(ERAMUSLIM) DALAM sebuah kesempatan kultum Tarawih pada Ramadhan 1431 H di 
Masjid
 Pogung Raya, Yogyakarta, Prof. Dr. Yunahar Ilyas dengan bahasa tuturnya
 yang memikat, lugas, cenderung humoris, tetapi sangat serius; membahas 
tentang “Kenapa Rokok Haram?” Saya mencoba menulis ulang uraian bernas 
beliau dengan bahasa saya sendiri dan tambahan materi di sana sini pada 
catatan ringkas berikut ini.
Dalil pertama, bisa Anda baca langsung di bungkus rokoknya. “MEROKOK 
DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN 
KEHAMILAN DAN JANIN”. Itu dalilnya, kata beliau.
Dalil kedua, karena merokok itu berpotensi membunuh diri sendiri. 
Hanya lebih lambat saja dari gantung diri, menembak kepala dengan 
pistol, atau menenggak racun serangga satu botol, beberapa di antara 
metode bunuh diri yang terbukti ampuh saat ini.
Sedangkan setiap hal yang membahayakan diri sendiri dan membahayakan 
orang lain adalah haram. (HR Ibnu Majah, Malik, Al-Hakim, Al-Haitsami, 
Ad-Daaruquthni, dan Al-Baihaqi). Al-Quran pun mengharamkan seorang 
muslim bunuh diri, dengan alasan apa pun. “Dan janganlah kamu membunuh 
dirimu.” (QS An-Nisaa’ [4]: 29).
Seorang muslim yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, maka 
ia kafir di penghujung hayatnya karena berputus asa dari rahmat Allah. 
Dilaknat oleh seluruh penduduk langit dan kekal di neraka jahannam.
Apakah para rokoker (baca: perokok) tidak menyadari tentang 
aktivitas bunuh diri perlahan-lahannya itu?
Dalil ketiga, sekitar 75% yang terkena dampak kejahatan rokok adalah 
perokok pasif. Mereka yang tidak merokok tapi terpaksa harus mengisap 
asap rokok karena tak bisa dihindari. Ini data akurat yang tak pantas 
ditertawakan tanpa dosa oleh para rokoker. Sebagian besar korbannya 
adalah istri, anak, mertua, keponakan, dan orang-orang terdekat Anda 
sendiri. Teman-teman Anda yang tidak merokok tapi karena harus 
berhubungan dengan Anda karena pekerjaan atau aktivitas lain sehingga 
mau tak mau mengisap asap rokok yang Anda bakar tanpa mau kompromi. 
Artinya Anda sangat berpotensi membunuh mereka dengan 
perantara asap rokok Anda yang menyebar ke mana-mana dan terhisap orang 
lain.
Padahal, “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena 
orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di 
muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS 
Al-Maa’idah [5]: 32).
Camkanlah! Jangan merasa sok suci dulu jika melihat seorang perampok 
membunuh seorang korbannya dengan cara membacok, karena bisa jadi 
Anda—para rokoker—membunuh lebih banyak orang tak berdosa 
secara perlahan tanpa pernah Anda sadari dengan cara yang lebih sadis 
dari bacokan benda tajam perampok itu.
Dalil keempat, merokok itu membakar uang. Uang kok dibakar? Daripada 
dibakar, mengapa tidak Anda gunakan untuk kebaikan? Buat infak, sedekah,
 amal jariah, atau amal kebaikan lainnya.
Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. (QS 
Adz-Dzaariyaat [51]: 56). Ibadah itu tidak hanya shalat, zakat, puasa 
Ramadhan, dan naik haji ke Tanah Suci. Namun setiap apa pun yang kita 
perbuat. Apakah membakar uang itu termasuk ibadah yang bernilai pahala 
di sisi-Nya?
Hmm, mungkin Anda para rokoker ada yang bersedia 
menjelaskannya?
Seorang teman saya—(baca: penulis), yang kini bekerja di sebuah 
perusahaan Engineer and Constructors berkantor pusat di India 
dengan gaji per bulan di atas sepuluh juta rupiah, suatu hari pernah 
berujar, “Uang rokokku setahun berkisar antara 6-8 juta lho....” Usianya
 pada akhir November tahun ini akan menyentuh angka 30. Jika ia diberi 
usia hingga 60 tahun dan tak berhenti merokok, maka uang yang sukses 
dibakarnya berkisar antara 180-240 juta rupiah. Jumlah uang yang tidak 
sedikit, bukan? Cukup untuk berkurban seekor sapi gemuk setiap‘Idul 
Qurban tiba selama 30 tahun berturut-turut.
Maka mari kita coba mengulang kembali pelajaran matematika sederhana 
sejenak. Jika dari 200 sekian juta penduduk Indonesia saat ini, 20% saja
 di antaranya menjadi rokoker, dengan asumsi setiap rokoker 
menghabiskan uang sepuluh ribu rupiah per hari, dalam setahun uang yang 
dibakar penduduk negeri tercinta ini adalah: 40.000.000 orang x Rp. 
10.000,- x 365 hari = Rp. 146.000.000.000.000,-
Bisa minta tolong Anda bacakan berapa besaran nilai rupiah yang 
sukses dibakar secara berjamaah oleh penduduk negeri gemah 
rimah loh jenawi namun ternyata masuk kategori negara miskin di 
dunia ini dalam setahun?
Ternyata ada sebagian rokoker yang tetap ngeyel, 
masih berpikir sangat egois dan semau gue. Begini argumen salah
 seorang rokoker bermahzab ngeyel itu, mengutip pernyataan 
seorang professor Mikrobiologi dan Biologi Molekuler yang dikatakan 
temannya yang katanya seorang dokter spesialis, “Suatu hari
 nikotin mungkin menjadi alternatif yang mengejutkan 
sebagai obat TBC yang susah diobati. Senyawa ini menghentikan 
pertumbuhan kuman TBC dalam sebuah tes laboratorium, bahkan bila 
digunakan dalam jumlah kecil saja.”
Coba sidang pembaca perhatikan kata-kata yang sengaja saya tebalkan 
pada argumen rokoker bermahzab ngeyel di atas. Dua 
kata pertama adalah suatu hari. Kapan suatu 
hari itu waktunya tiba? Masih ditambah dengan kata ketiga, mungkin.
 Oh my God! Bertaruh dengan sesuatu yang belum jelas waktunya 
dan belum tentu kebenarannya? Sementara mudharat-nya sudah jelas-jelas 
nyata dan tampak di depan mata? Sebuah pola pikir macam apa itu bagi 
seorang muslim yang memahami dan meyakini bahwa setiap aktivitasnya di 
dunia ini adalah sebuah pertaruhan antara surga dan neraka?
Di penghujung kultum, Prof. Dr. Yunahar Ilyas menutup uraiannya—yang 
membuat jamaah shalat Isya malam itu tertawa getir, tentang tiga manfaat
 merokok. Apa saja itu?
Pertama, membuat rumah sang rokoker aman. Karena saat jam 
dua dini hari ketika segerombolan perampok akan menyatroni kediamannya, 
ia masih terjaga. Masih terbatuk-batuk hebat dengan gembiranya. Maka 
gerombolan maling itu pun mengurungkan niat mereka.
Kedua, membuat sang rokoker awet muda. Karena rata-rata di 
antara mereka sudah harus menghadap Sang Pencipta di saat masih usia 
muda.
Ketiga, mengurangi jumlah orang miskin. Karena lebih dari 50% rokoker
 berasal dari kalangan menengah ke bawah (miskin). Jadi semakin 
banyak rokoker, maka jumlah orang miskin di negeri ini makin berkurang.
Demikian sedikit yang dapat saya bagi di ruang pembaca ini. Saran 
saya bagi Anda para rokoker, silahkan Anda bebas merokok di mana pun 
Anda mau, tetapi mohon Anda membawa sebuah alat khusus—mungkin
 semacam plastik transparan berukuran jumbo, kemudian Anda masuk ke 
dalamnya setiap kali akan merokok—sehingga 100% asap rokok Anda hisap 
sendiri.http://www.eramuslim.com/oase-iman/setta-ss-kenapa-rokok-tidak-haram.htm



Allahu a’lam bish-shawab.



Yogyakarta, 24 September 2o1o 11:44 p.m.

Sebuah upaya menghindari jadi perokok pasif dari seorang yang anti rokok
 dari sudut pandang seorang muslim. 

-- 
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com

Kirim email ke