pengalaman menarik, 
boleh tahu nggak harga hardisk yang 4.3 giga , merk apa dan belinya di
toko apa saya pengin beli
thanks

On Mon, 24 May 1999, Owo Sugiana wrote:

> Sekedar berbagi pengalaman,
> 
> saya punya 386 dan sebuah harddisk "ngambek" 1,7 GB (nggak mau jadi
> primary master). Iseng-iseng saya coba pasang di 386 yang ternyata
> BIOS-nya nggak mampu menghandle di atas 1 GB. Well, padahal saya udah
> berharap 386 ini bisa diisi Linux untuk dijadikan NT Server.
> 
> Ok, saya tetap nekat. Pasang itu harddisk + CDROM. Boot pake disket.
> Alhamdulillah, kernel ngenalin itu harddisk, tentu dengan ukuran yang
> sebenarnya 1,7 GB. Instalasi lewat CDROM terus berlanjut sampai selesai.
> Pada saat instalasi ada tawaran membuat boot disk. Tawaran tsb tentu tidak
> ditolak, karena HD saya emang nggak dikenal BIOS, jadi proses boot harus
> lewat disket. Nggak apa-apa. Rencananya NT Server eh LiBox server
> (Linux Box) ini akan dinyalakan 1x24 jam 7 hari seminggu, jadi boot dari
> disket cuma pada awalnya aja.
> 
> Instalasi selesai, sekarang saatnya restart dan menggunakan disket boot
> yang sudah dibuat. Hup, alhamdulillah, kini 386 dengan RAM 8MB telah
> dikenal dalam LAN sebagai NT server. Fungsinya nggak macem-macem : file
> server ama print server. Rencananya mau dibuat pop mail juga.
> 
> Kasus berikutnya.
> 
> Saya ditawarin 486 dengan monitor Acer 33D dengan harga
> yang miriiing sekali (Rp 700.000). Nggak ragu-ragu saya bayar itu barang.
> Sayangnya harddisknya nggak ada. Lusanya saya ke Mangga Dua (Dusit).
> Pertama ke lantai dua, tanya HD yang paling kecil. Ternyata kini HD
> terkecil ukurannya 4,3 GB. Terus saya tanya ke lantai 3 langganan saya. 
> Jawabannya sama. Ya udah langsung aja dibayar itu HD, dan saya pulang.
> Karena udah sore, dan udah kecape'an saya putuskan untuk mencoba HD tsb
> esok harinya.
> 
> Di hari H ini saya pasang HD 4,3 GB tadi di 486DX4-100. Jalanin autodetect
> di BIOS. Walaah !!! Cuma dikenal sebagai HD 82 MB !!! Ditipu ? Nanti dulu.
> Mungkin ini bios kuno kayak 386 tadi. Ok, nggak apa-apalah sebagai 82 MB
> dulu. Saya boot 486 pake linux yang di disket. Alhamdulillah, kernel
> mengenalnya sebagai HD 4,3 GB. Instalasi Linux dilanjutkan dengan satu
> kecemasan : jangan-jangan 486 ini boot-nya pake disket juga. Padahal 486
> bukan sebagai server - tapi sebagai desktop - yang nantinya sering
> dimatikan. Setelah instalasi berlangsung beberapa lama, tiba saatnya LILO
> (Linux Loader) menawarkan diri untuk dipasang. Harap-harap cemas juga,
> karena LILO biasanya gagal untuk beberapa HD yang kena kasus.
> Alhamdulillah, ternyata LILO mau dipasang di master boot record. Logikanya
> 486 ini bisa diboot lewat harddisk.
> 
> Restart ...
> 
> Pada saat restart, BIOS masih mengenalnya sebagai HD yang 82 MB. Setelah
> mengecek memori, BIOS mulai memanggil sistem operasi yang ada di HD.
> Keluarlah pesan memalukan ini :
> 
> LI 01 01 01 01 ...
> 
> itu 01 muncul tak berkesudahan.
> Putus asa ? Belum. Saya inget bahwa sistem operasi tertentu seperti UNIX
> jangan diset dengan modus LBA, tetapi modus NORMAL aja. Setelah restart
> dan masuk ke BIOS, saya jalankan autodetect, ya ! masih 82 MB, tapi kini
> saya pilih yang NORMAL. Save, restart...
> 
> Alhamdulillah, kata-kata mutiara itu akhirnya muncul juga :
> 
> LILO:
> 
> Langsung saya teken ENTER dan wuzzz... kernel jalan dan bisa "mounting"
> harddisk 4,3 GB di 486.
> 
> Begitu banyak sumber daya yang bisa terselamatkan, dan mengapa masih
> menggunakan yang lain ?
> 
> 
> 
> 
> Owo Sugiana
> 
> 
> * Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
> * Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
> * Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
> * Administrator: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 



* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke