Rekan-rekan
Tanpa anda niat untuk menggurui,  atau memblow up masalah yg tidak perlu, tapi dari issue ini rasanya banyak yang dapat kita ambil bersama pelajarannya dan petik hikmahnya yaitu al:
 
1.  Pertama-tama, saya rasa kita harus salut dan berterima kasih kepada mas Gatot yg telah dapat men-spot kesalahan tsb.  Tidak semua loh orang langsung bisa menemukan hal-hal detail seperti itu (termasuk saya pada awalnya), saya kira itu masalah talenta yg dipunyai oleh rekan kita Gatot.  Kalau diperusahaan yg sudah baik dan culturenya baik, pasti rekan kita Gatot ini sudah memperoleh award dari management, for being able to be the first one to spot such error... Sisi positifnya bagi MM UGM, nanti iklan tsb bisa direvisi kalau mau dipasang lagi. dan untuk kita juga, kalau ada iklan serupa diberbagai media nanti, pasti kita semua secara sadar-atau tidak, akan semakin alert dan mungkin otomatis akan mencari-cari jika ada kesalahan yg tidak perlu demi kemajuan almamater kita.  Pengalaman adalah guru yg paling bijak & baik.  
 
2. Kedua,  saya kira juga kesalahan tsb adalah suatu yang manusiawi juga.  Every one could make such mistake. No big deal.  Orang juga ntar cepat pada lupa.  Jadi sebenarnya sih it is forgiveable. Apalagi karena bahasanya dalam bahasa Inggris, jadi kemungkinan untuk terjadi kesalahan baik itu dalam spelling,  grammar, dll akan lebih besar, dibandingkan bila iklan tsb semuanyadibuat  dalam bahasa Indonesia. Tetapi...................
 
3. Terjadinya kesalahan grammar tsb, berikut komentar yg masuk, sebenarnya menyiratkan suatu hal/fenoma yang cukup mendasar dimasayarakat kita yaitu:
 
a).  Dari sisi manajemen (kan komunitas kita ini ahlinya manajemen...)
Hal ini menunjukkan proses check and recheck dalam pembuatan iklan tsb, khususnya saat final approval phase, kurang berjalan dengan baik.. apakah ini karena salah dari konsepnya, atau apa,  dengan sistem iklan saat ini dimana draft dan konsep jadinya sudah dari pembuat iklan, tentunya kecil kemungkinan kesalahan dari penerbit.  Pertanyaan kedua yg muncul, siapa yg membuat konsep, dan siapa yg bertanggung jawab ( final approval) to approve akhir konsep tsb untuk 'go ahead'...  kalau ada proses ISO, tentunya telah terjadi 'hole' somewhere, sehingga terjadi kesalahan tsb. Apalagi sebenarnya kesalahan itu sangat mudah untuk dihindari, karena dengan software words,  bila kita mengaktifkan 'spelling dan grammar' checking,  kalimat tersebut akan muncul garis bawah yg memberitahu bahwa ada kesalahan grammar somewhere pada kalimat tsb. Istilahnya dari sisi manajerial, itu adalah suatu kesalahan yg tidak perlu karena bisa dihindari sebelumnya (avoidable).
 
b) Dari sisi fenomena sosial. Hal ini juga secara tidak sadar telah menunjukkan suatu gejala di masyarakat kita yang kalau boleh saya sebutkan budaya 'take it for granted'... kita terlalu mudah untuk menganggap semua nya beres,  tinggal tanda tangan,  gampang percaya, tidak ada effort untuk mengadakan 'another check' sebelum kita ttd atas suatu pekerjaan/surat/dll.  Kita begitu gampang percaya, bahwa semuanya akan beres.  Buktinya diantara  komunitas miling list kita sendiri, hanya rekan kita Gatot yg men-spot kesalahan yg cukup tersembunyi tsb.  Saya kira 'curiosity' yg tinggi dari rekan kita tsb yg membawanya menemukan kesalahan tsb. Banyak profesi yg membutuhkan skill dalam hal-hal DETAIL yang sering merupakan kunci suksesnya sautu event.  Saya juga berpendapat, contohnya issue SK wapres baru-baru ini perihal manjemen tsunami yg dihebohkan tersebut juga gambaran dari fenomena budaya masyarakat kita yg 'take it for granted' tsb.  Semberono, kurang hati-hati, dll,
Contoh lainnya sebagai gambaran fenomena ini adalah, anggapan misalnya kalau seorang pejabat diperiksa karena kasus korupsi yg  cuma 5m, terus ada komentar.. korupsinya cuma 5m kok diurusin.. sementara yg trilyun dibiarin... harusnya kan korupsi ya korupsi, semua harus di tindak, tidak pilih kasih... karena hal itu akan menunjukkan konsistensi komitment kita semua..... seperti komentar seorang rekan warga negara asing yg mengatakan, bahwa orang Indonesia itu terlalu gampang melupakan suatu hal yg sebenarnya krusial...sehingga enggak maju-maju... lho kok kepanjangan dan melebar keman-mana ya.....
 
So, take it easy guys.. and take the posistive part of it..
 
salam - risto

"Bekti, Agus" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya baik pak Prayudha , apa ada penjualan share lagi di Bank Danamon.? Ojo mbuka rahasia yo.
Soal nggak nyambung , saya sedih saja membaca hal hal yang rasanya kurang pas di forum para intelektual ini.
 
Salam
-----Original Message-----
From: Prayudha Moelyo [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 01, 2005 10:32 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [mm-ugm] Iklan "Master of Management, Gadjah Mada University" bagus...

Kalau tdk nyambungKerusakan bukan pada pesawat telepon anda�.periksakan diri anda secepatnya  posyandu terdekat. Bawa kartu Garansi dan KTP anda.

 

Apa kabar, pak Direktur ? Masih kelingan aku, ra, ndoro gusti ?

 

 

-----Original Message-----
From: Bekti, Agus [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent:
Tuesday, February 01, 2005 9:27 AM
To: '[email protected]'
Subject: RE: [mm-ugm] Iklan "Master of Management,
Gadjah Mada University" bagus...

 

Wah nggak nyambung lagi mas.

-----Original Message-----
From: Earning Power [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, January 31, 2005 8:09 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [mm-ugm] Iklan "Master of Management, Gadjah Mada University" bagus...

oooaaaalaaah mas ..mas...ngono ae kok dipikiri...sing penting iso ditangkap maksude lak wis.

kita ini bangsa yg punya pribadi..coba liat logo .. quality is our tradition diplesetkan jadi quantity is our tradition..hahaha kita kan bangsa yang suka plesetan...?

bangsa kita kan suka menghaluskan istilah...misal pelacur jadi psk...penggusuran jadi ditertibkan...ditangkap jadi diamankan...hahaha...cobalah anda liat jtv surabaya jam 1 siang atau 21.00 malam ada acara pojok kampung yg isinya berita dlm bhs suroboyoan...disini sangat lugas dipakai bahasa yg pas... pelacur ya dikatakan pelacur/lonte bukan psk...wis ga kakehan cangkem...ga usah diterusno masalah ngono kui...

he aku ngelantur yo keluar dari masalah hehehe...

kecik-kecik dianggo dakon, karepku becik dianggep olo monggo kemawon...
quantity is our tradition, sing ati-ati ojo su'udzon...

pakning 17er

>From: "Rahadi Windyagiri Andrie" <[EMAIL PROTECTED]>

>Reply-To: [email protected]

>To: <[email protected]>

>Subject: RE: [mm-ugm] Iklan "Master of Management, Gadjah Mada University" bagus...

>Date: Mon, 31 Jan 2005 16:35:25 +0700

>

>Mungkin sudah waktunya MM UGM mempunyai satu fungsi (i.e service

>quality) utk menyaring "quality" bahasa yang disampaikan keluar (media

>massa, spanduk, brosur, majalah), selain utk menyaring "quality"

>pendidikan yang diberikan atau "quality" dari fungsi-fungsi lain

>tentunya.

>

>

>

>Bukannya "Quality is Our Tradition"..? or "Quantity...?"...

>

>Maaf kalau kurang berkenan.



Express yourself instantly with MSN Messenger! MSN Messenger Download today it's FREE!

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***




Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***





Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***




Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***



Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Easier than ever with enhanced search. Learn more.

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke