Pada kuliah GBE lampau, kalau tdk salah pak Tanjung pernah cerita bahwa
banyak doktor pertanian kita direkrut thailand dan malaysia, karena mereka
menyediakan fasilitas, lab, dan tentunya kompensasi yang lebih baik. Tidak
heran pula produk pertanian thailand membanjiri pasar kita, spt beras
thailand atau buah-buahan. Memang ada pilihan bagi graduater, antara
nasionalis dg (resiko) fasilitas untuk berkarya kurang / tidak ada,
dibandingkan berkarya di negera maju - tempat mendapat graduate-nya,
fasilitas mendukung, gaji, lingkungan dan masa depan. Bahkan ada semacam
pemikiran, buat apa kita menempuh S3 di Indonesia, kalau ujung2nya hanya
akan menjadi dosen atau peneliti dsb, ngga imbang dg waktu dan biaya yg
dikeluarkan.

Barangkali bagaikan pahlawan kesiangan yg cuap-cuap- ber idealis- dg
semangat untuk mengubahnya, bahwa akan sangat sayang dan kehilangan
kesempatan besar dimana sumber daya manusia kita yang sebenarnya setara atau
bahkan unggul, justru mendedikasikan pikirannya utk negara lain. Ada pomeo
right or wrong is my country, sehingga akan sangat terpuji bila banyak sdm
unggul tadi mengorbankan katakanlah materi demi nasionalisme. Ambil contoh,
pak Yohanes Suryo/ dosen UPH yang membimbing tim fisika muda kita bbrp th
terakhir, dan ada hasilnya dg perolehan bbrp emas. Bahkan yang terakhir
perolehan kita setara dg amrik atau india.

Dus, saya rasa pilihan utk berkarya di tempat kita belum tertutup sama
sekali, yakni bisa saja menjadi dosen, atau konsultan, peneliti, atau staf
ahli. Ya tentunya dibutuhkan goodwil dan niatan dari pemerintah kita juga.
Sbg dosen misalnya, bbrp waktu terakhir muncul universitas swasta yang
mencoba mengimplementasikan teori dan praktek agar menjadi unggul, misalnya
president university- cikarang, UPH, Binus, IBII dll, disamping universitas
negeri yg msh kekurangan tenaga ahli dan akan senang hati menerima
almamaternya yg luar biasa. Memang ada pengorbanan di sini, bahwa mereka
harus melupakan indahnya dan makmurnya menjadi profesional di ngr lain,
ketimbang bergaji pas-pasan di negeri sendiri.

Salam,
(sejujurnya, sayapun blm tentu mampu menahan godaan bila direkrut ngr lain-
namun selagi saya sekolah, kerja, nafkah di negeri sendiri maka semangat
idealisme-nya msh tinggi, he he)

> ----------
> From:         flori widyarsi[SMTP:[EMAIL PROTECTED]
> Reply To:     [email protected]
> Sent:         13 Juli 2005 8:49
> To:   [email protected]
> Subject:      RE: [mm-ugm] Fw: Perofessor Termuda di AS ternyata
> WNI-renungan
> 
> Salut juga atas prestasi Nelson Tansu, dan juga mungkin banyak putra-putri
> Indonesia yang berprestasi mendunia . . . . .
> Ada juga tambahan cerita dari saya: ini cerita mengenai keponakan dosen
> saya, dia disekolahkan oleh BPPT, pulang dari ngambil master, tidak banyak
> yang bisa dikerjakan di instansi yang mengirim dia sekolah, daripada
> frustrasi dia konsul ke oomnya, gimana kalau keluar kerja di swasta atau
> BUMN deh . . ..  Oomnya bilang ya daripada frustrasi lebih baik pindah
> kerja sepanjang masih tetap di Indonesia . . . . .  jadilah dia pindah
> kerja.
> Ada cerita lain lagi, menantu dari ibu kost saya (dulu selagi saya masih
> kost) kerja di NASA, orangnya pinter, pernah katanya dia diajak pulang
> sama Habibie, dengan janji akan diberi jabatan dan fasilitas. Ibu kost
> sempet cerita ke saya . . . . saya hanya bisa komentar, "Bu bisa enggak
> keahlian dia diterapkan di Indonesia ???" Akhirnya dia gak pulang, bahkan
> sekarang menjadi warga USA termasuk istri dan anak-anaknya, kalau gak
> salah pekerjaan dia mengharuskan loyalitas terhadap USA . . .. Setiap akan
> ada peluncuran pesawat dia pasti ke Cape Canaverral, tempat tinggal dia di
> LA (saya pernah singgah di rumahnya). Orangnya baik, asli Surabaya, kalau
> ada orang Indonesia berkunjung mereka paling seneng.
> Saya nasionalis, tetapi kalau sudah menyangkut pekerjaan yang bermanfaat
> bagi dunia secara umumnya, saya berpendapat . . . .  . biarlah mereka
> tetap berkarya di luar. Ini sudah jaman globalisasi . . . . biarlah mereka
> menjadi warga dunia. Jadi mari melihat dengan kacamata yang lebih jernih,
> dengan hati yang bersih juga . . . . 
> Kalau mereka yang berkarya di luar Indonesia ini pulang, tetapi kemudian
> ternyata tidak banyak yang bisa dikerjakan karena prasarana dan
> environment yang belum mendukung. (saya memakai environment, supaya kita
> tidak terjebak mengartikan secara sempit) . . . . . Mana yang lebih
> bermanfaat: 
> (a) dia tetap di luar dengan segudang karya yang bermanfaat bagi
> masyarakat dunia ?? atau
> (b) dia pulang, tapi sulit beradaptasi, tidak banyak karya yang dihasilkan
> . . .  dan akhirnya frustrasi.
> Nah priyeee . . ..  mas Wardoyo, mas Herman dan temen-temen yang lain ???
> Salam
> fw
> 
> Herman HP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Salut atas prestasi Sdr. Nelson Tansu tersebut dan salut juga atas sikap
> nasionalis Mas Wardoyo. Namun, sebelum ada yang "mencoba" utk melakukan
> usulan yang dilontarkan Mas Wardoyo (mengajak pulang para ilmuwan
> Indonesia), terlebih dahulu kita cari informasi perihal nasib para ilmuwan
> top Indonesia yang ada di BPPT (saya jadi ingat dengan nasib Sdr. Iwan -
> peraih gelar Doktor Fisika Nuklir dari Jepang dlm usia 33 thn - kembali ke
> Indonesia diberi tugas mengajar kursus komputer!).
> Mungkin ada rekan-rekan MM UGM yg mempunyai teman atau kenalan orang-orang
> BPPT yg bisa mencari tahu perihal informasi ini dan sharing dengan anggota
> milis ini.
> Terima kasih.
> 
> 


Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke