*Ditulis oleh Pauline "Olla" Leander*
Baru saja kemarin sore, anak perempuan saya yang beranjak dewasa membacakan
berita di media online tentang Wacana Mendikbud yang bermaksud
“menyekolahkan” anak-anak Indonesia sepanjang hari.
Saya hanya menjawab spontan, “Bagus dong, sama seperti kamu kan!”. Jawaban
serta merta seperti ini bisa dengan mudah memberikan gambaran saya PRO
mana. Sisi KIRI yang setuju anaknya diam di sekolah sepanjang hari, atau
sisi KANAN yang sibuk mengumpulkan fakta mengenai Finlandia dengan jam
belajar 5 jam sehari nya namun berhasil dalam membangun sistem pendidikan
paling maju.
Baru hari ini saya menyadari tengah terjadinya perdebatan sengit mengenai
wacana ini. Bahkan di email sudah langsung beredar petisi memperjuangkan
anak-anak memperoleh hak nya untuk bermain dan bukan melulu belajar
seharian. Baiklah, fast and good respon dari para pembela hak anak. Namun
saya mau mengajak untuk memandang dari sisi lain :
Sederhananya begini sih … saya menjawab “SETUJU” anak-anak ada disekolahkan
sepanjang hari karena ada alasannya. Anak-anak saya sudah mengalaminya
sendiri! Bangun pukul 5 pagi selama belasan tahun, bersekolah, dan tiba di
rumah kembali pukul 5 sore setelah menerjang kemacetan kota Bogor dengan
RAGA LELAH. Namun … hati GEMBIRA!!
Laaaa kok bisa gembira? Yup … karena di sekolah yang berfasilitas lengkap
itu (ada lapangan bola luas, lapangan basket, lapangan futsal, disertai
kebun tanaman dan area berisi sejumlah hewan peliharaan kambing dan ayam)
mereka didorong untuk jumpalitan melakukan segala aktivitas! Catat ya …
fasilitas lengkap bukan fasilitas mewah!
BANGUN JAM 5 PAGI. Biasanya kemudian dilanjutkan dengan (wajib) sarapan
dulu sebelum mandi. Mereka sudah siap tepat pukul 6 sebelum jemputan
sekolah datang. Ritual ini wajib dijalankan dan memang dilakukan selama
belasan tahun tanpa pernah terabaikan. Tanpa terasa, kebiasaan ini
membangun KEDISIPLINAN dalam diri mereka.
BELAJAR tentu menjadi pokok kegiatan, namun hanya sesuai jadwalnya saja.
Sekolah ini tidak pernah bercita-cita memperoleh ranking nomor satu sejagat
raya, dengan cara menekan anak-anaknya untuk menimba ilmu secara membabi
buta mengatasnamakan akreditasi A.
BERKEGIATAN. Di jam istirahat, murid boleh berlari-lari dan bermain bola
sampai celana seragam yang berwarna putih bisa berubah menjadi sangat buruk
rupa setelah habis masa pakainya (ini salah satu kelemahan saja, celana
seragam kok warnanya putih).
SEGUDANG AKTIVITAS. Dalam satu minggu ada segudang aktivitas extra
kurikuler, mulai dari main basket (si Adik memilih olah raga ini),
sementara si Kakak sibuk berlatih futsal (karena harus ikut serta dalam
kejuaraan), disertai pilihan olah raga lainnya, pilihan ikut klub pecinta
alam, sampai pengenalan berbagai alat musik dan seni tari Indonesia.
[Tahun lalu waktu si Kakak hampir habis tersita dengan keterlibatannya
dalam kepanitiaan ini dan itu : Panitia Pentas Seni, Panitia Turnamen Olah
Raga antar sekolah, Panitia Program Leadership, sampai Panitia Pengangkatan
OSIS. Hal ini masih diwarnai dengan ijin sana sini pulang malam karena
harus bertanding mewakili sekolah dalam sejumlah kejuaraan olah raga dan
debat Bahasa Inggris. Belum cukup, dia juga pada akhirnya berhasil menjadi
juara dalam sebuah lomba band yang diadakan tingkat kotamadya].
[Si adik tak kalah sibuk. Dua kali seminggu dia kelihatan memanggul
bergantian gitar dan bass untuk dibawa ke sekolah karena ada jadwal latihan
seni musik. Sesekali ia ditugasi juga mengiringi misa sekolah dengan piano,
maupun ngeband bersama-sama dalam acara khusus sekolah. Selain itu, tas si
adik selalu tampaj menggembung karena tak pernah ia lupa membawa baju
ganti. Mereka selalu berolahraga di sore hari menjelang pulang]
4) MAKANAN TERSEDIA. Oh ya … soal makanan, saya juga tidak repot lagi.
Resiko bersekolah seharian adalah kesediaan sekolah menyediakan makanan.
Murid wajib makan bersama dan tak boleh menolak dengan alasan apapun
(kecuali karena perlu menu khusus karena sakit). Ada dua kali snack pagi
dan sore (yang menunya bisa memuat mata terbelalak). “Lontong sayur kok
dijadikan snack siiih?” protes saya suatu hari karena khawatir badan
anak-anak menggemuk. Pada pukul 12 ada satu kali makan siang yang lengkap,
dengan menu empat sehat lima sempurna dalam pilihan sederhana (tempe, tahu,
sayur toge, sayur kangung, sup ayam disajikan bergantian).
5) PERMENUNGAN. Di akhir hari, sekolah menutup pembelajaran dengan apa yang
mereka sebut sebagai REFLEKSI DIRI. Setiap anak duduk tenang dan
mendengarkan renungan singkat lewat radio sekolah mengenai apa saja nilai
baik dan buruk. Bagaimana mereka mengevaluasi perilaku mereka masing-masing
di hari itu dan apa yang harus dilakukan sebagai komitmen baru. Buat si
adik yang masih kelas 6SD, semua harus ditulis dan ditandatangani orang tua
setiap hari.
6) TANPA TUGAS / PR. Setiba di rumah, mandi sore, makan malam sebentar,
nonton TV dan kami masih memiliki waktu keluarga untuk diskusi pengalaman
hari ini, berdoa dan merenungkan Firman Tuhan. Setelah itu semua pamit
tidur pukul 9 atau 10 malam. Tidak ada PR, dan tidak ada tugas apapun lagi
yang membebani. Kalaupun ada ulangan, ternyata mereka sudah mulai mereview
sebagian bahan ulangan di sekolah di sela waktu luang yang ada, di rumah
tinggal mengulang saja.
Metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah anak kami inilah yang
mendorong saya untuk PRO pada kesempatan untuk “BELAJAR dan BERMAIN” di
sekolah sepanjang hari. ASALKAN sekolah menyediakan semua aspek yang
dibutuhkan oleh anak dan mengasah seimbang baik otak kanan maupun kirinya.
Sebut saja : pendidikan, pembelajaran, aktivitas fisik, interaksi sosial,
belajar berorganisasi, aspek rohani, dan kebutuhan jasmani - semua ada.
Sejumlah orang tua tak jarang mengeluhkan anaknya tidak mau menyentuh sayur
di rumah, mereka kemudian dengan girang bercerita jika si anak terpaksa
menelan sayur kangkung karena Ibu Guru memelototi piringnya di jam makan.
“Kalau tidak mau makan sayur, tidak usah makan sekalian!” Di sini semua
wajib menyantap menu yang sama, tak ada yang diistimewakan, dan harus
terlibat merapikan meja setelah acara makan usai.
Belum lagi kisah interaksi antar anak-anak normal vs berkebutuhan khusus
(Special Needs) yang tujuannya membangun rasa empati dalam diri siswa.
Sesama mereka saling saling membantu. Ada begitu banyak orang tua anak
berkebutuhan khusus yang mengucap syukur karena anak mereka menunjukkan
perkembangan yang menggembirakan. Sementara anak saya dengan penuh
pengertian bisa menceritakan pertemanannya dengan mereka yang berkebutuhan
khusus. Interaksi dan kepekaan sosial dibangun.
Pendek kata, setelah sepanjang hari “bersibuk-sibuk”, mereka akan sampai di
rumah dalam keadaan badan yang berbau asem, rambut berkeringat, dan tak
sedap untuk dicium sayang! Bagi saya yang penting adalah menilik bagaimana
hati mereka yang RIANG GEMBIRA!
****
Mengapa kami memasukkan mereka ke sekolah ini? Karena belasan tahun yang
lalu, kami kedua orang tuanya tidak ada di rumah seharian dari pagi sampai
kembali ke rumah pukul 7 malam! YES, sekolah macam ini memberikan solusi!
Jika ada statement yang menyebutkan bahwa, “Pendidikankan seharusnya
menjadi tanggung jawab orang tua dan keluarga!”.
YA, SAYA JUGA SETUJU SEKALI! Tapi bagaimana caranya para orang tua yang
sibuk berjibaku dengan pekerjaan bisa benar-benar memiliki perhatian
berkualitas baik atas anak-anak yang selepas pulang sekolah pada pukul 11
siang, 12 siang, 13 siang, atau bahkan 14 siang? Sementara mereka sendiri
belum hadir di rumah saat itu?
Dalam beberapa tahun terakhir setelah tidak lagi bekerja penuh waktu di
kantoran, saya sering menjumpai begitu banyak anak berseragam sekolah
berkeliaran berkelompok dalam seragam sekolah mereka masing-masing. Saya
tidak mau mempermasalahkan ini salah siapa … salah Mall yang mengijinkan
masuk pukul 11 siang, salah sekolah yang pulang terlalu cepat, atau salah
orang tua yang tidak ada di rumah! Terserah …
Saya hanya menilai inilah fenomena sosial saat ini dan hanya berujar syukur
karena anak saya jarang menginjakkan kaki nya di mall. Kepulangannya jam 5
sore tidak memungkinkan mereka nge- “GENG” sambil petantang petenteng
menghabiskan uang di mall untuk setiap kesempatan. Kalaupun mau nonton
bersama, mereka membuat janji yang lebih terjadwal di hari Sabtu atau
Minggu saja.
Nah … apakah orang tua kemudian dapat mengontrol dengan baik cara anak-anak
bergaul dan berkomunitas di level mall? Bagaimana anak menghadapi
persaingan antar geng sekolah di mall secara materi? Belum lagi perlu untuk
menyadarkan mereka bahwa uang yang dihambur-hamburkan di mall berasal dari
jerih payah orang tuanya yang bekerja sepanjang hari di luar rumah. Banyak
anak usia remaja sulit mengerti hal ini, karena kalau tidak ikut-ikutan
nge-mall dan bersenang-senang, mereka akan dianggap WEIRD alias ANEH dan
bukan teman yang asik.
Akhirnya untuk mencegah itu … tak sedikit orang tua yang menggantikan
ketiadaan dirinya dengan memasukkan anak-anak ke kelas les tambahan. Pulang
sekolah jam 12, dilanjutkan les Bahasa Mandarin, makan siang di jalan,
kemudian dijemput dan diantarkan ke les Pelajaran, dan masih ditambah lagi
dengan kursus ini dan itu untuk mengejar prestasi. “Supaya bermental
pejuang!” demikian tekad para orang tua ini.
Well … terserah saja! Tapi kemudian kepulangan anak-anak yang cepat dari
sekolah malah dimanfaatkan untuk “semakin-makin memampatkan pelajaran” ke
dalam ruang-ruang yang masih lowong dalam bola otak mereka (yang sebenarnya
sudah kelelahan hari itu).
Well … jadi apa artinya pulang cepat buat mereka?
Saya pribadi memilih percaya saja kepada Bapak Menteri Pendidikan yang
masih dalam tahap Ospek ini. Beliau pasti punya rencana dan niatan baik
bagi pendidikan anak Indonesia. Silakan para orang tua menyampaikan
harapannya saja (tanpa perlu mencaci dan merendahkan sang Bapak, toh
semuanya masih berbentuk wacana)
Sampaikan saja PERSYARATAN ORANG TUA KEPADA SANG MENTERI :
1. Jangan belajar seharian dong Pak, mereka kan butuh bermain! Maka Pak
Menteri tolong tetapkan bahwa sekolah wajib memfasilitasi anak-anak untuk
bergerak dan berolah raga setiap hari guna menjaga kesehatan tubuh,
kegembiraan hati, dan membangun mental team work. Perkenalkan juga beragam
seni budaya Indonesia dan juga ajak mereka mengenal alam dan memeliharanya.
2. Di Finlandia pembelajaran hanya berlangsung 5 jam dan diakui dunia
sebagai memiliki pendidikan yang terbaik. Eleuh … euleh … kalau yang
difokuskan PRINSIP 5 JAM BELAJAR nya saja ke Indonesia, kita harusnya juga
memperhitungkan fasilitas lain yang dimiliki Finlandia sebagai negara
makmur yang tidak mencatatkan guratan korupsi! Sementara di negara kita
tercinta ini, MENTAL dan KARAKTER setiap pribadi masih harus diasah dan
menjadi pekerjaan rumah penting.
Di banyak negara yang sukses secara pendidikan, orang tua dan guru lebih
concern pada “Jangan sampai anak saya tidak mampu mengantri dengan sopan,
lebih daripada memperoleh nilai yang cemerlang!” … bagaimana di negeri ini?
Apa tujuan orang tua menyekolahkan anak? Siapa yang berperan melakukan
pembentukan karakter di tengah keluarga?
3. Yaaa … jangan biarkan anak kelamaan di sekolah dong Pak Menteri, nanti
bagaimana dengan karakter dan mental mereka? Yaaaa ... disinilah peran kita
- orang tua!
Tanpa bermaksud menggurui (karena membentuk karakter adalah tugas kita),
penting membangun ruang diskusi SETIAP HARI. Perkatakan (di setiap waktu)
nilai-nilai yang baik dari Kitab Suci maupun Sumber Teladan kepada anak.
Ajak mereka menilai hal-hal yang baik vs yang buruk. Ajar mereka berpikir
solusi apa yang harus diambil dalam setiap persoalan. Waktu khusus seperti
ini hanya bisa dilakukan kalau sesampai di rumah, anak tidak ribet lagi
dengan les, tugas, PR, maupun ulangan. Di rumah kami, bermain musik bersama
bahkan bisa dilakukan hampir setiap malam.
Oh ya ... perlu diperhatikan juga kalau diskusi tidak mungkin bisa
mengalir, jika Bapak, Ibu dan anak-anak sibuk memegang gadget di tangan
masing-masing juga. See? Masalah sebenarnya bukan cuma terletak pada wacana
Bapak Menteri!
4. Jika pendidikan karakter dan mental menjadi concern, maka Pak Menteri
tolong berikan pemahaman dan training yang baik guna mempersiapkan
guru-guru supaya mampu membawakan pembentukan budi pekerti, lewat
permenungan, evaluasi sikap dan pikiran, juga komitmen baru di setiap akhir
hari. Metode ini tentunya tidak mudah untuk diimplementasi. Tapi sangat
memungkinkan untuk dilakukan dengan cara paling sederhana. Kuncinya adalah
di RUTINITAS - setiap hari.
Sekali lagi ini pengalaman pribadi saya dan anak-anak. Bisa jadi kedengaran
naif … tapi saya bersyukur karena sekolah anak-anak yang “mengurung” mereka
selama hampir 12 jam itu memiliki banyak hal baik. Ada suster-suster yang
“sibuk berdoa” buat setiap muridnya (literally sibuk mendoakan satu persatu
anak dan masa depan mereka di Chapel Doa!!), dan punya guru-guru yang
hatinya seluas samudra berkenan untuk memperhatikan setiap aspek dalam
perkembangan diri siswanya.
Jadi ….rasanya sih agenda aktivitas anak-anak saya di atas itu tidak
mungkin bisa komplit dilakukan hanya dari pukul 8 pagi sampai 12 siang
saja. Itu sebabnya, sekolah menahan mereka sampai pukul 16 sore, sehingga
hari-hari mereka kaya bukan untuk mengejar ilmu dan nilai saja, tapi
terlebih lagi untuk pembentukan karakter yang baik, kelapangan hati,
kerjasama, dan empati. Selama ini hampir tidak pernah terjadi siswa yang
berusaha untuk saling menjatuhkan karena ingin menang sendiri, dan apalagi
bersaing secara curang dengan menghalalkan semua cara. Bullying oleh kakak
kelas kepada adik kelasnya nyaris tidak terdengar (karena mereka bahkan
berlatih dan sering dipentaskan bersama dalam satu panggung Seni mulai dari
TK sampai SMA). Interaksi sosial yang baik adalah fokus utama.
Jadi sekali lagi, saya menulis begini karena merasakan langsung manfaatnya
bersekolah sepanjang hari.
Bisa jadi ada yang berkomentar, “Sekolah begini cocoknya hanya buat orang
tua yang kurang tanggung jawab!” …. Hehehe Pohon hanya bisa dinilai dari
Buah yang dihasilkannya. Saya sebagai orang tua juga tidak asik-asik
nganggur dong ah …. Karena kami (dan seharusnya setiap orang tua) membangun
metode komunikasi dan relasi kami sendiri. Sejauh ini kami merasa bahwa
buah yang dihasilkan lewat karakter dan sikap anak-anak, tidaklah jauh
berbeda dari pohonnya.
“Sekolah memang mengambil bagian terbesar secara kuantitas waktu tetapi
kami (orang tua) tetap menggarap dari sisi kualitasnya.”
Well … ini kan cerita saya, Anda pasti punya cerita tersendiri. Namun ada
baiknya menyikapi wacana Pak Menteri dengan respon wait and see. Sambil
berusaha melihatnya dari kaca mata yang berbeda….
***

-- 
Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi 
kami di: 

Tel. 021 22103478
Email: [email protected]
Website: www.mitrapembelajar.com

Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke:
[email protected]
[email protected]
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Proaktif Network" dari 
Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke