PURUHITO (Pito) wrote:
> > - Sistem yang lebih sering down (duit keluar untuk down time)
> > - Mentalitas yang cenderung menjadi pembajak dan tak menghargai karya
> > orang (
> > kerugian etika dan image persh)
>
> Suka atau tidak, terus terang dalam satu hal, para pembajak
> itu...they really do us a favor! Thanks to them, now we can run many
> computer programs in a cheaper way.
Wah kalau gitu sama dengan Thanks kepada penjarah.. bisa beli barang
murah
hasil jarahan...h.he.he.hehe
Tetapi ada satu lagi efek dari "kita dikenal sebagai bangsa pembajak
software"
Cerita ini asli bukan fiktif. Waktu itu saya sedang ada di Paderborn
(markasnya
Siemens), ketemu salah seorang yang bekerja di IT di sana. Mereka
cerita banyak
merekrut tenaga TI dari luar. Misal India dsb.
Saya karena selalu berusaha "memperkenalkan tenaga TI Indonesia" jadi
bertanya
kenapa mereka nggak "memakai tenagan TI Indonesia yang mampu dan
berharga sama".
Jawab mereka sangat di luar dugaan.
Yah.. mungkin mereka bisa tapi untuk sifatnya yang rutin-rutin. Kalau
untuk program
inovatif mereka sepertinya tidak punya idea baru. Sebagian besar
nyontek, atau
hanyak kutak-katik tampilan dan keindahan.
Saya nggak rela dibilang seperti itu, tetap ngotot.. "nggak banyak
mahasiswa
saya dan alumni di tempat saya bermutu dan bisa melakukan inovasi"..
Jawab mereka...."bagaimana saya bisa percaya....? lha catatan pembajakan
program
di Indonesia tinggi sekali... dari lingkungan yang kurang menghargai hak
cipta
itu bagaimana diharapkan bisa ada programmer yang memiliki inovasi
tinggi...?"
Silahkan simpulkan sendiri untung rugi dari pembajakan itu...
I M W
* Gunadarma Mailing List --------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti : 'unsubscribe' ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]