Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam
Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada
junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para
sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah.
Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni )
peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ; mengadakan
ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai
macam perbuatan lainnya.
Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul / pesta
pesta pada malam kelahiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga
malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam
agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula
Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun
paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap
sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan
benar benar menjalankan syariatnya.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barang siapa mengada adakan ( sesuatu hal baru ) dalam urusan ( agama ) kami
yang ( sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak".
Dalam hadits lain beliau bersabda :
"Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah
Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah
dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya,
serta jauhilah perbuatan baru ( dalam agama ), karena setiap perbuatan baru itu
adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat" ( HR. Abu Daud dan Turmudzi ).
Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita
senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu
pula mengerjakannya.
Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya :
"Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya" ( QS. Al Hasyr 7 ).
"Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan
ditimpa cobaan atau adzab yang pedih" ( QS. An Nur, 63 ).
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri
tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat )
Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah" ( QS. Al
Ahzab,21 ).
"Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang
Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu,
Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan
bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal
didalamnya, itulah kemenangan yang besar" ( QS, At taubah, 100 ).
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan
kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu" ( QS. Al
Maidah, 3 ).
Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan
melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama,
seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah
belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum
menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang
yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh
Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya
yang besar, lantaran menentang Allah ta’ala, begitu pula ( lantaran ) menentang
Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi
hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara
keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta
menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh
ummatnya sejelas jelasnya.
Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhiAllah ‘anhu
bahwa beliau bersabda:
"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar
menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka,
dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah
ditunjukkan kepada mereka" ( HR. Muslim ).
Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam
adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi
mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya
diantara mereka itu semua.
Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari
agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau
beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para
sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan
dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan (
bid’ah ), dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan
kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua
hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits
tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya :
"Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al
Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan
(bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan" ( HR. Muslim ).
Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan
masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk
mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa
sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya.
Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan
hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti
berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam,
bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat
musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka
beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat
mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya
dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :
"Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan
Ulil Amri ( pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul (
Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang
demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya" ( QS. An
nisa’, 59 ).
"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah ) kepada
Allah ( yang mempunyai sifat sifat demikian ), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah
aku bertawakkal dan kepada –Nya- lah aku kembali" ( QS. Asy syuro, 10 ).
Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada
kitab Allah ( Al Qur’an ), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita
agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang
dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an ) memberi penjelasan pula kepada kita
bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama umat ini.
Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang
dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran
agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala kepada kita, dan
diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan
bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula)
dikerjakan oleh sahabat sahabatnya.
Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah
merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari
hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani. Hal ini jelas bagi mereka yang mau
berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam
membahas ; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam,
melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan
RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak
layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut
banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al
Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi
diketahui atas dasar dalil dalil syara’.
Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang orang orang Yahudi dan
Nasrani :
"Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun ) akan
masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu
(hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti
kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar" ( QS. Al Baqarah, 111 ).
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi ini,
niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak lain hanyalah
mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah menyangka-nyangka" (
QS. Al An’am, 116 ).
Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini – selain bid’ah –tidak lepas
dari kemungkaran kemungkaran, seperti bercampurnya laki laki dan perempuan (
yang bukan mahram ), pemakaian lagu lagu dan bunyi bunyian, minum minuman yang
memabukkan, dan kejahatan kejahatan lainya yang serupa.
Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu perbuatan
syirik besar, dengan sebab mengagung agungkan Rasulullah secara berlebih
lebihan atau mengagung agungkan para wali, berupa permohonan do’a, pertolongan
dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan para wali mengetahui hal hal yang
ghoib, dan macam macam kekufuran lainnya yang sudah biasa dilakukan orang
banyak dalam upacara malam peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wa sallam itu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan dalam
agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian".
"Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang
Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka
katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah" ( HR. Bukhori dalam kitab shohihnya,
dari hadits Umar, Radliyallahu ‘anhu ).
Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang betul
betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah ini, bahkan
sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat Jum’at dan sholat
jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan sekali kali tidak
mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau mereka itu telah mendatangkan
kemungkaran yang besar, disebabkan karena lemahnya iman kurangnya berfikir, dan
berkaratnya hati mereka, karena bermacam macam dosa dan perbuatan maksiat.
Marilah kita sama sama meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan
karuniaNya kepada kita dan kaum muslimin.
Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara
peringatan tersebut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, oleh kerena
itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini merupakan kebatilan yang
paling besar, dan kebodohan yang paling nyata. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak
berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan
umatnya, tetapi beliau tetap tinggal didalam kuburnya sampai datang hari
kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin
) di sisi TuhanNya, itulah tempat kemuliaan.
Firman Allah dalam Al Qur’an :
"Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian
sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan ( dari kuburmu ) di hari kiamat" (
QS. Al Mu’minun, 15-16 ).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan / dibangunkan diantara ahli
kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at
dan diizinkan memberikan syafa’at".
Ayat dan hadits diatas, serta ayat ayat dan hadits hadits yang lain yang
semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mayat
mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah datangnya hari
kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama, tidak ada
pertentangan diantara mereka.
Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah seperti
ini, dan waspada terhadap apa apa yang diada adakan oleh orang orang bodoh dan
kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan khurafat khurafat, yang tidak
diturunkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Hanya Allah lah sebaik baik
pelindung kita, kepada-Nyalah kita berserah diri dan tidak ada kekuatan serta
kekuasaan apapun kecuali kepunyaan-Nya.
Sedangkan ucapan sholawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan pendekatan
diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan yang baik,
sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :
"Sesungguhnya Allah dan Malaikat malaikatNya bersholawat kepada Nabi, hai orang
orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan
penghormatan kepadanya" ( QS. Al Ahzab, 56 ).
Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan
bersholawat ( memberi rahmat ) kepadanya sepuluh kali lipat."
Sholawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkad jika
diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama mewajibkannya
pada tasyahud ahir di setiap sholat, dan sunnah muakkadah pada tempat lainnya,
diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam, pada hari Jum’at dan malamnya, sebagaimana hal itu diterangkan oleh
hadits hadits yang cukup banyak jumlahnya.
Allah lah tempat kita memohon, untuk memberi taufiq kepada kita sekalian dan
kaum muslimin, dalam memahami agama Nya, dan memberi mereka ketetapan iman,
semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap kosisten dalam mengikuti
sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena Dialah MahaPemurah dan MahaMulia,
semoga pula sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Sumber: Darussalaf
Tambahan:
Apa yang salah dari perayaan maulid Nabi, bukankah acara tersebut merupakan
ungkapan kegembiraan kita dengan Nabi kita sendiri?! Dengannya kita bisa
melakukan napak tilas sejarah kehidupan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam?!
Mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam?! Semua ini
adalah niatan baik yang melatar belakangi perayaan tersebut, tapi seperti yang
dikatakan oleh Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu kepada orang-orang yang
didapatinya di masjid Kufah, ketika itu mereka terbagi-bagi dalam
kelompok-kelompok majlis dzikir, majlis memuji dan mengingat Allah Ta'ala, kata
Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu , "Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan
tapi tidak mendapatkannya". Hal ini karena mereka melakukan suatu yang tidak
pernah dikerjakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam semasa hidupnya.
Ungkapan kegembiraan yang tepat, yakni napak tilas kehidupan Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mempelajari sunnah-sunnah beliau caranya
dengan menerapkan ajarannya dalam kehidupan kita, dengan belajar ilmu agama
diantaranya sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bukan dengan
cara-cara yang baru yang hanya dikenal setelah berlalunya tiga generasi yang
mulia, shahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in.
Adapun perayaan Maulid ini tidak dikenal di masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam, generasi pertama ummat ini dan tidak dikenal dalam mazhab yang empat,
Hanafiah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hambaliyah. Lantas siapa orang yang
menanggung dosa pertama dari bid'ah maulid ini? Orang yang pertama kali
mengadakan perayaan ini adalah kelompok Fatimiyyun disebut juga Ubaidiyyun
ajaran mereka adalah kebatinan. Adapun perkataan bahwa yang pertama kali
mengadakan perayaan tersebut adalah seorang raja yang adil yang alim yaitu Raja
Mudhofir, penguasa Ibril adalah pernyataan yang salah. Abu Syamah menjelaskan
bahwa Raja Al Mudhofir (hanya) mengikuti jejak Asy-Syaikh Umar bin Muhammad Al
Mulaa tokoh kebatinan dan dialah orang yang pertama kali mengadakan perayaan
tersebut.
Kelompok yang membolehkan Maulid Nabi beralasan;
1- Perayaan Maulid merupakan ekspresi kebahagiaan dan kegembiraan dengan
diutusnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan hal ini termasuk perkara yang
diharuskan karena Al-Qur’an memerintahkannya sebagaimana yang terdapat di dalam
firman Allah Ta’ala :
"Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka
bergembira" (Qs. Yunus; 58).
Ayat ini memerintahkan kita untuk bergembira disebabkan rahmat-Nya, sedangkan
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah rahmat Allah yang paling
agung, Allah Ta’ala berfirman :
"Dan tidaklah kami utus kamu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam" (Qs.
Al Anbiya'; 107)
Sanggahannya :
Bergembira dengan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kelahirannya,
syariat-syariatnya pada umumnya adalah wajib. Dan penerapannya di setiap
situasi, waktu dan tempat, bukan pada malam-malam tertentu.
Kedua, pengambilan dalil surat Yunus ayat ke 58 untuk melegalkan acara Maulid
nyata sangat dipaksakan. Karena para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir, Ibnu
Katsir, Al Baghawi, Al Qurthubi dan Ibnul Arabi serta yang lainnya tidak
seorangpun dari mereka yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmat
pada ayat tersebut adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, namun yang
dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang diterangkan dalam ayat
sebelumnya.
"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". (Qs. Yunus; 57).
Ibnu Katsir menerangkan; "Firman Allah Ta’ala "rahmat dan petunjuk bagi
orang-orang yang beriman" maksudnya dengan Al-Qur’an, petunjuk dan rahmat bisa
didapatkan dari Allah Ta’ala. Ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang
beriman dengan Al-Qur'an dan membenarkannya serta meyakini kandungannya. Hal
ini senada dengan firman Allah Ta’ala;
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman" (Qs. Al Israa'; 82).
2- Syubhat kedua, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri mengagungkan
hari kelahirannya, beliau mengekspresikan hal itu dengan berpuasa, seperti
diriwayatkan dari Abu Qatadahradiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab; "Pada hari
itu aku dilahirkan, aku diutus atau diwahyukan kepadaku".
Sanggahannya :
Hadist Abu Qatadah radiyallahu 'anha di atas adalah hadits yang shahih, tapi
menjadikannya sebagai dalil bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
merayakan sendiri kelahirannya, ini yang salah. Kesimpulannya dalilnya shahih,
pendalilannya salah. Dikarenakan beberapa alasan;
1- Diriwayatkan dalam hadits yang lain, bahwa puasa beliau Shallallahu 'Alaihi
Wasallam di hari Senin, karena amalan di hari itu diperlihatkan kepada Allah
Ta'ala.
2- Kalau ucapan mereka benar, kenapa tidak ada seorang pun dari shahabat
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang memahami sabda diatas dengan
pemahaman demikian. Kemudian datang orang-orang belakangan yang memahami puasa
beliau di hari Senin sebagai ekspresi pengagungan terhadap hari kelahirannya,
lalu dari situ mereka mengadakan acara yang dinamakan Maulid!! Apakah mereka
lebih mengetahui kebenaran dari para shahabat yang mulia?! Dan kebenaran itu
luput dari mereka dan hanya diketahui oleh orang yang datang belakangan?!
Sungguh ajaib logika orang-orang pintar akhir zaman, hasbunallahu wani'mal
wakiil.
3- Syubhat ketiga, perkataan mereka : Perayaan Maulid memang bid'ah, tapi
bid'ah hasanah (baik)."
Sanggahannya :
Cukup dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Setiap bid'ah adalah
sesat". Dan seperti itu pulalah yang disampaikan Ibnu Umar radiyallahu 'anhuma
kepada orang-orang yang memiliki anggapan salah ini, kata beliau; "Setiap
bid'ah adalah sesat walaupun orang menganggapnya baik".
Al Imam Malik rahimahullah berkata; "Barangsiapa yang membuat bid'ah di dalam
Islam yang dianggapnya baik, ia telah menuduh Muhammad Shallallahu 'Alaihi
Wasallam khianat dalam menyampaikan risalah. Karena Allah Ta'ala berfirman;
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu". (Qs. Al
Maidah; 3), maka segala sesuatu yang bukan agama dihari itu, bukan pula agama
di hari ini.
Apabila ajaran maulid adalah petunjuk dan kebenaran, kenapa Rasululah SAW dan
para shahabatnya, tidak pernah menganjurkannya?! Apakah mereka tidak tahu?!
Kemungkinan yang lain, mereka tahu tapi menyembunyikan kebenaran. Dua
kemungkinan ini sama batilnya!! Alangkah dzalim apa yang mereka perbuat kepada
nabinya dengan alasan cinta kepadanya?!
__________________________________________________________
Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru. Kini dengan update real-time,
panggilan video, dan banyak lagi! Kunjungi http://id.messenger.yahoo.com/
--
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com