Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1431H, Selamat Beresolusi, Selamat Berhijrah, dan Selamat memperhatikan apa yang telah kita perbuat untuk hari esok :)

    -- A. Yahya Sjarifuddin.


Bacaan menjelang tahun baru.
Yang ditulis dari seorang sahabat di milis KIBAR

Resolusi Tahun Baru : Nushrah

Oleh: R. Fathoni

Bismillahirrahmanir rahim

“Maka, tunggu apa lagi, segeralah kita susun resolusi tahun baru kita masing masing: resolusi nushrah; sebuah resolusi yang tanpa kehadirannya, mustahil resolusi hijrah bisa terlaksana.”

Sebenarnya tidak ada perintah di dalam agama Islam untuk memperingati atau merayakan pergantian tahun; entah itu tahun syamsiyah atau tahun komariyah. Yang ada adalah perintah untuk bermuhasabah, sejenak meluangkan waktu untuk melihat, mengevaluasi apa yang telah kita lakukan sebagai bekal menempuh kehidupan di masa - masa yang akan datang.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok , dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (AlHasyr (59); 18)

Ada baiknya di momen pergantian tahun seperti hari hari ini sejenak kita melihat dengan jernih apa saja yang telah kita lakukan sepanjang tahun 2008 M/ 1429 H ini. Hasil dari evaluasi akhir tahun ini adalah sebuah resolusi awal tahun: sebuah komitmen untuk menjalankan sebuah perilaku atau gaya hidup baru yang lebih baik. Ukuran baik dan tidak baik tentu saja sangat subyektif, sehingga ayat tersebut di atas diikuti dengan kriteria kebaikan dari sudut pandang hakikat kehidupan manusia di muka bumi sebagai seorang hamba Allah:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (AlHasyr (59); 19)

Segala rencana perbaikan diri yang akan kita canangkan sesungguhnya tidak ada artinya sama sekali untuk diri kita jika kita tidak menempatkannya dalam konteks ketundukan kita kepada sang Khalik. Keinginan baik untuk menjadi lebih baik dalam kehidupan bisa berakibat buruk jika kita hanya berkutat terhadap diri kita dan melupakan Allah yang telah menciptakan kita.

Pergantian tahun baru komariyah biasanya juga dikaitkan dengan peristiwa hijrah. Tahun di mana Rasulullah SAW dan para sahabat beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah ditetapkan oleh Umar bin Khatthab sebagai tahun pertama dalam kalender resmi kekhalifahan Islam.

Hijrah sendiri berarti berpindah; yang dalam konteks sekarang adalah berpindah ke kehidupan yang lebih baik. Lebih baik dalam arti meninggalkan kebiasaan buruk, atau menambah kebiasaan baik dari kebaikan yang selama ini kita jalankan. Demikianlah nasehat untuk mengikuti semangat hijrah ini disampaikan oleh para ulama sebagai tambahan nasehat muhasabah dan resolusi tersebut di atas.

Hanya saja jarang para khatib yang menjelaskan bahwa proses hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat beliau dari Mekah itu tidak bisa dipisahkan dari kesediaan muslimin Anshor Madinah menampung dan menolong muhajirin Mekkah. Tidak ada hijrah tanpa nushrah. Maka Allah swt mengabadikan dan memuji kabaikan kaum Muhajirin dan Anshar ini:

Dalam bermuhasabah dan membuat resolusi kadang kita terlalu focus kepada “hijrah” yang akan kita lakukan; seolah lupa bahwa sebuah proses hijrah memerlukan proses nushrah; bahwa harus ada orang – orang yang menjadi anshar agar muhajirin bisa menempuh hidup baru yang lebih baik. Kita seolah lupa bahwa disamping menjadi muhajirin, kita bisa berperan sebagai Anshar; yaitu orang orang yang membantu orang lain yang ingin meninggalkan kehidupan mereka yang sekarang menuju kehidupan yang lebih baik.

Itulah barangkali mengapa banyak resolusi dicanangkan tetapi hanya sedikit yang bisa direalisasikan. Semua orang sibuk menyusun resolusi hijrah tapi hampir tidak ada yang menyusun resolusi nushrah. Maka marilah kita budayakan resolusi nushrah; yaitu memberikan bantuan kepada saudara saudara kita agar bisa berhijrah dari kehidupan kelam menuju kehidupan penuh cahaya.

Bagaimana menjadi Anshar?

Secara teknis, nushrah bermula dari “care”; perhatian, kepedulian, simpati dan empati terhadap orang lain. Dimulai dari orang orang terdekat kita: keluarga, tetangga, rekan sejawat hingga orang orang yang “jauh”: orang yang kadang luput dari perhatian orang banyak: kaum marjinal, atau yang termarjinalkan, orang lemah secara social dan ekonomis, yang karena kondisi itu mereka tidak bisa maksimal dalam menjalani hidup .

Dari kepedulian di atas kemudian kita wujudkan dalam aksi nyata: “share “; berbagi materi dan kesejahteraan. Ada sama di makan, tak ada sama dirasakan. Demikian kalimat bijak dari orang tua kita. Sharing materi dan kesejahteraan inilah inti dari amalan nushrah. Orang orang yang lemah secara social dan ekonomis tidak butuh retorika. Mereka tidak butuh janji. Mereka tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh makan, dan pada saat yang bersamaan mereka butuh penghormatan.

Bagaimana care dan share itu bisa diwujudkan ? Perhatikanlah karakter kaum Anshar yang diabadikan oleh Allah berikut ini:

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman [kaum Ansar] sebelum [kedatangan] mereka [Muhajirin], mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka [orang Muhajirin]; dan mereka mengutamakan [orang-orang Muhajirin], atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan [apa yang mereka berikan itu]. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. “ (AlHasyr (59) : 9)

Ada beberapa keyword pada ayat diatas: hidup mapan, beriman, mencintai muhajirin, ikhlas berbagi kesejahteraan, dan tidak kikir. Lima hal tersebut membuat kaum anshar memiliki sifat tertinggi dalam kehidupan sosial: “ii-tsar”; yaitu mengutamakan kesejahteraan orang lain di atas diri mereka sendiri.

Maka, tunggu apa lagi, segeralah kita susun resolusi tahun baru kita masing masing: resolusi nushrah; sebuah resolusi yang tanpa kehadirannya, mustahil resolusi hijrah bisa terlaksana.

Wallahu a’lam bis-shawab,

Kitchener,

http://navitasari.multiply.com/reviews/item/41

Rahasia Hijrah

Dikirim oleh DR. Amir Faishol Fath pada 16 Desember 2009 @ 13:14 di Editorial | Tidak ada Komentar

dakwatuna.com - Hijrah adalah keniscayaan. Allah swt. membangun sistem di alam ini berdasarkan gerak. Pelanit bergerak, berjalan pada porosnya. Allah berfirman: ”Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 38). Imam Syafii’i menggambarkan dalam sya’irnya yang sangat indah bahwa air yang tergenang akan busuk dan air yang mengalir akan bening dan jernih. Seandainya matahari berhenti di ufuk timur terus menerus, niscaya manusia akan bosan dan stres.

Benar, hijrah sebuah keniscayaan. Karena dalam diam tersimpan segala macam keburukan. Mobil yang didiamkan berhari-hari akan karat dan hancur. Jasad yang didudukkan terus menerus akan mengidap banyak penyakit. Itulah rahasia mengapa harus olah raga. Syaikh Muhammad Al Ghazali berkata: ”Bahwa orang-orang yang nganggur adalah manusia yang mati. Ibarat pohonan yang tanpa buah para penganggur itu adalah manusia-manusia yang wujudnya menghabiskan keberkahan.”

Terbukanya kota Mekah adalah keberkahan hijrah. Seandainya Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya tetap berdiam di kota Mekah, tidak pernah terbayang akan lahir sebuah kekuatan besar yang kemudian menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Sungguh berkat hijrah ke kota Madinah kekuatan baru umat Islam terbangun, yang darinya kepemimpinan Islam merambah jauh, tidak hanya melampaui kota Mekah, pun tidak hanya melampaui Jazirah Arabia, melainkan lebih dari itu melampaui Persia dan Romawi.

Ada beberapa dimensi hijrah yang harus kita wujudkan dalam hidup kita sehari-hari di era modern ini, agar kita medapatkan keberkahan:

Pertama, dimensi personal, bahwa setiap mukmin harus selalu lebih baik kwalitas keimannya dari hari kemarin. Karenanya dalam Al-Qur’an Allah swt. selalu menggunakan kata ahsanu amala (paling baiknya amal). Maksudnya bahwa tidak pantas seorang mukmin masuk di lubang yang sama dua kali. Itulah sebabnya mengapa sepertiga Al-Qur’an menggambarkan peristiwa sejarah. Itu untuk menekankan betapa pentingnya belajar dari sejarah dalam membangun ketaqwaan. Dari sini kita paham mengapa Allah swt. dalam surah Al Hasyr:18 menyandingkan perintah bertaqwa dengan perintah belajar dari sejarah: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kedua, dimensi sosial, bahwa seorang mukmin tidak pantas berbuat dzalim, mengambil penghasilan secara haram dan hidup bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Seorang mukmin harus segera hijrah dari situasi sosial semacam ini. Seorang mukmin harus segera membangun budaya takaful –saling menanggung-. Itulah rahasia disyari’atkannya zakat. Bahwa di dalam harta yang kita punya ada hak orang lain yang harus dipenuhi. Allah berfirman : ”Walladziina fii amwaalihim haqqun ma’luum (dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.”) (QS. Al Maarij: 24).

Dan ini telah terbukti dalam sejarah bahwa membangun budaya takaful akan menyelesaikan banyak penyakit sosial yang akhir-akhir ini sangat mencekam. Terlalu tingginya angka kemiskinan dan penganggguran di tengah negeri yang kaya secara sumber alam, sungguh suatu pemandangan yang naif. Namun ini tentu ada sebabnya, di antaranya yang paling pokok adalah karena kedzaliman dan ketidak jujuran. Dari sini jelas bahwa hijrah yang harus dibuktikan saat ini adalah komitmen untuk tidak lagi mengulangi budaya korupsi. Sebab dari budaya inilah berbagai penyakit sosial lainnya tak terhindarkan.

Ketiga, dimensi dakwah, bahwa seorang mukmin tidak boleh berhenti pada titik sekedar mengaku sebagai seorang mukmin secara ritual saja, melainkan harus dibuktikan dengan mengajak orang lain kepada kebaikan. Ingat bahwa syetan siang dan malam selalu bekerja keras mengajak orang lain ke neraka. Syetan berkomitmen untuk tidak masuk neraka sendirian.

Dari sini saatnya seorang mukmin harus bersaing dengan syetan. Ia harus hijrah dari sikap pasif kepada sikap produktif. Produktif dalam arti bekerja keras mengajak orang lain ke jalan Allah. Sebab tidak pantas seorang mukmin bersikap pasif. Pasifnya seorang mukmin bukan saja akan membawa banyak bakteri pelemah iman, melainkan juga membawa bencana bagi kemanusiaan.

Itulah sebabnya mengapa seorang pemikir muslim abad ini dari India Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi menulis sebuah buku yang sangat terkenal dan menomental: maadzaa khasiral aalam bin khithaathil muslimiin ( betapa dahsyatnya kerugian yang dialami dunia ketika umat Islam tidak berdaya).

Ini benar, bahwa dunia ini memang membutuhkan umat Islam yang berdaya. Umat Islam yang produktif. Bukan umat Islam yang pasif. Dan kini kita menyaksikan dengan mata kepada betapa kerusakan merejalela melanda kemanusiaan akibat dari lemahnya umat Islam. Bandingkan dengan dulu ketika Umar Bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz memimpin dunia. Inilah hijrah yang harus segara kita buktikan. Wallhu a’lam bishshawab.



-----------------------| Milis Opja |-------------------------- Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau --Khalil Gibran. Foto-foto Ekslusif FGO 2004 ada di: http://www.opja.or.id/gallery Arsip Milis Opja di: http://www.opja.or.id/

Kirim email ke