Rekan-rekan, FYI

----------------------------------------------------------------------------------------


Penggendong Mayat Ketemu - 09/06/2005, 09:08 WIB - KOMPAS Cyber Media -
Metropolitan

Warta Kota

Supriono si penggendong mayat anaknya di KRL akhirnya ditemukan. Ia
mengubur anaknya di Menteng Pulo. Supriono alias Supri tertangkap basah
tengah menggendong putrinya yang sudah jadi mayat, Nur Khaerunisa yang
berusia 3 tahun, di stasiun Tebet pada Minggu (5/6). Mayat itu dibungkus
sarung, sementara mukanya ditutupi dengan kaus.
Kala itu, Supri berniat mengubur si kecil ke perkampungan pemulung di
Bogor, dengan menumpang kereta rel listrik (KRL) karena tak punya duit
untuk menyewa mobil jenazah. Pekerjaan Supri sebagai pemulung barang bekas
dari kampung ke kampung tak memungkinkan untuk menyisakan duit.
Supri berikut mayat putrinya dan putra sulungnya, Muriski Saleh (6),
dipaksa ke kantor Polsektro Tebet dan selanjutnya harus kembali ke RSCM
untuk memastikan bahwa Khaerunisa bukan korban kejahatan. Supri menjelaskan
bahwa anaknya itu meninggal di atas gerobak 07.00 karena muntaber. Supri
hanya sekali mengobatkan Khaerunisa ke Puskesmas Setia Budi.
karena itu ia ngotot menolak anaknya diautopsi. Akhirnya RSCM menyodorkan
surat pernyataan yang harus ditandatangani Supri bahwa ia benar-benar
menolak anaknya diautopsi.
Dengan bekal surat itu ia berniat menguburkan anaknya. Tapi belum tahu
kemana. Hatinya ragu, karena waktu itu jarum jam menunjuk pukul 16.00.
Terlalu sore untuk ke Bogor. Dan sejak itu pula, Warta Kota kehilangan
jejak Supri.tiga hari tim Warta Kota menelusuri pangkalan pemulung dari
Cikini hingga Manggarai. Perkampungan pemulung di Bogor plus beberapa
stasiun juga dijelajah, tapi Supri tak ditemukan. Padahal, banyak pembaca
Warta Kota berniat memberikan bantuan kemanusiaan buat supri.Berkat bantuan
warga Manggarai, Jakarta Selatan, Supri akhirnya bisa ditemukan. Ia
menumpang di rumah rumah petak di pinggiran Ciliwung milik Ibu Sri di
Manggarai Utara IV, Tebet. Di sanalah, enam tahun lalu, Supri pernah
mengontrak sebulan. Info bahwa Supri berada di sana disampaikan oleh salah
seorang pelanggan Warta Kota, Ny Anna Purnomo. Setahun lalu, Supri cabut
dari Manggarai setelah berpisah dengan istrinya, Sariyem. Ia menggelandang
sebagai pemulung bersama si kecil Nur Khaerunisa dan Muriski, dengan modal
gerobak. "Saya mangkal di depan Gereja (Isa Almasih) Cikini. Di sana ada
halte. Kalau lagi hujan, gerobak saya bawa ke halte, biar anak-anak tidak
kehujanan," kata Supri. Keputusan Supri untuk pergi ke Manggarai muncul
tiba-tiba. Sewaktu keluar dari kamar mayat RSCM sekitar pukul 16.10, Supri
masih ingin melanjutkan perjalanan ke Bogor untuk mengubur anaknya, dengan
menumpang KRL. Supri berjalan dengan menggendong mayat anaknya, ditemani
Muriski, ke Jalan Salemba tepatnya ke lampu merah di seberang St Carolus.
Lama ia termenung karena sudah terlalu sore untuk ke Bogor. "Tiba-tiba
terlintas dalam pikiran bahwa saya pernah tinggal di Manggarai. Saya
putuskan ke Manggarai, minta tolong warga di sana untuk mengubur anak
saya," katanya. Ia lantas menyetop bajaj dan bayar Rp 5.000 untuk ke
Manggarai. Supri, Muriski, dan mayat si kecil tiba di rumah Ibu Sri di
Manggarai pukul 18.15. Rumah mungil itu hanya berjarak dua meter dari bibir
Ciliwung. Dia lalu mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu tersebut.
"Saat itu saya sedang mandi, tiba-tiba anak saya memanggil saya, katanya
ada tamu. Ternyata Supri. Saat itu dia menggendong anaknya dengan kain
sarung. Kepala anaknya ditutup kaus warna putih,  sementara kakinya
terjuntai. Dia bilang ke saya katanya 'bu tolong saya'. Karena saya kira
dia butuh uang akhirnya saya bergegas mengambil uang," ujar Sri yang
mengaku masih mengingat wajah Supri meski sudah setahun pindah dari
rumahnya.
Ketika Sri hendak mengambil uang, tiba-tiba Supri mengatakan bahwa anak
yang digendongnya telah meninggal. Sri kaget. Setelah berpikir sejenak, Sri
memberitahu warga. Dengan cepat, warga berdatangan untuk mengurusi mayat
bocah tersebut. Bendera kuning tanda berkabung dipasang di sudut-sudut
jalan. Sementara lapak penjualan motor di tepi Jalan Manggarai Utara VI
disekat dengan kain untuk meletakkan jenazah Khaerunisa. Sebab, sudah
terlalu malam untuk mengubur jenazah. Warga RT 08/RW 01 berkumpul. Mereka
berbagi tugas, sebagian meminta surat ke RW dan kelurahan untuk keperluan
penguburan. Tapi tetek bengek administrasi baru kelar Senin (7/6) pagi.
"Sebagian mengurus jenazah seperti memandikan dan  kasih kain kafan.
Sedangkan biaya perizinan hingga penguburan jenazah didapat dari sumbangan
sukarela dari warga sekitar yang bersimpati," ujar Jono, warga yang juga
bekerja sebagai petugas memandikan mayat di kawasan tersebut.
Menurut Supriatna yang ikut mengurusi jenazah Khaerunisa, biaya yang
dibutuhkan untuk penguburan jenazah Khaerunisa kurang lebih Rp 600.000.
Biaya ke Dinas Pemakaman Rp 350.000 dan biaya lainnya
semisal membeli kain kafan dan lain-lain sekitar Rp 250.000.
Setelah diinapkan semalam, jenazah Khaerunisa dimakamkan di taman pemakaman
umum (TPU) Menteng Pulo Blok A5 di Jalan Casablanca, Pal Batu, Tebet, Senin
(6/6). "Khaerunisa akhirnya bisa dikubut sekitar pukul 11.00," ujar
Supriatna.
Dalam pemakaman itu, kakan Khaerunisa, Nuriski Saleh juga ikut serta.
Semula Nuriski belum menyadari bahwa adiknya telah meninggal. Ketika dia
melihat adiknya dimasukkan ke liang lahat, Nuriski bertanya kepada ayahnya,
mengapa adiknya dikubur. "Nuriski baru tahu bahwa adiknya sudah meninggal
setelah upacara pemakaman selesai.
Saya baru bisa menjelaskan saat pemakaman itu," ujar Supri.
(mur/pro)

salam,
Rahman
http://blog.boleh.com/fathulrahman/
FS : [EMAIL PROTECTED]



                    [EMAIL PROTECTED]

                    t                        To:
[EMAIL PROTECTED]
                    Sent by:
<[EMAIL PROTECTED]>
                    [EMAIL PROTECTED]       cc:

                    groups.com               Subject:     [Lautan-Quran]
Link Berita - Kompas
                                              Cyber Media


                    06/09/2005 10:18

                    AM

                    Please respond to

                    Lautan-Quran









                    [EMAIL PROTECTED] mengirimkan
                    bagi Anda sebuah link berita dari
                    KOMPAS Cyber Media
                    yang berjudul :


                         Penggendong Mayat Ketemu


                       Supriono si penggendong mayat
                    anaknya di KRL akhirnya ditemukan.
                     Urung naik KRL ke Bogor, Supriono
                      kuburkan anak di Menteng Pulo.


                    dengan pesan :


                    " fyi, "




                    Copyright@ 2002 KOMPAS Cyber Media,
                    All right reserved privacy policy.


________________________________________
Website  : http://www.m3-community.org
Forum    : http://board.m3-community.org
Milis    : http://milis.m3-community.org
Info     : [EMAIL PROTECTED]
Feedback : [EMAIL PROTECTED]
Admins   : [EMAIL PROTECTED]

---
Supported by:
Indosat  : http://www.indosat.com
Support  : [EMAIL PROTECTED]

DutaHost : http://www.dutahost.net

Kirim email ke