Sungguh amat disayangkan yaaa...
Baca cerita kehidupan seorang pemulung... Kadang kita yang bekerja dengan
mendapatkan penghasilan berjuta2 saja kadang lupa sama yang namanya
sedekah...
Orang atas selalu menggembar-gemborkan akan memerangi kemiskinan... Mana
coba deh? Mereka baru bersedih dan terpukul setelah ada kejadian ini...
Dikit2 minta uang... Puskesmas kan sebagian yang mendanai adalah
pemerintah... Dan puskesmas itu dikhususkan u/ kaum miskin. Okelah harga
yang ditawarkan murah, tp kalo ada kasus spt ini gimana? Masa anak sakit,
sang bapak penghasilan sangat minim sekali, terus dimintai uang lagi?
Phew...
Sedih... asli sedih...
Semoga Bapak supriono diberi ketabahan dan kesabaran dalam menjalani
kehidupan yang keras ini. Amin...
******************************************************************
"Dengki itu memakan kebaikan, sebagaimana api membakar kayu. Sedangkan
sedekah itu menghapus kesalahan, sebagaimana air memadamkan api"
(Hadist Riwayat Ibnu Majah)
******************************************************************
----- Original Message -----
From: "nyeTRUM" <[EMAIL PROTECTED]>
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya
harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta-Bogor pun geger Minggu
(5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono(38 thn)
tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan
si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di
Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta,lantas dibawa ke kantor
polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor
polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi
belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM
untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang
muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan
Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya
uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya
hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp
10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong
perlintasan rel KA Cikini.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama
sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh
(6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya
terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan
nafas terakhirnya pada Minggu (5/6)pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di
depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di
sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan
kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak
mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan
layak,apalagi sampai harus menyewa ambulans.
Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan
menyorong gerobak berisikan mayat itu dari
Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di
kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan
dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah
si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang
tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si
sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.
Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri
Supriono dan menanyakan anaknya.
Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan
dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono di
kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM
dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi
dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang
dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku.
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah
meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul
16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena
tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki
menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil mengandeng Muriski
Orang orang yang melihat memberikan uang sekadarnya untuk ongkos
perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan
untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena
masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap
sesama. "Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita
bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga
Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat
tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia",ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz,mengatakan peristiwa itu
seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi
orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi
kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.
------------------------------------------------------------------------
The information contained in or attached to this email is intended only
for the use of the individual or entity to which it is addressed. If you
are not the intended recipient, you are not authorised to and must not
disclose, copy, distribute, or retain this message or any part of it.
If you have received this email in error please notify us immediately
by Sending email to : [EMAIL PROTECTED]
________________________________________
Website : http://www.m3-community.org
Forum : http://board.m3-community.org
Milis : http://milis.m3-community.org
Info : [EMAIL PROTECTED]
Feedback : [EMAIL PROTECTED]
Admins : [EMAIL PROTECTED]
---
Supported by:
Indosat : http://www.indosat.com
Support : [EMAIL PROTECTED]
DutaHost : http://www.dutahost.net
--- Message has been scanned by Telkomsel Antivirus System ---