On Tue, 22 Feb 2000, Mark Rompies wrote:
> > Apalagi setelah melihat trend yang ada di sekolah sini...8-)
> 
> berbeda jauh dgn trend di Gunadarma yah :)

Justru yang saya lihat malah "mirip" dengan trend di Gunadarma.  (dari
konseptual level).  

> hmm..kalau berkonsep ujian online murni dan belajar mandiri saya setuju.
> Namun kalau tujuannya dibuat untuk "ujian pengulangan mata kuliah yg
> tidak/blom lulus", rasanya sih ini start yang buruk untuk mencapai tujuan
> ujian/kuliah online.

Kembali sekolah dihadapkan pada dilema yang "dihasilkan" oleh masyarakat
kita.  Salah satunya adalah "persyaratan IP" (bukan 192.168.1.1 he..he),
dalam bekerja, sehingga seperti buah simalakama bagi mahasiswa.  

Misal mahasiswa di tahun 1 dapat nilai jelek pada mata kuliah tertentu
(misal database).  Kemudian setelah itu di tahun 3 dia kerja dan jadi
"jago database", lulus dan ingin melamar kerja.  Nah misalkan dia ngelamar
lowongan database, tentu nilai itu akan dilihat dan akan jadi kendala.
Bisa-bisa si lulusan nggak diterima, padahal "jago database".

Justru itu UM ini bisa seperti "penyelemat" gara-gara pola penerimaan
kerja di Indonesia yang berorientasi IP.  Tetapi memang seperti halnya
"obat", tetap ada "efek sampingannya".

Seperti yang saya sebutkan terdahulu, Ujian Mandiri ini BISA POSITIF kalau
mahasiswanya MENJADIKANnya positif.

- IP menjadi baik (cocok untuk mencari kerja).
- Tetapi harus bertanggung jawab dengan nilai tersebut. 

Tetapi dapat juga menjadi BURUK atau negatif (tergantung mahasiswa juga),
yaitu :

- Asal dapat IP baik
- Masa bodoh dengan tanggung jawab pribadi, dst...

Sebetulnya SETIAP SISTEM UJIAN pun seperti itu.  (misal di Jerman ini.
mungkin mbah dukun bisa memberikan contoh, tentang... SEBAIK APAPUN
(theoretical) tentang sistem ujian (di Jerman rata-rata pakai ujian
lisan), tetap akan TERGANTUNG MAHASISWAnya.  Ujian TIDAK DAPAT
menggambarkan kemampuan SISWA.  Justru itu saya lebih setuju ASSIGNMENT
daripada UJIAN.  

> Bagaimana kalau pertanyaannya diubah menjadi:
> Gimana solusi "pengulangan mata kuliah yang tidak/blom lulus" yang turut
> mendidik mahasiswa supaya bertanggung jawab terhadap nilainya?

SANGAT SULIT.. (seperti contoh di atas), karena SELAMA MAHASISWA merasa
bahwa DIA adalah DI LUAR LINGKARAN PENDIDIKAN, maka memakai SISTEM
PENDIDIKAN APAPUN, dan SISTEM UJIAN APAPUN akan sama saja.

Mungkin yang dapat dilakukan suatu Universitas hanyalah melakukan
"guidance" sehingga misal melakukan rentang waktu ujian dsb...

> Sebab hadirnya UM di Gunadarma justru tepat di tengah situasi dan kondisi
> dimana rata-rata mahasiswanya mencari nilai, bukan mencari ilmu.

He..he.he. sama dengan kehadiran Linux di tengah orang lagi kebingungan
masalah pembajakan dan ekonomi, tapi tetap BANYAK YANG ENGGAN berganti.
Artinya... tetap KEPADA KEINGINAN PENGGUNA (dalam hal ini MAHASISWA), 

Terus terang saya malah setuju seperti ini.  Sehingga akhirnya timbul
diskusi macam model ini.  Dan SUKUR-SUKUR membangkitkan KESADARAN
MAHASISWA, tentang NILAI tersebut.    

Jadi sepertinya memang pilihan berada di kita, turut serta dalam
perubahan, atau menanti sampai situasi baik, dan baru turun ke
gelanggang.  (tapi koy kayak free rider).  

 
> Repotnya lagi, kok pada implementasinya Gunadarma terkesan memanfaatkan
> situasi di atas untuk mencari duit menggunakan UM, sebab pembayaran
~~~~~~~~~~~~

He..he. seperti tanggapan orang terhadap Linuxer yang katanya
"memanfaatkan situasi"....he.he.he... artinya tetap ini "pandangan orang
lain" dan bukan hal sebenarnya.

> mahasiswa yang hendak meng-UM tidak menggunakan blanko pembayaran resmi.
                                    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hal ini adalah faktor implementasi (di luar faktor konseptual Ujian
Mandiri sendiri),  jadi memang beberapa implementasi harus dibenahi
(seperti yang saya sebtukan di email sebelumnya)

- Misal metoda pembayaran
- Metoda pembuatan soal
- Metoda pengambilan ujian dsb...

> Berhubung situasi dan kondisi mahasiswa di Gunadarma sedemikian rupa, saya
> berharap penuh bahwa pihak Kampus untuk selanjutnya bertindak lebih
> strategis dalam memberikan kemudahan bagi mahasiswanya.

Saat ini cukup sulit, jadi sebetulnya Sekolah akan menerima situasi yang
dilematis

- Di satu sisi ingin menganggap mahasiswa sudah cukup dewasa (menentukan
  resiko dan apa yang dilakukannya sendiri

- Di satu sisi ternyata mahasiswa "ingin" tidak dianggap dewasa.

Kalau saya koq lebih cenderung "doronglah" mahasiswa sehingga menjadi
dewasa.  Karena memang sudah "dewasa" (lha namanya aja maha...siswa).

> di sini saya mau belajar mencari ilmu, malah disodorinnya cara ndapetin
> nilai mulu :D
> Btw, bukankah kata Pak Made, dalam mengajar kita toh blajar juga?

Sebetulnya sama juga.. di Jerman kalau kita mau cuma dapat "nilai" juga
bisa...8-).  Di amerika juga bisa, (kalau mau dapat gelar doang)...

Masalah utamanya hanyalah "tuntutan dan persepsi masyarakat" serta
tanggung jawab "mahasiswa".

Saat ini Uni atau dosen lebih tepat berfungsi sebagai FASILITATOR, bukan
INSTRUKTOR.

IMW


* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke