Sekedar berbagi pengalaman, saya punya 386 dan sebuah harddisk "ngambek" 1,7 GB (nggak mau jadi primary master). Iseng-iseng saya coba pasang di 386 yang ternyata BIOS-nya nggak mampu menghandle di atas 1 GB. Well, padahal saya udah berharap 386 ini bisa diisi Linux untuk dijadikan NT Server. Ok, saya tetap nekat. Pasang itu harddisk + CDROM. Boot pake disket. Alhamdulillah, kernel ngenalin itu harddisk, tentu dengan ukuran yang sebenarnya 1,7 GB. Instalasi lewat CDROM terus berlanjut sampai selesai. Pada saat instalasi ada tawaran membuat boot disk. Tawaran tsb tentu tidak ditolak, karena HD saya emang nggak dikenal BIOS, jadi proses boot harus lewat disket. Nggak apa-apa. Rencananya NT Server eh LiBox server (Linux Box) ini akan dinyalakan 1x24 jam 7 hari seminggu, jadi boot dari disket cuma pada awalnya aja. Instalasi selesai, sekarang saatnya restart dan menggunakan disket boot yang sudah dibuat. Hup, alhamdulillah, kini 386 dengan RAM 8MB telah dikenal dalam LAN sebagai NT server. Fungsinya nggak macem-macem : file server ama print server. Rencananya mau dibuat pop mail juga. Kasus berikutnya. Saya ditawarin 486 dengan monitor Acer 33D dengan harga yang miriiing sekali (Rp 700.000). Nggak ragu-ragu saya bayar itu barang. Sayangnya harddisknya nggak ada. Lusanya saya ke Mangga Dua (Dusit). Pertama ke lantai dua, tanya HD yang paling kecil. Ternyata kini HD terkecil ukurannya 4,3 GB. Terus saya tanya ke lantai 3 langganan saya. Jawabannya sama. Ya udah langsung aja dibayar itu HD, dan saya pulang. Karena udah sore, dan udah kecape'an saya putuskan untuk mencoba HD tsb esok harinya. Di hari H ini saya pasang HD 4,3 GB tadi di 486DX4-100. Jalanin autodetect di BIOS. Walaah !!! Cuma dikenal sebagai HD 82 MB !!! Ditipu ? Nanti dulu. Mungkin ini bios kuno kayak 386 tadi. Ok, nggak apa-apalah sebagai 82 MB dulu. Saya boot 486 pake linux yang di disket. Alhamdulillah, kernel mengenalnya sebagai HD 4,3 GB. Instalasi Linux dilanjutkan dengan satu kecemasan : jangan-jangan 486 ini boot-nya pake disket juga. Padahal 486 bukan sebagai server - tapi sebagai desktop - yang nantinya sering dimatikan. Setelah instalasi berlangsung beberapa lama, tiba saatnya LILO (Linux Loader) menawarkan diri untuk dipasang. Harap-harap cemas juga, karena LILO biasanya gagal untuk beberapa HD yang kena kasus. Alhamdulillah, ternyata LILO mau dipasang di master boot record. Logikanya 486 ini bisa diboot lewat harddisk. Restart ... Pada saat restart, BIOS masih mengenalnya sebagai HD yang 82 MB. Setelah mengecek memori, BIOS mulai memanggil sistem operasi yang ada di HD. Keluarlah pesan memalukan ini : LI 01 01 01 01 ... itu 01 muncul tak berkesudahan. Putus asa ? Belum. Saya inget bahwa sistem operasi tertentu seperti UNIX jangan diset dengan modus LBA, tetapi modus NORMAL aja. Setelah restart dan masuk ke BIOS, saya jalankan autodetect, ya ! masih 82 MB, tapi kini saya pilih yang NORMAL. Save, restart... Alhamdulillah, kata-kata mutiara itu akhirnya muncul juga : LILO: Langsung saya teken ENTER dan wuzzz... kernel jalan dan bisa "mounting" harddisk 4,3 GB di 486. Begitu banyak sumber daya yang bisa terselamatkan, dan mengapa masih menggunakan yang lain ? Owo Sugiana * Gunadarma Mailing List ----------------------------------------------- * Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id * Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Administrator: [EMAIL PROTECTED]
