Seandainya Jawa Mau Merdeka

Christianto Wibisono

TEPAT pada 17 Agustus 2005, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur (Jatim), 
Ridwan Hisyam, dengan nada sewot menuntut pengembalian 50 persen 
setoran pajak Jatim dari Pusat karena Aceh memperoleh 70 persen dari 
pendapatan migas, seperti juga Papua. Ridwan memperkirakan setoran 
Jatim Rp 100 triliun sedang dana yang mengalir dari Pusat hanya Rp 24 
triliun, yaitu Rp 15 triliun untuk 38 Kabupaten/Kotamadya, Rp 9 
triliun untuk provinsi Jatim. Karena itu APBD Jatim hanya Rp 3,6 
triliun dibanding DKI Rp 14 triliun. 

Helsinki Accord 15 Agustus 2005 bisa berbuntut panjang dengan 
pelbagai konsekuensi yang belum terpikirkan oleh inisiator dan 
negosiator dalam kompromi kesepakatan. Harry Tjan Silalahi menulis 
dalam Kompas, 22 Agustus tentang bahaya mutasi konsep kewarganegaraan 
dan kebangsaan Indonesia dari pengertian etis menjadi etnis. 

Tokoh-tokoh GAM memang sudah jadi warga negara asing (Swedia, 
Norwegia, Singapura, dan lain-lain). Tapi mereka tetap bangsa 
Indonesia dan bisa kembali menjadi WNI. Memang dalam era "terorisme 
global", WN Inggris keturunan Pakistan bisa jadi teroris, masalah 
paspor dan status hukum menjadi tidak relevan. 

Anda boleh punya paspor negara apa saja, tapi Anda juga bisa 
mengkhianati atau malah meneror negara yang memberi suaka kepada 
Anda. Kwik Kian Gie menulis dalam Bisnis Indonesia bahwa Indonesia 
mirip negara yang kalah perang dan membayar pampasan kepada GAM 
(Aceh). 

Wiranto bicara soal win-lose solution, di mana Jakarta kalah oleh 
GAM. Orang Jawa juga protes karena diungkit soal lahan gratis untuk 
transmigran Jawa ketika membela pemberian lahan bagi GAM. 

*

SEBETULNYA sejak Soeharto lengser, wacana tentang Negara Federal 
telah buyar salah kaprah. Orang mengaitkan teori federal dengan van 
Mook, pejabat Gubernur Jendral Hindia Belanda pada era revolusi 
kemerdekaan RI. Seolah-olah van Mook adalah pencipta, penggagas dan 
pendoktrin teori federasi. Padahal Federasi yang solid dan konkret 
merambah dari 13 negara cikal bakal AS yang diproklamasikan 1776 dan 
baru dituangkan dalam Konstitusi 1789. 

Negara Federal kedua yang kuat ialah Jerman yang lahir dari tangan 
besi Prusia dibawah kanselir Bismarck pada 1870. Sedang Inggris yang 
tidak memakai konstitusi tertulis tergolong federal karena status 
otonomi bagi England, Wales dan Skotlandia dan Northern Ireland dalam 
lingkup United Kingdom. 

Karena sangat alergi terhadap van Mook maka elite takut membaca teori 
dan wawasan negara federal, yang dianggap mirip HIV/AIDS. Kalau 
membaca dan meniru federal maka NKRI bakal langsung mati seperti 
dijangkiti virus HIV. Lalu dengan sok pintar dan sok orisinal, elite 
dan pakar menyodorkan Perimbangan Keuangan Pusat Daerah. Karena 
selama ini ada ketidakpuasan pembagian keuangan, harus ada arus dana 
dari Pusat ke Daerah yang lebih besar. 

Tapi karena waktu itu takut kalau gubernur diberi kekuasaan terlalu 
besar, bisa minta merdeka. Maka, pembagian porsi justru langsung 
dilimpahkan kepada Dati II (kabupaten dan kota). Semua ingin jadi 
pahlawan untuk daerah dan karena itu lahirlah angka 70 persen untuk 
Aceh dan Papua. 

Saya waktu itu sudah berada di AS sejak Juni 1998. Semua pakar AS 
heran, lho Anda itu katanya takut dan benci federal. Tapi apa yang 
Anda berikan kepada daerah itu, bahkan di AS sendiri tidak akan 
pernah diberlakukan. Pemerintah Federal AS mutlak menguasai pajak 
pendapatan, tidak ada negara bagian yang bisa langsung memungut 70 
persen dari pemasukan federal. Itu adalah embahnya federal (the 
grandfather of federalism). 

Sekarang nasi anti-federal sudah telanjur jadi muntahan orang yang 
sakit maag, sakit liver dan stress. Di zaman rasional ini orang mesti 
belajar menghayati dan mendalami masalah, dan tidak sekedar apriori, 
anti-federal, tapi praktiknya malah jadi embahnya federal. 

Tidak mau federalisme, tapi Aceh dan Papua minta 70 persen, ya 
bolehlah. Masya Allah, di negara embahnya federal seperti AS dan 
Jerman serta Inggris pun, tidak akan ada setoran terbalik Pusat-
Daerah sampai 70 persen. Sebab, Pusat kan harus bertanggung jawab 
atas seluruh negara dan tidak sekadar menerima setoran "komisi 30 
persen" dari daerah kaya. 

Salah kaprah cara berpikir anti-federal tapi kejeblos jadi embahnya 
federal itu sekarang terus saja menjadi virus yang merajalela kemana-
mana. 

Karena semangat anti-Pusat sejak zaman pergolakan daerah selalu 
menganggap Pusat atau Jawa dengan penduduk 128 juta adalah penghisap 
kemakmuran daerah, cara berpikir stereotype itu kian keblinger. * 

BAGAIMANA kalau penduduk Jawa capai dituduh seperti AS 
mengeksploitasi dunia? Bagaimana kalau Jawa Tengah dan Jawa Timur 
bersatu-padu menyatakan bahwa karena Cepu adalah kawasan migas 
terbesar setara dengan Riau, maka Jateng-tim merasa berhak atas 70 
persen hasil migas itu? 

Kalau daerah lain rewel, kenapa Jawa tidak boleh ikut rewel dan 
bilang, Jawa sudah capai harus menyubsidi luar Jawa. Jawa mau merdeka 
saja dari amburadul pola pikir "federal No, tapi embahnya federal 
Yes". Pembangunan dan kemerdekaan kan untuk manusia Indonesia, 128 
juta manusia ada di Jawa dari 220 juta. Apa dana akan di-alokasi-kan 
hanya sekadar menurut spatial dari mana dana itu ditambang?

Yang baru mencuat di media adalah konflik antara Dirut Pertamina 
dengan kabinet tentang kontrak blok Cepu. Ini tentu hanya gesekan 
kecil sekedar soal insubordinasi aparatur. Yang serius jika telah 
menjadi isu politik sebab dengan memiliki migas setara Riau, Jateng 
dan Jatim bisa merdeka seperti Brunei. 

Lha, buat apa membagi-bagi kalau semua provinsi di Indonesia minta 70 
persen, kenapa Aceh dan Papua boleh. Kenapa Jawa tidak boleh? Itulah 
joke yang bisa jadi tuntutan serius jika elite kita semua ikut 
penyakit bingung rakyat kecil yang sering bertanya "merdeka ini kapan 
selesainya?" Atau elite siap dengan retorika bahwa merdeka itu ya 
menikmati harta karun sumber daya alam bagaikan milik kakek moyang 
keluarga elite. Karena semua elite mau "merdeka untuk menguasai" 
rakyat, kekayaan negara dan menikmati untuk KKN 7 turunan. Sementara 
rakyatnya sudah capai disuruh berjuang sambil menderita pemadaman 
bergilir dan kekurangan kesejahteraan hidup walaupun sudah 60 tahun 
merdeka.

*

PERUSAHAAN pemeringkat global S& P mengingatkan ketimpangan fiskal 
antara Pusat dan Daerah gara-gara aturan model "embah federal" yang 
membuat arus dana timpang ke daerah. Kita berada di tengah gelombang 
virus separatisme agama, spatial, rasial, etnis, kelas dan 
ketimpangan pusat daerah yang demikian terkait. 

Saya sangat khawatir NKRI akan salah terapi, salah makan obat, salah 
minum obat, salah injeksi, salah diet dan salah rawat. Karena 
elitenya tidak mau belajar dari sejarah dan empiris bangsa lain, 
teori dan wawasan geopolitik dan demokrasi yang benar. 

Semua ketakutan separatis tapi dalam tingkah laku melakukan tindak 
kekerasan ke arah separatisme agama. Dan, juga suka melestarikan 
dikotomi Jawa-luar Jawa. Jawa dianggap menikmati subsidi hasil SDA 
luar Jawa, karena itu selalu dalam posisi defensif menghadapi 
tuntutan luar Jawa. 

Pembangunan dan kekayaan Indonesia adalah untuk kemanfaatan seluruh 
bangsa Indonesia. Bukan dengan pola pikir dogmatik "berhala NKRI" 
tapi jiwanya justru "embahnya federal Pusat hanya terima komisi 30 
persen". Sebab kalau cara berpikir keblinger seperti itu diterapkan 
dalam blok migas Cepu, Jawa siap untuk merdeka, siapa takut? Tentu 
saja tidak ada yang menginginkan isu ini jadi serius, kecuali elite 
keblinger penganut aturan "embahnya federal" yang kurang bijak dalam 
fungsi sebagai negarawan. *

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/30/Editor/edit02.htm



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/njNroD/KbOLAA/cosFAA/ExDolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke