Saya juga berbeda , tidak perlu ditanggapi, tetapi perlu direnungkan oleh kita semua.
Kenyataan bahwa Indonesia No 1 dalam hal korupsi.
Dan setelah Reformasi, keberhasilan yang paling nyata adalah: Menjamaahkan Korupsi.
Kalau dahulu di jaman ORBA yang korupsi takut2, dan hanya sebatas Eksekutif dan terkonsentrasi di Pusat, sekarang Legislatif dan eksekutif di daerahpun ikutan berpesta.
 
Berbagai Teori dan upaya LSM terlihat & terbaca oleh kita di Media Massa, terutama Demo2 yang hampir setiap hari di lakukan.
 
Tapi kenyataan:
Indonesia menganut HUKUM POSITIF (walaupun Saat Gus Dur masih Presiden, ingin menerapkan HUkum Pembuktian terbalik, tetapi untuk merubah Hukum Positif menjadi Hukum Pembuktian terbalik, maka harus melalui berbagai tahap & biaya sidang yang tidak sedikit rupiahnya).
 
ARTINYA:
Kalau tidak ada sesuatu yang mendasar, maka upaya memberantas KORUPSI, hanya suatu angan2, atau hanya LAHAN SUBUR untuk membuat PROYEK baru (yang berhubungan dengan KORUPSI).
 
Sebetulnya ada mekanisme yang sederhana dan mendasar, tetapi belum tentu semua rakyat Indonesia mau, karena sebagian bangsa Indonesia SAAT INI, alergi dengan hukum agama dan lebih mencintai 'KEDAMAIAN', yang memberi keleluasaan untuk DAPAT MELAKUKAN SEMUA yang diinginkan.
 
Di sisi lain, ada gambaran yang SEOLAH-OLAH dianggap NEGATIF, yaitu:
Di satu sisi Keinginan Umat Islam untuk menterapkan hukum Islam dalam kehidupannya sehari-hari. Dan karena tindakan yang dilakukan: Memperjuangkan Piagam Jakarta. Maka dianggap seolah-olah UMAT ISLAM ingin eksklusif.
Keinginan umat Islam untuk menjalankan hukum Agamanya bagi dirinya, oleh rakyat Indonesia non Muslim, seolah-olah dianggap seperti upaya akan mengIslamkan Indonesia. Sehingga langsung di tentang......
 
Akibatnya Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, justru jauh dari ahlak dan ketentuan agamanya (jika mengikuti ajaran dan moral yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW).
Buktinya:
Perkosaan, sudah komplit pelaku dan korbannya (Anak, Ibu,Bapak, Nenek, Kakak Kandung, Guru Nyaji,  tetangga, Guru dsb. Termasuk Pendeta ).  Artinya:
Saat ini setelah Reformasi, yang sangat men Dewa kan 'DEMOKRASI & HAM' versi ?... Bangsa Indonesia semakin jauh dari akar nya, sebagai bangsa yang berbudaya dan ber KETUHANAN Yang Maha Esa.
 
Kalau Redaksi Pancasila sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalankan Syariat Agama bagi setiap pemeluknya.
 
Dan dalam implementasi di lapangan, yang berlaku =
Hukum sesuai Agama yang dianut masing2.
Dan Hukum Negara (bila dalam hukum agamanya, tidak ada yang relevan dengan perkaranya),
Dan bila terjadi kejahatan 2 orang yang berbeda agama, maka yang digunakan adalah hukum yang terberat (Hukum Agama maupun Hukum Negara).
 
Maka siapa kira2 ya, yang berani:
Korupsi, berzina,  memperkosa, serta membom dalam kondisi tidak ada perang, yang mengakibatkan banya orang meninggal, termasuk orang muslim ?, karena mereka sebagai penjahat & hukumannya pasti berat sekali. Hakim menerapkan hukuman mati tidak takut / kuatir di demo.
Siapa pejabat PEMDA yang berani menggusur rakyat miskin, yang selama bertahun2 rumah kumuh / tempat usaha kumuh nya, dibiarkan saja ?
dsb dsb dsb
 
Tapi untuk menjadi bangsa yang bersih, memang berat, karena hanya dapat dilakukan oleh rakyat yang beragama secara benar dan menyeluruh ..... siapa yang berani ?
 
Di sisi lain kita lebih suka melihat agama sebagai suatu kelompok (yang memperjuangkan jumlah, posisi jabatan dan karier), bukan sebagai bagian dari ibadah ?????  
 
Wassalaaaam, AA        
 
       
 
 
"~!)))smiley(((!~" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Wah�.(saya hanya bisa �wah� saja�.karena sebelumnya pak Bekti minta bahwa tulisannya untuk tidak ditanggapi)

  

Birokrasi ternyata membuat seseorang tidak bisa �mengeluarkan� kemampuannya kedepan, bila itu tetap dijalankan�

Kapan ya dalam hal tertentu, kita bisa bekerja seleluasa mungkin dan sesuai dengan job yang kita emban, tanpa harus diembel-embeli bahwa kita bawahan, atasan dsb

 

Salam

 


From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Setyadi, Bakti
Sent: Thursday, April 21, 2005 12:32 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [mm-ugm] (OOT)Saya dukung Khairiansyah Salman!!! ^_^ artikel Kompas

 

Mas Adhi,

Mudah-mudahan pendapat saya dibawah ini tidak menimbulkan kontroversi, dan tidak perlu ditanggapi. 

Pekerjaan saya selama ini mengharuskan saya berhadapan dengan pemeriksa & penyidik baik dari pajak, Irjen Depkeu, Bea Cukai, dan beberapa kali membantu teman yang diperiksa BPKP.  Sepanjang karir, saya sudah berhadapan dengan pemeriksa lebih dari 60 kali, dimana saya kira sudah cukup untuk menuangkan pengalaman saya diperiksa dibawah ini.

Bagi rekan-rekan yang seprofesi dengan saya, sulit untuk membantah bahwa para pemeriksa biasanya mengeluarkan temuan awal (initial finding) yang sering kali tidak masuk akal.  Sepanjang yang saya ketahui, bagi pemeriksa seperti Khairansyah, prosedur yang benar adalah:

  1. Melaporkan hasil temuannya kepada atasannya, dan ketua BPK
  2. Ketua BPK melakukan penilaian atas hasil temuan tim pemeriksa
  3. Ketua BPK melaporkan hasil temuannya kepada DPR dan jika ada indikasi korupsi ke Kejagung.

Pertanyaannya, apakah Khairansyah telah melakukan prosedur yang benar? 

.................Dimata saya Mulyana tetap BERSALAH dengan melakukan upaya penyuapan.

....................Tetapi dengan mengangap Khairansyah bersih, terlebih-lebih pahlawan, adalah sesuatu yang tidak adil.

......terhadap Khairsansya mestinya mendapatkan perlakuan yang proporsional juga. Bagaimanapun juga dia sudah menerima suap Rp.150 juta sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh Khairansyah tidak ubahnya dengan niat mau membersihkan lantai dengan sapu kotor.

 

Thanks & Regards,

Bakti Setyadi
[EMAIL PROTECTED]

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Adhi Setyo Tamtomo
Sent: Thursday, April 21, 2005 11:23 AM
To: tumpal sitorus; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [mm-ugm] (OOT)Saya dukung Khairiansyah Salman!!! ^_^ artikel Kompas

Dear Rekans...

berikut artikel KOMPAS...

smoga bermanfaat.

 

Thanx,

Adhi

 

Kamis, 21 April 2005

 

 

 

Anwar Nasution Vs Khairiansyah

Oleh Emmy Hafild

............................... Tetapi, reaksi yang dikeluarkan menunjukkan bahwa Anwar Nasution adalah tipikal pemimpin mesin birokrasi negeri ini yang lebih peduli terhadap prosedur kerja daripada esensi dari pekerjaan yang dilakukan.

........................ PROSEDUR internal di BPK sendiri belum dapat membuka maraknya kasus suap-menyuap antara pejabat pemerintah yang diperiksa dan oknum-oknum auditor BPK. Dalam melakukan pekerjaan kami sebagai aktivis anti korupsi, kami sering mendapat pengaduan dari pegawai dan pejabat pemerintah, bagaimana oknum-oknum BPK memeras mereka-mereka yang diketahui telah menyelewengkan uang negara, menyalahgunakan wewenang, atau melanggar prosedur. Sudah merupakan pengetahuan umum juga bahwa laporan BPK dapat diatur, tergantung dari besar kecilnya uang suap. Namun, semua ini sulit untuk dibuktikan karena tidak ada satu pun mekanisme yang dapat membuktikan adanya pemerasan dan penyuapan ini.

........................... Di Indonesia dinding pun bicara, apalagi manusia. Dengan demikian, para pemimpin lembaga seharusnya tidak perlu kaget, tetapi bersyukur bahwa penyidikan telah sukses dan berhasil membuktikan tertangkap tangannya suatu penyuapan.

Bravo KPK!

Emmy Hafild Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia



 



Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***





Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***


Yahoo! Mobile
- Download the latest ringtones, games, and more!

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke