Mudah membuat lulusan Uni yang berkualitas
                ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dari obrolan ttg Ujian Mandiri (UM) saya berfikir tentang metoda
"pamungkas" yang dapat membuat lulusan yang berkualitas. 8-) (sengaja saya
tulis pas week-end biar bisa jadi bahan renungan di akhir minggu).

Dalam pikiran saya, jika sekedar menginginkan lulusan (alumni) yang
berkualitas (pinter-pinter) itu mudah bagi suatu institusi pendidikan.  

Caranya :

-  Bikin seleksi yang ketat untuk masuk Universitas itu, sehingga
   akan tersaring dengan sendirinya mahasiswa yang "pinter-pinter". 
   (sesuai pepatah Jawa.. bibit, bebet, bobot.. syarat bibit telah
   terpenuhi).

-  Dalam perjalanan pemberian perkuliahan dari tahun pertama hingga
   saat terakhir kelulusan... bikin "Ujian" yang sulit-sulit
   lulusnya.  Jika perlu kalau gagal dan IP rendah langsung di DO (tidak
   boleh melanjutkan sehingga tidak bisa lulus).  Dengan cara ini tentunya
   yang dapat lulus sampai akhir adalah mereka yang "bibit"-nya baik, dan
   "tabah" serta lolos seleksi di tiap ujian.  Hukum Darwin akan berlaku
   "Seleksi alam".

-  Supaya mahasiswa tetap "memilih" Uni tersebut dan tidak pindah ke Uni
   lainnya.  Bikin "beayanya" rendah, dan fasilitasnya lengkap sehingga
   para mahasiswanya merasa "sangat beruntung" berada di Uni tersebut, dan
   mati-matian mempertahankan diri agar tidak Drop Out.  Jadi walau seburuk
   apapun sang dosen mengajar dan ujiannya tak berhubungan, tetap aja
   sang mahasiswa belajar "mati-matian" agar lulus.  Soal darimana biaya
   dapat itu urusan belakang (untungnya kadang ada subsidi dari
   pemerintah)

Dengan tiga "senjata" tersebut. suatu institusi pendidikan, dapat dengan
mudah "menghasilkan" lulusan yang berkualitas (anda tak perlu
membandingkan atau menyamakan dengan praktek yang ada di Uni-Uni yang ada
di Indonesia, kalau ada yang menerapkan resep di atas 8-).

Dengan cara di atas Uni tak perlu memperhatikan, apakah sang dosen
mengajar dengan baik, apakah mekanisme lainnya terjadi dengan baik. Apakah
kurikulumnya sudah benar, dan sesuai dengan kondisi jaman. Karena dengan
sendirinya lulusannya akan tersaring, dan yang lulus hanyalah mereka yang
"beruntung" ataupun "baik".

Cara di atas memang belum menjamin bahwa setiap lulusannya akan selalu
pintar (faktor X, keberuntungan, akal-akalan dan sebagainya dapat
bermain). Tetapi jelas jauh lebih memperingan "pekerjaan" atau "pikiran"
si pelaksana institusi pendidikan.  Nggak perlu mikir-mikir bagaimana
membuat agar mahasiswa dapat belajar dan akhirnya mengerti, cukup berikan
saja "ujian yang berat atau sistem ujian yang berat".. 8-) (maaf mungkin
ini terlalu disimplifikasi).

Tetapi kita tentunya berfikir lebih jauh lagi.. apakah itu tujuan suatu
institusi pendidikan..? karena :

- Bukankah tugas pendidikan membuat orang yang bodoh jadi "pintar" (bukan
  cuma menyaring orang pintar).  Kalau begitu apa bedanya Uni dengan
  saringan. 

- Bagaimana nasib "calon mahasiswa" lainnya yang kebetulan tidak pintar
  sehingga tidak masuk seleksi..?? Apakah mereka harus berhenti dan 
  tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi, padahal masyarakat
  masih begitu "menuntut" adanya gelar.

- Bagaimana nasib mahasiswa yang termasuk tidak pintar, apakah mereka
  tidak perlu diajak menjadi pintar, sehingga dibiarkan saja tidak lolos
  seleksi alami menjelang lulus.  Padahal mereka diharapkan dapat lulus
  atau bertambah pintar...??

Justru karena pertimbangan di ataslah.. sehingga perlu dilakukan
"pertimbangan-pertimbangan" lainnya dalam penyelenggaraan sistem
pendidikan bukan sekedar mencari "orang pintar" di antara "calon mahasiswa
yang pintar". Apalagi ditambah sumberdaya yang makin terbatas misal

- Sulit mencari orang yang bersedia jadi dosen.  

- Sulit mencari "perusahaan" atau personal yang rela membantu dana
  pendidikan.

- Harga kebutuhan penyelenggaraan pendidikan yang tinggi dan tidak
  adanya "discount khusus". Di negara maju kita mengenal kalau beli
  peralatan atau buku untuk Universitas kita mendapat potongan harga
  lebih dari 20% 8-).  Tapi tampaknya belum terjadi di Indonesia.
  Saya membeli komputer melalui RVS dapat discount 8-)

Kembali lagi ke "kebebasan akademik" ala Jerman yang tak ada kaitannya
dengan politik...(yaitu setiap orang bebas/boleh belajar).  Tentunya tidak
bisa diterapkan begitu saja di Indonesia (karena keterbatasan sumber dana)
bisa-bisa banyak mahasiswa abadi.  Tetapi kita bisa menarik sesuatu hal
dari sini yaitu :

       Bukankah merupakan hak setiap orang menjadi pintar.

Kalau memang dia tergolong yang tergolong tak terlalu pintar dari sananya,
mengapa dia harus "dihambat" untuk terus belajar....? (metoda nomor 1 dari
resep di atas).  Bukankah "tugas Uni" atau lembaga pendidikan memberikan
jalan agar orang tersebut "sadar" dan terus belajar.  Kondisi ini makin
menempatkan bahwa Uni hanyalah "fasilitator" agar orang dapat bertambah
pintar. 

Sedangkan yang membuat dirinya bertambah pandai adalah dirinya sendiri
(mahasiswa itu sendiri).  Justru itulah saya merasa memahami kesulitan dan
kompleksitas yang ada pada Universitas yang memiliki sumber dana terbatas
(tanpa bantuan pemerintah), dengan "bibit" yang terbatas (dalam arti tidak
memberikan seleksi yang super ketat), tetapi dapat memberikan lulusan yang
"lumayan" (bahkan ada juga yang lulusannya sangat baik), daripada
Universitas yang sudah menerima subsidi besar dari pemerintah, dengan
bibit yang baik tetapi jumlah lulusan yang baiknya memiliki ratio yang
kecil daripada mahasiswa yang masuknya (artinya lebih kepada fungsi
saringan belaka).

Dengan pandangan itu pulalah saya rasa tidak pada tempatnya menilai "mutu"
lembaga pendidikan sekedar dari mutu "lulusan", tetapi juga terkait
bagaimana cara lembaga pendidikan itu "memintarkan" orang.  

IMW

===========================================================================
I Made Wiryana (0521-106 5328)            Universitas Gunadarma - Indonesia
Rechnernetze und Verteilte Systeme  http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made
Universitaet Bielelfeld                                   Check my e-zine :
[EMAIL PROTECTED]    http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/majalah
Pendukung  Open Source Campus Agreement - legal, cerdik, mandiri dan hemat
===========================================================================









* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke