Kalau rekan-rekan ada
yang suka dengar sosiolog kita (spt. Mas Aat Suratin atau Alm Kang Harry Roesli) rasanya kita perlu belajar
tentang “KEARIFAN LOKAL” yaitu sebenarnya yang dilihat sekarang itu bukan tipe
bangsa Indonesia….karena
tipe bangsa kita rajin (contoh
Supir Taxi bekerja lebih dari 8 jam sehari atau orang
yang buka warteg)……kalau dinegara lain…..bandingkan saja…..cuman sayangnya orang kita sekarang
ini “TINGKAT INTELEKTUALITASNYA RENDAH SEKALI”…..mungkin karena kemiskinan….atau…..kenapa yaa…….jadi ada satu
usulan saya dan mudah-mudahan kita bisa laksanakan
yaitu “MULAILAH DARI DIRI KITA UNTUK
MENGUBAHNYA”…….yuk bareng-bareng kita lakukan bersama…..bukan cuman mengkoreksi
atau mencari “KAMBING
HITAM” ….JANGAN MALAS…..JANGAN BANYAK BUAT RAPAT ATAU KOMITE….JANGAN
PAKAI JAM KARET…….JANGAN MENUNDA PEKERJAAN……JANGAN
KORUPSI…..JANGAN KKN…..JANGAN…YANG JELEK-JELEK deh biar Negara kita menjadi Negara maju.
Thanks-Hans
-----Original Message-----
From: Arisiandi
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, January 13, 2005
2:14 PM
To: MM UGM;
[email protected]; [EMAIL PROTECTED]; budi webc;
[EMAIL PROTECTED]; ira webc; angela wulan; Amelia shinta; bambang; erika;
Hendra BCA; iqbal; Irma BCA; Jimmy Lukita; Johanes Henry; Melia Umar; pakde;
Rudy Irianto; Siau Yen; Dilla Perbanas; Irine; Meika Perbanas; Muhammad Firzan;
Umi Perbanas
Subject: [mm-ugm] Fwd: orang
indonesia di mata orang jepang - apakah masih begitu?
Temans,
Berikut cuplikan menggelitik....sebenarnya sudah sejak sebelum bencana
tsunami... entah masih punya relasi apa tidak...
Maaf, bukan untuk menghakimi, sekedar berbagi cermin diri... termasuk saya
sendiri...
Prof. Nagano, staf pengajar Nihon University memberikan kuliah intensive course
dalam bidang Asian Agriculture di IDEC Hiroshima University.
Beliau sering menjadi konsultan pertanian di negara-negara Asia termasuk
Indonesia. Ada beberapa hal yang menggelitik yang beliau utarakan sewaktu
membahas tentang Indonesia:
1. Suka rapat
Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam. Setiap ada
kegiatan selalu di rapatkan dulu,tentunya dengan konsumsinya sekalian. Setelah
rapat perlu dibentuk panitia kemudian diskusi berulang kali, saling kritik, dan
merasa idenya yang paling benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda-tunda padahal
tujuannya program tersebut sebetulnya baik.
2. Budaya Jam Karet
Selain dari beliau, saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang asing yang
pernah ke Indonesia. Ketika saya tanya kebudayaan apa yang menurut anda
terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab: "Jam Karet!"
Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati. Sudah sebegitu parahkah disiplin
kita?
3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?).
Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakan sekarang kenapa ditunda
besok? Saya pernah malu juga oleh tudingan Sensei saya sendiri tentang
orang Indonesia. Beliau mengatakan, orang Indonesia mempunyai budaya menunda-nunda
pekerjaan.
4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan.
Beliau mencontohkan ketika dia mau memberikan pelatihan kepada para
petani, pendampingnya dari Direktorat Pertanian datang dengan safari
lengkap padahal beliau sudah datang dengan work wear beserta sepatu
boot. Pejabat tersebut hanya memberikan petunjuk tanpa bisa turun ke
lapangan. Kenapa? Karena mereka datangnya pakai safari dan ada yang
berdasi. Begitulah beliau menggambarkan orang Indonesia yang hebat sekali dalam
bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau turun langsung ke
lapangan.
Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina-bobokan
oleh istilah: Indonesia kaya, masyarakatnya suka gotong royong, ada Pancasila,
agamanya kuat, dan lain-lain. Dan itu hanyalah istilah, kenyataannya bisa kita
lihat sendiri.
Ternyata negara kita hancur-hancuran, bahkan susah untuk recovery lagi,
mana sifat gotong royong yang membuat negara seperti Korea, bisa bangkit
kembali. Kita selalu senang dengan istilah tanpa action. Kita terlalu banyak
diskusi, saling lontar ide, kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa
action. Karena belum apa-apa sudah ramai duluan.
Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan-kekurangan kita dan
tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum terjawab kita akan
terus seperti ini, menjadi negara yang katanya sudah mencapai titik
minimal untuk disebut negara beradab dan tetap terbelakang di
segala bidang.
Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua, terutama
saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu merubah diri untuk
menjadi yang lebih baik.
penulis:
Ahmad Darobin Lubis, Graduate School for International Development and
Cooperation (IDEC) Hiroshima University
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Tiap
bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR
TRADITION ***
Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
Yahoo! Groups Links
____________________________________________________________________________
DISCLAIMER: The information contained in this communication is intended solely for the use of the individual or entity to whom it is addressed and others authorized to receive it. It may contain confidential or legally privileged information. If you are not the intended recipient you are hereby notified that any disclosure, copying, distribution or taking any action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited and may be unlawful. Unless otherwise spesifically stated by the sender, any documents or views presented are solely those of the sender and do not constitute official documents or views of PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
|