Sayangnya data tersebut gak punya.
Kalo ada mungkin bisa membantu kita membuat hitung-hitungan sederhana untuk
mengerti cost and revenue perminyakan Indonesia.
Meski kalaupun datanya kita punya, mungkin akan tambah ruwet.
Dan kita tambah bingung :)



                                                                                
                                                       
                      flori widyarsi                                            
                                                       
                      <[EMAIL PROTECTED]        To:       
[email protected]                                                        
                      m>                       cc:       (bcc: Hary 
Wibowo/IDSUB01/Power/ALSTOM)                                       
                      Sent by:                 Subject:  RE: [mm-ugm] ECONOMIC 
HIT MEN                                                 
                      [EMAIL PROTECTED]                                         
                                                       
                      s.com                                                     
                                                       
                                                                                
                                                       
                                                                                
                                                       
                                                                                
                                                       
                      Phone:                                                    
                                                       
                      07/07/2005 12:00                                          
                                                       
                      PM                                                        
                                                       
                      Please respond to                                         
                                                       
                      mm-ugm                                                    
                                                       
                                                                                
                                                       
                                                                                
                                                       




Nah kan kalau yang komentar orang Perminyakan bisa lebih jelas, . . . . ..
atau tambah pada binung ya a a a. . . . he he he . . ..  ya itulah memang
kalau membahas dunia perminyakan tidak semudah membahas perdagangan beras
misalnya . . . . .  Ada banyak istilah dan proses produksi yang perlu
diketahui.
Bung Hary mungkin punya angka berapa sih produksi crude kita dan berapa
angka impor kita, juga kebutuhan crude yang harus diolah untuk memenuhi
kebutuhan BBM kita. Kebutuhan BBM kita, syukur-syukur ada data tren
kenaikan pemakaian BBM ? (Duh banyak amat permintaannya . . . ..  sorry,
biar anggota milis ini tahu betapa ruwetnya problematik di bidang per
BBM-an. Ini yang mungkin perlu dimaklumi . . . . . . saya yakin kita sudah
masuk negara importir yang artinya angka impor kita lebih tinggi daripada
ekspor . . . .
Ladang kita mungkin masih banyak, tetapi sepanjang yang saya tahu, sejak
tahun 1998 atau bahkan mungkin sebelumnya 1996 hanya sedikit pertambahan
investor yang mau mengekplorasi ladang minyak kita, selain kondisi politik
kurang kondusif, peraturan investasi dan perpajakan yang mungkin kurang
jelas, ataupun juga peraturan di bidang ketenagakerjaan yang juga kurang
baik.
Jadi janganlah sok berteriak-teriak bahwa kita ini masih pengekspor minyak,
. . . . mungkin sudah beberapa tahun lalu kita negara pengimpor minyak.  .
. . . .
Wah nyari bukunya ternyata jadi susah . . . .  Ada yang punya ???
Salam


[EMAIL PROTECTED] wrote:
Ikutan komentar sedikit, sekedar sharing  ...

Pertama coba kita lihat dari sisi produksi minyak Indonesia:
1. produksi minyak mentah (crude oil) Indonesia sekitar 1 juta barrel oil
per day (1 MBOPD), kesampingkan dulu penurunan 5-7% per tahun. crude oil
tersebut terdiri dari berbagai macam tipe dari yang berangka API tinggi (di
atas 33) atau light crude (contohnya dari Minas) sampai yang berangka API
rendah (di bawah 28) atau heavy crude (dari Duri). yang sering disebut
berharga $60 per barrel adalah jenis light crude sedang heavy crude hanya
sekitar $40. kalau tidak salah crude oil dari Duri sekitar 20% dari
produksi Indonesia.
2. bagi hasil pemerintah (diwakili BP Migas) dan kontraktor minyak dulu
88:12 sekarang mungkin 85:15 atau bagian bahkan kontraktor lebih dari 20%
tergantung resiko. bagian kontraktor ini masih harus dikurangi domestic
market obligation (DMO) - CMIIW, artinya sebagian crude oil tersebut
harusdijual ke kilang di dalam negeri.
3. diperlukan jenis kilang minyak yang berbeda untuk mengolah tiap jenis
crude oil, jika kilang di Indonesia tidak dapat mengolah atau kapasitasnya
kurang otomatis harus diolah di luar negeri untuk menghasilkan BBM yang
dikehendaki dan turunannya. tidak mudah membangun kilang minyak karena
biayanya ratusan juta dollar dan beresiko tinggi.
4. pengiriman minyak keluar negeri dan pengiriman kembali atau pembelian
hasil pengolahan tentu saja membutuhkan biaya transportasi yang lebih
besar.

Coba kita lihat dari sisi production cost:
1. beberapa tahun yang lalu (kira2 tahun 2000) biaya produksi per 1 BOPD
kurang dari $10, tidak termasuk biaya transportasi dan pengolahan menjadi
BBM dan turunannya.
2. jika let say production cost kita naikkan menjadi $20, maka terdapat
perbedaan terhadap harga jual sebesar $20 untuk heavy crude atau $40 untuk
light crude. kenapa bisa terjadi perbedaan yang sedemikian besar? hukum
supply and demand mungkin yang bisa menjawab, permintaan melebihi
penawaran.
3. siapa yang diuntungkan? perusahaan minyak tentu saja untung, ROI mereka
akan jauh lebih besar dari average industry lainnya. bagaimana dengan
negara? hanya negara yang memproduksi minyak mentah dan BBM (eksportir) dan
mempunyai konsumsi BBM rendah saja yang diuntungkan. negara importir? babak
belur, apalagi jika harga BBM disubsidi. sumber subsidi sebagian bisa
berasal dari perbedaan cost dan harga jual crude oil.
4. namun, tidak mudah menghitung untung rugi dan kemudian dikaitkan dengan
subsidi. dari seluruh produksi Indonesia berapa persentase jumlah produksi
dan production cost masing2 jenis BBM dan jumlah konsumsi masing2 jenis BBM
harus diketahui. namun bila produksi crude oil Indonesia mencukupi dan
efisien diolah serta dipasarkan di dalam negeri harganya tidak akan
setinggi harga internasional. jika pemerintah (lewat Pertamina) mengimpor
! BBM, wajar saja jika menggunakan harga internasional alias tanpa subsidi
jika impor semakin besar. pemerintah juga kan tentunya tidak mengalokasikan
seluruh untuk penjualan crude oil hanya untuk mensubsidi BBM tapi juga
untuk pembangunan.

Memang tidak mudah mengerti bisnis minyak, mohon maaf karena tidak bisa
menyederhanakan menjadi lebih simple.
Jadi pusing sendiri :)

Regards,
Hary




                      flori widyarsi

                      <[EMAIL PROTECTED]        To:
[email protected]

                      m>                       cc:       (bcc: Hary
Wibowo/IDSUB01/Power/ALSTOM)
                      Sent by:                 Subject:  RE: [mm-ugm]
ECONOMIC HIT MEN
                      [EMAIL PROTECTED]

                      s.com




                      Phone:

                      07/05/2005 02:36

                      PM

                      Please respond to

                      mm-ugm






Tergelitik juga untuk ikut berkomentar, maaf mungkin tidak terlalu banyak
tahu.
Yang ideal memang harga BBM sama dengan harga internasional, supaya jelas
kelihatan apakah memang Pertamina sudah efisien atau tidak dalam
menjalankan usahanya.
Tolong bedakan BBM dengan crude.
Yang namanya BBM, diantaranya adalah avtur, kerosene, solar (untuk
industri), premium, solar (untuk rumah tangga), Jet Petrol (ini adalah
premium dengan API 98% -kalau gak salah ingat-) ini sama dengan Pertamax;
bedanya Pertamax APInya tinggi karena dicampur dengan bahan kimia tertentu
sedangkan Jet Petrol asli dari pengolahan --> juga kalau gak salah ini
hanya dihasilkan dari kilang Dumai.
Crude adalah bahan baku untuk BBM, bentuknya seperti lumpur, bahkan bisa
seperti tanah liat basah untuk crude tertentu, tapi ada juga yang cair
yaitu jenis SLC (Sumatran Light Crude) ini dihasilkan dari ladang minyak
sekitar Sumsel. Itu sebabnya kalau di daerah eksplorasi dan produksi atau
di daerah pengolahan biasanya ada pipa-pipa dengan diameter hampir satu
meter, itu sebetulnya dilapisi dengan pipa penyalur uap p! anas supaya
crude
bisa jalan.
Yang namanya pengolahan minyak rumit: berbagai jenis crude mengandung
berbagai jenis produk olahan. Misalnya crude dari Irak mengandung bahan
aspal, kilang yang didesign untuk mengolah crude dari Irak adalah kilang
Cilacap, karena sengaja untuk memperoleh aspal-minyaknya juga. Crude kita
dijual ke LN dengan harapan mendapat lebihan, karena SLC lebih mahal,
sementara crude yang berat diolah untuk BBM kita, dan memang kilang-kilang
kita didesign untuk mengolah crude yang berat.
Crude kalau diolah menghasilkan berbagai produk, misalnya: LPG (Liquified
Petroleum Gas), premium, kerosene, solar dan berbagai produk olahan lain.
Saya tidak tahu pak Kwik mendapat ilham dari mana untuk bisa mengatakan 1
bbl crude diolah dengan biaya Rp1 menghasilkan 1 bbl BBM. Setahu saya semua
kilang, hasilnya sangat variatif tergantung design dan kebutuhan BBM apa
yang sedang diperlukan. Jadi saya tidak bisa mengomentari analisa pak Kwik.
Bagi hasil produksi crude kita perbandingannya adalah 85:15 sedangkan 65:35
adalah untuk pengusahaan gas alam. Adil atau tidak, menguntungkan Indonesia
atau tidak setahu saya belum ada kajian mengenai hal itu. Itulah kemampuan
negosiasi para negosiator kita saat itu. Mungkin para alumni ataupun
mahasiswa yang berasal dari Pertaminalah yang lebih tahu.
Tambah pusiank . . . .. ??
Gak usah pusing-pusing . . . . .  gimana gak pusing ya kalau harga crude
udah mencapai   US$ 60 per bblnya. . . . .  ketika sekitar 30-an aja
subsidinya udah aujubilah, apalagi sekarang. Atau memang perlu keberanian
Pem untuk membebaskan Pertamina mengatur harga jual BBM ??? Tetapi juga
diberi kebebasan pada masyarakat untuk membeli BBM dari mana . . . . kacau
kali yeee he he he . . .
Salam


Yahoo! Mail for Mobile
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***

<?---- LSpots keywords ?> <?---- HM ADS ?>
                            YAHOO! GROUPS LINKS



       Visit your group "mm-ugm" on the web.

       To unsubscribe from this group, send an email to:
       [EMAIL PROTECTED]

       Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.





                             :._______________
 CONFIDENTIALITY : This  e-mail  and  any attachments are confidential and
  may be privileged. If  you are not a named recipient, please notify the
sender immediately and do not disclose the contents to another person, use
    it for any purpose or store or copy the information in any medium.



Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke