliakan orang-orang jahiliyah”. Ada’u
> ma Wajab (hal 57 dan 63)
>
>
>
> Juga ketika Abu Bakr Radhiyallahu ’anhu menemui keluarganya dan melihat
> mereka membeli cangkir-cangkir minum, dan bersiap-siap untuk puasa, ia
> berkata, “Apa ini!” Mereka menjawab, “Rajab”. Abu Bakr Radhiyallahu ’anhu
> berkata, “Apa kalian ingin menyerupakannya dengan Ramadhan? Lalu ia
> memecahkan cangkir-cangkir tersebut” Majmu’ Fatawa (25/290-291)
>
>
>
> Maka wajib bagi kita untuk kembali kepada syari’at Allah Subhanahu Wa
> Ta’aala dalam segala hal, dan meninggalkan syari’at-syari’ at buatan dalam
> beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala sebelum yang lainnya. Wallahu
> A’lam bis Shawaab.
>
>
>
> Sumber : Majalah As-Salaam edisi 2
>
>
>
> *http://ahlussunnah- jakarta.com/ artikel_detil. 
> php?id=55<http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=55>
> *
>
> >
>


-- 
lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke