Ass.wr.wb,
Saya sudah hampir 3th di tanah Saudi.... Ulama disini rupanya tidak membenarkan 
adanya hal semacam peringatan Maulid Nabi SAW dan yang lainnya.....
di mesjidpun yg terdengar hanya untuk adzan, dalam mesjid jamaah baca AlQur'an 
dalam hati, sehingga ada rasa khusu dan konsen untuk tafakur, berbeda dengan di 
tanah air seperti menjelang shalat Jum'at hingar bingar dengan pembacaan kitab 
suci.... (mungkin cara dakwah ? sebab ada teman jadi mua'laf juga karena sering 
dengar adzan dan melihat orang berbondong-bondong ke mejid saat Jum'at)
Tulisan Kang Dedy menambah pengetahuan Agama buat saya, sebab ketika ke sini 
(Saudi Arabia) sangat berbeda cara-cara ritual keagamaannya dengan di kita...
Terima kasih, saya yakin yang benar adalah benar .... dan salah itu tak bisa 
disamarkan agar nampak jadi benar, saya yang bodoh jangan sampai memahami yang 
sepertinya benar tetapi mendapat kebenaran yang hakiki...sesuai yang Rasulullah 
SAW ajarkan dan untuk diamalkan oleh kita...Semoga
wassalam.wr.wb.





________________________________
Dari: Dedy Iskandar <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 24 Februari, 2010 14:52:38
Judul: [mediamusliminfo] Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam


Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam 
 
Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada 
junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para 
sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah.

Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) 
peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ; mengadakan 
ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai 
macam perbuatan lainnya.

Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul / pesta 
pesta pada malam kelahiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga 
malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam 
agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula 
Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun 
paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap 
sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan 
benar benar menjalankan syariatnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barang siapa mengada adakan ( sesuatu hal baru ) dalam urusan ( agama ) kami 
yang ( sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak".

Dalam hadits lain beliau bersabda :
"Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah 
Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah 
dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, 
serta jauhilah perbuatan baru ( dalam agama ), karena setiap perbuatan baru itu 
adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat" ( HR. Abu Daud dan Turmudzi ).

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita 
senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu 
pula mengerjakannya.

Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya :
"Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang 
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, 
sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya" ( QS. Al Hasyr 7 ).
 
"Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan 
ditimpa cobaan atau adzab yang pedih" ( QS. An Nur, 63 ).
 
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri 
tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) 
Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah" ( QS. Al 
Ahzab,21 ).
 
"Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang 
Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, 
Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan 
bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal 
didalamnya, itulah kemenangan yang besar" ( QS, At taubah, 100 ).
 
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan 
kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu" ( QS. Al 
Maidah, 3 ).

Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan 
melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, 
seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah 
belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum 
menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang 
yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh 
Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan 
diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya 
yang besar, lantaran menentang Allah ta’ala, begitu pula ( lantaran ) menentang 
Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi 
hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara 
keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta 
menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh 
ummatnya sejelas jelasnya.

Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhiAllah ‘anhu 
bahwa beliau bersabda:
"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar 
menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, 
dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah 
ditunjukkan kepada mereka" ( HR. Muslim ).

Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam 
adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi 
mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya 
diantara mereka itu semua.

Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari 
agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau 
beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para 
sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan 
dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan ( 
bid’ah ), dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan 
kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua 
hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits 
tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya :
"Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al 
Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi 
wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan 
(bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan" ( HR. Muslim ).

Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan 
masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk 
mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa 
sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya.

Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan 
hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti 
berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, 
bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat 
musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka 
beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat 
mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya 
dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa 
sallam.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :
"Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan 
Ulil Amri ( pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat 
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul ( 
Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang 
demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya" ( QS. An 
nisa’, 59 ).
 
"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah ) kepada 
Allah ( yang mempunyai sifat sifat demikian ), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah 
aku bertawakkal dan kepada –Nya- lah aku kembali" ( QS. Asy syuro, 10 ).

Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada 
kitab Allah ( Al Qur’an ), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita 
agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang 
dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an ) memberi penjelasan pula kepada kita 
bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama umat ini. 

Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang 
dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran 
agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala kepada kita, dan 
diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan 
bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) 
dikerjakan oleh sahabat sahabatnya.

Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah 
merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari 
hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani. Hal ini jelas bagi mereka yang mau 
berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam 
membahas ; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, 
melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan 
RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak 
layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut 
banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al 
Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi 
diketahui atas dasar dalil dalil syara’.
Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang orang orang Yahudi dan 
Nasrani :
"Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun ) akan 
masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu 
(hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti 
kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar" ( QS. Al Baqarah, 111 ).
 
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi ini, 
niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak lain hanyalah 
mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah menyangka-nyangka" ( 
QS. Al An’am, 116 ).

Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini – selain bid’ah –tidak lepas 
dari kemungkaran kemungkaran, seperti bercampurnya laki laki dan perempuan ( 
yang bukan mahram ), pemakaian lagu lagu dan bunyi bunyian, minum minuman yang 
memabukkan, dan kejahatan kejahatan lainya yang serupa.

Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu perbuatan 
syirik besar, dengan sebab mengagung agungkan Rasulullah secara berlebih 
lebihan atau mengagung agungkan para wali, berupa permohonan do’a, pertolongan 
dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan para wali mengetahui hal hal yang 
ghoib, dan macam macam kekufuran lainnya yang sudah biasa dilakukan orang 
banyak dalam upacara malam peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi 
wa sallam itu.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan dalam 
agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian".
 
"Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang 
Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka 
katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah" ( HR. Bukhori dalam kitab shohihnya, 
dari hadits Umar, Radliyallahu ‘anhu ).

Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang betul 
betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah ini, bahkan 
sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat Jum’at dan sholat 
jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan sekali kali tidak 
mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau mereka itu telah mendatangkan 
kemungkaran yang besar, disebabkan karena lemahnya iman kurangnya berfikir, dan 
berkaratnya hati mereka, karena bermacam macam dosa dan perbuatan maksiat. 
Marilah kita sama sama meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan 
karuniaNya kepada kita dan kaum muslimin.

Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara 
peringatan tersebut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, oleh kerena 
itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini merupakan kebatilan yang 
paling besar, dan kebodohan yang paling nyata. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa 
sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak 
berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan 
umatnya, tetapi beliau tetap tinggal didalam kuburnya sampai datang hari 
kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin 
) di sisi TuhanNya, itulah tempat kemuliaan.

Firman Allah dalam Al Qur’an :
"Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian 
sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan ( dari kuburmu ) di hari kiamat" ( 
QS. Al Mu’minun, 15-16 ).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan / dibangunkan diantara ahli 
kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at 
dan diizinkan memberikan syafa’at".

Ayat dan hadits diatas, serta ayat ayat dan hadits hadits yang lain yang 
semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mayat 
mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah datangnya hari 
kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama, tidak ada 
pertentangan diantara mereka.

Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah seperti 
ini, dan waspada terhadap apa apa yang diada adakan oleh orang orang bodoh dan 
kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan khurafat khurafat, yang tidak 
diturunkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Hanya Allah lah sebaik baik 
pelindung kita, kepada-Nyalah kita berserah diri dan tidak ada kekuatan serta 
kekuasaan apapun kecuali kepunyaan-Nya.

Sedangkan ucapan sholawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan pendekatan 
diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan yang baik, 
sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :
"Sesungguhnya Allah dan Malaikat malaikatNya bersholawat kepada Nabi, hai orang 
orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan 
penghormatan kepadanya" ( QS. Al Ahzab, 56 ).

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan 
bersholawat ( memberi rahmat ) kepadanya sepuluh kali lipat."

Sholawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkad jika 
diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama mewajibkannya 
pada tasyahud ahir di setiap sholat, dan sunnah muakkadah pada tempat lainnya, 
diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa 
sallam, pada hari Jum’at dan malamnya, sebagaimana hal itu diterangkan oleh 
hadits hadits yang cukup banyak jumlahnya.

Allah lah tempat kita memohon, untuk memberi taufiq kepada kita sekalian dan 
kaum muslimin, dalam memahami agama Nya, dan memberi mereka ketetapan iman, 
semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap kosisten dalam mengikuti 
sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena Dialah MahaPemurah dan MahaMulia, 
semoga pula sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi 
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
 
Sumber: Darussalaf
 
 Tambahan:
  
Apa yang salah dari perayaan maulid Nabi, bukankah acara tersebut merupakan 
ungkapan kegembiraan kita dengan Nabi kita sendiri?! Dengannya kita bisa 
melakukan napak tilas sejarah kehidupan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam?! 
Mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam?! Semua ini 
adalah niatan baik yang melatar belakangi perayaan tersebut, tapi seperti yang 
dikatakan oleh Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu kepada orang-orang yang 
didapatinya di masjid Kufah, ketika itu mereka terbagi-bagi dalam 
kelompok-kelompok majlis dzikir, majlis memuji dan mengingat Allah Ta'ala, kata 
Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu , "Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan 
tapi tidak mendapatkannya". Hal ini karena mereka melakukan suatu yang tidak 
pernah dikerjakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam semasa hidupnya.
 
Ungkapan kegembiraan yang tepat, yakni napak tilas kehidupan Rasulullah 
Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mempelajari sunnah-sunnah beliau caranya 
dengan menerapkan ajarannya dalam kehidupan kita, dengan belajar ilmu agama 
diantaranya sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bukan dengan 
cara-cara yang baru yang hanya dikenal setelah berlalunya tiga generasi yang 
mulia, shahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in.
 
Adapun perayaan Maulid ini tidak dikenal di masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi 
Wasallam, generasi pertama ummat ini dan tidak dikenal dalam mazhab yang empat, 
Hanafiah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hambaliyah. Lantas siapa orang yang 
menanggung dosa pertama dari bid'ah maulid ini? Orang yang pertama kali 
mengadakan perayaan ini adalah kelompok Fatimiyyun disebut juga Ubaidiyyun 
ajaran mereka adalah kebatinan. Adapun perkataan bahwa yang pertama kali 
mengadakan perayaan tersebut adalah seorang raja yang adil yang alim yaitu Raja 
Mudhofir, penguasa Ibril adalah pernyataan yang salah. Abu Syamah menjelaskan 
bahwa Raja Al Mudhofir (hanya) mengikuti jejak Asy-Syaikh Umar bin Muhammad Al 
Mulaa tokoh kebatinan dan dialah orang yang pertama kali mengadakan perayaan 
tersebut.

Kelompok yang membolehkan Maulid Nabi beralasan;
1- Perayaan Maulid merupakan ekspresi kebahagiaan dan kegembiraan dengan 
diutusnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan hal ini termasuk perkara yang 
diharuskan karena Al-Qur’an memerintahkannya sebagaimana yang terdapat di dalam 
firman Allah Ta’ala :
"Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka 
bergembira" (Qs. Yunus; 58).
Ayat ini memerintahkan kita untuk bergembira disebabkan rahmat-Nya, sedangkan 
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah rahmat Allah yang paling 
agung, Allah Ta’ala berfirman :
"Dan tidaklah kami utus kamu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam" (Qs. 
Al Anbiya'; 107)

Sanggahannya :
Bergembira dengan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kelahirannya, 
syariat-syariatnya pada umumnya adalah wajib. Dan penerapannya di setiap 
situasi, waktu dan tempat, bukan pada malam-malam tertentu.
Kedua, pengambilan dalil surat Yunus ayat ke 58 untuk melegalkan acara Maulid 
nyata sangat dipaksakan. Karena para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir, Ibnu 
Katsir, Al Baghawi, Al Qurthubi dan Ibnul Arabi serta yang lainnya tidak 
seorangpun dari mereka yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmat 
pada ayat tersebut adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, namun yang 
dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang diterangkan dalam ayat 
sebelumnya.
"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian 
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk 
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". (Qs. Yunus; 57).

Ibnu Katsir menerangkan; "Firman Allah Ta’ala "rahmat dan petunjuk bagi 
orang-orang yang beriman" maksudnya dengan Al-Qur’an, petunjuk dan rahmat bisa 
didapatkan dari Allah Ta’ala. Ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang 
beriman dengan Al-Qur'an dan membenarkannya serta meyakini kandungannya. Hal 
ini senada dengan firman Allah Ta’ala;
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi 
orang-orang yang beriman" (Qs. Al Israa'; 82).

2- Syubhat kedua, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri mengagungkan 
hari kelahirannya, beliau mengekspresikan hal itu dengan berpuasa, seperti 
diriwayatkan dari Abu Qatadahradiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 
'Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab; "Pada hari 
itu aku dilahirkan, aku diutus atau diwahyukan kepadaku".

Sanggahannya :
Hadist Abu Qatadah radiyallahu 'anha di atas adalah hadits yang shahih, tapi 
menjadikannya sebagai dalil bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam 
merayakan sendiri kelahirannya, ini yang salah. Kesimpulannya dalilnya shahih, 
pendalilannya salah. Dikarenakan beberapa alasan;
1- Diriwayatkan dalam hadits yang lain, bahwa puasa beliau Shallallahu 'Alaihi 
Wasallam di hari Senin, karena amalan di hari itu diperlihatkan kepada Allah 
Ta'ala.
2- Kalau ucapan mereka benar, kenapa tidak ada seorang pun dari shahabat 
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang memahami sabda diatas dengan 
pemahaman demikian. Kemudian datang orang-orang belakangan yang memahami puasa 
beliau di hari Senin sebagai ekspresi pengagungan terhadap hari kelahirannya, 
lalu dari situ mereka mengadakan acara yang dinamakan Maulid!! Apakah mereka 
lebih mengetahui kebenaran dari para shahabat yang mulia?! Dan kebenaran itu 
luput dari mereka dan hanya diketahui oleh orang yang datang belakangan?! 
Sungguh ajaib logika orang-orang pintar akhir zaman, hasbunallahu wani'mal 
wakiil.

3- Syubhat ketiga, perkataan mereka : Perayaan Maulid memang bid'ah, tapi 
bid'ah hasanah (baik)."

Sanggahannya : 
Cukup dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Setiap bid'ah adalah 
sesat". Dan seperti itu pulalah yang disampaikan Ibnu Umar radiyallahu 'anhuma 
kepada orang-orang yang memiliki anggapan salah ini, kata beliau; "Setiap 
bid'ah adalah sesat walaupun orang menganggapnya baik".

Al Imam Malik rahimahullah berkata; "Barangsiapa yang membuat bid'ah di dalam 
Islam yang dianggapnya baik, ia telah menuduh Muhammad Shallallahu 'Alaihi 
Wasallam khianat dalam menyampaikan risalah. Karena Allah Ta'ala berfirman;
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan 
kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu". (Qs. Al 
Maidah; 3), maka segala sesuatu yang bukan agama dihari itu, bukan pula agama 
di hari ini.

Apabila ajaran maulid adalah petunjuk dan kebenaran, kenapa Rasululah SAW dan 
para shahabatnya, tidak pernah menganjurkannya?! Apakah mereka tidak tahu?! 
Kemungkinan yang lain, mereka tahu tapi menyembunyikan kebenaran. Dua 
kemungkinan ini sama batilnya!! Alangkah dzalim apa yang mereka perbuat kepada 
nabinya dengan alasan cinta kepadanya?!
 
________________________________
 Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! 
-- 
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com


      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

-- 
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com

Kirim email ke