Tetan Masduki terima hadiah Ramon Magsaysay 2005, berikut wawancaranya dengan UCA-News
 

Wawancara - Penerima Penghargaan Magsaysay 2005 Terilhami Untuk Terus Berjuang Memberantas Korupsi

JAKARTA (UCAN) -- Teten Masduki, penerima "The 2005 Ramon Magsaysay Awards" untuk kategori Public Service, mengatakan, penghargaan itu merupakan simbol perjuangan masyarakat Indonesia dalam memberantas korupsi dan mendorong dia untuk terus memperjuangkan perubahan.

Masduki, 42, dipuji karena "menantang masyarakat Indonesia untuk mengeskpos korupsi dan mengklaim hak mereka atas pemerintahan yang bersih."

Ia berbicara dengan UCA News di Jakarta sebelum berangkat ke Filipina untuk menerima penghargaan bersama lima penerima penghargaan lainnya pada 31 Agustus di Manila.

Masduki, yang lahir dari sebuah keluarga petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat, adalah Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW) dan anggota National Ombudsman. Aktivis anti-korupsi beragama Islam itu, merupakan orang Indonesia ke-17 yang akan menerima sebuah penghargaan Magsaysay, mengatakan, ia telah terlibat dalam memperjuangkan hak asasi manusia sejak ia mengikuti demonstrasi para petani lokal yang lahannya dicuri, 1985.

Ia menerima penghargaan untuk kategori Public Service bersama V. Shanta dari India. Empat penerima Magsaysay lainnya tahun ini adalah: Senator Jon Ungphakorn dari Thailand (untuk kategori Government Service); Hye-ran Yoon dari Korea (untuk kategori Emergent Leadership; Matiur Rahman dari Bangladesh (untuk kategori Journalism, Literature, and Creative Communication Arts); dan Sombath Somphone dari Laos (untuk ketagori Community Leadership).

Berikut ini wawancara UCA News dengan Masduki:

UCA NEWS: Apa dampak dari penerimaan penghargaan ini?

TETEN MASDUKI: Penghargaan ini merupakan simbol perjuangan pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Meskipun (pemberantasan korupsi) merupakan tantangan yang luar biasa, saya sadar bahwa saya adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Mungkin panitia mengetahui upaya kami untuk mendorong masyarakat melakukan perubahan, meskipun apa yang telah kami capai belumlah cukup. Pemerintah memberi perhatian serius terhadap korupsi, yang telah menjadi suatu praktek yang melibatkan banyak orang. Penghargaan ini menjadi dorongan, dan juga perlindungan, dalam perjuangan kami memberantas korupsi.

Penghargaan ini merupakan energi baru bagi saya untuk tetap konsisten dan tetap bekerja keras, karena saya yakin bahwa mereka yang memberi penilaian ini juga tahu bahwa apa yang saya lakukan adalah benar. Tujuan saya adalah perubahan masyarakat, dan saya melihat pemberantasan korupsi sebagai suatu jembatan untuk mencapai perubahan ekonomi dan sosial.

Seberapa sulit perjuangan ini?

Sulit dan penuh resiko karena tidak ada dukungan dari sistem birokrasi, aparat penegak hukum, partai politik, dan parlemen. Korupsi sudah ada sejak pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Dengan melihat banyaknya kasus korupsi, kami sadar bahwa apa yang sedang kami lakukan seperti menabrak tembok. Namun kami harus tetap memulainya.

Saya kira, musuh terbesar dalam memberantas korupsi adalah intimidasi, ancaman, dan tekanan massa. Ini membuat kami lelah dan frustrasi. Meskipun kenyataannya gerakan anti-korupsi berkembang dalam masyarakat dan telah menjadi model gerakan sosial, kadang kami berpikir bahwa upaya kami tidak ada gunanya dan kami frustrasi karena respon dari birokrasi sangat kecil. Saya sering tergoda untuk meninggalkan pekerjaan ini karena saya pikir tidak ada gunanya. Tapi orang-orang di sekitar saya, keluarga dan teman-teman saya selalu mendorong saya, dan saya merasa kuat untuk melanjutkan perjuangan ini meskipun sulit.

Apa yang mendorong Anda untuk membentuk ICW? Apa yang telah dilakukan ICW?

Saya membentuk ICW tahun 1998 karena saya melihat korupsi telah menjadi masalah besar di negara ini. Korupsi telah memiskinkan masyarakat dan merusak lingkungan. Korupsi telah menciptakan ketidakpastian hukum dan memperburuk pelayanan publik. Korupsi telah menghambat proses perubahan.

Tanpa perubahan politik yang radikal, saya yakin upaya untuk memberantas korupsi tidak akan mudah dan akan membutuhkan waktu yang lama. Maka kami perlu membentuk sebuah institusi, untuk melembagakan gerakan ini. Kami ingin membuat gerakan ini bukan sebagai gerakan voluntary dan sporadik, tapi sebuah institusi jangka panjang. Kami harus mengembangkan suatu metodologi dengan perspektif yang jelas dan berkelanjutan, dan melakukan kaderisasi.

ICW telah menginformasikan kepada masyarakat tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tahun 2004, ICW mengangkat 432 kasus korupsi yang menyebabkan kerugian bangsa sekitar US$580 juta.

Saya kira bagi Indonesia, gerakan anti-korupsi seperti ICW itu penting. ICW sekarang memiliki sejumlah kantor di berbagai kota di seluruh negeri ini, dan karyanya telah meraih kepercayaan publik. Saya kira, karya dari gerakan ini akan perlahan-lahan membuahkan hasil bagi bangsa Indonesia. Dengan membentuk ICW, saya juga mendorong lembaga-lembaga lain untuk menularkan gerakan ini.

Di masa depan, Indonesia harus bersandar tidak pada utang luar negeri tapi pada sumber daya alam dan sumber pajaknya sendiri. Orang-orang yang membayar pajak tidak ingin uang mereka dikorupsi. Gerakan anti-korupsi ini akan menuntun pemerintah untuk menciptakan dan menerapkan pembujetan yang lebih efisien.

Bagaimana korupsi mengakar di Indonesia?

Korupsi menjadi praktek di Indonesia sudah sejak dulu, tapi saya tidak setuju bahwa korupsi merupakan bagian dari budaya. Saya kira, korupsi mulai masuk bersamaan dengan kekuasaan. Saya melihat korupsi sebagai masalah sejarah, bukan masalah budaya.

Menurut sejarah, ada tiga periode yang mengalami penyebaran praktek korupsi secara signifikan. Pertama, periode setelah nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda tahun 1957 oleh negara. Sejak saat itu, negara mulai menguasai ekonomi.

Kedua, periode setelah 5 Juli 1959, dekrit presiden (yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno) tentang pemberlakuan kembali UUD 1945. Periode ini mengalami intervensi kekuasaan eksekutif di bidang kehakiman dan hukum.

Ketiga, periode pemerintahan Presiden Soeharto, di mana semua check and balance menjadi macet. Ada kontrol politik dalam bisnis, yang menciptakan korupsi di kalangan para pejabat pemerintah, politisi, dan pelaku bisnis, dan melahirkan konglomerasi.

Ketiga periode ini menghancurkan semua sistem. Ini sangat mempengaruhi mentalitas masyarakat. Menurut International Transparency Institution, dalam lima tahun terakhir Indonesia menjadi salah satu dari lima negara terkorup di dunia.

Inilah alasannya kami harus memiliki suatu gerakan anti-korupsi yang institusional dan bersifat jangka panjang, bukan gerakan sporadik.

Apakah pemerintah saat ini mengambil sejumlah langkah untuk menghentikan korupsi?

Sejak krisis ekonomi di akhir 1990-an dan setelah tumbangnya Soeharto tahun 1998, pemerintahan baru mulai memunculkan isu korupsi sebagai masalah nasional yang membutuhkan perhatian serius. Tapi korupsi tidak dengan sendirinya menurun.

Pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, beberapa kebijakan dibentuk untuk menangani korupsi, tapi kebijakan-kebijakan ini bersifat formalitas. Misalnya, pembentukan komisi anti-korupsi dan komisi ombudsmen nasional, dan revisi undang-undang korupsi untuk memperberat hukuman. Kebijakan-kebijakan ini tidak diimplementasikan secara efektif.

Hanya pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kami melihat ada kemajuan. Kasus-kasus korupsi yang besar mulai ditangani oleh aparat penegak hukum.

Apa rencana Anda dengan hadiah itu?

Saya akan menggunakan sebagian untuk mengembangkan gerakan ini. Secara pribadi, penghargaan ini istimewa, karena, terus terang, benefit yang saya terima secara ekonomi dari pekerjaan ini masih lemah. Secara praktis, saya menggunakan hampir seluruh waktu saya untuk gerakan ini, tapi bukan dengan tujuan untuk mencari uang.

Selain penghargaan, saya akan menerima US$56,000. Ini membantu saya lebih leluasa, karena saya bisa memiliki tabungan untuk pendidikan anak-anak saya. Saya bukan orang yang royal, tapi sederhana. Hadiah ini merupakan dukungan yang besar bagi perjuangan saya untuk membawa perubahan sosial.

-END-

Sumber: Mirifica.net

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke