Title: RE: [mm-ugm] Jauh - Dekat Rp. 300 + ESIA

Kang Sumardy, mumpung ada perhatian dari pakar marketing ini sekalian saja share mengenai sedikit kondisi perusahaan kecil kita. Awalnya Esia bernama Ratelindo dan berdiri tahun 1993 sebagai realisasi pemerintah mencabut hak monopoli telkom atas penyedia sambungan telpon. Sampai hari ini kalau tidak salah telkom telah berhasil memasang sambungan telpon rumah (PSTN) sebanyak 9 jt line, jumlah yg masih sangat rendah unutk penduduk nasional 230jt. Ratelindo masuk dg memberikan kemudahan sambungan telpon tetap rumah tanpa kabel, namun dg menggunakan frekuensi radio. Jumlah line yg berhasil dipasang tdklah menggembirakan, hanya sekitar 200rb line utk jabotabek. Ada satu kesalahan besar dalam bisnis ratelindo dimana utk memasang 1 line saja, perusahaan harus menaruh suatu peralatan disebut SSU/single subscriber unit senila $550, dan ini pelanggan sama sekali tdk membayar. Yg dibayar pelanggan hanyalah handset dan pasang baru yg besarnya sama dg pasang baru telkom (kira2 satu juta perak). Periode 1993 sampai 1997 (awal krisis) ternyata banyak perangkat senilai $550 tadi yg hilang, karena pindahnya pelanggan atau pelanggan kontrak (dan ini kesalahan melayani pelanggan hanya dg syarat KTP saja). Diperkirakan sekitar 50rb unit perangkat hilang.

Krisis 1997 menghempaskan perusahaan dan nyaris ambruk bila saja holding tdk cukup kuat. Tahun 2000 mulai dijajagi ganti teknologi dari ETDMA (ratelindo) ganti ke CDMA (Esia). Namun justru telkom melalui Flexi lebih dulu meluncur dan Esia akhirnya merilis CDMA akhir 2003. Utk hidup perusahaan, pelanggan 200rb yg susut menjadi 150rb tadi tetap dimaintain sementara memasarkan CDMA (jadi mengoperasikan 2 teknologi). Awal pemasaran CDMA tdklah mudah karena dipasar telah ada pemain GSM yaitu Telkomsel, Satelindo dan ProXL yang klaims pelanggan mereka terakhir saja jumlahnya lebih dari 30jt.

Bisnis seluler adalah bisnis volume, maksudnya operator dg pelanggan sedikit bakal sulit bersaing, jadi mau tdk mau harus terus mengejar pelanggan agar tercapai skala ekonomi. Ada yg bilang skala ekonomi besarannya 10% dimana bila jumlah market share 30 juta minimal perolehan pelanggan adalah 3 juta pelanggan, jadi operator dg pelanggan dibawah 3 jt akan sulit mengembangkan bsinisnya (tolong dikoreksi mengenai skala ekonomi ini, apa benar bisa dg % atau dg minimal market share).

Dalam seluler akrab dikenal yg namanya CHURN (flying buyers), dimana pergeseran bisnis telah memaksa suatu telepon bukan aset namun kini menjadi komoditas layaknya kita beli pizza, pembeli tinggal beli makan dan selesai. Kembali ke klaims pemain GSM yg mengatakan pelanggan mereka 30jt, ini masih terbagi lagi antara pelanggan tetap (paska bayar) dan pelanggan pra bayar/ yg berganti2 nomor (flying buyers tadi). Porsi dari churn tadi celakanyan sangatlah tinggi, kira2 sebesar 83%. Jadi pelanggan tetap sebenarnya hanyalah 17% saja dari jumlah 30jt ini.

Secara global memang GSM sdh lebih dulu hadir dan market share global mereka lebih dari 1 milyar, sementara CDMA baru 200jt. Umumnya GSM dipakai di negara2 Eropa, Amerika dan juga Asia. Sedangkan CDMA juga dari Amerika/Canada, dan Asia.

Esia dg CDMA harus bertarung dg Flexi, Starone dan Mobil-8 (CDMA mobile) pada satu sisi dan secara terbuka harus menghadapi pemain GSM yg jumlah pelaqnggannya cenderung mulai jenuh. 3 tahun terakhir pertumbuhan pasar seluler berada pd angka 30%, namun diperkirakan 3 tahun kedepan akan menurun menjadi 17 atau 15% saja.

Flexi mengklaims bahwa pelanggan mereka menuju 2 juta, Starone dan Esia relatif seimbang dg sekitar 500rb pelanggan sementara mobil-8 berada sedikit diatas Esia. Utk hari ini, menyusul regulasi frekuensi keempat pemain sdh masuk ke national coverage (sebagaimana GSM). Nah sampai tahun 2005 Esia baru memasarkan jakarta dan jabar, namun awal 2006 besok sudah bisa nasional dg menggunakan jaraingan Starone (sementara di jakarta.jabar starone boleh menggunakan frekuensi Esia).

Utk jakarta/jabar kenapa sinyal Esia lebih kuat dari Flexi, karena beda frekuensi dimana Esia di 800 sedang flexi di 1900. Namun diluar area tadi Flexi sdh menggunakan 800. Beda frekuensi ini juga berdampak beda biaya investasi dimana utk 1 BTS 800 setara dg 4 BTS 1900, sehingga kenapa Esia bisa menawarkan tarif lebih murah. Perbedaan lain adalah penglaman Esia lebih lama dalam seluler ketimbang Flexi. Namun bisa saja keunggulan tadi ditutup Flexi dg modal besar mereka maupun jaringan yg lbh luas.

Kira2 seperti ini posisi Esia dalam persaingan seluler menghadapi raksasa macam Telkom dan Indosat. Bisa dikatakan kita hanyalah yg terkecil diantara semua pemain, gitu kang Sumardy. Dampak dari promosi gencar kita ttg talktime membuahkan hasil di jakarta/jabar dimana penjualan kita naik tajam/revenue juga tentunya naik. Namun apakah ini sdh membuat Esia diatas angin- belum juga, ingat investasi kita dalam dollar dalam jumlah yg besar sekali.

Salam,

    ----------
    From:   [EMAIL PROTECTED]:[EMAIL PROTECTED] on behalf of Sumardy Ma[SMTP:[EMAIL PROTECTED]
    Reply To:       [email protected]
    Sent:   27 Oktober 2005 16:48
    To:     [email protected]
    Subject:        RE: [mm-ugm] Jauh - Dekat Rp. 300

    heheheh mumpung ada juragan dari esia, boleh nanya dong om
     
    kira2 setelah keluarnya marketing activities yang meng-edukasi pelanggan dengan talk time, efeknya seperti apa?
     
    mulai dari pertambahan jumlah pelanggan dibandingkan pertambahan biasanya yang belum menggalakkan talk time
     
    thanks
     
    sumarketer

    Wardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:




Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke